Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 53


__ADS_3

Pagi hari adalah waktu yang cukup istimewa. Bukan hanya karena sinar matahari yang cantik dan udara yang segar, namun pagi hari juga bisa jadi permulaan yang sangat menentukan bagaimana seseorang menjalani harinya hingga petang nanti.


Banyak orang meyakini bahwa kalau pagi yang kita miliki dilimpahi dengan perasaan bahagia dan energi positif maka bisa dibilang kita akan menjalani hari dengan bahagia hingga petang. Kamu bisa menularkan kebahagiaanmu menyambut pagi dengan semangat pada orang-orang di sekelilingmu.


“Sambut pagi hari dengan semangat baru. Jangan mengeluh tentang hari kemarin. Jadikan hari kemarin sebagai pembelajaran dan hari ini sebagai upaya memperbaiki diri. Selamat pagi.”


Hari ini dimana hari yang di nantikan Nayla, menghabiskan waktu bersama anak yang paling ia sayangi. Galang sudah meminta izin kepada pihak sekolah TK bahwa Alvaro tidak mengikuti proses belajar hari ini karna sedang ada halangan lain. Meski, galang mempunyai kekuasaan tapi ia selalu menghargai dan tidak semena-mena nya.


Setelah Alvaro mendengar bahwa ia tidak sekolah karna pergi jalan-jalan bersama Nayla sang mama dengan antusias ia menyetujui. Karna Alvaro menantikan hal seperti ini, bermain bersama mamanya seperti teman-temannya yang lain.


Nayla dan Alvaro menghabiskan waktu bermain di taman dengan di iringi canda dan tawa yang begitu menggema hingga yang melihat mereka merasa kagum menatap anak dan ibu itu. Nayla dan Alvaro sama-sama bahagia sepertinya hari ini hari yang begitu indah untuk dikenang, hari ini Alvaro menunjukkan sisi manjanya pada Nayla. Kadang ia meminta Nayla menggendongnya sambil di putar putar dengan senang hati Nayla melakukannya. Setelah capek bermain mereka berjalan saling bergandengan tangan sambil Mengayun-ayungkan tangan mereka, di iringi dengan nyanyian bahagia dari mulut keduanya.


Nayla dan Alvaro menuju di kursi sebelah penjual es krim untuk duduk , tawa masih menghiasi wajah keduanya.


" Mama aku mau es krim, Apa boleh? " Ucap Alvaro sambil menatap Nayla dengan penuh harap. karna selama ini Alvaro tidak di izinkan makan es krim oleh pengasuhnya dan pastinya itu perintah sang ibu mertua Nayla, Yunita.


" Tentu saja, Boleh sayang " Jawab Nayla dengan senyuman yang selalu mengembang di bibirnya. ia mengelus wajah Alvaro dengan sayang, ia tahu bahwa sang anak tidak pernah diizinkan untuk memakan makanan seperti ini meskipun Alvaro menginginkan.


Jawaban Nayla tentu saja membuat Alvaro tersenyum bahagia akhirnya ia bisa memakan es krim apalagi bersama sang mama. Bukankan ini termasuk impiannya? Tentu saja Iya, Alvaro di dewasakan oleh keadaan agar menjadi anak pinter, bertanggung jawab dan bisa menjadi penerus Galang. Namanya anak kecil akan tetap memiliki sikap layaknya anak kecil sebagaimana pun ia berusaha untuk tidak manja tapi jika sudah bersama orang yang ia sayang tentu saja sisi manjanya akan ia tunjukkan terutama kepada sang mama, Nayla.


Bukannya Alvaro tidak menyadari sikap kedua orang tuanya tapi ia memilih diam, kadang di saat ia sendiri di dalam kamar tangisan yang selalu menemaninya. Dia ingin seperti teman sebayanya, tidur selalu di temani oleh kedua orang tuanya, di bacakan dongeng sampai tertidur. Setiap teman-temannya menceritakan kedekatan mereka kepada ke dua orang tua mereka, Alvaro hanya diam dan ujung-ujungnya di saat ia tidak sanggup mendengar cerita indah temannya, ia berlari ke kamar mandi dan menutup pintu. Akhirnya Alvaro menumpahkan semua tangisan pilunya.


Apalagi jika ia tau orang tuanya akan berpisah dan tentu Anak cenderung melamun dan tidak aktif seperti biasanya. Dampak orang tua bercerai pada anak salah satunya adalah anak menjadi tidak percaya diri ketika berada di lingkungannya. Perceraian menjadi beban mental tersendiri buat anak, ketika anak-anak yang lain memiliki orang tua yang lengkap, sedangkan dirinya tidak.


Nayla dan Alvaro tiba dirumah setelah menghabiskan waktu bersama-sama . Mereka langsung membersihkan diri karena sebelumnya telah makan malam saat perjalanan pulang.


...----------------...


Setelah pulang kerja Galang langsung masuk keruang kerjanya, sedangkan Nayla mendatangi kamar Alvaro.


Tampak pengasuh Alvaro sudah selesai menemaninya belajar, dan anak itu kini tengah bersiap untuk pergi tidur.


"Kau boleh pergi, biar aku yang menemani Alvaro malam ini." ujar Nayla pada pengasuh Alvaro.


Meski sempat agak ragu, pengasuh itu pun menurut dan keluar dari kamar Alvaro.


Nayla tersenyum pada putranya itu, lalu ia duduk disisi Alvaro yang telah berbaring.


"Mau Mama bacakan dongeng?" tanya Nayla lembut.


Alvaro tak menjawab dan hanya mengangguk dengan antusias.


Nayla lalu mengambil buku kumpulan dongeng anak yang terletak di nakas. Kemudian dibacakannya dongeng anak dongeng anak yang terletak di nakas. Kemudian di bacakannya dongeng anak yang bercerita tentang induk dan anak kucing pada Alvaro.


Alvaro tampak menyimak dengan sangat antusias. Sesekali matanya agak melebar saat cerita Nayla dirasanya sedikit menegangkan. Tapi kemudian dia tersenyum menjelang akhir cerita.

__ADS_1


"Dan akhirnya, induk dan anak kucing itupun hidup bahagia selamanya..." Nayla membaca kalimat terakhir dari dongeng tersebut.


"Selesai." tambah Nayla lagi.


Kemudian keduanya hening agak lama, tapi Alvaro tak kunjung memejamkan matanya. Tatapannya nyalang menyapu langit-langit kamarnya.


"Sayang, kenapa masih belum tidur?" tanya Nayla pelan.


Alvaro tidak menjawab dan hanya menoleh kearah Nayla.


"Mama akan pergi, ya?" tanyanya kemudian.


Nayla tertegun dan tampak tidak siap dengan pertanyaan Alvaro.


"Papa sudah memberi tahu Al, kalau Mama dan Papa akan berpisah, dan Mama tidak akan tinggal disini lagi." lanjutnya lagi.


"Sayang..." Nayla tercekat dan benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Hatinya benar-benar hancur melihat wajah putranya ini. Sungguh ia tidak ingin berpisah dari Alvaro, tapi tentu tidak ada yang bisa ia lakukan.


Galang sudah pasti tidak akan menyerahkan Alvaro padanya. Dan menentang Galang bukanlah hal yang bijak. Tentu saja Nayla tidak punya cukup uang dan energi untuk memperebutkan Alvaro. Lagipula Alvaro sendiri pasti tidak akan mau ikut dengannya, mengingat Alvaro yang bisa dibilang tidak begitu dekat dengan Nayla.


"Apa Mama akan melupakan Al?" tanya Alvaro lagi. Kali ini suaranya terdengar sedih.


Nayla menggeleng cepat, secepat airmatanya yang jatuh tanpa permisi. Nayla terisak tanpa bisa menahan lagi. Hatinya terasa seperti diremas-remas.


"Tidak, sayang. Bagaimana bisa Mama melupakan Al. Al adalah malaikat Mama, putra kesayangan Mama. Sampai kapan pun Al akan selalu ada dihati Mama. Mama sangat menyayangimu, Nak...." Nayla semakin terisak sembari membawa Alvaro kedalam dekapannya.


"Jangan menangis lagi, Ma. Al akan jadi anak yang pintar. Al akan menjaga Papa saat Mama tidak ada. Mama jangan sedih." Alvaro tampak sedang menghibur Nayla.


Nayla tersenyum miris. Kini putranya menjelma menjadi sosok yang dewasa dan mampu mengendalikan dirinya. Bukankah saat ini ia yang harusnya memberi pengertian agar bocah itu tidak sedih dengan kepergiannya.


Buru-buru Nayla mengurai pelukannya, lalu menghapus airmata yang membanjiri pipinya. Kemudian Nayla menarik sudut bibirnya, berusaha tersenyum manis kepada putranya itu.


"Maafkan Mama." lirihnya.


Alvaro menghapus sisa-sisa airmata dipipi Nayla, yang justru membuat airmata Nayla kembali mengalir.


"Papa bilang setelah ini Mama tidak akan menangis lagi. Mama akan punya keluarga baru yang akan membuat Mama bahagia. Itulah kenapa Al bertanya apa Mama akan melupakan Al." ujar Alvaro


Nayla tercenung agak lama, mencoba mencerna kata-kata yang diucapkan Alvaro tadi. Apa maksudnya dia akan punya keluarga baru? Apa yang sebenarnya Galang pikirkan tentang dirinya?


Nayla menghela nafasnya karena tidak menemukan jawaban dari pertanyaan yang berkelebat dihatinya.


Mungkin itu hanyalah cara Galang untuk membuat Alvaro setuju dengan perpisahan mereka. Ya, pasti seperti itu. Galang pasti sangat berusaha agar perceraian mereka berjalan dengan lancar.


Nayla kembali tersenyum miris.

__ADS_1


"Mama tidak akan melupakan Al, Sayang. Ada keluarga baru atau tidak, yang pasti Al akan tetap menjadi putra kesayangan Mama. Dimana pun Mama berada, Mama selalu merindukan Al." ujarnya lirih dan sendu.


Alvaro tidak menjawab dan hanya menatap Nayla.


"Apa Al mau janji satu hal pada Mama?" tanya Nayla kemudian.


Alvaro mendongak kearah Nayla.


"Apa?" tanyanya.


"Berjanjilah, saat Mama sudah pergi nanti, Al akan lebih memperhatikan Papa. Kepala Papa akan sakit saat Papa kelelahan. Al harus pijat kepala Papa agar Papa bisa tidur. Al janji kan mau melakukannya?" tanya Nayla lagi


Alvaro menatap Nayla dalam sebelum akhirnya mengangguk.


Kemudian mereka sama-sama terdiam.


Nayla berbaring disisi Alvaro dan masih memeluk bocah itu. Perlahan mata Nayla mulai berat. Sepertinya ia akan tertidur disamping Alvaro. Tapi sesaat sebelum matanya benar-benar terpejam, samar Nayla mendengar suara lirih Alvaro ditelinganya.


"Sebelum Mama pergi, Mama harus bilang pada Papa jika Mama menyayangi Papa." gumam Alvaro


"Hmm..." Nayla hanya bergumam


Tanpa mereka sadari jika di balik pintu kamar Galang sudah mendengar semua ucapan mereka. Dadanya bagai di remas-remas entah mengapa mendengar semua kalimat yang terlontarkan dari mulut keduanya membuat hatinya sesak.


Setelah Nayla tahu Alvaro sudah tertidur, ia menatap wajah anaknya itu dengan sendu. Nayla benar-benar tidak tega meninggalkan Alvaro ia tahu bahwa anaknya ini berusaha menutup kesedihannya.


Galang tidak mendengar suara keduanya dari dalam kamar lagi , sepertinya Alvaro sudah tertidur. Galang yang masih setia berdiri di balik pintu melangkah pergi menuju kamarnya Namun, langkahnya terhenti saat mendengar mendengar suara Nayla kembali dari dalam kamar.


" Nak mama ingin sekali membawamu pergi bersama mama tapi mama tidak punya uang banyak untuk mengambil hal asuhmu dari papamu karna mama tidak punya uang banyak. Mama orang miskin dan mama tidak yakin kalau kamu betah bersama mama. " Ucap Nayla dengan suara bergetar


Deg..


Jantung Galang bergerumuh kalimat Nayla begitu menusuk di hatinya. Ia ingin sekali melangkah pergi namun ia masih penasaran kalimat Nayla selanjutnya.


" Kamu tau nak mama sangat menyayangi papamu bahkan sudah mencintai papamu tapi papamu tidak mengizinkan mama mencintainya. mama sadar kalau mama tidak pantas bersanding dengan papamu, mama gadis miskin yang hidupnya serba kekurangan sedangkan papamu dia laki-laki yang mempunyai segalanya. " Deg kembali jantung Galang berdetak kencang dua kali lipat dari sebelumnya.


" Karna mama sudah tahu bahwa papa tidak akan pernah mencintai mama, mama hanya mampu mencintai papa dalam diam. Mama ingin bersama kalian selamanya tapi keadaan tidak berpihak pada mama, papa sudah menceraikan mama nak. Tapi mama menerimanya karna papa bilang kalau mama pergi kalian akan bahagia jadi mama tidak menolaknya. " Nayla terkekeh " Hehe Pasti papa sudah punya wanita lain yang bisa membuatnya bahagia dan wanita yang ia cintai itu pasti yang sepadan dengan papa, wanita itu beruntung banget bisa di cintai papa sedangkan mama hanya di anggap seperti orang asing selama mama jadi istrinya. Tapi hal itu tidak masalah bagi mama asal papa dan anak mama bahagia karena hal yang utama bagi mama adalah kebahagiaan kalian " hingga akhirnya pelan tapi mata Nayla terpejam sepenuhnya, ia pun tertidur disisi putra kesayangannya itu.


" Ada beberapa perasaan sakit yang tak akan tersembuhkan, hanya bisa coba dilupakan."


^^^Bersambung.. ^^^


^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu hehe^^^


^^^Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^

__ADS_1


^^^Please....pleasee🙏🙏^^^


^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰^^^


__ADS_2