
Jika seorang perempuan menangis karena disakiti oleh laki-laki. Maka setiap langkah laki-laki tersebut dikutuk oleh para malaikat. (Ali bin Abi Thalib)
Dini hari Nayla terjaga dan beranjak dari samping Alvaro. Nayla memandang wajah bocah itu agak lama sebelum akhirnya memutuskan kembali kekamarnya.
Cukup baginya mengucapkan salam perpisahan dengan Alvaro tadi. Setidaknya Alvaro tahu jika ia sangat menyayangi putranya itu. Dan percakapan tadi adalah percakapan terlama antara dirinya dan Alvaro, selama lima tahun Nayla menjadi ibu bocah itu.
Nayla pun meninggalkan kamar Alvaro dan memasuki kamarnya. Tampak suasana ruangan sudah temaram. Sudah ada yang telah mematikan lampu, itu artinya ada Galang dikamar itu.
Dan benar saja. Galang berbaring ditempat tidur dengan mata terpejam. Sepertinya ia sangat kelelahan dan tidur dengan lelap.
Nayla mendudukkan dirinya ditempat tidur, bersebelahan dengan Galang. Dipandangnya wajah Galang dengan lekat. Berusaha membingkai wajah sempurna itu agar bisa menjadi potret abadi didalam hatinya. Nayla ingin berlama-lama melihat Galang, karena setelah ini ia tidak akan bisa lagi melihatnya secara langsung.
Mungkin kedepannya Nayla akan lebih sering menonton berita ekonomi saat merindukan Galang. Karena disanalah biasanya Aaron muncul, sebagai pengusaha muda sukses yang mengispirasi banyak orang.
Nayla lalu menyandarkan punggungnya disandaran tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan nyalang.
Kembali ia menoleh kearah Galang, dan kali ini tangannya terulur menyentuh lembut rahang lelaki itu.
"Terima kasih untuk hari kemarin, Galang. Terima kasih karena sudah memenuhi permintaanku.... Terima kasih telah menjadikanku istrimu selama lima tahun ini. Terima kasih...., untuk semuanya...." Nayla menatap Galang dalam.
"Sekarang aku tidak akan menghalangi jalanmu lagi untuk jadi lebih bersinar. Raihlah kebahagiaanmu. Kamu dan Alvaro pantas untuk mendapatkan yang lebih baik. Aku akan selalu mendo'akan kalian berdua." Nayla mengalihkan pandangannya dan kembali menatap langit-langit kamarnya.
"Berbahagialah, Galang...." ujar Nayla lirih sembari mengulas senyum terbaik yang bisa ia berikan. Nayla bertekad tak akan ada tangisan lagi setelah ini dan ia akan belajar melupakan Galang.
Lama-kelamaan Nayla memejamkan matanya dan kembali terlelap dengan air mata yang mengalir, meski sebelumnya ia berjanji tidak akan menangis lagi.
Tanpa Nayla sadari, sepasang tangan kokoh meraih tubuhnya dan mendekapnya erat, lalu jari-jari kokoh itu juga menghapus airmata yang mengalir tanpa henti dipelupuk matanya.
Nayla tertidur. Dan berharap akan bertambah kuat saat ia terbangun esok. Ia tidak menyadari jika malam ini lelaki yang dicintainya itu memeluknya dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan.
...****************...
Nayla menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa pergi. Tidak banyak, hanya pakaian dan beberapa barang kecil yang dimasukkan kedalam dua wadah koper.
Hari ini, sekitar jam sepuluh pagi rencananya ia dan Galang akan menandatangani surat cerai mereka dikantor pengadilan. Dan setelah itu, mereka akan resmi berpisah dan kembali menjadi dua orang asing.
Ya. Rencananya setelah dari kantor pengadilan, Nayla akan langsung pulang kerumahnya sendiri yang sebelumnya sudah ia beli dari hasil usaha Butiknya. Lagipula Nayla tidak akan sendiri di sana ada kedua adiknya yang menanti kedatangannya.
Pagi ini Nayla akan meninggalkan rumah Galang tanpa kembali lagi. Karena setelah ini, ia bukan lagi Nyonya disana.
Nayla menatap sekeliling rumah dengan sendu. Lima tahun lebih tinggal disana membuatnya punya kenangan tersendiri disetiap sudut ruangan.
Galang yang banyak menghabiskan waktunya diruang kerjanya. Alvaro yang sering belajar sambil bermain dengan pengasuhnya diruangan dekat taman. Dan Bi Sani serta pelayan lainnya yang hilir mudik didapur saat menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam.
Terlalu banyak kenangan yang memenuhi rumah ini. Banyak suka dan duka yang telah Nayla rasakan. Nayla tidak akan pernah bisa melupakan semuanya, terutama orang-orang yang ada didalamnya.
Galang, Alvaro, Bi Sani dan para pelayan yang lain. Mereka semua adalah orang-orang yang telah mengisi hari-hari Zaya selama lima tahun lebih ini. Meski Nayla berusaha untuk pergi dengan senyuman, tetap saja hatinya merasa sedih dan airmatanya kembali jatuh.
Nayla berusaha menenangkan dirinya. Tadi saat melepas Alvaro pergi kesekolah untuk yang terakhir kalinya, Nayla sudah banyak menangis. Ia tak ingin menangis lagi dan pergi kekantor pengadilan dengan mata sembab. Ia tidak mau Galang melihatnya terakhir kali dengan kondisi meyedihkan.
Nayla ingin melepaskan lelaki itu dengan senyuman. Itulah tekadnya.
Setelah dirasa agak tenang, Nayla pun turun dengan menyeret kedua kopernya. Tampak dibawah Bi Sani dan para pelayan yang lain telah berkumpul untuk menunggunya.
Nayla pun menghampiri mereka dengan mengulas senyum. Tapi tampaknya mereka terlalu sedih untuk membalas senyum Nayla. Beberapa dari mereka bahkan tergugu dan berhambur memeluk Nayla. Ini kedua kalinya Nayla pergi dari rumah ini.
"Nyonya..." para pelayan itu tersedu.
Nayla hanya bisa tersenyum sambil mengusap pundak salah satu pelayan yang memeluknya.
Para pelayan itupun mengurai pelukannya dan memberi Nayla sedikit ruang.
"Tidak perlu sedih seperti ini. Kita masih bisa bertemu di lain waktu. Saya masih tinggal dikota yang sama dengan kalian, jadi kita masih bisa saling mengunjungi." hibur Nayla pada mereka.
__ADS_1
Para pelayan itu pun mengangguk.
"Kami akan sangat merindukan Nyonya. Selama ini Nyonya sudah memperlakukan kami seperti keluarga. Kami sangat berterima kasih, Nyonya. Tanpa Nyonya disini pasti suasananya akan sangat berbeda." salah satu pelayan masih terisak dengan sedihnya.
Nayla kembali tersenyum untuk menghibur mereka semua.
"Tidak akan ada yang berbeda. Galang juga sudah memperlakukan kalian dengan baik. Kalian harus bekerja dengan semangat seperti biasa. Siapapun yang nantinya datang sebagai Nyonya baru dirumah ini, tentu saja dia wanita yang baik juga, karena Galang pasti tidak akan membawa sesuatu yang buruk kerumahnya. Jadi kalian harus menghormatinya."
"Kalian mengerti, kan?" tanya Nayla lembut sambil masih mengulas senyum.
Para pelayan itu hanya mengangguk sambil menunduk. Lalu Bi Sani mendekat pada Nayla sambil membawa sesuatu.
"Nyonya..." Bi Sani memandang kearah Nayla dengan mata berkaca-kaca.
"Bawalah ini untuk bekal makan siang, Nyonya. Ini adalah resep rahasia yang hanya saya masak didapur keluarga Alexander saja. Jadi Nyonya tidak akan menemukannya dirempat lain. Tolong diterima, anggap saja sebagai tanda perpisahan dari saya." Bi Sani menyodorkan kotak makan siang yang sudah diisi makanan.
Nayla tertegun menatap kotak makan siang itu. Kemudian ia berusaha kembali tersenyum dan menerimanya.
"Terima kasih." lirihnya.
"Saya juga akan sangat merindukan Nyonya." ujar Bi Sani lagi dengan airmata yang menggenang.
Nayla tak menjawab dan hanya tersenyum.
Aku pergi
...............
Bukan berarti tak setia
Aku pergi
Demi untuk cita-cita
Maaf bila
Relakanlah
Mungkin ini sudah takdirnya
Ku tak ingin ada benci
Ku tak ingin ada caci
Yang aku ingin kita s'lalu
Baik-baik saja
Kenangan kita takkan kulupa
Ketika kita masih bersama
Kita pernah menangis, kita pernah tertawa
Pernah bahagia bersama
Semua akan s'lalu kuingat
Semua akan s'lalu membekas
Kita pernah bersatu dalam satu cinta
Dan kini kita harus terpisah
__ADS_1
Aku pergi, ho-oh-wo-oh
Aku pergi
Aku pergi, ho-ho
Aku pergi, ho-oh-wo-oh
Uh-oh-ho-ho
Ku tak ingin ada benci
Ku tak ingin ada caci
Yang aku ingin kita s'lalu
Baik-baik saja
Kenangan kita takkan kulupa
Ketika kita masih bersama
Kita pernah menangis, kita pernah tertawa
Pernah bahagia bersama
Semua akan s'lalu kuingat
Semua akan s'lalu membekas
Kita pernah bersatu dalam satu cinta
Dan kini kita harus terpisah
Aku pergi......
"Selama ini saya selalu berharap Nyonya dan Tuan akan bersama selamanya. Saya terus berdo'a agar Nyonya dan Tuan akhirnya hidup dengan bahagia. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain... Saya hanya berharap setelah ini Nyonya bisa mendapatkan kebahagiaan ditempat lain." Bi Sani kembali berujar dengan lirih. Kali ini airmatanya tumpah tak tertahankan.
"Terima kasih, Bi. Terima kasih untuk semuanya. Selama saya disini, Bibi telah banyak membantu saya. Saya tidak akan pernah melupakan semua kebaikan Bi Sani." balas Nayla dengan suara tergetar. Tampak ia juga tak kuasa lagi menahan airmatanya.
"Sekarang saya harus pergi. Saya tidak ingin nanti Galang menunggu terlalu lama. ingin nanti Aaron menunggu terlalu lama. Saya titip Alvaro, Bi. Tolong sering-sering kabari saya tentang perkembangannya." pinta nay lagi
Bi Sani mengangguk.
"Tentu saja, Nyonya." jawabnya.
"Dan satu lagi, Bi. Jangan lupa untuk memberi Galang teh herbal saat dia bekerja sampai larut. Selalu ingatkan dia untuk makan tepat waktu, juga suruh dia untuk rutin mengkonsumsi vitaminnya. Dan...."
Nayla terdiam dan tak meneruskan kalimatnya. Airmata lalu kembali mengalir dari pelupuk matanya.
"Tidak, Bu..., tidak perlu. Setelah ini pasti akan ada yang mengurus Galang dengan lebih baik lagi." ralatnya lirih.
"Dia pasti akan hidup dengan baik dan bahagia. Saya tidak perlu mengkhawatirkannya." gumam Nayla lagi.
Bi Sani hanya bisa mengeluarkan airmatanya. Beliau tahu betul bagaimana perasaan Nayla saat ini. Pasti sangatlah pedih harus meninggalkan orang yang dicintai.
Nyesek😭😭😭😭😭
Bersambung..
** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho
Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah
__ADS_1
Please....pleasee🙏🙏
Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰