Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 89


__ADS_3

Nayla benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini. Disatu sisi ia senang dengan perlakuan Galang padanya tapi di sisi lain otaknya memperingatkan agar ia tak terbuai dengan sikap manis Galang jika tidak ingin kembali terluka.


Nayla berusaha untuk kembali menguatkan hatinya agar tak mudah tergoda lagi oleh Galang.


"Jika kau tidak merindukanku maka aku yang merindukanmu." Suara Galang kembali mengejutkan Nayla.


Nayla tak habis pikir bagaimana sekarang lelaki itu sangat pandai menggombal, Nayla curiga jangan-jangan saat ini ada semacam aplikasi yang bisa memandu semacam aplikasi yang bisa memandu penggunanya untuk melancarkan rayuan.


Ah entahlah, Semakin lama pikiran Nayla juga ikut menjadi gila dibuatnya.


Tiba-tiba Galang kembali meraih tubuh Nayla dan mendudukkan Nayla dipangkuannya Sontak Nayla terpekik dibuatnya.


"Jangan menghindariku Bukankah kita sepakat untuk mulai saling mengenal satu sama lain?" Ujarnya.


Nayla membelalak marah.


"Hentikan kekonyolanmu ini Galang, Mana ada orang yang ingin saling mengenal melakukan hal seperti ini." Nayla berusaha turun dari pangkuan Galang Tapi lelaki itu menahan tubuh Nayla dan malah memeluknya erat.


"Tidak masalah jika proses perkenalan kita tidak sama dengan orang lain, Anggap saja ini termasuk perkenalan anggota tubuh." Jawab Galang enteng sembari terus memeluk Nayla.


Apa? Perkenalan anggota tubuh?


Entah kalimat tak masuk akal apa lagi yang akan Nayla dengar dari mulut Galang setelah ini. Lelaki ini benar-benar telah menjadi orang paling tidak rasional sekarang, Nayla hanya berharap otak Galang masih menyisakan sedikit kewarasan agar masih bisa kembali berpikir normal setelah ini.


"Kenyataannya kita memang tidak seperti orang lain, Nayla . Kita juga sudah punya Alvaro meski saat ini belum benar-benar saling mengenal." Sambung Galang lagi, Kali ini dengan nada sedikit pelan.


Nayla terdiam, Omongan Galang ada benarnya juga. Cara mereka bertemu dan dipersatukan dulu memang tidak seperti kebanyakan pasangan lain Hingga akhirnya mereka berpisah pun, mereka tidak seperti pasangan yang telah bercerai pada umumnya.


Kebanyakan mantan suami istri akan saling membenci setelah bercerai Tapi disini, Galang dan Nayla malah saling merindukan dan menginginkan satu sama lain. Entah mereka masih termasuk dalam kategori normal atau tidak.


"Aku ingin menginap disini malam ini." Ujar Galang sambil kembali mendudukkan Nayla disofa.


"Apa???" Nayla terpekik dengan mata membulat sempurna, Galang agak kaget dengan reaksi Nayla yang berlebihan itu.


"Kenapa dengan wajahmu itu? Ekspresimu seperti sedang mendengar suamimu mau menikah lagi saja." Gumam Galang masih dengan wajah kagetnya.


Nayla mendengus kesal Bahkan sekarang lelaki ini sudah pandai bercanda juga, Sungguh luar biasa Setelah ini entah kejutan apalagi yang akan dia dapatkan dari Galang.


"Kamu sudah mulai keterlaluan Galang, Aku benar-benar akan menjadi gila jika kau terus seperti ini." Sergah Nayla.


Galang justru tersenyum dibuatnya.


"Bagus juga jika kau menjadi gila, Kita bisa gila bersama-sama." Jawabnya.


Nayla terperangah dibuatnya, Kali ini Nayla yakin jika benar ada yang tidak beres dengan kepala Galang. Pastilah ada semacam syaraf yang terputus didalam otaknya hingga membuat Galang jadi sangat tidak tahu malu seperti ini.


Nayla mendesah putus asa, Ia tidak tahu harus mengusir Aaron dengan cara apa.


"Tidak usah repot-repot memikirkan cara untuk mengusirku, Aku tidak akan pergi meski kau akan membunuhku sekalipun " Ujar Galang lagi seakan mengetahui apa yang sedang Nayla pikirkan.


Nayla mendengus kesal, Ia pun bangkit dari duduknya.


"Terserah padamu, Tuan Galang. Tidurlah dimanapun yang kamu anggap nyaman." Ujar Nayla akhirnya sembari meninggalkan Galang sendiri.


Galang tersenyum penuh kemenangan. Dipandanginya Nayla yang masuk kedalam kamarnya sambil membanting pintu kamar dengan agak kasar.


Bukannya merasa tersinggung, Galang malah sedikit geli melihat tingkah Nayla itu. Dia tak menyangka jika perempuan lembut yang pernah menjadi istrinya itu punya sisi kekanakan juga.


Senyum Galang pun semakin merekah.


'' Sedikit lagi, Nayla. Setelah ini aku pasti bisa kembali mendapatkan hatimu, dan kita bisa menjadi keluarga yang utuh lagi.'' ucap galang dengan lirih.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Mau tak mau Nayla kembali melewati malam bersama Galang Meski mereka tidur di kamar yang terpisah, tetap saja dada Nayla bergemuruh dibuatnya. Membayangkan kembali bermalam dibawah atap yang sama dengan Galang, membuat Nayla diliputi perasaan aneh. Meski disatu sisi, otak Nayla menolak keberadaan Galang tapi bagian diri Nayla yang lain seperti memberontak dan menginginkan lelaki itu.


Nayla sendiri menjadi tak mengerti, kenapa saat ia tidur sendiri justru tidak bisa terlelap seperti kemarin malam saat satu ranjang bersama Galang. Berada didalam pelukan Galang saat itu nyatanya malah membuatnya nyaman dan tertidur dengan pulasnya.


Nayla mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi, Tak henti-hentinya ia merutuki isi didalam kepalanya. Bagaimana bisa ia berpikir tentang tidur seranjang bersama Galang disaat mereka bukan lagi suami istri.


Pastilah ia sudah gila karena menghadapi keanehan Galang belakangan ini. Ya, pasti seperti ituTidak mungkin ia luluh pada Galang dengan mudah, kan?


Lalu akhirnya setelah kegalauan yang tak kunjung berakhir itu menjelang dini hari Nayla baru bisa memejamkan matanya. Nayla berhasil mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya yang lelah karena Galang.


Nayla terlelap hingga matanya kembali terbuka saat pagi mulai menjelang.


Setelah sebelumnya menyegarkan diri terlebih dahulu di kamar mandi, Nayla pun kedapur dengan tubuh yang telah segar. Ia berniat menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Untuk sejenak, Nayla lupa dengan keberadaan Galang dirumahnya Dengan santainya ia mengikat tinggi rambutnya sebelum mulai memasak. Bibirnya juga sedikit bersenandung sambil mengambil beberapa bahan makanan dari dalam kulkas.


"Astaga!"


Nayla melonjak kaget, Ia sangat terkejut saat berbalik telah mendapati Galang tengah mengamatinya sambil melipat kedua tangannya didada dan bersandar pada salah satu sisi tembok dapur Nayla.


Seketika Nayla ingat jika saat ini ia tak sendirian didalam rumah.


Nayla pun segera memasang mode waspada, Diamatinya penampilannya sendiri secara impulsif. Lalu ia pun menghela nafas lega saat mendapati penampilannya sekarang cukup sopan.


Galang yang melihatnya hanya tersenyum tipis, Perlahan dia mendekat pada Nayla dengan duduk disalah satu kursi meja makan.


"Memangnya kau berpikir aku akan melakukan apa padamu?" Tanya Galang dengan nada menggoda.


Nayla tak menjawab dan langsung melengos kearah lain, Ia heran bagaimana Galang bisa mengetahui apa yang ada didalam benaknya layaknya orang yang bisa membaca pikiran.


Nayla benar-benar tidak tahu harus menghadapi Galang yang sekarang ini dengan sikap yang bagaimana. Ia akhirnya memutuskan untuk mengabaikan lelaki itu dan melanjutkan apa yang hendak dilakukannya tadi.


Melihat Nayla yang acuh padanya, Galang tak


patah arang, Dia bangkit dan mendekati Nayla yang tengah mencuci bahan makanan di wastafel.


"Kau ingin mengabaikanku rupanya." Gumam Galang.


"Aku ingin lihat apa kau masih bisa mengabaikanku jika seperti ini." Tambah Galang lagi sambil memeluk Nayla dari belakang.


Nayla agak terpekik karena kaget, Ia pun berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Galang Tapi yang ada lelaki itu justru semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Nayla.


"Lepaskan aku, Galang." Sergah Nayla dengan kesal, Ia berontak sekuat tenaga agar bisa terbebas dari pelukan Galang meski tetap saja usahanya itu berakhir sia-sia.


"Ternyata kau minta dipeluk dulu baru mau menyapaku." Ujar Galang dengan tak tahu malunya.


"Lepaskan aku, Pulang sana kerumahmu!" Nayla kembali berusaha melepaskan diri.


"Tidak, sebelum kau memberikan aku ciuman seperti semalam, Lagipula aku mau sarapan terlebih dahulu sebelum pergi dari sini." Sambil masih menciumi leher Nayla, Lagi-lagi Galang mengucapkan kalimat yang terdengar sangat ajaib ditelinga Nayla.


Nayla benar-benar tak habis pikir bagaimana seorang Galang Christian Alexander yang terhormat bisa menjelma menjadi sosok tak tahu malu seperti sekarang ini, Entah apakah ada cara untuk menghentikan kekonyolannya ini.


"Baiklah, aku akan membuatkanmu sarapan Tapi tolong lepaskan aku dulu, Aku tidak bisa memasak jika kamu terus seperti ini." Nayla akhirnya memilih untuk mengalah, Tak ada gunanya berontak sekarang Sepertinya ia harus sedikit lembut jika ingin lolos dari Galang saat ini.


Sesuai dugaan Nayla, Galang melonggarkan pelukannya dan mengangkat wajahnya dari leher Nayla.


Untung hanya Nayla dirumah, bagaimana jika kedua adiknya ada disitu? Memalukan, bukan?


Nayla merasa lega.


Astaga, Lagi-lagi Nayla merutuki dirinya sendiri yang begitu mudah hilang kendali saat berdekatan dengan Galang. Ia sendiri tak mengerti kenapa bisa dengan mudah tergoda meski otaknya berulangkali memberikan sinyal peringatan untuk tak mudah tergoda pada lelaki itu.


Tidak boleh terjadi lagi! Ia tak boleh lemah kali ini, Galang tak boleh mendapatkan apapun yang ia inginkan dari diri Nayla. Mereka telah bercerai dan semua hal tentang mereka telah berakhir dan Itulah kenyataannya.


"Bisakah kamu menyingkir dulu Aku akan mulai memasak." Pinta Nayla kemudian, Berusaha untuk membujuk Galang agar melepaskannya.


"Baiklah..." Galang menguraikan pelukannya dan mencuri satu ciuman di pipi Nayla sebelum benar-benar melepaskan perempuan itu.


Nayla pun hanya bisa menghela nafasnya dan berusaha untuk tak terganggu, Ia tak mau Galang semakin bersemangat menggodanya karena dan melakukan hal lebih jika Nayla merespon.


Nayla kembali bisa melanjutkan acara memasaknya Dan akhirnya dengan sedikit perjuangan, jadilah menu sarapan itu. Dua piring macaroni yang dimasak dengan jamur dan saus keju. Tak lupa, dua gelas susu coklat juga ikut mendampingi sarapan sehat ala Nayla.


Mereka berdua akhirnya menyantap sarapan dengan damai, Nayla bisa sedikit lega ketika melihat Galang telah kembali pada mode seriusnya saat dimeja makan. Lelaki itu makan dengan elegan tanpa berbicara seperti biasa.


Tapi ternyata kegilaan Galang belum berakhir, Drama lain terjadi saat Asisten Rangga datang membawakan lelaki itu baju ganti.


Galang meminta Nayla untuk membantu memasangkan dasinya dihadapan Rangga dan tentunya Nayla keberatan Tapi Galang punya sejuta akal yang membuat Nayla akhirnya mau menuruti keinginannya itu meski dengan sangat terpaksa.


Galang tersenyum tipis saat melihat Nayla yang merengut sebal saat memasangkan dasinya. Bukannya marah, Galang justru gemas melihat wajah Nayla yang tidak bersahabat itu. Saking gemasnya, tanpa sadar Galang mengecup sekilas bibir Nayla tepat dihadapan Rangga.


Nayla terkejut dan membeliakkan matanya, begitu pula dengan Rangga. Asisten pribadi Rangga itu buru-buru undur diri dari hadapan Galang dan Nayla. Dia tidak ingin melihat pemandangan yang membuatnya semakin merindukan kekasihnya di pagi buta seperti ini


Sedangkan Nayla yang sudah semakin kesal dengan tingkah Galang, cepat-cepat menyelesaikan simpul dasi Galang dan buru-buru menjauh dari lelaki itu.


"Aku sudah menuruti semua permintaanmu, Sekarang pergilah." Usir Nayla.


Galang tersenyum sambil kembali mendekati Nayla.


"Baiklah..." Gumamnya.


"Tapi sebelum aku pergi, aku masih punya satu permintaan lagi." Nayla menoleh dan melotot sebal kearah Galang.

__ADS_1


"Apalagi?" Tanya Nayla.


Galang mencondongkan tubuhnya kearah Nayla dengan senyum aneh yang agak mengerikan terlihat dimata Nayla.


"Beri aku satu ciuman." Bisiknya dengan nada sensual.


"Apa??" Nayla kembali melotot pada Galang.


"Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa Tapi aku akan tetap disini dan tidak akan pergi kemana pun." Ujar Galang lagi dengan entengnya.


Nayla semakin kesal dan mulai marah.


"Terserah kamu, Aku tidak mau menuruti keinginanmu lagi Kalau kamu mau tetap disini, silahkan saja." Jawab Nayla dengan kesal.


"Ya sudah..." Galang merebahkan dirinya disofa.


"Kalau begitu aku akan tetap disini sampai kau kembali dari kafe nanti Mungkin nanti malam aku akan menginap disini lagi." Gumam Galang.


Nayla terperangah tak percaya, Ia tak mengerti kenapa lelaki dihadapannya kini berubah menjadi sangat menyebalkan,Tentu saja Nayla tidak ingin jika Galang kembali menginap dirumahnya malam nanti.


"Berhentilah membuatku kesal Galang, Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" Desah Nayla dengan frustasi.


"Bukankah sudah aku bilang tadi, Beri aku ciuman." Jawab Galang tanpa beban.


Nayla menghela nafasnya.


"Ada Asisten Rangga disini ,Jangan membuatku malu." kesalnya


Galang tersenyum.


"Apa itu artinya jika tidak ada Rangga kau mau menciumku?" Tanya Galang.


"Haruskah aku menyuruh Dean pergi terlebih dahulu?" Tanya Galang lagi dengan nada menggoda.


Nayla benar-benar kehabisan kata-kata Sepertinya dia harus menuruti keinginan lelaki ini sekali lagi jika ingin segera keluar dari situasi ini.


Cup.


Nayla memberanikan diri untuk memberi kecupan pada pipi Galang.


"Sudah, Sekarang pergilah." Ujarnya sambil menahan malu.


"Siapa bilang aku ingin dicium dipipi, Aku ingin kau menciumku disini." Galang menunjukkan bibirnya pada Nayla.


Nayla melengos dengan wajah merona.


"Tidak tahu malu." Desisnya.


Galang tersenyum mendengarnya.


"Cium bibirku atau aku menginap disini lagi malam ini." Ujarnya.


Nayla menghela nafasnya sekali lagi kemudian kembali menoleh kearah Galang.


"Baiklah Tapi janji kau tidak akan menggangguku lagi setelah ini." Pinta Nayla.


Galang tampak berpikir sebentar.


"Baiklah." Galang menyetujui.


"Janji?"


Nayla terdiam sesaat Kemudian dengan ragu ia mendekatkan dirinya pada Galang, Nayla duduk disisi lelaki itu dengan wajah tegang. Sepertinya ia kesulitan menetralkan detak jantungnya yang mulai berpacu dengan cepat saat berdekatan dengan Galang.


Lalu dengan segenap keberanian yang telah susah payah ia kumpulkan, Nayla mendekatkan wajahnya pada wajah Galang.


Cup.


Sebuah kecupan lembut mendarat sekilas dibibir Galang.


Galang pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu Dengan cepat ditahannya tengkuk Nayla, membuat bibir Nayla kembali bertemu dangan bibirnya.


Dipagutnya bibir Nayla sambil tetap menahan tubuh perempuan itu agar tidak dapat melepaskan diri. Hingga Nayla pun hanya bisa pasrah dengan dan menerima saja apa yang Galang lakukan padanya.


Untuk kesekian kalinya Nayla masuk kedalam perangkap lelaki itu dan tak kuasa untuk melepaskan diri.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya gaes๐Ÿฅฒ


Happy Reading Buat kalian yang sudah mampir ๐Ÿฅฐ


__ADS_2