
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Kedatangan Nayla dan Kevin disambut gembira oleh semua penghuni panti. Mereka tampak sangat senang mendapatkan makanan ringan dan juga beberapa mainan.
Nayla dan Kevin memang menyempatkan diri mampir ketoko mainan setelah dari minimarket tadi. Mereka juga membelikan beberapa mainan untuk anak-anak itu, karena Nayla tahu, mainan adalah barang mewah yang jarang didapatkan untuk anak-anak panti seperti mereka.
Pengurus panti juga sangat senang dan terharu melihat kedua Nayla dan Kevin, apalagi Nayla salah satu donatur untuk panti asuhan itu. Nayla suka melakukan hal seperti ini dan bisa dibilang berhasil dan hidup mapan sekarang membuatnya bisa membantu orang lain.
Nayla tersenyum memandang sekeliling bangunan panti. Tempat ini menyimpan begitu banyak kenangan dimana beberapa bulan yang lalu, ia selalu mendatangi panti jika merindukan putra kecilnya, Alvaro. Tapi semenjak Alvaro datang ke rumahnya kerinduannya sudah terobati dan panti asuhan ini bisa dipersamakan dengan kisah hidupnya semasih kecil.
Ya. Jika diingat-ingat, sedari kecil hingga beranjak dewasa, hidup Nayla memang tidaklah mudah. Ada begitu banyak keringat dan airmata mengiringi perjalanan Nayla setiap harinya bersama keluarganya.
Kini ia patut bersyukur, kehidupannya sekarang sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dulu. Dan itu semua tidak lepas dari peran Galang, Kehadiran Galang didalam hidup Nayla memang seperti dua sisi mata uang. Dimana satu sisi merupakan sebuah tragedi dan musibah, tapi disisi lain juga merupakan anugerah bagi Nayla.
Itulah sebabnya, sebesar apapun kesalahan yang telah Galang lakukan padanya, Nayla tidak akan pernah bisa membenci lelaki itu.
"Ayo, ikut." suara Kevin membuyarkan lamunan Nayla.
Nayla tampak kaget saat Kevin mengenggam lembut pergelangan tangannya dan menariknya menuju suatu tempat. Nayla pun hanya bisa pasrah, Mau tidak mau ia ikut melangkah mengikuti Kevin yang berjalan didepannya.
Tak lama kemudian, Kevin berhenti disebuah tempat yang sangat nyaman untuk menghabiskan waktu jika ingin menyendiri.
" Nyaman...." gumam Nayla sambil menengadahkan wajahnya.
" Dan indah...." timpal Kevin.
Nayla menoleh, Dilihatnya Kevin yang juga sedang melihat kearah langit.
" Kamu telah pergi sangat lama , Nay. Selama itu juga aku memendam sesuatu didalam diriku." sambung Kevin lagi dengan nada bicara yang tak biasa.
Nayla terdiam, mencoba meraba kemana arah kata-kata Kevin barusan.
"Kamu masih ingat janjimu kan, nay. Sebelum ayahku melarangku menemuimu, Waktu itu aku menghindari mu karna ayah mengancam ku ?" tanya Kevin kemudian sambil menghadap kearah Nayla.
Nayla menautkan kedua alisnya, tak paham dengan apa yang sedang Kevin bicarakan.
"Bukankah dulu kamu pernah berjanji, saat sudah dewasa nanti kamu hanya akan menikah denganku dan menungguku sukses jadi seorang dokter. Lalu, ayahku juga tidak melarang ku menemuimu lagi." ujar Kevin mengingatkan.
Nayla tercenung. Tak tahu harus berkata apa. Janji menikah dengan Kevin? Nayla berusaha untuk mencari-cari ingatan itu dimemori otaknya.
Dan, ya. Akhirnya Nayla ingat, Ia memang pernah mengatakan itu kepada Kevin sebelum perpisahan sekolah. Di mana pada saat itu Kevin menyuruhnya untuk menunggunya namun pada saat itu ayah Kevin menghampiri mereka dan menyuruh Nayla menjauhi Kevin.
Ya. Nayla juga mengatakan jika ia tidak mau menikah dengan orang lain selain Kevin, karena saat itu satu-satunya orang yang baik padanya hanyalah Kevin. Lalu Nayla juga ingat, ia menyanggupi saat Kevin memintanya untuk berjanji tidak mengingkari kata-katanya itu bahkan Nayla mengiyakan pada saat Kevin meminta untuk menunggu dia kembali.
__ADS_1
Bukankah itu masa lalu yang sudah bertahun-tahun lamanya? Lalu kenapa Kevin menanyakannya sekarang?
"Aku harap kamu tidak pernah melupakannya." ujar Kevin lagi, kali ini terdengar ada penekanan didalam kata-katanya.
Nayla menelan liurnya dengan susah. Benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
"Waktu itu umurku baru enam belas tahun, tidak begitu paham dengan apa yang sudah aku katakan." ujar Nayla akhirnya.
"Tidak mungkin Kakak menganggapnya serius, kan? Lagipula itu sudah lama sekali, Bukan?" Nayla tertawa dengan canggung.
Kevin kembali melihat kearah Nayla.
"Tapi aku memang menganggapnya serius." ujarnya.
Nayla menghentikan tawanya. Matanya sedikit membulat karena tak percaya.
"Ma-maksud Kakak?" tanya Nayla dengan sedikit terbata.
Kevin tampak menghela nafas.
"Sejak saat itu aku terikat padamu, Nay. Karena janji itu, aku tidak bisa melihat perempuan lain lagi selama sepuluh tahun lebih ini. Aku hanya menginginkan dirimu untuk menjadi istriku kelak. Dan saat aku datang kembali mencarimu dua tahun lalu, selain ingin memenuhi janjiku untuk membawamu ikut denganku, aku juga berniat menagih janjimu waktu itu." tutur Kevin kemudian.
Nayla semakin terperangah. Matanya kini membulat sempurna karena merasa sangat terkejut.
Nayla tak bisa berkata-kata. Nafasnya sedikit tersengal karena terlalu syok dengan apa yang didengarnya.
Apa itu artinya selama ini Kevin menganggapnya lebih dari sekedar teman yang menurut Nayla,Kevin tidak pernah menyukai gadis miskin sepertinya? Bukankah waktu itu Kevin sudah punya kekasih? Bukankah itu terlalu sulit untuk dipercaya?
Nayla menghela nafas, mencoba menenangkan dirinya dari keterkejutan.
Nayla harus meluruskannya. Sepertinya ada semacam kesalahpahaman antara Kevin dan dirinya. Nayla memang menyayangi dan mengharapkan kehadiran Kevin Tapi Nayla benar-benar hanya menganggap Kevin sebagai seorang Kakak. Karena dulu ia hanya sekedar mengagumi bukan mencintai apalagi dulu dia masih polos Bukan? tak pernah terbayangkan dibenak Nayla untuk menikah dengan Kevin, terlebih dengan keadaannya sekarang yang sudah punya seorang anak. Semua ini terasa tidak benar.
"Ada hal penting yang belum aku ceritakan pada Kakak." ujar Nayla akhirnya. Ia menghela nafas sejenak dan mengatur kata-kata.
"Aku sudah pernah menikah, dan punya seorang anak laki-laki." lanjutnya kemudian.
Kini berganti Kevin yang melihat kearahnya dengan wajah terkejut.
"Aku menikah Enam tahun yang lalu. Sekarang anakku sudah berusia Lima tahun Lebih. Bahkan beberapa bulan lagi dia akan berulang tahun yang ke enam." lanjut Nayla.
Tatapan mata Kevin menjadi agak menajam.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya. Nayla mengangguk meyakinkan.
__ADS_1
"Nama anak laki-lakiku Alvaro. Sekarang dia sedang sibuk dengan pelajaran tambahan jelang ujian sekolah, jadi dia sedang tidak bisa diganggu. Tapi jika nanti dia sudah senggang dan punya waktu untuk mengunjungiku, aku akan mengenalkannya pada Kakak." Kevin masih menatap Nayla dengan raut tidak percaya.
"Jika kamu memang sudah punya suami dan anak. Kenapa aku tidak pernah melihat mereka? Tidak mungkin kalian tinggal terpisah, kan? Lagipula pasti mereka sesekali akan datang ke butikmu meski hanya untuk sekedar mengantar atau menjemputmu. Lalu kenapa aku tidak pernah bertemu mereka disana?" tanyanya lagi dengan nada agak tajam.
Nayla tak langsung menjawab, Pandangannya menjadi agak redup dan sendu.
"Itu karena aku sudah bercerai dengan suamiku." lirihnya,Suaranya tergetar dan terdengar agak sedih.
"Kami bercerai hampir tiga bulan yang lalu, dan putraku tinggal bersama Papanya." lanjut Nayla lagi.
Kevin terdiam dan tak menjawab lagi. Tatapannya tampak sangat nanar. Entah apa yang ada didalam pikirannya saat ini.
"Aku memang sudah tidak punya ikatan dengan siapapun lagi, Kak. Tapi jika ucapanku waktu itu terhitung janji, berarti sekarang aku telah mengingkari janji itu. Aku sudah menikah dengan orang lain." tutur Nayla lagi.
Kevin masih diam dan tak menjawab.
"Dan jika sekarang Kakak masih tetap ingin menagih janji itu, aku sungguh minta maaf.... Sekarang pun aku tetap tidak bisa memenuhinya. Putraku sudah sangat terluka dengan perpisahan Mama dan Papanya. Aku tidak ingin menambah lukanya dengan membuatnya tahu aku sudah menjalin hubungan baru. Aku tidak bisa.... aku tidak ingin dia terluka semakin dalam. Dia masih sangat kecil untuk merasakan itu semua.... Aku tidak ingin. Aku tidak ingin hidupnya penuh kesedihan seperti aku...." Nayla menatap kosong kearah depan. Airmatanya jatuh mengingat kesedihan Alvaro, Nayla memang telah berusaha menata hatinya. Tapi saat mengingat putra kesayangannya itu, tetap saja ia merasa sedih dan ingin menangis.
Kevin masih terdiam, Pandangannya jadi sedikit meredup. Kemudian perlahan Kevin menundukkan wajahnya.
"Sepertinya aku memang sudah pergi terlalu lama dan lama menemukan mu..." lirihnya kemudian. Suaranya terdengar serak dan tergetar.
Kevin mengulas senyum penuh ironi. Kenyataan yang didengarnya benar-benar tak terbayangkan olehnya. Hatinya sepertinya tidak siap menerima semua itu, Dia benar-benar kecewa. Sakit? Tentu.
Ingat :
Mengucapkan janji bisa dikatakan perkara yang mudah. Namun, untuk bisa jadi orang yang selalu menepati janji, terkadang terasa sulit. Tak sedikit orang yang mudah mengumbar janji daripada menepatinya.
Terutama orang yang sedang jatuh cinta, sering kali mengumbar janji pada pasangannya. Padahal ujungnya, mereka akan mengingkari. Jika orang yang berjanji itu diingkari janjinya oleh orang lain, akan merasa kesal. Itulah mengapa, jangan jadi orang yang mudah mengucap janji, tetapi tak bisa menepatinya.
Untuk bisa selalu menepati janji diperlukan komitmen yang tinggi. Dengan adanya komitmen bisa membuat seseorang lebih berusaha untuk selalu menepati janji.
^^^Bersambung.. ^^^
^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho^^^
^^^Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^
^^^Please....pleasee🙏🙏^^^
^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰^^^
^^^Maaf ya gaes kalau ceritanya agak berbelit-belit hehe 😅 author kurang pandai soalnya 🤭^^^
__ADS_1