Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 42


__ADS_3

^^^" Pria sejati tidak akan pernah menyakiti wanitanya. Berhati-hatilah saat membuat wanita menangis, karena Tuhan menghitung setiap air mata yang jatuh darinya.โ€^^^


...****************...


Kehidupan rumah tangga memang kerap diwarnai berbagai macam masalah. Mulai dari perekonomian, orang ketiga, dan masih banyak lainnya lagi. Tak hanya perempuan saja yang terkadang merasa tersakiti, namun pria juga merasakan hal serupa.


Pria biasanya sangat sulit mengekspresikan kekesalannya pada sang istri. Terlebih mereka yang sangat menghargai dan menyayangi istrinya. Sehingga lebih memilih untuk memendam perasaannya sendiri.


Nayla menghembuskan nafasnya untuk menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan.


Entah kenapa ia merasa sangat gugup, seperti mendapat firasat akan menghadapi hal yang besar. Mungkin memang akan ada hal besar yang akan terjadi, dan Nayla harap itu adalah hal yang baik untuknya dan juga Galang.


Setelah memejamkan matanya dan berdo'a dalam hati, Nayla akhirnya melangkah keluar dari dalam kamarnya. Menuruni tangga dan berjalan kearah aula terlihat cukup ramai. yang telah


Sudah ada mahendra , Ayah mertuanya, sedang berbicara dengan beberapa orang lelaki seusianya disudut ruang yang agak jauh. Lalu tak jauh dari Nayla berdiri saat ini, tampak Yunita, ibu mertuanya bersama dengan Galang dan Alvaro yang sedang berada dalam gendongan Laras.


Nayla pun melangkah mendekat, tapi sejurus kemudian ia tampak ragu melihat sekelilingnya. Semua orang terlihat asyik dengan pembicaraan masing-masing. Kemudian dilihatnya kearah Galang dan Yunita. Nayla tahu mereka menyadari kehadirannya, tapi kenapa kedua orang itu tampak acuh dan tak menghiraukannya.Apakah ia terlambat dan membuat suami serta ibu mertuanya itu kesal?


Langkah Nayla melambat, tapi tetap mendekat kearah Galang dan Yunita. Lalu sepasang suami istri paruh baya menghampiri mereka disaat Nayla sudah berdiri disamping Ginna.


"Nyonya Yunita, selamat atas kelahiran cucu Anda. Cucu Anda persis seperti Papanya, pasti besar nanti juga akan hebat seperti Papanya." wanita paruh baya itu mengucapkan selamat sambil memeluk kilas pada Yunita.


"Terima kasih... Terima kasih atas pujiannya." Yunita membalas pelukan itu dan tersenyum ramah. Pastilah sepasang suami istri itu merupakan orang penting, hingga membuat Yunita berusaha untuk ramah.


"Oh ya, Nyonya. Dimana menantu Anda? Saya sangat penasaran siapa wanita yang telah menaklukan hati Putra Anda yang hebat itu." wanita itu kembali bersuara sambil tertawa kecil, di balas senyuman oleh Yunita yang tampak tak berniat untuk menjawab pertanyaan itu.


Tiba-tiba wanita itu menoleh ke arah Nayla yang tak jauh dari mereka, Nayla masih setia berdiri di sana sambil menatap mereka.


"Nyonya Yunitq...apa dia menantumu..?" tanyanya kemudian.


Yunita menoleh dan sedikit terkejut melihat Nayla, walau sejurus kemudian dia bisa menguasai dirinya lagi.


"Nayla...kenapa kau lama sekali. Aku sudah dari tadi menunggumu." ujar Yunita kemudian, hal itu ia lakukan untuk mengalihkan keadaan agar orang tidak curiga.

__ADS_1


"Cepatlah pergi kedapur, lihat dan awasi makanan dan minuman, jangan sampai ada yang kurang." ujarnya lagi.


Nayla agak tercenung. Tadinya dia berpikir Yunita ibu mertuanya itu akan mengenalkannya pada wanita itu, tapi kenapa malah menyuruhnya pergi kedapur untuk mengawasi makanan dan minuman. Bukankah itu tugas para pelayan? Apa jangan-jangan...?


Suami istri sudah sepatutnya memiliki prioritas, memhami hak dan kewajiban masing-masing. Maka persoalan seperti ini rasanya tidak akan muncul.


Pada dasarnya perempuan itu membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang lebih dari pada laki-laki. Bukan di hempaskan dan tidak di akui.


Nayla tidak sempat menyelesaikan pertanyaan dibenaknya saat wanita dihadapannya itu kembali bersuara.


"Saya kira dia menantu Anda, Nyonya. Hampir saja saya salah menyapa. Dia sangat cantik nyonya " ujarnya sambil tertawa tak enak hati. Sedangkan Nayla hanya diam mencoba memahami arah pembicaraan ini.


Yunita kembali tersenyum menanggapi, kemudian kembali menoleh kearah Nayla.


"Kenapa masih disini? Apa tidak dengar yang kukatakan tadi?" tanyanya terdengar sedikit tidak senang. Sontak Nayla mengangkat wajahnya dan mengangguk.


"Baiklah." jawabnya lirih. Dengan sedikit sedih Nayla mulai melangkah menuju dapur. Tapi kemudian ia berhenti dan melihat ke arah Galang yang sejak tadi terdiam tanpa membelanya.


Perasaan sakit seorang istri menjadi sebuah kejahatan untuk suami, terlebih jika sakit itu tidak dapat disembuhkan, pada akhirnya akan menjadi rasa kecewa yang terus bergelayut selamanya. " Camkan ini ya para wahai suami-suami "


"Maaf, tadi itu adalah pegawai saya yang biasa membantu disini. Dia juga yang telah mempersiapkan pesta ini untuk cucu saya. Kerjanya cukup bagus, jadi dia agak dekat dengan saya." ujar Yunita


Kalimat yang keluar dari mulut Yunita kali ini membuat tubuh Nayla seketika mematung. Apa itu artinya Yunita mengatakan pada orang-orang jika dirinya adalah seorang pelayan? Kejam, Bukan?


"Ternyata dia salah satu pelayan Nyonya Yunita, saya kira tadi menantunya. Astaga...bagaimana bisa mata saya salah melihat,dia begitu cantik nyonya." Wanita teman bicara Yunita tampak menyalahkan dirinya.


Nayla menoleh pada Galang, berharap Galang mengatakan sesuatu.


"Saya juga sangat penasaran dengan Nyonya muda keluarga Alexander. Dimana Anda menyembunyikannya, Tuan Galang. Apa Istrimu begitu memukau hingga kamu tentang istri Anda jadi privasi?" Suami dari wanita paruh baya itu ikut mempertanyakan keberadaan istri Galang.


Galang menegang. Ditajamkannya indra pendengarannya. Ia ingin tahu apa jawaban Galang, Ia berharap semoga Galang mengakuinya.


Galang tampak tersenyum tipis.

__ADS_1


"Maaf, Tuan, Nyonya. Istri saya tidak bisa ikut serta dalam pesta kita kali ini. Semenjak melahirkan putra kami, kesehatannya agak menurun, tidak bisa terlalu lelah. Tadi karena terlalu bersemangat dia jadi mendadak tak enak badan, akhirnya dia tidak bisa ikut bergabung dengan kita karena harus beristirahat untuk memulihkan tubuhnya." Jawab Galang


Deg.


Jawaban Galang membuat jantung Nayla seakan berhenti berdetak. Galang bilang istrinya sekarang tak enak badan dan sedang beristirahat. Apakah Nayla tidak salah dengar? Atau Nayla yang sedang berhalusinasi?


Nayla tersenyum penuh ironi.


Aku sangat sehat, Galang. Tidak ada anggota tubuhku yang sakit. Satu-satunya yang sakit adalah hatiku.


" Omonganmu seperti parfum isi ulang, wangi tapi palsu."


Dengan perlahan Nayla melangkahkan kakinya untuk menjauh. Samar masih terdengar olehnya Galang yang kembali meminta maaf atas kondisi istrinya yang tidak memungkinkan untuk diperkenalkan pada orang-orang. Entah itu istrinya yang mana, Nayla tidak tahu.


Dipandanginya sekelilingnya sekilas. Tempat itu dipenuhi oleh orang-orang kelas atas yang semuanya berpendidikan dan cerdas. Tiba-tiba Nayla merasa dirinya sangatlah kecil.


Perhatian Galang sebelumnya ternyata tak berarti apa-apa. Dan gaun yang dikenakannya ini, ternyata hanya sekedar agar dia berpenampilan sama dengan yang lainnya. Tidak ada maksud lain. Nayla menyesal telah berpikir terlalu jauh dan terlalu berharap bahwa malam ini ia dia akui di depan semua orang tapi yang ia dapat hanyalah hinaan. Nayla sedang sakit, bukankah itu alasan yang begitu menyakiti?


" Lelah hati menunggu, namun kau tak dapat menutup sendu. Kau begitu dalam membuat luka hatiku, membuatku terus terhanyut dalam kesedihan, membuatku terus meratap apa yang seharusnya aku lupakan." Nayla Purnama


...----------------...


^^^Bersambung.. ^^^


^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu ya gaes, author ga bosan-bosan kok bilangnya ๐Ÿ˜‚๐Ÿคญ^^^


^^^Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^


^^^Please....pleasee๐Ÿ™๐Ÿ™^^^


^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP๐Ÿ˜˜๐Ÿฅฐ^^^


^^^Sabar ya gaes bentar lagi.... ????^^^

__ADS_1


__ADS_2