Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 46


__ADS_3

^^^"Jika lelah, pulanglah. Aku akan menjadi rumah ternyaman untukmu berkeluh kesah."^^^


Dada Nayla semakin bergemuruh saat Asisten Rangga keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang mobil itu. Lalu keluarlah sosok mengagumkan itu. Seorang lelaki rupawan yang sangat Nayla rindukan beberapa hari terakhir ini walau ia selalu berusaha tidak merindukan laki-laki itu. Galang Christian Alexander, suaminya.


Galang melangkah dengan mantap dan gagah, disambut beberapa orang yang membungkuk hormat. Dia kemudian berjalan kearah podium yang letaknya tepat disebelah Nayla.


Nayla membeku dengan mata lekat menatap kearah Galang.


Selangkah. Dua langkah. Tiga langkah. Galang semakin dekat kearahnya. Hingga akhirnya Galang menghentikan langkahnya tepat dihadapan Nayla, Dia melihat kearah Nayla dengan tatapan yang tidak bisa Nayla artikan.


Tatapan mereka bertemu, dan mereka memandang satu sama lain seolah tak ada orang disana selain mereka berdua.


Rasa rindu itu semakin membuncah, melumpuhkan akal sehat Nayla yang yang memang sejak tadi sudah mulai melemah. Anggap saja Nayla sudah gila, karena tak lagi menghiraukan norma kesopanan yang ada. Dan satu hal yang sangat ingin Nayla lakukan saat ini adalah menghambur kedalam pelukan lelaki dihadapannya itu.


"Galang.....aku merindukanmu." Lirih Nayla


Untung saja kalimat itu keluar dalam bentuk bisikan yang hanya dapat didengar oleh telinganya sendiri. Jika tidak, semua orang pasti akan mengatakan jika dirinya sudah tidak waras, berani mengucapkan kalimat tidak sopan pada tamu kehormatan hari ini.


Nayla dan Galang masih saling pandang untuk beberapa saat sebelum akhirnya deheman Galang mengembalikan kewarasan Nayla.


"Kau menghalangi jalanku, Nona." suara Galang semakin membuat Nayla tersadar dan langsung bergeser agak menjauh. Ia pun buru-buru membungkuk hormat pada Galang.


Nayla melirik sekelilingnya. Tampak orang-orang menatapnya dengan pandangan tidak suka. Pastilah karena sikapnya dihadapan Galang tadi yang dinilai orang-orang kurang pantas.


Tentu saja mereka akan berpikir seperti itu, karena setahu mereka, Nayla hanyalah pebisnis butik yang baru bergabung ditempat ini. Bisa-bisanya bertindak tidak sopan kepada Direktur Utama perusahaan Alexander Group.


Nayla menghela nafasnya.


Kerinduannya pada Galang sekilas membuatnya hilang akal dan tak bisa mengendalikan dirinya. Buru-buru ia menjauh dari tempat itu untuk sedikit menenangkan diri.


Pernikahan seharusnya dilakukan dengan orang yang dicintai, bukan dengan seseorang yang menjadi sumber kesedihan dan rasa kecewa.


Dari kejauhan Nayla melihat Galang menyampaikan kata sambutannya dan menyerahkan bantuan secara simbolis. Setelah rangkaian acara selesai, para tamu undangan mulai menikmati pesta mereka, menyantap makanan lezat sepuasnya.


Nayla jadi banyak bersyukur sekarang, akhirnya ia bisa berkumpul di acara seperti ini,acara buat para pebisnis butik dan dia termasuk diantara itu .


Nayla mengingat hubungannya dengan Galang dan Alvaro membuatnya kembali sedih tapi dia tetap mengucap syukur akan hal itu setidaknya ia masih berada di dekat kedua laki-laki yang sayangi itu. Meskipun tidak bisa dibilang bahagia, tapi setidaknya dirumah Galang, Nayla sangat dihormati dan hidup dengan baik.

__ADS_1


"Nyonya." suara Asisten Rangga mengejutkan Nayla yang sedang asyik dengan lamunannya.


Tampak dia telah berdiri disamping Nayla dan sedikit membungkuk memberi hormat.


"Tuan meminta Nyonya untuk pulang. Sekarang Tuan sedang menunggu didalam mobil." katanya kemudian.


Galang agak tercenung.


Galang memintanya pulang bersama? Apa dia tidak salah dengar?


"Cepatlah, Nyonya. Tuan bisa marah jika menunggu terlalu lama." tambah Asisten Rangga lagi.


Kali ini Nayla yakin dia tidak salah dengar.


"Baiklah..." jawabnya sambil mengangguk.


Kemudian Asisten Galang mempersilahkan Nayla untuk mengikutinya berjalan menuju mobil Galang. Rupanya mobil Galang sudah berada ditempat yang agak tersembunyi, sehingga tak akan ada yang melihat jika Nayla masuk kesana.


Asisten Rangga membukakan pintu penumpang dan mempersilahkan Nayla masuk ke dalam mobil.


Tampak Galang duduk sambil memangku laptop dengan mata fokus menatap layar. Sepertinya sedang mengerjakan pekerjaannya. Wajahnya terlihat sangat serius, hingga membuat Nayla ragu untuk masuk kedalam mobil.


Nayla masuk dan duduk dengan canggung. Lalu setelah menutup pintu mobil untuk Nayla, Asisten Rangga juga ikut masuk kedalam mobil dan duduk disebelah sopir.


Mobil itu pun meluncur.


Suasana hening. Tak ada yang berani memulai percakapan karena mereka tahu Galang sedang mengerjakan pekerjaan penting. Nasib ribuan karyawan Alexander Group tergantung dari apa yang galang kerjakan saat ini.


Tidak lama kemudian Galang menutup laptopnya dan menyingkirkan benda itu dari pangkuannya.


Nayla merasa sedikit lega. Akhirnya ia bisa bebas bernafas tanpa harus takut mengganggu pekerjaan Galang.


"Lama tidak bertemu, Asisten Rangga. Bagaimana kabarmu?" tanya Zaya pada asisten Rangga. Sebenarnya itu hanya pertanyaan basa-basi untuk mengusir rasa bosannya dan menghilangkan kegugupan nya.


"Kabar saya baik, Nyonya. Terima kasih." jawab Asisten Rangga sambil sedikit menoleh pada Nayla. Tapi kemudian dilihatnya ekspresi Galang yang terlihat tidak senang, sehingga buru-buru dia menghadap kearah depan lagi.


"Tempo hari kau menelpon Rangga, lalu sekarang kau menanyakan kabar Rangga. Jangan-jangan karena aku pergi terlalu lama, kau jadi lupa siapa suamimu, Nayla?" tanya Galang sarkas. Suaranya terdengar marah. Apa kau sedang cemburu tuan?

__ADS_1


Pernahkah kamu berpikir apa alasan seseorang diam? Mungkin karena itu lebih baik daripada bertanya namun di abaikan.


Eh?


Nayla terkejut. Sedangkan Asisten rangga lebih terkejut lagi, sampai-sampai hampir tersedak air ludahnya sendiri.


"Ma..maaf..." ujar Nayla gugup.


"Aku tidak menanyakan kabarmu karena kamu kelihatannya baik-baik saja." tambahnya lagi dengan suara pelan. Nayla berusaha untuk mencari alasan .


"Asisten Rangga juga kelihatan baik-baik saja." balas Galang dingin.


Gleg.


Nayla hanya bisa menelan ludahnya tanpa bisa menjawab lagi.


"Mulai sekarang jika kau ada perlu denganku, atau ingin meminta izinku, tidak perlu bicara pada Galang. Langsung bicara padaku. Bukankah diponselmu ada nomor kontakku?Apa kau mengerti?" Galang bertanya sambil melihat kearah Nayla. Jelas saja Nayla jadi salah tingkah dibuatnya.


"I-iya, aku mengerti." jawab Nayla gugup.


"Aku hanya takut mengganggumu. Apa kamu nanti tidak merasa terganggu?" tanyanya lagi takut-takut.


Galang terlihat menghela nafas.


"Aku memang akan terganggu, Nayla. Tapi lebih baik kau mengganggu suamimu sendiri daripada mengganggu laki-laki lain." ujarnya seperti tak senang dengan barusan di lakukan Nayla.


Nayla sedikit melebarkan matanya mendengar perkataan Galang. Sedangkan Asisten Rangga yang tak sengaja terlibat dalam permasalahan suami-istri ini, nampak ingin sekali membuat dirinya menghilang.


Nayla bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud dari perkataan Galang. Dia tidak ingin Nayla berbicara pada laki-laki lain, meski itu asistennya sendiri. Apa maksudnya sekarang ini Galang sedang cemburu?


Ah, tidak mungkin!


Cepat-cepat Nayla menepis pemikiran tak masuk akalnya itu. Sangat tidak mungkin jika saat ini Galang merasa cemburu. Nayla tidak ingin berpikir terlalu tinggi tentang dirinya lagi. Mungkin saja tindakan Nayla tadi telah menyinggung harga diri Galang sehingga Galang merasa tidak senang.


Sebagai kepala rumah tangga, suami bertugas mengayomi istri dan anak-anaknya. Namun tak bisa dipungkiri, di kenyataan seringkali dijumpai sosok suami yang tidak bertanggung jawab. Malahan, ada pula suami yang bertindak sesuka hati tanpa mempedulikan hati sang istri. Oleh sebab itu, tak sedikit rumah tangga yang akhirnya jatuh ke jurang perceraian.


Ya. Pasti seperti itu.

__ADS_1


Jika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan perhatian dan kasih sayang suami, tentu jawabannya istri dan anak. Tapi sepertinya dalam keluarga ini berbeda.


__ADS_2