Menjadi Istri CEO Tampan

Menjadi Istri CEO Tampan
Bab 85


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Setelah Galang kembali, Nayla dan yang lainnya hanya melanjutkan liburan mereka selama dua hari saja. Mereka memutuskan untuk pulang tiga hari lebih awal dari rencana semula.


Nayla kembali ke rutinitasnya semula. Seminggu kemudian, Albern juga sudah kembali ke sekolah.


Tidak ada kabar lebih lanjut tentang Galang dan perusahaannya setelah liburan mereka di Paris. Setelah terakhir kali meminta Nayla untuk menunggu dan memberinya kesempatan, lelaki itu tidak pernah lagi menghubungi Nayla ataupun muncul dihadapan Nayla.


Sepertinya kata-kata dan permintaannya waktu itu tidaklah serius, Entahlah. Nayla juga berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya, meski terkadang tak sengaja terpikir sendiri diotaknya.


Nayla mencoba menikmati waktunya yang tak diganggu oleh Galang lagi, Sesekali ia juga akan bertemu dengan Kevin. Dan sejauh ini hubungan mereka tetap sebatas kakak-adik atau teman biasa , tidak lebih. Kevin juga terlihat lebih santai dan tidak mendesak Nayla untuk menerimanya, hingga Nayla pun menjadi nyaman saat berada didekat Kevin.


Tapi yang tidak Nayla mengerti, entah kenapa terkadang tanpa sadar ia merindukan sosok Galang. Setiap ia pulang kerumah, Nayla akan melihat pagar rumahnya dari ujung jalan, berharap mobil lelaki itu telah terparkir disana seperti sebelum-sebelumnya.


Diam-dian Nayla merasa kehilangan, meski ia berusaha sekuat tenaga untuk menyangkalnya.


"Bu Boss, kamu sudah baca berita di internet? Bukankah ini perusahaan Tuan Galang?" Tanya Sarah sambil masih menatap layar ponselnya.


"Kenapa memangnya?" Nayla masih asyik dengan laporan keuangan dihadapannya.


Sarah tak menjawab Matanya masih menatap layar ponsel sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Wah...benar-benar... Sebegitu inginnya berita dibaca orang, sampai-sampai omong kosong seperti ini dijadikan headline news." Cerocos Sarah sambil tetap menatap layar ponselnya.


Nayla mendongak sekilas Lalu kembali pada kesibukannya semula. Ia tak tertarik dengan apa yang Sarah baca Paling Sarah sedang membaca berita hoax di internet.


"Astaga. Sungguh kejam pemberitaan akhir-akhir ini. Masa iya, Alexander Group terancam bangkrut?" Sahut Sarah


Mata Nayla sontak membulat mendengar kalimat terakhir Sarah, Tangannya yang tadinya hendak menandatangani sebuah berkas, mendadak berhenti dan tak sengaja menekan pena yang dipegangnya hingga kertas yang akan ditanda tangani menjadi bolong.


Nayla mendongak.


"Apa katamu tadi?" Tanyanya pada Sarah.


Sarah menoleh Kemudian ia mendekat dan menyodorkan ponselnya kepada Nayla.


"Bacalah" Ujarnya.


Nayla meraih ponsel Sarah dan membaca berita yang sebelumnya Sarah baca. Mata Nayla membulat sempurna.


Berita itu menuliskan jika saham Alexander Group merosot tajam dikarenakan goncangan dari internal perusahaan itu sendiri.


Disebutkan juga jika ada pihak yang berkhianat dengan mencuri data perusahaan dan menyerahkannya pada perusahaan lain sehingga perusahaan Alexander Group mengalami kerugian yang tidak main-main. Perusahaan besar itu menjadi kolaps hanya dalam kurun waktu satu malam Dan hal itu terjadi saat Sang Direktur Utama sedang berlibur ke luar negri.


Nayla membeku, Ia langsung teringat saat Galang mengatakan akan membereskan sesuatu sesaat sebelum pergi dari Paris dengan terburu-buru.


Jadi inikah yang dimaksud Galang dengan sesuatu itu?

__ADS_1


Ya Tuhan. Nayla kembali terbayang dengan wajah rapuh Galang waktu itu, Kilasan saat lelaki itu memeluknya dengan sangat erat seakan tengah mencari kekuatan.


Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah selama ini Galang tidak pernah lalai dalam menjalankan perusahaan?


Nayla langsung memberikan kembali ponsel milik Sarah dan mencari ponselnya sendiri. Sarah mencoba menghubungi Galang untuk memastikan keadaan lelaki itu tapi nomornya tidak dapat dihubungi.


Ia pun mencoba untuk menghubungi Asisten Rangga tapi nomornya juga tidak dapat dihubungi.


" Sarah, apa Asisten Rangga menceritakan sesuatu padamu belakangan ini?" Tanya Nayla kemudian.


Sarah tampak berpikir sejenak dan menggeleng.


"Sebelum pulang dari Paris, Rangga mengatakan padaku jika dia tidak bisa menghubungiku untuk sementara. Jadi sampai sekarang kami belum saling berhubungan sama sekali, Memangnya kenapa? Apa jangan-jangan...?" Sarah tak meneruskan kalimatnya dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri.


"Jadi berita itu benar?" Tanyanya tak percaya.


Nayla menghela nafas panjang.


"Entahlah..." Gumam Nayla.


Sarah masih terperangah tak percaya sambil sesekali bergumam pada diri sendiri sedangkan Nayla terdiam dan larut ke dalam pikirannya. Ia menimbang-nimbang bagaimana caranya untuk mencari tahu keadaan Galang sekarang.


Dan Alvaro? Terpengaruh atau tidakkah putranya itu dengan keadaan Galang saat ini? Haruskah Nayla datang ke kediaman Galang untuk mencari tahu?


Nayla terus berpikir hingga tanpa sadar waktu telah merambat malam, Mau tidak mau ia pun beranjak pulang.


Hingga saat dini hari, ponsel Nayla berdering dan layarnya menampilkan nama yang sejak tadi ada didalam pikiran Nayla.


Galang ? gumam Nayla


Nayla segera menggeser tombol terima.


"Halo." Suara seorang lelaki terdengar diseberang sana.


Nayla menautkan kedua alisnya, Itu bukanlah suara Galang.


"Apa benar Anda istri dari pemilik ponsel ini?" Tanya lelaki itu kemudian.


Mata Nayla melebar Perasaan tidak enak tiba-tiba datang menyelimutinya.


"Ada apa?" Nayla malah balik bertanya.


"Maaf, Nyonya. Saya adalah salah seorang security di sebuah club malam, Suami Anda sepertinya mabuk berat dan tidak sadarkan diri saat akan masuk kedalam mobilnya. Jadi sekarang dia ada di pos securty kami, Saya akan mengirimkan alamatnya supaya Anda bisa menjemput suami Anda, Nyonya." Terang lelaki diseberang sana.


Nayla tertegun.


Club malam? Mabuk dan tidak sadarkan diri? Sejak kapan Galang melakukan semua itu? Bukankah selama ini Galang sangat membenci minuman keras? Sebegitu parahkah keadaan perusahaan sekarang sampai-sampai Galang begitu frustasi dan melampiaskannya dengan mengkonsumsi minuman haram itu?

__ADS_1


Tanpa pikir panjang lagi Nayla langsung bersiap. Setelah lelaki tadi mengirim alamat pada Nayla, Nayla langsung mengemudikan mobilnya ke alamat tersebut. Ia juga menghubungi Asisten Rangga dan meminta bawahan Galang tersebut untuk datang ke alamat itu juga, Beruntung kali ini nomornya sudah bisa dihubungi.


Tidak berselang lama setelah Nayla sampai, Asisten Rangga juga sampai dengan mengendarai taksi online. Mereka pun segera memeriksa keadaan Galang didalam pos security yang dimaksud.


Dan tampaklah disana seorang lelaki masih dengan pakaian kerjanya, tergeletak disebuah kursi dengan penampilan yang sudah sangat berantakan. aroma alkohol tercium dari tubuhnya Meski dengan mata terpejam, ekspresinya terlihat sangat tertekan sehingga memperjelas guratan halus yang ada diwajahnya.


Nayla menatap sedih kearah lelaki itu, Lelaki tampan yang biasanya selalu tampil mempesona, kini terlihat begitu Memprihatinkan .


Dengan dibantu oleh Asisten Rangga, akhirnya Nayla membawa Galang pulang kerumahnya.


Seorang pelayan membukakan pintu dan terkejut mendapati Galang tak sadarkan diri. Terlebih saat melihat Nayla yang ikut mengantarnya Tapi tentu saja ia tidak berani untuk mengeluarkan suara, apalagi jika sampai bertanya. Para pelayan Galang memang cukup tahu diri dan tidak usil dengan urusan pribadi majikannya.


Nayla dan Rangga pun membawa Galang kekamarnya Setelah membaringkan Galang ditempat tidur, Rangga langsung keluar dari kamar Galang, seolah sedang memberikan ruang bagi Galang dan Nayla.


Nayla duduk di tepi ranjang sambil menatap Galang sendu Kemudian ia mengeluarkan ponsel Galang yang sempat diberikan oleh security tadi kepada Nayla.


Nayla menyentuh layar ponsel yang ternyata tidak terkunci itu. Layarnya menyala, dan tampaklah walpaper yang membuat Nayla terkesiap saat melihatnya. Foto dirinya bersama dengan Alvaro yang sedang tertawa cerah dengan latar belakang keceriaan parade di Disneyland.


Galang memasang gambar Nayla dilayar ponselnya? Sungguh tak pernah terbesit dipikiran Nayla sebelumnya.


Jemari Nayla kembali menekan layar ponsel Galang, Kali ini untuk memeriksa nama apa yang Galang berikan pada nomor kontaknya, hingga security yang menolong Galang tadi bisa salah paham.


Lalu saat Nayla men-dial nomornya sendiri dari ponsel Galang, Nayla kembali membeku. Layar ponsel Galang menampilkan nama 'Istriku' untuk nomor kontaknya.


Nayla mengakhiri panggilan itu dan kembali menatap Galang dengan sendu, Setetes airmata jatuh dipipinya tanpa bisa ia tahan.


"Kenapa harus seperti ini, Galang?" Lirihnya.


"Seharusnya setelah menceraikanku hidupmu menjadi jauh lebih baik, Kamu bisa mendapatkan pendamping yang mampu membuatmu semakin bersinar. Kenapa kamu justru menjadi terpuruk seperti ini?" Lanjut Nayla sambil mulai terisak.


Nayla meletakkan ponsel Galang diatas nakas dan bangkit dari duduknya, Nayla ingin segera pergi,Ia tidak mau sampai tersedu dihadapan Galang.


Tapi sejurus kemudian, Nayla merasakan tangannya tertahan, Tampak Galang telah memgenggam erat jemarinya. Lelaki itu telah membuka matanya dan memandang kearah Nayla dengan tatapan sayu yang sulit diartikan.


"Tetaplah disini." Pintanya.


Nayla terdiam dan tak tahu harus bagaimana,Ia sungguh tidak mau berada dalam situasi seperti ini bersama Galang.


Galang masih tetap menatap Nayla sambil mempererat gengamannya.


"Kumohon, Nayla. Jangan pergi..." ujar Galang dengan tatapan sayu menatap kearah Nayla yang sedang memalingkan wajahnya.


Nayla mematung, Ia tidak tahu harus menuruti permintaan Galang atau segera pergi dari sana. Lalu dengan sedikit memberanikan diri, Nayla menoleh dan berusaha untuk melihat kearah lelaki itu.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan bagi yang vote author kiss ya😘😘🀣🀣🀭

__ADS_1


Happy Reading Teman-teman online ku😚


__ADS_2