
Namun nyatanya, Yunita harus bisa menerima jika Nayla yang sekarang tidaklah sama lagi dengan Nayla yang dulu. Saat ini, mantan menantunya itu Saat ini menjelma menjadi sosok yang yang tegas dan berpendirian, Terlihat saat ia tak ragu untuk menolak permohonan Yunita.
Mungkin perlakuan dingin Yunita dan Galang yang membuat Nayla menjadi dirinya yang sekarang. Yunita hanya berharap, ada keajaiban yang bisa membuat Alexander Group dan Galang bisa melalui situasi ini.
Disisi lain, Nayla sebenarnya menaruh rasa simpati kepada Yunita. Nyonya besar itu tampak seperti seseorang yang kalah bertempur, Ia sampai harus merendahkan diri dihadapan mantan menantu yang selama ini tak dianggapnya demi perusahaan dan putranya tercinta. Sungguh miris Nayla melihatnya.
Nayla prihatin Tapi itu tak serta merta membuat Nayla menerima permohonan Yunita begitu saja. Kembali pada Galang? Entahlah. Nayla merasa itu bukanlah hal yang ingin dilakukannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...
Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Yunita , Nayla banyak merenungkan tentang keputusan yang akan ia ambil. Banyak hal yang ia pertimbangkan jika ia menerima ataupun menolak Galang
Dan yang paling Nayla pikirkan adalah bagaimana dampaknya untuk Alvaro dari masing-masing keputusan akan ditentukan oleh Nayla.
Ya. Alvaro adalah titik berat Nayla saat ini, Nayla tidak ingin masa depan putra kesayangannya itu mengalami kesulitan dimasa depan jika Nayla melakukan kesalahan.
Dan untungnya, baik Galang maupun Kevin, kedua lelaki itu sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing-masing sehingga mereka tak mengganggu Nayla dan memberikan Nayla ruang untuk berpikir dengan jernih.
Namun tetap saja, meski telah berusaha untuk menelaah isi hatinya, Nayla masih tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh hatinya sendiri. Ia benar-benar mengalami apa yang orang-orang sekarang sebut dengan galau.
Nayla bimbang, Ia tidak tahu dimasa depan akan kembali tersakiti atau tidak jika memilih kembali bersama dengan Galang saat ini.
Nayla tidak ingin terpuruk lagi Jika kali ini ia kembali disia-siakan, maka akan sulit baginya untuk kembali bangkit.
Sore itu entah kenapa sepulangnya dari Butik, Nayla tak langsung mengendarai mobilnya menuju rumah. Mungkin kerinduannya kepada Alvaro membuat Nayla mendatangi kediaman Galang terlebih dahulu.
Nayla turun dari mobilnya dengan perasaan yang sedikit berkecamuk, Rumah mewah Galang yang dulu pernah menjadi rumahnya juga membuatnya sedikit banyak teringat akan masa lalu.
Masa lalu yang kini terasa begitu membelenggunya dan membuatnya takut untuk membuka hati lagi. Nayla sungguh berharap jika dia akan segera terlepas dari belenggu itu, Ia ingin sekali berdamai dengan masa lalu dan bisa menyambut masa depannya tanpa takut dengan apapun lagi.
"Nyonya?" Bi Sani yang kebetulan membukakan pintu untuk Nayla tampak sangat terkejut sekaligus gembira.
Nayla hanya tersenyum menanggapi. "Aku ingin mengunjungi Alvaro. Apa dia sudah pulang?" Tanya Nayla, Pelayan paruh baya itu mengangguk cepat dan mempersilahkan Nayla masuk.
Nayla langsung diantar kekamar Alvaro dan mendapati bocah itu baru saja menyelesaikan pekerjaan rumahnya didampingi oleh Laras, pengasuhnya.
"Mama...?" Alvaro terlihat agak kagetSejurus kemudian ekspresi wajahnya berubah ceria, ia berhambur kedalam pelukan Nayla dengan senangnya.
Nayla tersenyum dan membalas pelukan Alvaro.
Tampak Laras sedikit membungkukkan badannya sebelum permisi meninggalkan sepasang ibu dan anak itu.
Tak berapa lama Nayla dan Alvaro sama-sama mengurai pelukan mereka.
"Mama merindukan Al." Gumam Nayla sambil mengusap kepala Alvaro dengan penuh kasih sayang.
Bocah itu tertawa kecil kemudian kembali memeluk Nayla.
"Al juga merindukan Mama." Balasnya juga.
Kedua ibu dan anak ini melepas rindu dengan kembali saling memeluk satu sama lain.
Nayla menemani Alvaro hingga tiba waktunya makan malam Tampaknya Galang masih belum pulang juga, hingga Nayla pun mau tak mau menemani Alvaro makan dimeja makan. Terbayang dibenak Nayla jika ia tak datang tadi, pasti putranya itu makan dimeja besar itu sendirian.
Sebesit kesedihan datang menghampiri Nayla, Setelah kepergiannya pasti Alvaro sering mengalami hal ini, mengingat Galang yang lebih sibuk dari biasanya akhir-akhir ini.
"Sayang, apa Papa sering pulang larut?" Tanya Nayla kemudian pada Alvaro.
Bocah itu mengangguk mengiyakan, membuat Nayla sedih membayangkan putranya ini sering kesepian.
"Papa sering telat pulang sejak Mama pergi." Alvaro menjawab pertanyaan Nayla dengan polosnya.
"Al lebih suka Mama tinggal disini seperti dulu. Kalau ada Mama, Papa tidak suka pulang telat." Tambah Alvaro lagi, masih dengan gaya polos seperti sebelumnya.
Nayla merasa tertusuk tepat dijantungnya, Perceraiannya dengan Galang bukan hanya meyisakan luka untuknya tapi justru putra kesayangannya ini yang mengalami dampak paling banyak. Nayla benar-benar sedih mendapati hal itu.
Selesai makan malam, Nayla menemani Alvaro kembali mengerjakan pekerjaan rumahnya kemudian Nayla juga menemani Alvaro untuk pergi tidur.
__ADS_1
"Mama...." Alvaro terdengar ingin menyampaikan sesuatu kepada Nayla namun ditahannya.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Nayla lembut.
Alvaro menatap Nayla dan terlihat ragu-ragu.
"Ada apa? Apa ada yang menganggu pikiran Al?" Tanya Nayla lagi sambil mengelus kepala Alvaro dengan sayang.
"Apa Mama tidak mau pulang kesini lagi?" Tanya bocah itu akhirnya.
Nayla terkesiap, Sejujurnya pertanyaan Alvaro tadi adalah pertanyaan yang Nayla ajukan pada dirinya sendiri dan masih belum menemukan jawabannya sekarang. Lalu bagaimana ia harus menjawab Alvaro?
"Kenapa Al menanyakan hal itu?" Tanya Nayla balik.
Alvaro tak langsung menjawab dan terdiam beberapa saat.
"Al...ingin Mama dan Papa bersama seperti dulu lagi..." Lirih bocah itu akhirnya,Ia terlihat memandang kearah lain saat mengatakan keinginannya itu. Tampaknya ia takut melihat bagaimana ekspresi Nayla saat mendengarkan keinginannya.
Nayla membeku beberapa saat.
"Kenapa Al ingin Papa dan Mama seperti dulu?" Tanya Nayla lagi.
"Karena Al tidak mau melihat Papa sedih lagi, Ma. Sejak Mama pergi, Papa jadi sering sedih sendirian. Papa juga sering lihat foto Mama, Pasti Papa juga sering merindukan Mama seperti Al..." ujar Alvaro
Nayla membeku, Ia tak tahu harus merespon kata-kata Alvaro seperti apa. Hati Nayla seperti diremas-remas hingga ia tak lagi bisa berkata-kata.
Lalu Nayla berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan dan membahas hal lain hingga akhirnya Alvaro pun tertidur.
Dipandanginya wajah polos itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya Nayla beranjak dan keluar dari kamar Alvaro.
Nayla berpapasan dengan Bi Sani yang tengah membawa nampan berisi secangkir kopi menuju ke ruang kerja Galang.
"Apa Galang sudah kembali?" Tanya Nayla.
"Iya, Nyonya. Tuan baru saja pulang dan langsung meminta diantarkan kopi ke ruang kerjanya." Jawab Bi Sani.
Nayla menautkan kedua alisnya.
''Kopi? Sejak kapan Aaron bekerja malam sambil minum kopi?''
Nayla terdiam sejenak, kemudian ia menahan nampan yang dibawa oleh Bi Sani.
"Biar saya buatkan teh herbal dan mengantarnya ke ruang kerja Galang." Pintanya kemudian.
Bi Sani tercenung beberapa saat tapi kemudian senyumnya terbit dan ia pun mengangguk.
Bi Sani lalu membawa kembali kopi yang sebelumnya ia buat Sedangkan Nayla pergi kedapur untuk membuatkan teh herbal untuk Galang.
Nayla mengetuk pintu ruang kerja Galang sambil membawa nampan berisi teh buatannya. Terdengar suara Galang dari dalam yang menyuruhnya masuk, Perlahan Nayla membuka pintu yang ternyata tak terkunci itu. Lalu dengan pelan ia masuk kesana.
Tampaklah Galang yang masih dengan pakaian kerjanya, berkutat dengan beberapa dokumen sambil sesekali memijat sendiri pangkal hidungnya.
Terlihat jelas jika lelaki itu sudah sangat kelelahan.
"Taruh saja kopinya disana." Ujarnya sambil masih melihat kearah dokumen-dokumen itu. Sepertinya dia tidak menyadari jika yang berdiri dihadapannya adalah Nayla bukan Bi Sani.
"Ini teh herbal bukan kopi." Ralat Nayla.
Galang terkesiap mendengar suara Nayla, Kemudian diangkatnya wajahnya dan melihat sosok dihadapannya itu dengan tatapan tak percaya.
"Kau...disini?" Tanyanya.
Nayla meletakkan teh yang dibawanya.
"Bukankah sudah aku bilang, lebih baik minum teh herbal daripada kopi saat kamu mau bekerja sampai larut." Omel Nayla tanpa menjawab pertanyaan dari Galang.
Galang membeku, Untuk sesaat dia merasakan jika Nayla dihadapannya kini sama seperti Nayla saat masih menjadi istrinya dulu.
Nayla mendekat kearah Galang sambil menatap lelaki itu dengan sedih. Benar apa yang dikatakan Yunita, lelaki ini tanpa sadar mulai menghancurkan dirinya sendiri. Bahkan dengan kondisi tubuhnya sendiri pun dia mulai acuh Sangat berbeda dengan Galang yang dulu yang sangat meperhatikan kesehatannya.
Nayla berhenti disamping kursi yang tengah Galang duduki,Pandangan mereka terkunci satu sama lain.Perlahan kedua tangan Nayla terulur menangkup wajah yang kelelahan itu.
__ADS_1
"Galang..., Jadilah sosok mengagumkan yang aku kenal dulu, Jangan lepaskan Alexander Group. Atasilah masalah yang sedang melanda perusahaanmu sekarang, Aku yakin kamu bisa melakukannya Dan setelah semuanya selesai, mari kita memulai hubungan kita dari awal lagi..." ujar nayla
Galang tertegun beberapa saat, Matanya lekat menatap Nayla masih dengan raut tak percaya. Kemudian tangannya meraih jemari Nayla yang merangkum pipinya.
"Apa sekarang aku sudah tertidur dan sedang bermimpi?" Gumamnya.
Nayla melepaskan tangannya dari wajah Galang dan memeluk lelaki itu.
"Kamu masih terjaga, Galang." Ujarnya.
"Aku disini, sekarang kamu harus kembali menjadi Galang yang selama ini aku kenal. Kamu harus berjuang untuk membuat Alexander Group pulih kembali. Jangan pernah berpikir untuk menyerahkan kepemilikan perusahaanmu pada pihak lain, oke?" Nayla mengurai pelukannya dan kembali merangkum wajah Galang layaknya saat ia berbicara pada Alvaro.
Galang tersenyum.
"Apa kau mengkhawatirkanku?" Tanyanya pada Nayla.
"Tidak. Aku hanya khawatir dengan masa depan Alvaro jika terjadi apa-apa denganmu." Jawab Nayla cepat.
"Benarkah? Tapi kenapa sepertinya kau sangat mengkhawatirkanku sekarang?" Galang menatap Nayla yang juga sedang menatapnya,Untuk sesaat mereka kembali saling menatap satu sama lain.
Tiba-tiba Galang bangkit dari duduknya dan meraih tubuh Nayla kedalam pelukannya.
"Jangan pergi lagi, Nayla. Aku sangat membutuhkanmu..." Lirihnya sambil mendekap Nayla erat.
"Maafkan aku, karena telah terlalu banyak menyakitimu. Aku menyesali kebodohanku itu setiap saat, Aku berjanji pada diriku sendiri jika kau memberikan aku satu kesempatan lagi, akan kuganti Lima tahun lebih penderitaanmu dengan seumur hidup membahagiakanmu."
Nayla terdiam beberapa saat, Entah kenapa kata-kata Galang barusan begitu menyentuh hatinya dan membuatnya terharu.
Nayla sangat tahu karakter Galang, Lelaki ini tidak akan menjanjikan apapun yang tidak sanggup dia penuhi Tapi jika dia sudah berjanji, dia akan mempertaruhkan apapun untuk memenuhinya. Galang selalu memegang setiap kkata-katanya, Nayla tak pernah meragukan itu.
Dan sekarang lelaki itu berjanji akan mengganti penderitaan Nayla selama ini dengan kebahagiaan seumur hidup.
Hati Nayla benar-benar terasa penuh dan menghangat Tanpa sadar ia membalas pelukan Galang dengan sama eratnya.
Nayla juga menginginkan Galang itulah kenyataanya. Faktanya, meski telah berpisah rasa cinta Nayla terhadap lelaki itu tidaklah berkurang sedikitpun. Nayla hanya berhasil menekannya sedemikian rupa hingga rasa itu tersembunyi disudut hatinya yang paling dalam tapi tidak bisa membuangnya.
Lalu sekarang, saat Galang memeluknya dengan penuh perasaan, rasa cinta itu kembali menyeruak kepermukaan membuat Nayla semakin yakin jika Galang lah yang diinginkannya.
"Aku akan kembali bersamamu, Galang. Aku juga membutuhkanmu..." Lirih Nayla.
" Tapi jangan pernah mengabaikan aku seperti dulu lagi." Gumam Nayla lagi sambil menenggelamkan wajahnya di dada Galang. Airmatanya tanpa sadar menetes membasahi kemeja yang Galang kenakan.
Nayla tak mau menahan perasaannya lagi, Selama Lima tahun lebih ia mencintai Galang dalam diam dan kini lega rasanya bisa mengungkapkan perasaan, meski hanya sekedar kata 'aku membutuhkanmu.'
Sedangkan Galang yang mendengar kata-kata Zaya barusan, tampak mengulas sebuah senyuman. Kini berganti dia yang merangkum wajah Nayla dengan kedua tangannya, Diciumnya kedua mata Nayla yang basah. Kemudian turun dikedua pipi Nayla dan yang terakhir, Galang mengecup bibir Nayla.
Nayla memejamkan matanya, menikmati momen yang menggetarkan hatinya ini.
"Aku mencintaimu, Nayla..." Bisik Galang ditelinga Nayla Kemudian dia kembali mengecup bibir Nayla dan kali ini disertai dengan ******* ******* kecil.
Nayla membalas pagutan bibir Galang, Ia mengalungkan kedua tangannya dileher lelaki itu sambil memejamkan matanya. Keduanya saling meyesap bibir satu sama lain dengan penuh perasaan.
Tangan Galang menahan tengkuk Nayla untuk memperdalam ciuman mereka Dan tangan yang satunya mulai mengusap lembut punggung Nayla.
Tak lama kemudian, Nayla merasakan tubuhnya diangkat oleh Galang. Masih dengan bibir yang saling bertautan, Galang mendudukkan Nayla ke atas meja kerjanya.
Ciuman Galang pun turun ke leher Nayla. Dikecup dan dihisapnya leher jenjang nan mulus itu hingga menyisakan tanda kepemilikan disana.
"Galang..." Nayla mulai mendesah sambil menyebut nama Galang Tapi lelaki itu tetap tak berhenti. Dia kembali menuju ke bibir Nayla menyesapnya lagi.
Nayla kembali membalas dengan tak kalah sengit, Ia mengulum bibir Galang bagian atas dan bawah secara bergantian.
"Ssshhhh..." Nayla mendesis saat Galang meremas lembut dadanya.
Galang semakin bersemangat saat mendengar suara Nayla tadi. Diciumnya Nayla dengan semakin panas dan liar Kemudian tanpa Nayla sadari, Galang sudah berhasil meloloskan blus yang dipakai Nayla beserta **********, hingga dada Nayla terpampang sempurna tanpa penghalang dihadapan Galang.
Pandangan mereka kembali bertemu, Galang menatap mata Nayla yang telah berkabut karena gairah, seakan ingin meminta izin untuk melakukan hal lebih pada Nayla.
Nayla mengangguk pelan.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen dan Vote ya
Author ngantuk 😴 besok author lanjutkan bab selanjutnya ya