
Nayla terus berusaha membujuk Asisten Rangga.
Asisten Rangga tampak berpikir agak lama. Dia ingin sekali mengabaikan permintaan Nayla, tapi disisi lain dia juga ingin membantu mantan istri Tuannya itu. Asisten Rangga sangat tahu bagaimana kehidupan Nayla saat bersama Galang selama ini. Tentu saja dia merasa prihatin dan bersimpati. Tapi untuk membantu Nayla mengalihkan aset yang diberikan Aaron kepada Alvaro, Asisten Rangga tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika Galang mendengarnya nanti.
"Galang tidak perlu tahu hal ini, cukup diantara kita berdua saja." ujar Nayla seakan mengetahui kegelisahan Asisten Rangga.
Mata Asisten Rangga membulat. Dia terkejut dengan apa yang didengarnya. Dia tidak habis pikir bagaimana mantan istri Tuannya ini menjadi sangat berani sekarang.
"Galang tidak akan tahu jika tidak ada yang memberitahunya. Ini akan jadi rahasia kita berdua. Jadi Anda tidak perlu khawatir, Asisten Rangga." tambah Nayla lagi.
Asisten Rangga menelan ludahnya.
Akhirnya setelah bujukan Nayla yang tidak berhenti, dia pun menyetujui untuk membantu Nayla mengalihkan aset pemberian Galang menjadi atas nama Alvaro. Bersamaan dengan itu dia juga merasa khawatir dengan nasibnya sendiri kedepannya. Tapi Asisten Rangga menghibur dirinya sendiri dengan meyakini semuanya akan baik-baik saja.
Setelah menyelesaikan semuanya, Nayla pun memilih untuk tidak kembali ke kafenya. Ia langsung pulang kerumahnya untuk beristirahat. Membujuk Asisten Rangga tadi cukup membuatnya kehilangan energi.
Nayla lega akhirnya tidak perlu menerima pemberian dari Galang. Bukan tanpa alasan Nayla melakukan itu. Disamping ia benar-benar ingin memberikan sesuatu pada Alvaro, ia juga tidak ingin terlibat dengan Galang lagi.
Nayla ingin memulai hidup barunya tanpa bayang-bayang Galang. Butik miliknya yang selama ini beroperasi dengan kucuran dana dari Galang pun kini telah memakai uang pribadinya sendiri.
Meski tak menampik jika Butik nya didirikan dengan menggunakan uang pemberian Galang juga, tapi setidaknya Nayla bekerja keras untuk mengembangkan Butik nya hingga menjadi seperti sekarang. Jadi bisa dikatakan jika butik nya itu adalah hasil jerih payahnya dan jerih payah kedua adiknya yang selalu sedia membantunya mengembangkan butik nya di mana-mana.
Nayla ingin bangkit dan menjadi lebih mandiri dan melupakan masa lalu yang begitu menyakitkan.
Mulai sekarang ia akan berusaha hidup tanpa Galang. Ia bertekad merajut masa depan dengan usahanya sendiri. Ia akan membuktikan jika suatu hari nanti Alvaro akan bangga mempunyai Ibu seperti dirinya.
...****************...
Di sebuah rumah mewah ada seorang laki-laki yang sedang menatap taman rumahnya dari atas balkon dengan tatapan menerawang, tatapan kosong dan tubuh yang mulai tidak terurus. Ya, siapa lagi kalau bukan Galang!
Galang menatap kosong taman rumahnya dari atas balkon, Malam itu cuaca sangat cerah. Bintang-bintang tampak bergelantungan menghiasi langit. Dan bulan yang sedang bulat sempurna bersinar terang menambah indahnya suasana malam.
Tapi semua keindahan itu tampak sangat kontras dengan keadaan Galang sekarang. Wajahnya muram seperti digelayuti awan mendung, Tampak dia juga sesekali membuang nafas kasar.
Tadi sore Asisten Rangga menceritakan padanya tentang keputusan Nayla yang mengalihkan aset pemberian Galang menjadi atas nama Alvaro. Meski tangan kanannya itu sudah memilih bahasa yang sangat halus saat menyampaikannya, tetap saja suasana hati Galang menjadi sangat buruk karena Nayla telah menolak pemberiannya.
Ya. Tampaknya Asisten Rangga tidak punya keberanian menyembunyikan hal itu lebih lama lagi. Dia berpikir akan sangat tidak baik jika Galang sampai tahu semua itu dari orang lain .
Biar bagaimana pun, Asisten Rangga telah bekerja pada Galang selama hampir enam tahun. Dia juga telah menjadi salah satu orang kepercayaan Galang dan sahabatnya,tapi mereka selalu bersikap profesional jika berada di waktu kerja. Dia tidak ingin jika hal ini sampai menghancurkan kepercayaan Galang padanya.
Mengetahui Nayla yang saat ini benar-benar tak ingin berhubungan lagi dengannya membuat hati Galang sedikit mencelos.
Selama menjadi istrinya, tidak pernah sekalipun Nayla menolak setiap pemberiannya. Senang atau tidak, Nayla akan selalu menerima dengan tersenyum. Perempuan itu juga akan selalu berusaha untuk tidak menyinggung perasaan Galang. Hingga Galang akan selalu merasa nyaman saat sedang berada didekatnya.
Ah, Galang terkadang masih lupa jika sekarang Nayla bukan lagi istrinya, Tentu saja sikap Nayla tidak akan sama lagi seperti dulu, karena sekarang mereka sudah tidak punya ikatan apa-apa lagi.
Entah kenapa sekarang Galang jadi merasa tidak rela jika Nayla memperlakukannya seperti orang asing. Galang sendiri merasa sangat konyol, Bukankah dia sendiri yang memilih untuk menceraikan mantan istrinya itu. Lalu kenapa sekarang dia harus merasa kesal sendiri?
Galang menarik rambutnya sendiri karena frustasi. Dia benar-benar kacau sekarang. Bayang-bayang wajah Nayla terus saja berkelebat dikepalanya dan setiap kali mengingat bagaimana raut kesedihan Nayla dihari perceraian mereka, Galang benar-benar menjadi emisional. Galang sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya sekarang. Apa saat ini dia perlahan menjadi gila karena menyesal telah menceraikan Nayla?
__ADS_1
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Galang.
Galang menghela nafas untuk menenangkan dirinya, kemudian dia masuk dan membuka pintu kamar. Tampak Bi Sani tengah berdiri diambang pintu dengan membawa nampan berisi secangkir teh herbal.
"Ini teh Anda, Tuan." ujarnya.
Galang mengangguk dan mempersilahkan Bi Sani meletakkannya diatas nakas.
"Saya permisi " Bi Sanipamit setelah meletakkan teh hangat itu.
Galang menyesap tehnya Lalu terlihat keningnya berkerut.
"Kenapa akhir-akhir ini rasa tehnya berbeda dari biasanya?" tanyanya kemudian.
Bi Sani yang hampir mencapai pintu kamar, menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Maaf, Tuan. Itu adalah teh yang sama dengan yang biasa Tuan minum selama ini." Jawab Bi Sani sambil sedikit membungkuk.
"Apa mungkin kualitasnya sekarang menurun?" tanya Galang lagi.
Bi Sani agak berpikir, kemudian menggeleng.
"Saya rasa tidak seperti itu, Tuan. Kualitasnya masih sama. Hanya saja..." Bi Sani tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Hanya saja apa?" tanya Galang.
"Mungkin saya kurang paham takarannya. Selama ini Nyonya, eh.. maksud saya... Nona Nayla yang membuatkannya untuk Tuan." jawab Bi Sani akhirnya.
Galang tertegun mendengar nama Nayla.
Kemudian dia tersenyum masam,bahkan rasa teh pun bisa berubah setelah kepergian perempuan itu. Sungguh dia tidak menyangka jika pengaruh kehadiran Nayla akan sebesar itu dirumahnya.
Galang kembali menghela nafas.
"Baiklah, tidak apa-apa." ujarnya kemudian.
"Lain kali tidak usah membawa teh lagi. Buatkan saja aku kopi." tambahnya lagi.
Kopi? Bi Sani sedikit tertegun. Selama ini Tuannya itu tidak suka minum kopi dan lebih memilih teh herbal sebagai minumannya. Alasannya tidak lain adalah untuk kesehatan. Lalu kenapa sekarang ingin mengkonsumsi kopi?
"Apa bibi dengar yang saya katakan tadi?" suara Galang membuyarkan lamunan Bi Sani yang ada di depannya.
"I-iya, Tuan." jawabnya terbata.Bi Sani tergagap, lalu mengangguk cepat.
"Saya permisi." pamitnya kemudian yang dibalas anggukan dari Galang.
Bi Sani segera berlalu dari kamar Galang, menyisakan Galang yang masih menatap nanar cangkir tehnya yang berada diatas nakas.
Pikirannya masih berkutat pada mantan istrinya itu.
__ADS_1
Nayla.
Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Haruskah Galang mengajak Alvaro untuk menemuinya?
Galang benar-benar tidak mengerti sekarang. Kenapa dia jadi begitu mengkhawatirkan Nayla justru disaat perempuan itu tidak lagi menjadi istrinya.
Galang kembali teringat dengan semua sikap dinginnya terhadap Nayla. Bagaimana dia dulu mengabaikan setiap perhatian yang Nayla berikan. Dan ketidakpeduliannya pada Nayla saat ia merasa sedih dan terluka.
Galang juga teringat di setiap ulang tahun pernikahan mereka, Nayla selalu mengajaknya untuk makan bersama, tapi dia selalu menolak dengan alasan sedang sibuk.
Bahkan Nayla juga pernah memasak sendiri makanan kesukaan Galang sejak siang dan menyiapkan makan malam romantis dirumah mereka, berharap sepulang kerja Galang bisa menikmati masakannya. Tapi kemudian hal itu berakhir dengan mengecewakan Nayla, karena malam itu selepas dari kantor Galang langsung menghadiri pesta rekan bisnisnya ditemani Maya sekretaris pribadinya, dan pulang saat orang-orang sudah tertidur.
Saat itu Galang mendapati Nayla tertidur dengan posisi duduk sambil menelungkupkan wajahnya dimeja makan. Tampak terhidang disana beberapa masakan yang sudah dingin. Terlihat pula lilin yang sudah meleleh karena terlalu lama dinyalakan.
Usaha Nayla berakhir sia-sia.
Nayla selalu berusaha keras untuk menyenangkan hati Galang, tapi Galang tak pernah menghargainya.
Kini Galang baru menyadari jika sikapnya kepada Nayla selama ini sangatlah kejam. Tak pernah sekalipun dia memikirkan bagaimana perasaan mantan istrinya itu, Pantas saja jika selama Nayla menjadi istrinya, ia sering menangis diam-diam. Pasti hatinya sangat sakit dengan perlakuan Galang yang tak mempedulikannya.
Galang kembali membuang nafas kasar.
Penyesalan memang selalu berada diakhir. Kini istri manis dan penurut itu sudah tidak ada lagi. Galang sendiri yang telah mengusir perempuan itu dari hidupnya. Memisahkan Ibu malang itu dengan anak kesayangannya. Kesalahan yang pernah diperbuatnya membuatnya menyadari bahwa itu hal yang menyakitkan. Di balik itu semua, penyesalan menjadi satu di antara kunci dari kehidupan seseorang yang bisa membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dan sejak Nayla pergi, suasana rumah pun sudah tidak sama lagi. Dulu Galang mengira jika Alvaro lah satu-satunya alasan dia tak sabar untuk pulang kerumah.
Tapi sekarang dia baru menyadari, bahwa selain Alvaro, ada orang lain yang ingin dilihatnya dirumah ini. Orang yang selalu mengulas senyum manis setiap kali berbicara padanya. Orang yang tak pernah membantah setiap kata-katanya. Dan orang yang diam-diam sering memandanginya saat dia sedang tertidur.
Rumah itu selalu terasa sunyi dan sepi seperti tidak ada penghuninya, Alvaro semakin hari semakin murung. Galang sering mendapati sang anak menangis diam-diam di dalam kamarnya dan sambil memeluk foto Nayla yang ada di hpnya yang Alvaro foto secara diam-diam, saat Nayla sedang memasak sambil tersenyum menatapnya.
Tapi Alvaro selalu menjalankan pesan Nayla malam itu disaat terakhir kalinya Nayla menemaninya tidur. Menjaga papanya, jika Galang pulang kerja, Alvaro selalu datang ke kamar Galang. Namun Alvaro selalu melihat sang papa sedang melamun dan sambil memijat kepalanya sendiri, Alvaro membuyarkan lamunan Galang dengan sebuah pelukan dan dia membantu memijat kepala papanya dengan tangan mungilnya itu. Tanpa sadar Galang selalu tertidur jika Alvaro memijat kepalanya, Alvaro menatap wajah papanya dengan sendu. Perlahan tapi pasti air matanya mengalir di pipinya, ia mengelus wajah Galang yang mulai tirus karena kurang makan. Ia seperti papanya merasakan sebuah kehilangan, Alvaro merindukan mamanya, Alvaro menginginkan pelukan seorang ibu. Setiap malam Alvaro selalu makan sendiri tanpa ada yang menemaninya di meja makan besar itu selain pengasuhnya. Galang selalu pulang kerja larut malam, hal itu membuat Alvaro menjadi anak yang cengeng di dalam kamar. ia merindukan masa dimana Nayla masih ada di dalam rumah mewah itu karena Galang selalu pulang kerja dengan cepat dan mereka selalu makan bersama walau suasananya hening tapi itu tidak masalah bagi Alvaro, yang penting bisa makan bareng bersama papa dan namanya.
Penyesalan memang selalu berada diakhir. Kini istri manis dan penurut itu sudah tidak ada lagi. Galang sendiri yang telah mengusir perempuan itu dari hidupnya. Memisahkan Ibu malang itu dengan anak kesayangannya. Kejam Bukan?
Tapi ingat!!
Menyesal boleh boleh saja selama hal itu tidak sampai larut dan merugikanmu. Tidak ada guna menyesali apa yang sudah terjadi dan larut dengan meratapi penyesalan tidak akan menjadikannya lebih baik.
^^^"Nanti kamu akan sangat merindukan sesuatu hal yang kamu rasakan saat ini, ketika kamu kehilangan momen tersebut."^^^
^^^Bersambung......^^^
^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho ya gaesss^^^
^^^Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^
^^^Please....pleasee🙏🙏^^^
^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰^^^
__ADS_1