
^^^" Suamiku, aku sedih, sakit hati, marah, dendam, dan kecewa. Tapi tahukah kamu? Aku akan tersenyum dan melanjutkan. Itu memang akan menyakitkan, tetapi aku akan bertahan hidup." ( Nayla Purnama) ^^^
⛄⛄⛄⛄⛄
Segala pertanyaan berputar-putar dikepala Nayla hingga akhirnya kantuknya datang dan membuatnya kembali tertidur.
Sekitar pukul delapan pagi Galang pulang masih dengan pakaian kerjanya. Entah dia menginap dimana sampai tak mengganti pakaiannya itu. Wajahnya pun tampak kusut dan kelelahan.
Melihat Galang membuat Nayla kembali mengingat kejadian kemarin yang sangat ingin ia lupakan. Tapi sebisa mungkin Nayla menahan perasaannya itu dan berusaha untuk tetap melayani Nayla seperti biasanya. Namun, bedanya Nayla bersikap layaknya seorang pelayan tak sepeduli seperti sebelumnya.
"Mandilah dulu, aku sudah menyiapkan air hangat." ujar Nayla pelan tanpa melihat ke arah Galang. Dia memang sengaja menghindari bertatap muka dengan Galang karena masih terbayang dengan kejadian kemarin yang sangat menyakitinya.
Galang tak menjawab. Tubuhnya juga tak beranjak kemanapun. Nayla bisa merasakan jika saat ini Galang tengah menatapnya lekat, tapi Nayla berusaha untuk tak menghiraukannya dan menyiapkan pakaian kerja Galang seperti biasa.
"Pakaiannya sudah aku siapkan. Aku akan melihat Alvaro dibawah terlebih dahulu." ujar Nayla lagi sambil tetap menundukkan wajahnya. Lalu ia beranjak hendak meninggalkan Galang yang masih setia mematung.
Tapi saat tangannya hendak memutar knop pintu, tiba-tiba Nayla merasakan tangannya yang lain telah diraih seseorang.
Nayla menoleh. Didapatinya Galang tengah menahan lengannya dan memandang kearahnya dengan tatapan yang tak pernah Nayla lihat sebelumnya.
"Nayla...." Galang memanggil namanya dengan suara serak dan berat. Matanya masih lekat menatap Nayla hingga membuat Nayla sedikit terkesiap. Lalu, buru-buru ia memalingkan wajahnya untuk tidak menatap galang.
"Maaf....." Suara Galang terdengar sangat pelan ditelinga Nayla, sampai-sampai Nayla harus menajamkan pendengarannya untuk memastikan ia tidak salah dengar.
"Aku minta maaf, tidak seharusnya aku marah dan memperlakukanmu seperti kemarin." ulangnya lagi, dan kali ini terdengar lebih jelas dari sebelumnya.
Nayla sedikit menautkan kedua alisnya.
Apa sekarang dia sedang bermimpi? Galang yang kemarin melecehkannya tanpa ampun dan melontarkan kata-kata penghinaan padanya, sekarang sedang memandangnya sendu dan meminta maaf padanya. Apa ini hanya halusinasi? Nayla semakin bingung.
"Apa kau mau memaafkanku?" suara Galang terdengar lagi, membuyarkan lamunan Nayla .
Nayla tersadar. Kini dia yakin jika dirinya tidak sedang berkhayal. Galang memang sedang meminta maaf padanya, tapi Nayla benar-benar sedang tidak ingin membicarakan hal itu saat ini.
Dilepaskannya tangan Galang yang tengah memegang lengannya.
"Segaralah mandi. Kamu masih harus sarapan setelah ini, nanti kamu bisa terlambat." ujarnya sembari membuka knop pintu. Ia ingin segera ke lantai bawah untuk menemui Alvaro.
Rasanya masih belum bisa Nayla memaafkan Galang. Semua tindakan Galang kemarin masih menyisakan rasa sakit dibeberapa bagian tubuhnya, belum lagi kata-kata penghinaan Galang yang masih terngiang ditelinganya.
__ADS_1
Dan Galang sendiri pun tampaknya menyadari jika Nayla tengah menghindarinya. Diraihnya kembali tangan Nayla yang sempat lepas dari genggamannya.
" Aku minta maaf " Galang kembali berujar dan menatap Nayla yang sedang memalingkan wajahnya yang seakan dia tidak ingin menatap Galang lagi.
Nayla kembali mendesah
" Tidak perlu minta maaf, aku pantas mendapatkan itu Galang " akhirnya Nayla menjawab dengan suara pelan namun menusuk di hati yang mendengar.
Deg...
Jantung Galang berdegup kencang mendengar ucapan Nayla barusan.
" Dan aku perlu sadar diri aku bukan istri yang di harapkan disini, aku layaknya boneka yang diinjak-injak harga dirinya dan di mainkan. Aku sadar diri aku gadis desa yang tidak tau apa-apa tentang kehidupan orang kaya, Jadi kamu tidak perlu minta maaf " sambungnya dengan menatap Galang sambil tersenyum pahit, matanya telihat dengan penuh kekecewa yang amat mendalam.
Galang hanya mematung , ia terdiam dengan seribu bahasa.
Ketika aku diam, aku memiliki petir yang tersembunyi.
Pada saat Nayla ingin kembali membuka knop pintu dia langsung tersadar.
"Tunggu aku. Kita turun ke bawah bersama-sama." pintanya.
Nayla sedikit menghela nafasnya.
"Baiklah..." ujarnya kemudian. Meski masih bertanya-tanya dengan perubahan sikap Galang, akhirnya Nayla memilih untuk menurutinya.
Galang menipiskan bibirnya, hampir menyerupai sebuah senyuman, hal yang sangat jarang Nayla lihat saat galang berbicara dengannya.
Kemudian setelah Galang masuk kedalam kamar mandi, Nayla mendudukkan dirinya dipinggiran tempat tidur. Ia sedikit menerawang dengan banyak pertanyaan yang berputar dipikirannya.
" Ketika suamiku tak memperdulikanku, aku tidak sendirian karena kesepian selalu bersamaku. Aku berusaha melangkah sendirian tanpa merasa kesepian."
Tak lama kemudian Galang keluar dengan tubuh yang lebih segar. Tampak dia hanya mengenakan handuk sebatas pinggang, memperlihatkan dada dan perutnya yang liat dan berotot.
Galang mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil dan dengan santainya dia mengenakan pakaiannya dihadapan Nayla, tak menghiraukan Nayla yang melengos dengan wajah memerah. Dengan cepat Nayla memalingkan wajahnya.
Nayla hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Entah obat apa yang sudah Galang konsumsi sebelumnya hingga tingkahnya sangat aneh saat ini. Biasanya Galang akan membawa pakaian gantinya kekamar mandi dan keluar saat telah berpakaian lengkap, seakan tak ingin memberi kesempatan untuk Nayla melihat bagian tubuhnya. Tapi sekarang, kenapa tiba-tiba dia seperti sengaja ingin Nayla melihat tubuhnya itu?
__ADS_1
"Bisa tolong bantu aku pasangkan dasinya?" pertanyaan Galang lagi-lagi membuat Nayla agak terperangah.
Galang minta dipasangkan dasi? Nayla tidak salah dengar kah?
Bukankah setiap pagi Galang selalu menolak saat Nayla berniat membantunya memasangkan dasi? Lalu kenapa sekarang dia minta dipasangkan dasi? Dia benar-benar salah mengkonsumsi obat, kah?
Kepala Nayla mulai pusing dengan keanehan Galang pagi ini. Tapi dia memilih untuk tidak berdebat dan menuruti keinginan Galang.
Jarak mereka begitu dekat, mungkin hanya sekitar lima sentimeter. Nayla ingin cepat-cepat menyelesaikan simpul dasi Galang dan segera keluar dari kamarnya itu. Tapi otaknya sepertinya sedang tidak singkron dengan anggota tubuhnya yang lain. Jari-jarinya terasa hilang daya dan sangat lamban menyelesaikan tugasnya.
Belum lagi aroma maskulin dari parfum Galang yang lama-kelamaan membuatnya hampir saja terbuai dan tak bisa menahan diri untuk menghambur kedalam pelukan lelaki itu.
Hal itu di manfaatkan Galang untuk memeluk pinggang Nayla, hingga mereka tidak ada jarak lagi. Ia menatap wajah Nayla dengan lekat yang serius memasangkan dasinya tanpa menatapnya. Tiba-tiba Galang meremas pinggang Nayla dengan kedua tangannya yang masih terbelit di pinggang Nayla.
Nayla terpekik dan bingung dengan ke anehan Galang pagi ini.
Astaga. Lama-lama aku bisa gila. Nayla segera mengumpulkan segenap kewarasannya dan buru-buru menyelesaikan simpul dasi Galang.
"Sudah selesai." ujar Nayla akhirnya sambil mundur dan menjauh hingga tangan Galang yang memeluk pinggangnya dengan erat terlepas. Lalu cepat-cepat ia membuka pintu kamar dan segera keluar.
Terlalu lama dekat dengan Galang sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Lagipula ia juga tidak ingin hatinya melemah dan memaafkan Galang begitu saja. Meski Nayla mencintai Nayla. Nayla tidak terima jika Galang menyamakan dirinya dengan wanita pengoda. Ia juga tidak ingin harga dirinya diinjak-injak begitu saja oleh orang yang dicintainya. Tidak. Nayla tidak ingin terkesan wanita murahan dan lemah apalagi terkesan seperti wanita gampangan'. Galang harus tahu jika kesalahannya itu sangat fatal dan tidak bisa di maafkan begitu saja. Ia harus memberi pria ini hukuman dan jika bisa ia melupakan Galang.
"Kenapa pergi lebih dulu. Bukankah aku bilang tadi kita turun bersama-sama?" ucap Galang yang Tiba-tiba saja Galang sudah ada disamping Nayla dan mengenggam jemari Nayla dengan erat. Ia melangkah dengan santainya tanpa mempedulikan mata Nayla yang tengah membeliak kearahnya, seakan sedang meminta penjelasan atas tindakannya itu.
Nayla berusaha melepaskan tautan tangan Galang tapi yang ada tangan itu malah semakin erat menggenggam jemarinya, hingga akhirnya Galang hanya bisa pasrah.
🌿🌿🌿🌿🌿
^^^Bersambung.. ^^^
^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho^^^
^^^ Tenang saja gaes pembalasan bentar lagi di mulai ya😁Jangan di skip, author ga membiarkan wanita itu di anggap lemah. ^^^
^^^Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^
^^^Please....pleasee🙏🙏^^^
^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰^^^
__ADS_1