
Galang kembali merasa tertohok. Bahkan Alvaro menganggap keadaanya sekarang sebagai kutukan. Andai Alvaro tahu Galang sendirilah yang sudah menciptakan kutukan ini, akankah kemudian bocah kecil ini membenci dirinya?
Galang tersenyum penuh ironi.
"Makanya Papa tidak boleh ingkar janji ya, supaya tidak terkena kutukan." tambah Alvaro lagi.
Galang kemudian mengangguk.
"Baiklah. Papa tidak akan ingkar janji. Sekarang lebih baik jagoan Papa istirahat. Cepatlah sembuh, lalu kita akan temui Mama." Jawab Galang
Alvaro mengangguk dengan penuh semangat. Ia pun memejamkan matanya sambil mengulas sebuah senyuman.
Galang kembali mengusap pucuk kepala Alvaro sambil menatapnya sendu.
''Maafkan Papa, Nak. Semua ini salah Papa. Papa yang telah membuat Mamamu pergi. Papa berjanji akan berusaha mencari cara agar kita bisa bersama-sama lagi. Tapi sepertinya itu tidak akan mudah.'' Gumam Galang
...****************...
Sudah lebih dua bulan Nayla menjalani kehidupan barunya tanpa Galang dan Alvaro. Setiap hari waktunya ia habiskan untuk mengurus Butik. Sesekali juga ia akan datang ke butik milik adiknya Melly yang ada di kota pusat hanya untuk sekedar melihat mengecek dan melihat keadaan adiknya.
Baru-baru ini ia telah membuka satu cabang lagi di luar kota. Dan itu membuatnya jadi sangat sibuk hingga sedikit mengobati rasa sedih dan kesepiannya.
Nayla bersyukur, usaha miliknya terus merangkak naik dan kedua adiknya juga sudah memiliki bisnis masing-masing. Ia juga telah mempunyai beberapa partner yang ikut menanamkan modal dengan sistem pembagian hasil, hingga dalam kurun waktu tak begitu lama, ia bisa membuka cabang-cabang baru lainnya.
Ya. Bisa dibilang kehidupannya kini cukup mapan. Ia punya tempat tinggal yang layak dan juga kendaraan. Ia juga sangat layak dan juga kendaraan. Ia juga sangat dikagumi dan menjadi idola dikalangan para pegawainya. Nayla lega, meski tidak menjadi istri Galang lagi, tapi ia tetap hidup dengan baik dan di hormati orang-orang.
Tapi Nayla tidak menampik jika dirinya terkadang merasa kosong. Ia menikmati setiap harinya dengan kesendirian, Tak ada yang bisa diajak berbagi. Sejak bangun pagi, kecuali di ke butik, Nayla selalu menghabiskan waktu seorang diri.
Nayla kehilangan, tentu saja. Ia merasa hampa. Hari-harinya tidaklah sempurna tanpa Alvaro dan Galang. Tapi Nayla tidak ingin larut dalam keterpurukan, Sesuatu yang telah dilepaskannya, ia bertekad untuk merelakannya juga.
Jika memang Galang dan Alvaro tidak ditakdirkan untuk bersamanya, Nayla akan berusaha untuk menerima itu semua. Ia tidak akan meratapi nasibnya lagi dan terus melangkah maju.
Lalu kemudian Nayla teringat dengan sosok Sarah, sahabat lamanya. Satu-satunya teman yang dulu Nayla punya,Gadis ceria yang tulus dan apa adanya.
Nayla benar-benar merindukannya.
Entah bagaimana kabarnya sekarang, Nayla ingin sekali bertemu dengan temannya itu. Tapi ia tidak tahu sekarang Sarah ada dimana. Kontak lamanya pun sudah tidak bisa dihubungi lagi.
Nayla pun bertekad untuk mencarinya.
Sarah adalah satu-satunya orang yang peduli padanya dulu. Tapi kemudian Nayla menghilang dan tidak pernah menghubunginya lagi. Nayla merasa bersalah dan berhutang maaf padanya.
Nayla harus menemukan gadis itu, bagaimanapun caranya.
Nayla turun dari mobilnya dengan sedikit ragu-ragu. Lalu dilangkahkan kakinya menuju sebuah rumah kontrakan sederhana yang saat ini terlihat sepi.
Rumah kontrakan yang telah usang itu adalah adalah tempat tinggal Sarah enam tahun lalu.
Sebelumnya Nayla telah mendatangi restoran tempat mereka bekerja dulu, tapi ternyata Sarah sudah tidak lagi bekerja disana sejak lama. Dia juga mendatangi beberapa orang yang dikenalnya saat ia masih bekerja bersama Sarah. Tapi mereka semua tidak ada yang tahu dimana Kara bekerja sekarang,Mereka juga tidak punya nomor kontak Sarah.
__ADS_1
Lalu disinilah Nayla sekarang, Ia datang kekontrakan lama Sarah, berharap gadis itu masih tinggal disana. Meskipun besar kemungkinan Sarah juga telah lama pergi dari kontrakan itu,tapi Nayla ingin memastikannya. Tempat itu adalah tempat terakhir yang ada dipikirannya untuk mencari Sarah, setelah ini ia tak tahu lagi mesti mencari kemana.
Nayla melangkah mendekat dengan harap-harap cemas. Di dalam hati ia terus nerapalkan do'a agar temannya itu masih ada disini. Lalu saat tangan Nayla terulur hendak mengetuk pintu, pintu itu tiba-tiba terbuka dan tampak seorang gadis berdiri dengan membawa dua kantong sampah ditangannya.
Mereka berdua berhadapan dengan tubuh yang membeku. Mata mereka sama-sama saling menatap dengan tatapan yang tak bisa dijabarkan.
Bruuukkk!!!
Tiba-tiba saja kantong sampah yang dibawa gadis itu terlepas dari tangannya, membuat isi didalamnya berantakan memenuhi lantai teras. Mulutnya sedikit ternganga karena tak percaya. Matanya pun membulat tak berkedip.
"Nayla?" gumamnya tak percaya.
"Sarah...." Nayla menyapa sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Nayla... Kamu benar Nayla?" tanyanya lagi.
Nayla hanya mengangguk dengan airmata yang mulai merembes.
"Nayla..." Sarah menubruk tubuh Nayla dan memeluknya erat tanpa peduli dengan sampah-sampah yang diinjaknya. Tangisnya pecah, Sarah tersedu sambil memeluk Nayla hingga tubuhnya tergoncang. Nayla pun membalas pelukan Sarah dan menangis tak kalah keras, Mereka berdua sama-sama larut dalam perasaan haru.
Kemudian keduanya saling mengurai pelukan.
Sarah memperhatikan Nayla dari ujung kaki hingga ujung kepala, Kedua tangannya masih erat memegang bahu Nayla.
"Kamu benar-benar Nayla, temanku, kan? Bukan arwah gentayangan?" tanya Sarah kemudian dengan ekspresi untuk meyakinkan.
"Mana ada arwah gentayangan disiang bolong begini, Sarah." sergah Nayla.
Sarah justru mendelik galak.
"Kamu menghilang selama Enam tahun , Nayla. Aku mencarimu kesana kemari tapi tetap tidak bisa menemukanmu, Aku kira kamu sudah mati..." ujarnya sambil kembali terisak.
"Ternyata kamu masih hidup dan sehat, tidak kekurangan apapun. Tega sekali kamu tidak memberiku kabar dan membiarkan aku kebingungan mencarimu. Dasar gadis jahat!" tambahnya lagi dengan nada marah.
Nayla terdiam dan merasa bersalah.
"Maaf..." lirihnya.
Sarah mendengus kesal. Kemudian ia melepaskan pegangannya dari bahu Nayla dan berjongkok memunguti sampah-sampahnya yang berserakan.
"Sudah, masuk sana. Aku mau buang sampah-sampah ini ke penampungan sampah dulu. Kamu harus menjelaskan semuanya padaku. Awas ya, kalau sampai bohong lagi, tamat riwayatmu!" Sarah membentak Nayla dengan galak.
Nayla tersenyum meringis mendengar bentakan Sarah.
Ternyata Sarah masih menganggapnya teman. Nayla senang mendengar kalimat galak dari Sarah, karena itu berarti Sarah masih tetap peduli padanya seperti dulu. Tadinya Nayla sempat khawatir Sarah akan bersikap formal dan sopan layaknya saat gadis itu memperlakukan orang asing. Dan ternyata kekhawatirannya itu tidak terjadi, Nayla benar-benar lega.
Kemudian dengan cepat Sarah memasukkan kembali sampah-sampah yang tadi sempat ia jatuhkan, lalu dibawanya ke arah bak penampungan sampah untuk dibuang.
Sedangkan Nayla menuruti kata-kata Sarah yang menyuruhnya untuk masuk kedalam. Ia pun duduk dikursi tamu sambil mengamati seisi ruangan dengan seksama.
__ADS_1
Tak ada yang berubah. Suasana kontrakan Sarah masih sama seperti Enam tahun lalu, seakan ruangan ini tak mengalami pergantian waktu.
Hati Nayla perlahan menghangat. Rasa nyaman langsung menjalar pada tubuh dan pikirannya. Bertemu pada Sarah membuatnya seolah kembali pada yang dinamakan 'rumah'. Nayla menyadari jika memang sarah lah keluarga yang sesungguhnya bagi dirinya selain kedua adiknya.
Nayla akan memarahinya tanpa ampun jika ia melakukan kesalahan. Tapi disisi lain, Nayla juga yang menjadi satu-satunya orang yang sangat peduli padanya saat ia dalam kesulitan. sarah yang selalu mengomelinya sekaligus sarah yang rela melakukan apa saja untuk membantunya.
Begitulah hubungan persahabatan mereka dulu. Hangat dan tulus. Nayla bersyukur masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi.
Sarah masih menatap Nayla dengan tatapan yang tidak bisa ditebak, Wajahnya menunjukkan lebih dari satu ekspresi. Marah, sedih, dan kecewa. Perasaan itu kini bercampur aduk didalam hatinya.
Nayla telah menceritakan alasan kepergiannya Enam tahun yang lalu. Dan apa yang baru saja didengar oleh Sarah benar-benar membuatnya syok.
Sahabatnya itu di perkosa lalu terpaksa menikah dan menghilang setelahnya karena terlanjur hamil. Meski tentu saja Nayla tidak menyebut identitas lelaki yang menghamilinya itu.
Sarah marah pada lelaki yang telah merenggut paksa kehormatan Nayla. Lalu ia kecewa pada Nayla karena Nayla tidak menceritakan semua kesusahannya itu pada sarah. Sarah merasa jika Nayla tidak mempercayainya dan tidak menganggapnya sebagai teman.
"Aku sudah curiga saat itu ada yang tidak beres padamu. Tapi kamu benar-benar jahat karena sudah tidak mempercayaiku. Seandainya kamu cerita, walaupun aku tidak bisa membantu banyak, setidaknya kita bisa menghadapi lelaki brengsek itu bersama-sama." Ujar Sarah kemudian dengan geram.
Nayla masih diam dan menunduk.
"Maaf..." lirihnya.
"Kamu tahu Nayla, saat kamu menghilang, aku benar-benar seperti orang gila. Siang malam aku mencarimu. Sampai-sampai aku dipecat dari restoran tempat kita bekerja dulu karena sering tidak masuk kerja." Sarah tampak marah dan kesal.
"Bahkan aku sampai meminta bantuan polisi. Tiap hari menyusuri sungai yang biasa jadi tempat orang bunuh diri, takut jika sebenarnya kamu itu ternyata sudah bunuh diri. Dan kamu tahu hal yang paling gila " Sarah berhenti sesaat dan memandang Nayla.
Nayla hanya bisa diam dan balik menatap Sarah dengan penuh tanda tanya.
"Setiap ditemukan mayat perempuan muda, entah didalam kota atau diluar kota, aku akan datang kesana untuk melihatnya. Aku ingin memastikan jika yang mati itu bukan kamu. Aku sangat berharap kamu masih hidup dan kembali. Aku sangat takut, Nayla.... Aku tidak mau kehilangan sahabatku." Sarah kembali menangis. Kali ini isakannya sungguh terdengar menyedihkan.
Nayla hanya bisa menundukkan kepalanya sambil ikut menangis tersedu.
"Maafkan aku, Sarah. Aku memang bersalah.... Aku tidak memikirkan bagaimana keadaan kamu dengan keputusanku pergi secara diam-diam. Tapi sungguh waktu itu aku tidak punya pilihan. Aku tidak bisa melibatkanmu karena kupikir itu lebih baik." Nay berujar sambil terisak.
"Sekarang kamu bisa memarahiku sepuasnya. Kamu juga boleh memukulku. Tapi jangan memutuskan hubungan denganku, Sarah. Kamu satu-satunya teman dan juga keluargaku selain kedua adikku." sambung Nayla
Sahabat merupakan sosok yang selalu ada dalam suka maupun duka, yang tak segan mengulurkan pertolongan. Dalam persahabatan pasti akan muncul riak-riak kecil seperti perselisihan. Namun, permusuhan tersebut tak akan membutuhkan waktu yang lama untuk segera kembali akur.
^^^" Sahabat sejati itu bukan seorang yang sering mentraktir kamu, minjemin duit. Tapi sehabat yang selalu ada saat kamu gagal."^^^
^^^Bersambung..^^^
^^^** Dukungan Dan Votenya author tunggu lho^^^
^^^Jangan lupa LIKE dan KOMEN di bawah^^^
^^^Please....pleasee🙏🙏^^^
^^^Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP😘🥰^^^
__ADS_1