Menjadi Istri Tua Di Usia Muda

Menjadi Istri Tua Di Usia Muda
bab 18: "aku akan menikah dengan Wanda"


__ADS_3

Rahma dan mamah metuanya pulang ke rumah padahal saat ini Rahma sangat ingin menemui Elpan apa lagi Rahma cemburu melihat Elpan bersama dengan Wanda.


Rahma sejak tadi terus saja mengirim pesan namun Elpan tak pernah melihat nya.


"Sudah lah nanti juga Elpan pulang" ucap Mira ketus.


"Tapi mah aku tak rela kalau Kak El berduaan dengan wanita lain" ucap Rahma.


"Rahma kalau mereka sampai menikah pun kau tak berhak atas Elpan, siapa kau yang berani melarang Elpan" ucap Mira.


"Seburuk apa pun aku, aku tetap istri nya aku menantu mamah" ucap Rahma.


"Kalau mamah sih ogah" gumam Mira.


Rahma tak menggubris ucapan mertuanya itu, dia hanya fokus pada layar ponsel nya yang sekarang sudah pecah itu.


"Ya alloh tolong jaga kak El" batin Rahma berdoa.


Sedangkan di sisi lain Elpan tengah membawa Wanda ke rumah sakit karena takut nya terjadi sesuatu pada kandungan Wanda.


"Bagaimana kondisi nya Dok" tanya Elpan.


"Bayi dalam kandungan nya baik baik saja semua nya normal dan sehat" ucap Dokter.


"Alhamdulillah" ucap Elpan bersyukur bahagia karena anak nya sehat.


Elpan dan Wanda pulang ke apartemen Wanda, dalam perjalanan Elpan terus saja memikirkan Wanda, Elpan sangat bahagia dengan kehadiran bayi itu.


"Wanda tak berbohong, bukti nya dia beneran hamil gak seperti yang di film film, aku harus segera nikahi Wanda karena anak itu pasti akan membesar" gumam Elpan.


"El apa Rahma tak akan marah kalau kau mengantar kan aku" tanya Wanda.


"Kenapa harus marah kamu jatuh juga kan karena dia" ucap Elpan.


"Ya sih" ucap Wanda.


"Wan aku janji aku akan menikahi mu secepatnya" ucap Elpan.


"Hah yang bener El" tanya Wanda terkejut sampai dia menutup mulutnya.


"Ya aku beneran, aku akan bicara dulu pada Rahma" ucap Elpan.


"Ya baik lah" ucap Wanda.


Malam hari nya Elpan pulang ke kediaman nya, di sana sudah ada Rahma yang sampai ketiduran di sofa karena menunggu Elpan.


"Kak sudah pulang" tanya Rahma saat melihat kalau Elpan sudah pulang.


"Oh ya Rahma aku punya kabar baik" ucap Elpan.


"Kabar baik apa" tanya Rahma.


"Aku akan menikah dengan Wanda" ucap Elpan tersenyum menatap pada Rahma yang sekarang tengah mematung menatap Elpan.


Deggh


Bagai pedang tajam yang menghunus ke dada dan hati Rahma.


Mulut Rahma tersenyum tapi matanya menangis.


Rahma menghapus air mata nya yang jatuh, Rahma mengontrol emosi nya supaya tak hilang kendali.


"Apa yang kau maksud kak" tanya Rahma.


"Aku akan menikah dengan Wanda, Rahma kau tak bisa memberikan aku anak jadi kalau aku menikah lagi mungkin Wanda bisa memberikan aku anak" ucap Elpan.


Air mata Rahma semakin jatuh membasahi pipinya.


"Apa kau tak merasa kan sakit hati ku kak" tanya Rahma sambil menghapus air mata yang mulai membanjiri pipinya.


"Rahma terima saja lagi pula mamah benar tentang mu" ucap Elpan.


Rahma terduduk di kursi sofa dia tak bisa bicara lagi, rasanya lidah Rahma kelu mendengar hal itu.

__ADS_1


"Jangan nangis Rahma jangan buat aku yang paling jahat karena sudah menyakiti mu, seharusnya kau sadar juga bagai mana kau" ucap Elpan blak blakan bicara pada Rahma.


"Kak apa tak bisa kah kau pikir kan lagi" tanya Rahma yang sekarang terasa semakin sesak di dada nya.


"Pikirkan apa? Rahma aku juga sudah pikiran ini, dan ini baik untuk masa depan kita Rahma" ucap Elpan.


"Baik tapi bagai mana mungkin kau berasumsi untuk berbahagia dengan menghadirkan orang ketiga kak" tanya Rahma menatap Elpan dengan tatapan sendu.


"Rahma berpikir tentang masa depan, kita butuh kehadiran seorang anak" ucap Elpan.


"Baik lah beri aku waktu satu bulan saja aku akan pasti kan aku akan mengandung" ucap Rahma.


"Baik lah aku beri kamu Waktu satu bulan" ucap Elpan yang langsung berlari ke arah kamarnya di lantai atas.


Rahma menangis histeris namun dengan suara di tahan.


"Tega sekali kau kak berkata begitu pada ku" gumam Rahma sambil menangis.


Sedangkan di dalam kamar, Elpan sekarang Tengah merasa sangat sedih jujur saja Elpan tak sanggup membicarakan ini pada Rahma, namun di tutup tutup juga percuma karena suatu saat nanti semuanya pasti terbongkar.


"Maafkan aku Rahma aku gagal menjadi suami yang baik" gumam Elpan.


Malam ini setelah selesai menangis Rahma Langsung menuju ke kamar nya, Elpan saat ini sudah tertidur pulas terdengar dari dengkuran halus nya.


Rahma terduduk di lantai dia menangis sejadi jadinya, Elpan yang pura pura tidur hanya melihat Rahma dari balik selimut saja, dia sangat tak bisa melihat Rahma menangis begitu.


Namun Elpan juga sangat ingin bertanggung jawab atas Wanda dan anak yang di kandungnya,


"Maafkan aku Rahma maafkan aku" batin Elpan.


Pagi hari nya Rahma berangkat ke kampus pagi sekali bahkan dia meninggal kan Elpan yang masih tertidur tanpa sarapan dan tanpa teh hangat.


Rahma sekarang hanya ingin mencurahkan isi hati nya pada orang yang paham pada kondisi Rahma sekarang.


"Aku harus menemui papah, siapa tau papah punya solusi dari masalah ku ini" ucap Rahma.


Rahma naik ke dalam taksi yang dia pesan, dia meminta supir taksi itu mengantar kan Rahma ke kediaman Mahoji.


"Pah ada apa" tanya Rahma yang langsung mendekat pada papahnya.


"Nona, tuan Argam demam sudah dua hari ini dia berbaring di ranjang" ucap Arman.


"Kenapa kamu tak hubungi aku" tanya Rahma.


"Maaf nona tapi tuan tak mau kau menjadi cemas" ucap Arman.


"Apa papah sudah makan" tanya Rahma sambil menatap papahnya yang sekarang tengah tertidur.


"Ya nona dia baru tidur semalaman dia bergadang" ucap Arman.


"Oh baik lah" ucap Rahma.


Rahma menatap papahnya yang sekarang tertidur sangat lelap.


"Arman aku akan kembali lagi nanti" ucap Rahma.


"Baik nona" ucap Arman.


"Tolong jaga papah" ucap Rahma.


"Ya Nona" ucap Arman.


Rahma berjalan ke arah luar, dia memesan taksi online Rahma masuk ke dalam taksi.


"Pak bawa aku ke bandara" ucap Rahma dengan mata yang menatap datar ke arah depan.


"Baik nona" ucapnya.


Rahma hanya melamun saja dia masih memikirkan ucapan Elpan malam hari.


"Pada siapa aku harus bicara, pada siapa aku harus cerita masalah ku ini" gumam Rahma dengan air mata yang luruh membasahi pipinya.


Sesampainya di bandara Rahma berjalan masuk ke dalam, Rahma seperti wanita yang sudah kehilangan semangat hidup bahkan sekarang dia tak tau arah tujuan nya.

__ADS_1


Rahma duduk di salah satu kursi penumpang, dia hanya melamun saja dia tak perduli Walaupun menjadi tatapan orang orang yang ada di sana.


Ada seorang wanita berkerudung dan seorang anak kecil yang duduk di sebelah Rahma yang tengah melamun.


Namun anak itu menangis membuat Rahma buyar dari lamunan nya.


"Diam Ridwan kita akan sampai" ucap wanita berkerudung itu.


"Aku mau bertemu Abi dan Umi" ucap bocah sambil menangis.


Rahma menatap pada wanita itu, Rahma melihat wanita itu yang terlihat kelelahan.


"Mbak ini anak mu" tanya Rahma.


"Eh ya maaf ya anak ini sangat berisik" ucap wanita itu.


"Tak apa nama nya juga anak" ucap Rahma.


"Ya dia ingin bertemu abi dan Umi nya" ucap wanita itu lagi.


"Abi dan Umi bukan kah seharusnya kau umi nya" tanya Rahma.


"Hah tidak dia bukan anak ku dia anak istri kedua suami ku" ucap wanita itu.


"Kenapa bisa" tanya Rahma.


"Ya begitulah wanita yang mandul aku tak bisa berbuat apa apa karena aku sadar aku siapa" ucapnya.


"Tunggu jadi kau punya madu" tanya Rahma.


"Ya aku istri pertama suami ku, karena saat itu aku pernah keguguran aku di nyata kan tak bisa mengandung lagi karena dokter sudah mengangkat rahim ku, miris bukan, aku terpaksa menjadi istri tua karena hal itu, orang orang egois pada ku bahkan suami ku sendiri malah menjadi kan aku seorang pengasuh anak nya bersama dengan madu ku" ucap Wanita itu sambil meneteskan air mata.


"Tapi kenapa kau tak pergi saja" tanya Rahma.


"Aku tak mungkin pergi karena mau kemana aku, aku tak punya keluarga" ucap wanita itu.


"Lalu kau mau kemana sekarang" tanya Rahma.


"Aku mau ke kampung *** ke pesantren Al Zakaria" ucap nya.


"Hah apa kau kenal dengan kak Zia" tanya Rahma.


"Oh ustadzah Zia istri nya Ustadz Adam" tanya nya.


"Ya dia kakak nya teman aku katanya dia menikah dengan anak pemilik pesantren itu" ucap Rahma.


"Ya aku pernah dengar" ucapnya.


"Kau sangat kuat, bahkan mungkin aku tak akan bisa seperti diri mu" ucap Rahma.


"Aku harap kau tak bo doh seperti ku" ucap wanita itu.


"Maksudnya" tanya Rahma.


"Aku terkurung dalam keinginan gila suami ku, janji yang dia berikan tak pernah dia tepati, ingin rasanya aku pergi namun aku bukan siapa siapa jadi aku akan pergi ke mana" ucap nya.


Tiba tiba seorang pasangan suami istri datang ke sana.


"Ridwan kalian baik baik saja" tanya seorang laki laki.


"Aku baik mas, Ridwan nangis karena ingin bertemu kalian" ucap Wanita itu.


"Baik lah ayo kita pergi" ucap laki laki itu.


"Maaf aku membicarakan tentang kehidupan ku, terima kasih sudah mendengar kan aku, aku permisi" ucap wanita itu.


"Ya" ucap Rahma.


Rahma menatap pada pasangan itu,


"CK aku lupa menanyakan namanya" gumam Rahma.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2