Menjadi Istri Tua Di Usia Muda

Menjadi Istri Tua Di Usia Muda
bab 75


__ADS_3

Lian tidur di kamar bersama Rahma sedang kan Elpan pulang karena tak baik bagi Elpan untuk berlama-lama di sana apa lagi mereka sudah bukan suami istri lagi.


Rahma memandang wajah kecil yang sangat damai itu.


"Sayang sekali Lian kamu di tinggal mamah kamu di usia yang masih kecil, aku janji akan menyayangi mu sebagai ibu mu hingga kau akan lupa kalau ibu mu sudah tiada" ucap Rahma.


Arman datang ke kamar Rahma, baru kali ini Arman datang ke sana.


"Ada yang bisa aku bantu" tanya Arman.


"Gak usah" ucap Rahma.


"Ya siapa tau saja kamu butuh kan" ucap Arman.


Arman duduk di pinggir ranjang Rahma sambil melihat bayi itu.


"Putuskan sekarang Rahma lagi pula pernikahan kita masih lama" ucap Arman.


"Kenapa begitu" tanya Rahma.


"Ya aku mau kau putuskan saja Rahma ini menyangkut kehidupan mu" ucap Arman.


"Tapi aku" ucap Rahma.


"Kau sayang pada bayi itu jadi apa salah nya kembali pada tuan El kalau kau masih sayang padanya, aku paham pada perasaan mu" ucap Arman.


"Gak mungkin aku takut tersakiti lagi" ucap Rahma.


"Apa kau berpikir kalau kau dengan ku kau tak akan tersakiti" tanya Arman.


"Apa kau akan menyakiti ku" tanya Rahma.


"Aku gak akan melakukan itu, tapi kau Rahma kau pasti tersakiti karena aku lihat tak ada rasa sayang padaku di hati mu tetap saja kan kamu gak akan pernah bahagia bersama ku kalau hati mu saja masih pada orang lain" ucap Arman.


Rahma terkejut mendengar hal itu walaupun benar tapi terasa Sangat berat bagi Rahma.


"Ya Arman kau benar aku masih sayang pada Kak El tapi aku takut tersakiti lagi" ucap Rahma.


"Selidiki dahulu bagaimana tuan El kalau dia benar ingin dengan mu dia akan melakukan apa saja demi kamu" ucap Arman.


"Baiklah" ucap Rahma.


"Kalau pun kau memilih tuan El aku gak akan sakit hati setidaknya aku bisa menyatukan orang yang saling mencintai" ucap Arman.


Rahma terharu dia langsung memeluk Arman yang ada di hadapannya itu.


"Terima kasih" ucap Rahma.


"Terima kasih karena kau sudah memahami ku" ucap Rahma lagi menatap pada Arman.


Sadar kalau jarak mereka sangat dekat Rahma melepas kan pelukan nya.


"Maafkan aku" ucap Rahma.


"Tak apa baiklah aku permisi sudah malam juga" ucap Arman.


"Ya" ucap Rahma.


Sedang kan di kediaman Elpan saat ini Mira tengah menunggu hasil yang akan membuktikan kalau Lian anak Elpan atau bukan.


"El bagaimana" tanya Mira saat melihat temannya itu datang.


"Lian bukan anak aku mah" ucap Elpan lesu.


"Lalu dimana Lian" tanya Mira.


"Di rumah Rahma" ucap elpan.


"Kenapa di rumah Rahma kamu buang Lian ke sana" tanya Mira.


"Aku datang ke sana tapi Lian tidur saat akan pulang Rahma sanggup mengasuh Lian aku akan mengambil nya besok" ucap Elpan.


"Kenapa harus di titip pada Rahma sih" geram Mira.


"Apa salahnya mah" tanya Elpan.


"Mamah gak suka" ucap Mira.


"Lian butuh kasih sayang orang tua nya mah" ucap Elpan.


"Berikan saja Lian pada papah kandungnya" ucap Mira yang sudah marah.


"Mamah tau papah kandung Lian itu adalah Iqbal" ucap Elpan.


Mira terkejut bukan main mendengar hal itu.


"Apa mana mungkin bagaimana mungkin Wanda dan Iqbal" ucap Mira.


"Itu kebenaran nya, mamah tau kan siapa yang mendonorkan darah untuk Lian kemarin" ucap Elpan.


"Gak mungkin darah bisa saja sama kan" ucap Mira.


"Bahkan Iqbal menyentuh Wanda dua kali dalam keadaan Wanda yang masih suci" ucap Elpan.


"Gak mungkin" ucap Mira yang masih tak percaya.


"Ini kebenaran nya mah, mamah pikir aku gak hancur aku hancur mah aku gak menyangka wanita yang aku bela ternyata dia lah penghi anat yang sebenarnya" ucap Elpan.


"Tapi mana mungkin" ucap mira yang masih tak percaya.


"Sudahlah mah jangan membenci lagi Rahma aku ingin kembali padanya lagi jadi aku mohon mamah terima lagi Rahma dengan baik itu pun kalau Rahma mau pada ku karena dia mau menikah lagi" ucap Rahma.


"Kenapa harus wanita itu" tanya Mira.


"Mah Rahma itu baik dia sangat baik bahkan dia mau mengasuh Lian dan memberi kan Lian kasih sayang" ucap Elpan.


"Tetap saja mamah tak mau" ucap Mira.


"Apa salah Rahma mah" tanya Elpan.


"Mamah benci papahnya" ucap Mira.


"Lalu apa hubungannya" tanya Elpan.


"Dulu ibunya Rahma itu mengambil papahnya dari teman mamah kau tau teman mamah sampai meninggal karena sakit hati" ucap Mira.

__ADS_1


"Teman mamah meninggal karena papahnya Rahma" tanya Elpan.


"Dia punya penyakit" ucap Mira.


"Gak kan bukan karena papanya Rahma kan jadi mamah itu mengada ngada saja" ucap Elpan.


"El kuburan Wanda bahkan masih basah" ucap Mira.


"Lalu, pernikahan aku dan Wanda itu hanya lah sebuah keterpaksaan mah dulu Wanda menjebak aku sampai aku meniduri dia aku paham sekarang dia selalu datang dan membawa makanan karena itu dia lakukan hanya untuk menjebak aku hingga aku mau bertanggung jawab pada bayi yang ada di kandungan nya" ucap Elpan.


Rasa bersalah hinggap di hati Mira apa lagi dia lah yang membantu Wanda melakukan hal itu karena dia ingin menyingkirkan Rahma dari kehidupan Elpan.


"Aku gak habis pikir pada Wanda" geram Elpan.


Elpan langsung masuk ke dalam kamar nya, dia langsung menutup pintu nya dengan keras hinggap membuat Mira terkejut.


"Apa aku salah karena sudah membantu Wanda, aku gak nyangka kalau Wanda seja hat ini" Gumam Mira menyesal.


Malam ini Mira bermimpi kalau Wanda datang ke dalam mimpi nya dan menangis sesenggukan.


Dalam mimpi...


Wanda menangis dengan wajah yang menyeramkan, wajah nya pucat dan matanya seperti mata panda.


"Mah bilang pada El kalau aku tak salah" ucap Wanda di sela tangisnya.


Mira terkejut melihat Wanda Dengan pakaian serba putih.


"Aku gak salah tapi kau yang salah, kau yang menjebak El, hahaha kau yang salah" ucap Wanda yang langsung menyeringai menatap pada Mira.


Mira ketakutan melihat nya.


Wanda semakin tertawa keras dan sangat menyakitkan.


Mira yang tengah berbaring di ranjang pun menggenggam sprei dengan tangannya dia merasa ketakutan padahal matanya masih terpejam karena dia masih berada di dalam mimpi.


Kering dingin bercucuran membasahi kening nya.


"Aaaaa" teriaknya yang langsung sadar dari tidur menyeramkan nya itu.


Nafasnya ngos ngosan dia menatap pada arah sekitar ternyata masih ada di kamar nya.


"Ternyata aku hanya bermimpi" ucap Mira mengelap keringat nya dengan tisu.


Namun Mira merasa semakin bersalah dengan hal itu apa lagi dia juga membantu Wanda melancarkan aksinya.


"Apa aku salah? Tapi aku tak melakukan apa apa aku hanya membantu saja semua idenya dari Wanda" gumam Mira.


Paginya Rahma sudah bangun dan memandikan Lian sehingga dia terlihat sangat tampan sekali.


Tak bisa berbohong emang benar Lian mirip seperti Iqbal.


"Lian kau sangat tampan" ucap Rahma mencubit hidung bayi itu.


Argam datang ke sana dia melihat putrinya yang tengah bermain dengan bayi itu.


"Rahma" ucap Argam.


"Ya pah" tanya Rahma.


"Kamu yakin akan memberikan kasih sayang pada bayi ini apa lagi sebentar lagi kamu akan menikah" ucap argam yang langsung menggendong bayi lincah itu.


"Ya lucu tapi Rahma kamu punya kehidupan sendiri yang harus kamu jalankan kalau kamu seperti ini bagaimana kamu bisa melupakan Elpan" ucap Argam.


"Pah aku hanya sayang pada Lian" ucap Rahma.


"Pokok nya kamu gak boleh bertemu lagi dengan Elpan, ini demi kebaikan mu Rahma papah gak setuju apa lagi kamu akan menikah dengan Arman" ucap Argam.


"Pah aku sudah bicara pada Arman kalau kita gak akan jadi menikah" ucap Rahma.


"Karena kau yang minta kan" ucap Argam.


"Tidak pah ini keputusan aku dan Arman kita gak Saling mencintai Pah" ucap Rahma.


"Perse tan dengan kata cinta Rahma bahkan orang yang bilang mencintai mu pun dia berani menghiana ti mu" ucap Argam.


"Pah ayolah" ucap Rahma.


"Rahma ini keputusan papah dan kamu harus menuruti nya, ini demi kebaikan mu juga" ucap Argam yang langsung pergi dari sana meninggalkan Rahma bersama dengan Lian.


Rahma hanya menatap papahnya yang asal memutus kan begitu saja padahal ini kehidupan Rahma hanya Rahma yang berhak menentukan nya.


"Papah hanya belum paham saja" ucap Rahma.


Rahma menguapi Lian dengan bubur kemasan karena kata El, Lian Sangat suka bubur itu.


"Makanlah Lian" ucap Rahma.


Rahma mencium pipi gembul Lian.


"Dimana papah mu kenapa dia belum datang" ucap Rahma Menatap pada jendela kamar nya.


Saat ini Rahma sudah terlambat untuk berangkat ke kantor karena Elpan terlambat menjemput Lian.


Sedangkan Lian seperti nya nyaman di gendong Rahma.


"Lian" ucap Rahma gemas pada bocah kecil itu.


"Bu Bu" ucap Lian walau pun tak jelas tapi Rahma bisa mendengar nya dengan jelas.


"Hah kau memanggil aku apa Bu, ayo panggil lagi " ucap Rahma.


Namun Lian tak menghiraukan nya dia malah asik pada mainan nya.


"Gemas sekali sih" ucap Rahma.


Arman datang ke sana melihat pada Rahma.


"Mau kerja" tanya Arman.


"Ya tadinya mau tapi Lian belum di jemput" ucap Rahma.


"Baiklah kamu di rumah saja aku akan berangkat" ucap Arman.


"Baiklah terima kasih" ucap Rahma.

__ADS_1


"Ya" ucap Arman.


Sedangkan di kediaman Elpan saat ini Mira tengah di Landa rasa bersalah apa lagi dia biang dari semua masalah.


"Apa aku harus jujur" gumam Mira.


Mira mondar mandir kesana kemari memikirkan masalah itu.


"CK wanda itu sudah tiada jadi mana mungkin dia bisa bicara Begitu" ucap Mira bergumam karena tak mau ada yang dengar.


Elpan datang ke sana dia melihat mamah nya yang kebingungan begitu.


"Ada apa mah" tanya Elpan.


"Hah" Mira terkejut saat mendengar suara Elpan bahkan Mira juga seperti ketakutan.


"Mamah ada apa" tanya Elpan.


"Mamah hanya bingung saja" ucap Mira berbohong.


"Kebingungan kenapa" tanya Elpan.


"Ahh gak ada lah kamu pergi sekarang jemput Lian untuk pulang" ucap Mira.


"Ya aku juga mau berangkat" ucap Elpan.


"Ya" ucap Mira.


Elpan menunju ke kediaman papahnya Rahma, namun sesampainya di sana Elpan tak di bukakan gerbang dia hanya bisa diam di luar saja.


"Selamat pagi tuan El ada keperluan apa" tanya Satpam.


"Kenapa gerbang nya tak di buka" tanya Elpan.


"Maaf tapi kata tuan Argam kita tidak boleh memasukkan orang asing" ucap Satpam.


Elpan sadar pada apa yang pak satpam itu ucapkan.


"Baiklah aku datang untuk membawa Lian" ucap Elpan.


"Mohon tunggu sebentar" ucap Satpam yang langsung menghubungi Rahma.


📞📞


"Hallo nona ada tuan El yang ingin membawa bayinya" ucap satpam.


"Kenapa gak biarkan masuk saja" tanya Rahma.


"Tuan Argam tak memperbolehkan aku untuk membuka gerbang untuk siapapun termasuk Tuan El" ucap Satpam.


"Apa kenapa begitu" tanya Rahma.


"Ya nona" ucap Satpam.


"Baiklah aku akan datang" ucap Rahma.


📞📞


Rahma menggeleng kan kepala nya karena tak tau harus bagaimana pada papahnya itu apa lagi papahnya itu sangat mengekang nya jika seperti ini terus.


"Papah" gumam Rahma.


Rahma berjalan ke arah luar sambil menggendong Lian baru saja keluar dari kamar nya Rahma melihat ada kedua satpam yang berdiri di hadapan nya.


"Nona" ucap kedua orang itu.


"Siapa kalian" tanya Rahma.


"Kami body guard" ucap nya.


"Lalu mau apa di kamar ku" tanya Rahma.


"Menjaga anda nona" ucap nya.


"Papah" gumam Rahma yang saat ini langsung keluar dari sana menuju ke arah gerbang tapi kedua orang itu mengikuti Rahma.


"Bisakah kalian tak mengikuti aku" tanya Rahma yang sudah geram.


"Maaf nona tapi ini pekerjaan kita" ucap Nya.


"Terserah" ucap Rahma.


Rahma menemui Elpan yang sekarang di perbolehkan masuk.


Elpan heran karena Rahma memakai body guard yang mengikuti nya.


Elpan langsung menggendong Lian.


"Apa Lian menyusahkan mu" tanya Elpan.


"Tidak dia sangat baik" ucap Rahma.


"Syukur lah" ucap Elpan.


"Nona ayo kita masuk di sini sangat panas" ucap bodyguard mencari alasan karena Argam berpesan agar Rahma tak lama bicara dengan Elpan.


"Ya ya" ucap Rahma yang langsung pergi dari sana.


Tapi Rahma baik lagi.


"Kak maafkan aku karena aku gak bisa lama lama" ucap Rahma.


"Ya tak apa" ucap Elpan.


Elpan juga langsung pergi dari sana karena mendapat perlakuan tak baik dari satpam Rahma.


Rahma kesal karena dia merasa seperti di kekang seperti itu, bahkan dia juga tak bisa melakukan apa apa karena hanya diam saja di kamar.


{Ada apa kamu baik baik saja} pesan dari Elpan.


{Ya} balas Rahma singkat.


{Aku lupa kalau kau akan menikah} pesan Elpan.


Rahma enggan sekali membalas nya dia saat ini tengah kebingungan karena dia sekarang harus meyakinkan pada papahnya kalau Rahma tak mau menikah dengan Arman.

__ADS_1


"Papah apa sangat sulit untuk aku menjadi dewa sa apa sulit untuk aku memutuskan keinginan aku sendiri" gumam Rahma sambil mengambil ponsel nya yang ada di atas nakas.


bersambung


__ADS_2