
Pagi hari nya Rahma langsung bersiap karena akan kuliah dia tak masak dahulu karena rasa sakit ucapan Elpan yang semalam elpan ucapkan membuat Rahma merasa masih sakit hati.
"Aku gak akan kerja, aku kerja di rumah buatkan aku sarapan" ucap Elpan yang langsung masuk ke kamar Rahma.
Rahma mengambil tas nya yang ada di atas ranjang.
"Suruh saja istri muda mu itu membuat nya kak, bukan nya masakan aku ga enak ya" ucap Rahma yang langsung pergi dari sana meninggal kan Elpan sendirian.
"Huh Rahma aku kan lagi marah semalam" gumam Elpan.
Elpan sangat lapar dia hendak membangun kan Wanda, namun Wanda masih tidur dengan sangat nyenyak.
"Wanda bangun aku lapar tolong masak kan aku makanan" ucap Elpan membangunkan Wanda.
"El suruh saja Rahma, aku lagi enak tidur" ucap Wanda.
"Tapi aku lapar" ucap Elpan.
"Pergi lah aku ngantuk" ucap Wanda.
Dengan pasrah Elpan pergi dari sana dan langsung menuju ke dapur, perut nya sangat kelaparan karena semalam dia tak makan.
"Apa yang akan aku masak" gumam Elpan.
Dia melihat kulkas banyak sekali stok sayuran dan makanan, namun tak ada nasi Elpan tak tau di mana letak beras karena selama ini Elpan belum pernah masuk ke dapur apa lagi masak.
Elpan memotong motong sayuran yang ada di sana dia memasukan nya pada panci, Elpan juga memasukan Air ke dalam sana.
Semua bumbu masakan Elpan masukan bahkan sampai kecap manis pun Elpan masukan pada panci berisi sayuran itu.
Ayam potong juga Elpan masukkan ke dalam.
Seakan tak ada puasnya Elpan memasukan bumbu kaldu cukup banyak, bahkan Elpan juga memasukan gula pasir yang cukup banyak.
Jangan di tanya bagai mana rasanya.
"Asin, manis, gak jelas" ucap Elpan saat mencicipi makanan itu.
"Aku harus apa kan ini" gumam Elpan.
Elpan menyerah dia mematikan kompor gasnya, Elpan langsung mengambil kunci mobil nya dia mencari makan di luar supaya bisa dapat yang praktis apa lagi Elpan juga membeli untuk Wanda dan Mira.
"Kasihan Rahma, dia ga makan dulu" ucap Elpan.
Setelah membeli makanan Elpan langsung pulang Elpan membeli makanan Padang dia tak tau kalau mamahnya punya riwayat kolesterol.
"Mah ayo makan" ucap Elpan.
Setelah pulang dari membeli makanan Elpan langsung memanggil mamahnya untuk makan, bahkan Wanda juga sudah ada di ruang tamu.
"Ayo makan lah, sekarang kita makan yang ada saja nanti aku akan cari pelayan untuk rumah ini" ucap Elpan.
"Ya pelayan kemarin jangan di pekerjakan lagi, mereka pulang secara bersamaan dan di rumah ini ga ada yang kerja" ucap Mira.
"Ya mah" ucap Elpan.
Meraka semua makan namun setelah makan Mira merasakan pegal di kakinya bahkan sangat sakit sekali.
Dia meringis kesakitan karena hal itu.
"Mamah kenapa" tanya Wanda.
"Kaki mamah terasa pegal sekali" ucap Mira.
"Pegal" tanya Wanda.
Elpan langsung melihat nya ada apa di kaki mamahnya itu sampai mamahnya merasakan pegal.
Elpan mencoba memijit mijit kaki Mira namun tak juga membuat Mira merasakan hilang nya rasa sakit itu.
"Wanda tolong ambilkan obat mamah" ucap Elpan.
"Ya El" ucap wanda yang langsung menuju kamar mamah mertua nya itu.
"Awss sakit" ringis Mira.
"Mamah tenang ya" ucap Elpan.
Wanda datang ke sana dengan mengambil obat itu, dengan cepat Mira memakan obat itu hingga tanpa merasakan pahit nya dari obat itu.
Setelah beberapa menit akhir nya rasa sakit nya hilang juga membuat Mira merasa lebih nyaman.
"Bagai mana mah" tanya Elpan.
"Mamah mau istirahat" ucap Mira.
Elpan membantu mendorong kan kursi roda Mira sampai ke kamarnya bahkan Elpan juga membantu membaringkan Mira ke atas kasur.
"Mah hari ini pelayan baru akan datang aku akan suruh salah satu dari mereka menjaga mamah karena aku tak mungkin tetap stay di sini karena aku juga harus kerja dan Wanda dia tak mungkin karena dia tengah hamil" ucap Elpan.
"Ya El kamu kerja saja, kamu kan tulang punggung keluarga jadi kamu harus tetap bekerja" ucap Mira.
"Ya mah" ucap Elpan.
Elpan langsung berjalan ke arah ruang kerja nya, Elpan sampai lupa minum karena hal itu bahkan bekas makanan pun tak Elpan bereskan bahkan Wanda saja tak mau membereskan nya.
Wanda hanya langsung menyalakan televisi di ruang tamu tanpa memperdulikan Piring kotor yang ada di atas meja di hadapan nya.
Sedangkan Rahma sekarang dia tengah mencari buku buku di perpustakaan karena Rahma butuh kisi kisi untuk membuat skripsi.
Sekarang Rahma mengambil buku yang cukup tebal dia membacanya di sana.
Namun tak ada yang pas untuk Rahma jadikan skripsi.
"Kenapa susah Sekali" gumam Rahma.
Rahma ingat sesuatu dia ingat pada Raya, teman nya itu terkenal dengan kepintaran nya Rahma ingin bertanya saja pada Raya.
Rahma mencari cari teman nya itu, Rahma lupa kalau saat ini dia punya teman yang sangat pandai dalam masalah apa pun bahkan IQ nya Raya tak bisa di ragukan lagi.
"Ray bantu aku" ucap Rahma.
"Bantu apa" tanya Raya.
"Bantu Carikan skripsi" ucap Rahma.
"Rahma ini itu kita cuman latihan jadi apa pun yang kamu buat ini hanyalah latihan saja" ucap Raya.
"Ya tetap saja Ray harus bagus" ucap Rahma.
"Baik lah sekarang kamu tentukan judul yang akan kamu buat, tapi harus sama seperti yang kamu inginkan karena kalau kamu ingin sesuatu kamu pasti akan mencoba mendapatkan nya kan, begitu juga ini pilih tema sesuai yang kamu ingin kan" ucap Raya.
"Bagai mana ya" ucap Rahma.
"Baik lah ayo aku ajarkan sedikit" ucap raya.
Terlalu banyak nya beban dalam kehidupan Rahma hingga dia tak mampu berpikir dengan jernih dia merasa dalam pikiran nya itu hanya lah masalah rumah tangga saja.
Rahma paham sedikit sedikit pada apa yang Raya bicarakan, mau bagai mana pun Rahma harus fokus pada pelajaran nya dia tak mau hanya karena hal sepele membuat nya gagal dalam ujian di kampus nya.
Hingga siang hari nya Rahma baru saja menyelesaikan skripsi nya, hanya Rahma yang menjadi yang terakhir mengumpulkan skripsi itu Untung saja hanya latihan kalau aslinya entah harus apa Rahma.
Biasanya membuat skripsi akan di tentu kan sampai satu Minggu atau satu bulan, tapi ini satu hari harus langsung jadi.
Rahma langsung pulang sejak pagi dia tak makan apa lagi saat istirahat juga Rahma tak istirahat untuk makan atau minum dia hanya sibuk pada skripsi saja.
Rahma sengaja mampir ke salah satu cafe yang ada di kampus itu.
Dia memesan makanan dan langsung memakan nya sendirian.
Seorang mata mata Elpan memberi tau kan pada Elpan tentang Rahma yang makan di Cafe.
Di kediaman Sudardjo, Elpan cukup lega karena Rahma akhirnya makan juga, setelah Rahma mengeluh kan hal itu Elpan memutuskan untuk tak menaruh penjaga untuk Rahma namun dia menyuruh mata mata untuk memata matai Rahma.
__ADS_1
"Bagus lah kalau Rahma makan" gumam Elpan yang kembali menyimpan ponsel nya.
Elpan melihat jam tangan nya yang melingkar ternyata sudah siang hari.
"Aku lupa aku belum makan bahkan aku juga tak ngemil apa pun" ucap Elpan.
Elpan berdiri di atas tangga lantai dua, dia melihat ada Wanda yang tengah menonton televisi.
"Wanda bisa buatkan aku kopi" tanya Elpan.
"El buatlah sendiri" ucap Wanda.
"Ayo lah Wanda" ucap Elpan.
"Aku sedang hamil El kalau aku kenapa kenapa bagai mana" ucap Wanda alasan saja.
Elpan hanya menarik nafasnya kasar, dia langsung turun dan langsung membuat kan teh hangat sendirian.
Setelah lengkap dengan cemilan Elpan akan masuk lagi ke dalam kamar nya.
Namun dia melihat piring kotor bekas makan yang masih ada di atas meja.
"Wanda kenapa tak di bereskan" ucap Elpan.
"El aku lagi malas sekarang mungkin karena hormon hamil ya jadi aku gampang lemes dan gampang sekali bad mood" ucap Wanda.
Elpan tak bicara lagi dia langsung membereskan semuanya hingga beres dia juga yang mencuci nya hingga bersih.
Elpan membawa teh yang sudah dingin dan cemilan nya ke dalam ruang kerjanya.
"Semoga saja sekarang pelayan yang aku suruh datang semuanya bisa langsung datang" gumam Elpan.
Elpan mengutak atik lagi layar laptop nya yang tadi sempat dia matikan, kerjaan Elpan sangat banyak bahkan dia juga harus menyelesaikan pekerjaan tepat sebelum klien dari luar negeri nya datang.
Rahma baru saja pulang dia masuk ke dalam namun sebelum masuk dia melihat ada tiga orang wanita datang ke sana.
"Selamat siang nona, kamu pelayan yang akan bekerja satu Minggu di rumah ini" ucap salah satu dari mereka.
"Oh selamat datang kalau begitu ayo masuk" ucap Rahma.
"Nona apa saja pekerjaan yang harus kami kerjakan Nona" tanya nya.
"Masuk lah dulu aku akan tanya dulu pada kak El" ucap Rahma.
"Baik lah" ucapnya.
Ketiga orang itu masuk ke dalam mereka orang orang baru yang tugasnya hanya mengganti kan pembantu lama saat cuti.
"Tunggu di sini aku akan panggil kak El" ucap Rahma.
"Baik nona" ucapnya.
Wanda yang tengah menonton pun hanya menatap mereka sekilas.
Ketiga wanita itu langsung duduk di sofa dekat dengan Wanda.
"Kalian siapa" tanya Wanda.
"Kami pelayan" ucapnya.
"Hah pelayan tapi berani sekali duduk di sofa bersama dengan ku, dasar pergi kalian dari sini aku gak suka ya kalian berani sekali begini" ucap Wanda kesal.
"Tapi nona kami akan berbakti pada kalian tak bisa kah kau memperlakukan kami dengan baik" ucapnya.
"Pelayan tetap lah pelayan jadi jangan mau di sama kan" ucap Wanda.
"Kau terlalu sombong Nona" ucap nya.
"Berani sekali kau menceramahi aku" ucap Wanda semakin kesal.
"Kau tak tau memanusiakan manusia nona" ucapnya.
"Jangan sama kan pelayan dengan majikan karena hal itu sudah pasti akan sangat berbeda" ucap Wanda.
"Sombongnya" ucap yang lain.
"Baik lah ayo kita pergi percuma kita berbakti pada orang sekejam dia" ucapnya.
Ketiga pelayan itu akan pergi namun dari atas tangga Elpan menghentikan langkah mereka.
"Kalian mau kemana" tanya Elpan.
"Tuan kami akan pergi percuma karena nona ini tak menghargai kami" ucapnya.
"Kenapa begitu" tanya Elpan.
"Dia menghina kami tuan" ucap nya.
"Gak kok aku gak menghina nya" ucap Wanda membela diri padahal itu akan terlihat percuma saja karena Elpan percaya pada ketiga pelayan itu.
"Maafkan dia" ucap Elpan.
Elpan turun dari atas tangga dan langsung menuju ke bawah.
"Saya mohon maafkan istri saya ini, istri saya memang begitu orang nya, jangan di masukan ke dalam hati ya" ucap Elpan.
"Kami malas kerja di sini tuan" ucapnya.
"Istri saya akan minta maaf pada kalian asal kalian harus mau bekerja di rumah saya" ucap Elpan.
"Baik lah" ucapnya.
"Wanda" ucap Elpan dengan penuh penekanan.
"El aku gak mau masa aku minta maaf pada pelayan" ucap Wanda.
"Wanda" ucap Elpan lagi.
"Ya baik lah" geram Wanda.
Wanda berdiri dia menatap pada ketiga pelayan itu.
"Aku minta maaf, bekerja lah di sini" ucap Wanda namun dengan nada kesal.
Wanda langsung pergi dari sana meninggalkan mereka semua, bahkan Rahma juga pergi dari sana menuju ke arah dapur.
Elpan hanya bisa menghela nafas saja Rahma dan Wanda seolah acuh padanya.
"Baik lah aku tugaskan kamu menjaga ibu saya nama nya ibu Mira dia di kamar itu dia sakit" ucap Elpan.
"Baik tuan" ucapnya.
"Kamu bekerja di dapur lalu beres beres rumah dan kamu bantu dia membersihkan rumah, kamu juga jangan hanya menjaga mamah saja kamu juga harus bantu beres beres karena rumah ini sangat besar kalau hanya di bereskan oleh dua orang saja" ucap Elpan.
"Kami kerja satu Minggu kan" ucapnya.
"Ya tapi kalau pelayan yang dulu datang terlambat bisa kan kalian kerja lebih lama" ucap Elpan.
"Bisa tuan" ucapnya.
"Baik lah aku akan sambung kerja" ucap Elpan.
"Baik tuan".
Rahma saat ini tengah membuat jeruk peras untuk menghilangkan dahaga haus nya.
Rahma mengambil buah buahan dari dalam kulkas dia memotong motong buah nya Rahma membuat Salad buah juga.
Rahma langsung memakan makanan itu di meja makan.
"Hay kalian mau makan" tanya Rahma.
"Terima kasih nona" ucapnya.
__ADS_1
"Siapa nama kalian" tanya Rahma.
"Aku Tina, dia oca, dan yang di kamar nyonya besar nama nya Anti" ucap nya.
"Oh baik lah" ucap Rahma.
"Nona kalau butuh sesuatu hubungi saya" ucap Tina.
"Ya" ucap Rahma.
Rahma memakan nya hingga habis, dia merasakan matanya yang mengantuk padahal masih sangat siang.
"Nona anda siapa nya tuan Elpan" tanya oca dengan berani pada Rahma.
"Saya istri tuanya" ucap Rahma.
"Istri tua" tanya nya.
"Wanita yang tadi debat dengan kalian itu istri muda nya" ucap Rahma.
"Tuan punya dua istri" tanya nya.
"Ya" ucap Rahma.
"Waw aku pikir nona ini adik nya" ucap oca.
"Aku istrinya" ucap Rahma.
"Maaf nona" ucapnya.
"Tak apa baik lah aku akan ke kamar dulu aku sangat mengantuk" ucap Rahma.
"Ya nona" ucap nya.
"Semoga kalian betah ya di sini" ucap Rahma.
"Ya nona".
Rahma tertidur di kamarnya karena semalam banyak menangis jadi dia mengantuk sekali.
Sedangkan sekarang Argam tengah menerima laporan dari mata mata nya kalau Rahma ke rumah sakit karena mertuanya masuk rumah sakit.
Hingga perdebatan yang terjadi antara Rahma dan Wanda pun Argam melihat nya.
"Kasihan sekali hidup mu Rahma" gumam Argam.
Dia memperhatikan wajah Wanda, Arman yang ada di belakang juga bisa dengan jelas melihat wanita itu apa lagi Argam memperbesar gambar wajah Wanda.
"Tuan" ucap Arman saat melihat tuan nya akan menutup laptopnya.
"Tuan ini kan Gadis malam yang Pernah kita jumpai dengan seorang pengusaha itu" ucap Arman.
"Masa sih" tanya Argam.
"Ya tuan" ucap Arman.
Arman memastikan lagi.
"Ini benar tuan, apa jangan jangan tuan pernikahan ini adalah pernikahan bohongan" ucap Arman.
"Apa maksud kamu" tanya Argam.
"Kenapa nona Rahma sangat sabar saat mengetahui kalau suaminya menikah lagi, apa jangan jangan pernikahan ini hanya lah ajang untuk mendapatkan anak, seperti yang ada di film Bollywood, seorang suami istri gak bisa punya anak lalu mereka menyewa gadis malam untuk memberikan anak untuk nya, dia membayar mahal wanita malam itu sampai punya anak" ucap Arman.
"Lalu" tanya Argam.
"Mungkin saja kisah ku ini benar" ucap Arman.
"Gak mungkin kalau begitu apa Rahma ku man dul" tanya Argam.
Arman tersentak kaget benar saja apa yang di ucapkan tuannya itu.
"Entah" ucap Arman.
"Rahma ku sempurna Arman Rahma ku sempurna" ucap Argam.
"Tuan anda jangan salah paham aku hanya bicara tentang film" ucap Arman.
"Sudah lah aku gak mau dengar lagi" ucap Argam.
"Tapi tuan kalau benar bagaimana" tanya Arman.
"Aku bersyukur kalau ini benar karena aku tak mungkin mampu melihat Rahma begini terus" ucap Argam.
Namun Argam penasaran dengan kisah yang Arman ceritakan.
"Lalu apa kisah mu itu berakhir dengan bahagia" tanya Argam.
"Tentu saja si wanita nya pergi dan anaknya di asuh oleh Sepasang suami istri itu" ucap Arman.
"Aku harap nantinya akan happy ending" ucap Argam.
Malam hari nya Rahma makan bersama dengan Wanda dan Elpan, karena Mira makanan nya di antar ke kamarnya.
Rahma hanya makan saja tanpa bicara apa pun.
"Wanda besok jadwal kamu periksa kandungan kan" tanya Elpan.
"Ya El kata dokter nya aku Harus ke sana pagi" ucap Wanda.
"Baik lah, aku akan antar" ucap Elpan.
"Terima kasih" ucap Wanda.
"Makan lah yang banyak supaya bayi nya sehat di dalam perut kamu" ucap Elpan.
"Sehat lah aku akan makan nya yang bergizi" ucap Wanda.
Rahma hanya melihat saja kemesraan kedua sejoli itu, tak ada rasa cemburu di hati Rahma dia justru merasa baik baik saja dan cukup bo do amat.
Rahma langsung pergi dari sana ketika selesai makan, Elpan juga memutuskan untuk tidur di kamarnya.
Rahma turun lagi karena dia akan mengambil minum untuk semalam dia haus.
Rahma melihat ada Wanda di sana.
"Kamu iri ya gak punya anak, gak bisa membahagiakan Elpan" ucap Wanda.
"Malas sekali aku mbak harus mengirikan kehidupan mu" ucap Rahma.
"Kau iri Rahma kau punya penyakit hati" ucap Wanda.
Rahma tak menggubris dia langsung mengambil Air untuk minum.
"Kamu itu gak bisa tandingi aku Rahma jadi sebaiknya kamu pergi saja dari kehidupan Elpan" ucap Wanda.
"Aku tak akan menyerah Begitu saja" ucap Rahma.
"Percuma kamu mau gimana juga kalau Elpan mau dengan aku kamu bisa apa" ucap Wanda.
"Jaga ucapan mu pelakor" ucap Tina yang langsung datang ke sana.
"Kau hanya pelayan jadi jangan so ikut campur" ucap Wanda.
"Sudah lah aku gak mau kalian bertengkar" ucap Rahma.
"Bertengkar dengan pelayan maaf bukan tandingan aku" ucap Wanda.
"Sepenting itu kah uang di mata mu" ucap Tina.
"Tentu saja" ucap Wanda.
"Sudah Tina sudah" ucap Rahma.
__ADS_1
Wanda langsung pergi dari sana dengan menghentak hentak kan kakinya.
bersambung