
Malam harinya mereka tidur bersama, namun tak ada rasa kantuk di antara kedua nya apalagi Rahma masih memikirkan foto Elpan yang sedang di peluk oleh seorang wanita.
"Rahma kau sudah tidur" tanya Elpan.
"Belum" ucap Rahma.
"Aku lihat di foto kalau kau berduaan dengan teman kuliah mu" ucap Elpan.
"Kalau ya emang ada apa" tanya Rahma.
"Kau berduaan dengan dia di rumah sakit" tanya Elpan.
"Ya dia menjaga papah saat aku keluar membeli bubur tadi" ucap Rahma santai.
"Oh" ucap Elpan.
"Lalu bisa kau jelaskan Foto saat kau berpelukan dengan wanita" tanya Rahma.
"Pelukan? Dari mana kau tau" tanya Elpan.
"Aku tau kak" ucap Rahma.
"Kamu jangan marah oke, aku tak bermaksud dia yang memeluk ku duluan lagi pula di sana juga ada mamah" ucap Elpan berusaha menjelaskan.
"Tak masalah lagi pula kalau kau sampai menikah lagi pun aku tak perduli" ucap Rahma yang langsung menetes kan air matanya.
"Rahma aku tak bermaksud" ucap Elpan.
"Kalau aku menyuruh mu untuk tak menikah lagi apa kau akan dengar kan aku" tanya Rahma.
"Tentu saja aku tak akan menikah lagi aku janji" ucap Elpan.
"Baik lah aku percaya" ucap Rahma.
"Sudah lah ya jangan berpikir buruk tentang ku" ucap Elpan.
"Ya" ucap Rahma.
Pagi harinya Rahma sudah bersiap akan memasak di dapur.
"Rahma bagai mana wanita yang kemarin mamah kirim kan pada mu cantik kan" tanya Mira pada Rahma yang sekarang sedang masak.
"Mah apa tak bisa mamah menunggu satu bulan lagi mah, aku yakin satu bulan lagi aku bisa hamil" ucap Rahma.
"Apa jaminan nya" tanya Mira.
"Jaminan" tanya Rahma kaget.
"Ya jaminan nya apa kalau mamah menunggu satu bulan lagi terus kamu tak hamil, apa yang akan mamah dapatkan" tanya Mira.
"Mah ayo lah aku yakin" ucap Rahma.
"No, mamah tak mau kalau kau mau mamah bisa tunggu satu bulan asal kalau kau tak bisa punya anak maka kau harus tinggal kan El" ucap Mira.
"Mah apa maksud mamah" tanya Rahma.
"Rahma bukan kah kalau kau dan istri muda El hamil, itu akan menguntungkan bagi mamah karenakan mamah akan punya dua cucu sekaligus" ucap Mira.
"Mamah serakah" ucap Rahma.
__ADS_1
"Apa serakah? Kau berani bicara begitu dasar menantu kurang ajar" ucap Mira.
"Bukan kurang ajar mah tapi mamah yang tak paham pada kondisi Aku" ucap Rahma.
"Dasar menantu tak tau di Untung, sudah Untung kau aku restui menikah dengan Elpan kalau tidak, mungkin aku akan mencari yang lain untuk Elpan" ucap Mira marah pada Rahma.
Rahma hanya diam dia tak mau meladeni mamah nya lagi, sekarang Rahma akan bersabar menghadapi mamah mertua nya itu.
Mira berjalan ke arah ruang tamu di sana sudah ada Elpan yang sekarang tengah mengutak atik laptop nya.
"El" ucap Mira yang akan mengadu pada putra nya itu.
"Ada apa mah" tanya elpan.
"Istri mu itu kurang ajar sekali dia bilang kalau mamah serakah" ucap Mira.
"Rahma bilang begitu" tanya Elpan.
"Ya El dia bilang mamah serakah" ucap Mira mengadu.
"Rahma" sahut Elpan yang masih berusaha bersabar walau pun rasa nya Elpan sangat bosan karena mendengar adu mulut tiap hari.
"Ya kak" tanya Rahma yang baru saja datang dari dapur.
"Kata mamah kau bilang Mamah serakah" tanya Elpan.
"Ya kak" ucap Rahma mengiyakan saja karena masalah adu mulut dengan mertuanya itu.
"Kenapa kau berkata begitu" tanya Elpan.
"Tanya kan saja pada mamah kak dia tau kok jawaban nya" ucap Rahma semakin malas meladeni keluarga itu.
"Rahma bilang kalau mamah serakah padahal mamah mau minta uang" ucap Mira berbohong.
"Bohong kak, Mamah bohong" ucap Rahma.
"Benar El, Rahma bilang mamah serakah" ucap Mira.
"Mah jangan berbohong ada saksinya kok di sana" ucap Rahma yang tersulut emosi.
"Tuh kan dia meninggikan suara nya" ucap Mira.
"Rahma dia mamah ku pelan kan suara mu" ucap Elpan.
"Tapi kak mamah Bohong" ucap Rahma.
"Mamah gak bohong El, emang Rahma saja yang tak tau etika" ucap Mira.
"Jangan begitu mah kau dengan secara tak langsung mengundang permasalahan antara aku dan kak El" ucap Rahma.
"Rahma, Rahma sudah" bentak Elpan yang membuat Rahma terkejut mendengar nya.
Seorang anak yang tak pernah di bentak, sekarang merasa bentakan dan bukan oleh keluarga nya tapi malah oleh suami nya sendiri.
"Aku bosan dengar kalian berantem terus" ucap Elpan.
Dia langsung merapihkan berkas dan laptop nya, Elpan langsung pergi dari sana meninggal kan Rahma yang masih di sana bersama dengan mamah nya.
Mira hanya tersenyum tipis pada Rahma dan dia langsung pergi dari sana meninggalkan Rahma.
__ADS_1
"Huhh aku salah" gumam Rahma.
Saat ini Rahma langsung bersiap karena akan ke kampus dahulu tak lupa Rahma juga membungkus kan makanan untuk Elpan karena Elpan tak makan.
Rahma dapat kabar kalau sekarang hanya akan absen saja karena akhir akhir ini tak banyak pelajaran.
Rahma akan berangkat sekarang menuju kampus dan nanti akan ke perusahaan Elpan.
Setengah jam kemudian Rahma sampai di kampus dia hanya absen saja setelah itu pergi ke perusahaan Elpan.
Sedangkan sekarang Mira tengah merencanakan sesuatu, saat ini Wanda berada di kediaman Elpan.
"BI Bungkus kan makanan untuk Elpan" titah Mira.
"Ya Nyonya" ucap pelayan.
"Baik lah Wanda sekarang kita akan ke perusahaan Elpan kita akan bawakan dia makanan" ucap Mira.
"Apa Elpan akan luluh" tanya Wanda.
"Tentu saja" ucap Mira.
Mereka berangkat ke perusahaan, sayang sekali lebih dulu Mamah nya Elpan dari pada Rahma karena sekarang Rahma terjebak macet.
"Perusahaan Elpan sekarang semakin indah ya" ucap Wanda.
"Ya karena kan arsitek nya dari luar negeri" ucap Mira.
"Wah bagus ya" ucap Wanda.
mereka masuk ke dalam ruangan Elpan.
"selamat pagi El, lihat Wanda membawa makanan untuk mu" ucap Mira.
"mau apa kesini" tanya Elpan ketus.
"El aku bawa makanan kata mamah kamu, kamu belum makan aku masakin spesial buat kamu, makan ya" ucap Wanda.
"aku gak lapar" ucap Elpan.
"ayo lah El makan saja lagi pula Wanda sudah susah susah membuat kan itu" ucap Mira.
"tapi mah" ucap Elpan.
"makan saja" ucap Mira.
mau tak mau Elpan memakan makanan itu.
mereka duduk di Sofa ruangan Elpan, satu suapan mendarat di mulut Elpan.
"ini seperti masakan Rahma" batin Elpan.
"enak kan" tanya Wanda.
"kau masak sendiri" tanya Elpan.
"ya tentu saja" ucap Wanda.
"tapi kenapa masakan nya seperti masakan Rahma" ucap Elpan.
__ADS_1
Wanda langsung menelan Saliva nya,