
Pagi hari nya Arman sudah stay di depan kamar apartemen Rahma karena dia ingin menanyakan kabar Rahma.
Arman terus saja melihat jam tangan nya dia takut kesiangan masuk kerja apa lagi tak ada siapa pun di Perusahaan papah nya Rahma itu.
"Nona keluar lah" gumam Arman.
Rahma keluar dari kamarnya dia melihat Arman yang sudah berdiri di ambang pintu kamar nya.
"Ada apa" tanya Rahma yang masih kesal pada Arman yang kepo itu.
"Kamu kenapa nona" tanya Arman.
"Gak ada aku baik baik saja" ucap Rahma.
"Oh baik lah" ucap Arman.
Rahma langsung pergi dari sana namun Arman mencegah nya dia ingin tau apa yang sedang Rahma pikirkan.
"Nona semalam kau menangis aku mau tau kau kenapa" tanya Arman.
Rahma langsung tersulut emosi mendengar hal itu.
"Tak bisa kah kau tak kepo Arman, ini urusan ku kau tak berhak bertanya begitu" ucap Rahma protes.
"Tapi nona aku hanya mau tau" ucap Arman.
"Diam lah aku gak mau kau terlalu ikut campur" ucap Rahma.
Namun Arman tak menyerah juga dia mendekat pada Rahma bahkan Arman juga mencekal tangan Rahma.
"Lepaskan Arman kau sangat tak sopan" geram Rahma.
"Nona aku hanya mau tau kenapa kau menangis semalam apa ada yang menyakiti mu" tanya Arman.
"Kau ingin tau hah kau ingin tau Arman kenapa aku menangis karena kau Arman, karena kau hidup aku jadi bermasalah Coba saja kalau tak ada Mungkin aku bisa hidup dengan bebas, Arman kau terlalu banyak ikut campur aku harap aku tak pernah melihat mu lagi Arman aaaaa" bentak Rahma yang di akhiri dengan teriakan prustasi dari Rahma.
Rahma langsung pergi dari sana meninggal kan Arman yang masih berdiri di sana.
Arman hanya bisa tersenyum melihat hal itu, dia tau kalau Nona nya itu sangat sakit hati karena mau bagaimana pun Rahma dia tak pernah marah sampai seperti itu.
"Aku yakin kalau ini adalah masalah dari suami mu nona" gumam Arman.
Rahma masuk ke dalam taksi dan menangis di sana, hal itu membuat supir taksi keheranan karena Rahma menangis.
"Nona anda tak apa" tanya supir taksi.
Dengan cepat Rahma menghapus air mata nya dia menatap pada supir taksi itu.
"Tidak pak jalan saja" ucap Rahma.
Sesampainya di perusahaan Armasta,
Rahma langsung masuk ke dalam dia melihat pada karyawan yang lain tersenyum padanya.
Rahma membalas senyuman itu walaupun dengan sangat terpaksa.
Rahma melihat penampilan nya di pintu lift yang menampakan pantulan Rahma.
Rahma lupa kalau dia belum menyisir rambut nya bahkan kepangan yang semalam Rahma buat pada rambut nya pun masih tertata sempurna.
"Astaga kenapa aku lupa" gumam Rahma yang hendak membuka kepangan itu.
"Rahma" sahut bunga yang menghentikan Rahma untuk melepas kan kepangan nya.
"Rahma Ayo kita ada rapat dengan pak Vin dan pak Van, ayo kita harus segera ke meeting room" ucap Bunga.
"Oh baik lah" ucap Rahma sampai lupa pada kepangan rambut nya.
Mereka masuk ke dalam meeting room, semua orang menatap pada kedua wanita itu.
"Maaf atas keterlambatannya pak" ucap Bunga.
"Tak apa, ayo duduk" ucap pak Wiryo pemilik perusahaan itu.
Rahma duduk di sana namun dia belum sadar kalau di sana juga ada Kevin yang tengah memperhatikannya.
Rahma hanya fokus pada berkas berkas yang dia bawa saja.
"Kak aku bawa berkas merah juga" bisik Rahma.
"Ya itu nanti" ucap Bunga.
"Di mana paman kamu Vin" tanya Pak Wiryo.
"Masih di jalan Pah" ucap Kevin yang langsung membuat Rahma sadar kalau orang itu tak asing di telinga nya.
Rahma melihat orang itu.
"Kevin" ucap Rahma yang langsung di balas senyuman oleh Kevin.
Bunga menyenggol lengan Rahma.
"Panggilan dia tuan atau pak kau tak sopan sekali" bisik Bunga.
"Selamat pagi pak Kevin" ucap Rahma.
"Pagi" ucap Kevin.
"Kalian saling kenal" tanya Pak Wiryo.
"Ya kita satu kampus" ucap Kevin.
"Oh" ucap pak Wiryo.
Kevin menggoda Rahma dengan menaik turun kan alisnya bahkan dia juga mengedipkan matanya sebelah hanya untuk menggoda Rahma.
Namun karena mood Rahma Sedang berantakan jadi dia tak terlalu memperhatikan nya.
Meeting pun dimulai Rahma tak bicara dia hanya mendengar kan saja yang banyak bicara adalah bunga.
Rahma masih tetap mencoba mendengar kan walaupun mood Rahma masih tak stabil.
Hingga selesai Mereka semua keluar dari ruangan itu, bahkan Kevin dan kakaknya pun ikut keluar juga.
Kevin melihat ada office boy di sana.
__ADS_1
"Tolong bilang pada Rahma kalau aku memanggil nya" ucap Kevin.
"Baik tuan" ucapnya.
Kevin duduk di meja ruangan nya menunggu Rahma datang.
Sedangkan Rahma saat ini dia tengah menyiapkan laptop nya.
"Rahma di panggil tuan" ucap ob itu.
"Ada apa" tanya Rahma.
"Entah" ucapnya.
"Ada apa kak" tanya Rahma panik karena takut nya pak Wiryo yang panggil.
"Santai saja Rahma, kau buat kan saja kopi bawa ke sana" ucap Bunga.
"Baik lah" ucap Rahma cemas takut di pecat karena tak sopan pada Kevin.
Rahma masuk ke sana dengan membawa satu cangkir kopi panas untuk Pak Wiryo.
"Selamat pagi pak" ucap Rahma pada laki laki yang membelakangi nya itu.
"Duduk" ucap Kevin dengan suara berat.
Rahma langsung duduk dan menundukkan kepalanya.
"Maaf tuan" ucap Rahma yang langsung memulai percakapan.
Kevin membalikan badan nya pada Rahma.
"Kau takut" tanya Kevin.
Rahma mengangkat wajah nya.
"Kevin maafkan aku" ucap Rahma.
Rahma baru ingat kalau di perusahaan Rahma adalah bawahan kevin dan Kevin itu atasan Rahma yang harus di hormati.
"Maaf tuan maksud saya" ucap Rahma.
Kevin mengangkat dagu Rahma.
"Aku sudah memaafkan mu Rahma Arfani Armasta" ucap Kevin.
Namun tak lama setelah nya Kevin mendapatkan pukulan dari Rahma tepat di wajah tampan nya.
"Rahma kau sangat susah di ajak bercanda aku hanya bercanda ayo lah maafkan aku" ucap Kevin.
"Orang orang benar tentang mu" ucap Rahma kesal.
"Apa yang di katakan orang orang itu" tanya Kevin.
Kevin mendekat pada Rahma yang duduk di sana.
"Mereka bilang aku apa" tanya Kevin yang langsung mendekat kan wajah nya pada Rahma.
"Aku apa" tanya Kevin.
"Apa lagi" tanya Kevin.
Kevin semakin mendekati Rahma yang sekarang merasa kan ketakutan karena aura Kevin di kantor dan di kampus sangat lah berbeda.
"Kau" ucap Rahma tak melanjutkan nya.
"Apa" tanya Kevin.
Rahma semakin ketakutan.
"Aku suka marah marah karena aku di tinggal kan menikah oleh wanita yang aku sayang, itu semua bohong Rahma" ucap Kevin yang langsung menjauh dari Rahma.
"Ya aku akui aku memang pemarah tapi hanya di kantor saja, oh ya soal di tinggal menikah mungkin itu bohong" ucap Kevin.
"Jangan bohong" ucap Rahma dengan nada ketakutan terus saja bicara padahal dia tau kalau Kevin sangat menakutkan.
"Kau tak percaya sebenarnya wanita itu sudah pisah dengan suami nya aku jadi aku pikir aku punya kesempatan untuk mendekati nya" ucap Kevin.
"Bagus lah kalau begitu" ucap Rahma.
"Rahma ayo lah aku gak segalak itu bukan" ucap Kevin.
"Ya aku tau, tapi kau memang sedikit mengerikan" ucap Rahma.
"Aku gak akan apa apa, baik lah aku senang kau bekerja di sini, oh ya Rahma aku lihat mata mu sembab ada apa" tanya Kevin.
"Tak ada aku hanya sedih saja" ucap Rahma.
"Baik lah kalau kau tak mau bercerita" ucap Kevin.
"Aku akan kembali ke meja ku" ucap Rahma.
"Selamat bekerja sayang" ucap Kevin namun hanya dalam hati saja.
Sore hari nya Rahma Hendak pulang tapi dia di Hentikan oleh Kevin yang baru saja pulang dari kampusnya.
"Antar aku ke mall mau gak" tanya Kevin.
"Sebenarnya aku cape tapi yaudah lah ayo" ucap Rahma.
Mereka berangkat ke pusat perbelanjaan itu, sebenarnya Rahma sangat malas sekali tapi karena pulang juga dia akan bertemu dengan Arman jadi dia terpaksa ikut.
"Rahma aku senang jadi teman mu" ucap Kevin.
"Oh" ucap Rahma.
"Oh doang" tanya Kevin.
"Ya aku juga Senang bisa berteman dengan mu" ucap Rahma.
Sesampainya di sana Rahma langsung jalan masuk bersama dengan Kevin, Rahma hanya melihat saja apa yang akan Kevin beli.
Padahal sangat jarang sekali seorang laki laki belanja.
"Apa yang akan dia beli" gumam Rahma mulai kesal pada Kevin.
__ADS_1
Kevin mencari pakaian wanita yang cukup mahal, Rahma hanya ikut saja bahkan dia sangat tak berminat untuk bertanya pada Kevin.
"Lihat baju ini bagus gak" tanya Elpan.
"Bagus aku beli yang ini aja" ucap Wanda.
Rahma merasa tak asing dengan suara itu dia langsung melihat orang yang tak jauh darinya.
"Kak El" ucap Rahma.
Mereka terlihat sangat mesra bahkan Wanda juga sejak tadi tak melepas kan tangannya dari tangan Elpan.
"Lihat Rahma bagus gak" tanya Kevin memperlihatkan pakaian pada Rahma.
"Bagus" ucap Rahma.
Elpan baru sadar kalau ada Rahma juga di sana dia semakin ingin untuk memanas manasi Rahma.
Elpan sengaja mencium Wanda di hadapan Rahma.
Bahkan Wanda pun sadar kalau ada Rahma di sana, mereka seolah kerja sama untuk menyakiti Rahma.
Kevin yang melihat Rahma murung pun langsung memegang tangan Rahma dan menatap wajah nya.
"Beli apa saja yang kau inginkan" ucap Kevin.
"Terima kasih" ucap Rahma.
"Baik lah ayo" ucap Kevin yang langsung pergi dari sana sambil menuntun Rahma pergi dari sana.
Elpan merasa keberatan namun dia tak bisa melakukan apa apa karena status dia dan Rahma pun sudah pisah.
"Dasar wanita murahan" gumam Elpan marah.
"Sudah lah ayo bantu aku mencari kan pakaian" ucap Wanda acuh pada elpan yang cemburu itu.
"Rahma berani sekali kau berduaan dengan laki laki itu" gumam Elpan geram hingga tangan nya mengepal karena kesal.
Kevin asal mengambil pakaian dia membawanya ke kasir.
"Apa yang kau lakukan" tanya Rahma.
"Ayo kita bayar" ucap Kevin.
"Untuk siapa ini" tanya Rahma.
"Untuk mu" ucap Kevin.
"Tapi ini banyak sekali" ucap Rahma.
"Tak apa" ucap Kevin.
Elpan dan Wanda datang ke sana.
"El kau tau aku Senang sekali karena punya suami seperti mu" ucap Wanda.
"Kamu sudah memberikan kebahagiaan pada ku jadi kamu berhak mendapatkan ini" ucap Elpan.
Rahma langsung diam saat mendengar mereka dekat dengan nya.
Kevin memberikan pakaian yang sudah dia ambil untuk Rahma tadi.
"Tolong Bungkus ini" ucap Kevin.
"Ya" ucap Kasir.
"Apa kau mau yang lain" tanya Kevin.
"Gak usah" ucap Rahma.
"Kau sangat baik Rahma tak boros" ucap Kevin.
"Hahah" elpan tertawa mendengar hal itu.
"Ya dia tak boros tapi dia pencuri" ucap Elpan dengan sangat lantang hingga membuat orang orang melihat padanya.
Rahma langsung melihat orang orang yang menatapnya seperti itu.
Jujur saja Rahma sangat tersinggung apa lagi Elpan tertawa terbahak-bahak.
Rahma langsung melihat pada Elpan.
"Tolong jaga bicara mu Kak, kau boleh menghina aku tapi aku harap kau berhenti memfitnah aku, demi Alloh aku tak pernah mencuri uang mu, kalau pun ya bukan kah seorang istri di lindungi undang undang jika mencuri uang suami yang pelit" ucap Rahma.
"Pelit bahkan ATM ku saja kau bawa" ucap Elpan.
Rahma tersenyum.
"Tanya kan saja pada istri mu itu" ucap Rahma menunjuk Wanda.
"Kau ingin terlihat baik di depan orang lain bukan, Rahma tak ada yang mau dengan mu bocah itu hanya kasihan pada mu" ucap Elpan menunjuk pada Kevin.
"Jaga bicara anda tuan aku sayang pada Rahma" ucap Kevin.
"Kau akan menyesal menikahi nya karena dia itu mandul" ucap Elpan.
Rahma langsung marah dia tak bisa mengontrol emosi nya.
"Kenapa kau tak memeriksa sendiri hasil lab mu, supaya kau tau apa kau mandul atau tidak, bukan nya malah menghina orang lain padahal kau sendiri yang mandul" bentak Rahma.
Mereka menjadi tatapan semua mata di sana, bahkan banyak orang yang memvideokan kejadian itu.
Rahma menangis namun dengan cepat dia menghapus air mata nya.
"Kita sudah pisah kan jadi aku harap kau jauhi aku dan aku juga akan jauhi kamu, kita sudah tak punya hubungan apa apa anggap saja hal yang terjadi pada kita hanyalah mimpi saja" geram Rahma yang langsung pergi dari sana.
Kevin dengan cepat membayar belanjaan nya dan menyusul Rahma yang sekarang sudah ada di luar.
"Ayo aku antar kau pulang" ucap Kevin.
Rahma ikut saja pada ucapan Kevin, ingin sekali rasanya Kevin menghabisi Elpan di sana namun dia tak mungkin melakukan nya karena itu akan sangat tak sopan.
Apa lagi mereka di lihat banyak orang tadi.
bersambung
__ADS_1