
Elpan berdiri dan menatap pada Rahma.
"Kau tunggu lah di sini aku akan bangun kan Wanda'' ucap Elpan ketus pada Rahma.
"Ya kak" ucap Rahma.
Rahma hanya diam saja di sana, dia tak berani bicara karena Elpan terlihat masih sangat marah padanya.
"Aku harus apa kak, setiap hari selalu saja aku yang salah, apa seburuk itu aku di mata mu kak" ucap Rahma.
Rahma mendekat pada pintu ruangan Mira, dia melihat dari kaca kecil kalau Mira masih tertidur dengan pulas.
Rahma cukup khawatir dengan mamah mertua nya itu tapi mau bagaimana lagi dia tak mungkin masuk sekarang karena takut nya Elpan akan marah.
Rahma kembali lagi duduk di kursi itu, hingga datanglah Kevin yang membawa segelas kopi untuk Rahma.
"Minum lah" ucap Kevin.
"Terima kasih" ucap Rahma.
"Oh ya kamu gak pulang" tanya Kevin.
"Gak" ucap Rahma menggeleng.
"Maaf aku gak bisa lama aku harus segera pergi" ucap Kevin.
"Baik lah" ucap Rahma.
Sedangkan di kamar VIP Elpan tengah membangun kan Wanda yang masih tertidur di sana.
"Wanda bangun mau makan apa ayo aku belikan" ucap Elpan.
"Aku mau SOP iga buatan Rahma" ucap Wanda.
"Tidak aku takut nya gak higienis kamu lihat kan mamah juga sampai stroke gara gara makan SOP iga itu" ucap Elpan.
"El aku mau nya itu" ucap Wanda.
"Aku beli di luar ya" ucap Elpan.
"Gak mau aku mau nya buatan Rahma" ucap Wanda.
"Baik lah akan aku suruh Rahma membuat nya tapi aku akan lihat bagaimana cara dia membuat nya takutnya dia memasukkan sesuatu pada makanannya" ucap Elpan yang semakin hari semakin benci saja pada Rahma padahal setiap hari Rahma selalu menyiapkan makanan dan teh hangat untuk Elpan tapi sayang nya Elpan gak tau itu buatan Rahma.
Saat ini pikiran dan mata Elpan sudah tertutup oleh bahagianya pada Wanda karena akan punya anak, bahkan Elpan juga sudah jarang tidur dengan Rahma.
Mungkin selama lima bulan ini hanya beberapa kali saja Elpan mau tidur di kamar Rahma.
Elpan keluar dia langsung mendekat pada Rahma.
"Buatkan Wanda SOP iga aku ingin Ikut melihat mu memasak" ucap Elpan.
"Baik lah" ucap Rahma.
"Kita pulang" ucap Elpan.
"Tapi aku mau belanja dulu karena setau aku iga nya habis" ucap Rahma.
"Baik lah kita ke supermarket" ucap Elpan.
Mereka langsung menuju ke arah supermarket, Rahma langsung mencari barang apa saja yang akan dia beli sekarang bahkan Rahma juga belanja kebutuhan sehari hari.
Elpan menatap pada jam tangan nya.
"Ayo lah kita terlambat" ucap Elpan.
"Bentar kak aku mau belanja ini dulu" ucap Rahma.
"Cepat aku takut anak ku kelaparan" ucap Elpan.
"Ya sebentar" ucap Rahma yang langsung menyerah kan belanjaan nya pada kasir.
Elpan membayar belanjaan itu mereka pergi ke rumah karena Rahma akan memasak.
Sesampainya di rumah Rahma tadinya mau mandi dahulu tapi Elpan tak mengijinkan Rahma mandi dahulu.
Dengan sangat terpaksa Rahma langsung memasak sop iga dan bubur untuk Mira.
Elpan masih stay di sana menunggu Rahma memasak.
"Apa masih lama" tanya Elpan.
"Ya kak lagi aku usahakan" ucap Rahma.
"Jangan lama lama" ucap Elpan.
"Ya" ucap Rahma.
Hingga selesai menyelesaikan makanan nya Rahma langsung membekal kan SOP iga dan bubur itu.
"Aku akan coba SOP itu takut nya kau mencampur kan sesuatu kedalam nya" ucap Elpan.
Rahma heran dengan ucapan Elpan.
"Apa yang akan aku masukan" tanya Rahma.
"Aku akan coba dulu" ucap Elpan.
Elpan mencoba SOP iga itu di suapan pertama Elpan merasakan kenikmatan, dia tak henti hentinya ingin memakan SOP itu.
"Enak" ucapnya.
"Masakan aku enak kak hanya saja kau tak mengakui nya" ucap Rahma.
"Cepat lah mandi" ucap Elpan.
Sesampainya di rumah sakit Mira tengah di ajak jalan jalan oleh suster, sedang Wanda dia hanya menonton film dari ponsel nya, dia tak perduli pada mertuanya itu.
Wanda sampai tertawa tawa karena melihat ada yang lucu di layar ponsel nya.
Tangan Mira ingin memberikan kode namun dia tak bisa melakukan apa apa karena tangan nya sangat berat sekali.
"Wanda di mana Elpan" hanya itu yang terucap dalam batin nya.
"Nyonya anda belum makan ayo biar aku yang suapi" ucap suster.
"Jangan" ucap Wanda.
"Kenapa nona" tanya Suster.
"Kata El jangan dulu di suapi dia akan membeli bubur di luar" ucap Wanda.
"Oh baik lah" ucap suster.
Sedangkan Wanda saat ini dia merasakan sakit pada perut nya dia merasa perutnya itu seperti ada yang menusuk nusuk dari dalam.
"Awwss" Wanda meringis merasakan nyeri pada perut nya itu.
Mira yang melihat hal itu hanya diam saja karena tubuhnya tak bisa di gerakan,
"Hey suster bo doh lihat itu menantu ku kesakitan, hey kau lihat lah ke arah menantu ku" batin Mira menjerit jerit namun tak ada yang bisa dengar.
"Sus" ucap Wanda.
"Ya nona" tanya suster itu.
"Bisa antar saya ke dalam rasa nya perut saya sangat sakit" ucap Wanda.
__ADS_1
"Oh baik lah nona" ucap Suster itu.
Suster itu bertanya dahulu pada Mira.
"Nyonya saya akan mengantarkan menantu anda ke kamar nya, saya akan segera kembali kesini" ucap Suster.
Dengan cepat suster itu mengantar kan Wanda ke kamar VIP dan memanggil dokter untuk memeriksa nya.
Sedangkan di luar Mira dia tengah sendirian, pandangan nya hanya menunduk ke bawah, dia melihat lantai yang cukup kotor di rumah sakit itu.
Namun tiba tiba saja ada dua anak kecil datang ke sana sambil berlari lari.
Anak itu berhenti tepat di hadapan Mira yang hanya bisa diam saja.
"Lihat orang itu kenapa" ucapnya.
"Apa orang itu mati" tanya anak yang lain.
"Bukan mati dia itu meninggal" ucap nya.
"Oh".
"Ayo kita dorong kursi nya supaya tak menghalangi jalan" ucapnya.
"Ayo" ucap yang lain.
Kedua anak itu mendorong kursi roda Mira bahkan sampai memainkan nya.
"Dasar anak na kal dasar anak bo doh lepas kan kursi ku, durhaka kalian jika seperti ini" Mira marah namun hanya dalam hati saja.
Hingga kedua anak itu melepaskan kursi roda nya, namun kursi roda itu tak bisa berhenti bahkan Mira saja tak bisa menghentikan nya.
Brughh
Mira terjatuh ke bawah dari kursi roda itu, para perawat di sana langsung membantu membangun kan kembali Mira.
Elpan dan Rahma datang ke sana mereka melihat ada orang yang berkerumun di sana.
Namun Elpan gak terlalu perduli karena dia ingin menemui Wanda dan mamahnya.
Rahma melihat kerumunan itu dari kejauhan namun dia melihat pakaian orang itu sama seperti yang Mira pakai.
"Kak" sahut Rahma.
Elpan berbalik pada Rahma yang ada di belakang nya.
"Apa" tanya Elpan.
"Itu seperti mamah" ucap Rahma.
"Mana" tanya Elpan melihat kerumunan itu.
Tanpa bertanya lagi Elpan langsung ke sana dia langsung menerobos kerumunan itu dan benar saja ternyata Mira yang tengah orang orang itu kerimuni.
"Ada apa ini kenapa mamah saya ada di sini" tanya Elpan.
"Mamah anda jatuh tuan, kursi roda nya hilang kendali" ucap yang lain.
"Mah mamah tak apa" tanya Elpan yang tak mendapat Jawaban dari Mira.
"Saya gak terima kenapa mamah saya ada di sini, mana suster yang menjaga nya" tanya Elpan marah.
"Nyonya nyonya" ucap suster berlari ke sana.
"Kamu yang menjaganya" tanya Elpan.
"Ya tuan tadi terpaksa saya tinggal karena menantu nya sakit perut" ucap Suster.
"Wanda? Sakit perut" tanya Elpan.
"Ya mungkin dia kontraksi karena dia Tengah hamil" ucap suster itu.
"Saya antar ke ruangan nya saya juga sudah panggil dokter untuk memeriksa nya" ucap suster itu.
Elpan saking senengnya dia sampai tak ingat pada mamahnya yang terjatuh dia langsung menuju ke ruangan nya Wanda.
Rahma mendekat pada suster itu.
"Sus biar saya yang dorong" ucap Rahma.
"Ya nona" ucap suster itu.
"Mah ayo ke kamar aku akan suapi" ucap Rahma.
Rahma mendorong kursi roda itu sampai ke kamar tempat Mira tadi di rawat.
Rahma membuka bubur yang dia buat tadi, Rahma langsung menyuapi mamah mertuanya itu.
Ada rasa sedih di hari Rahma saat melihat hal itu karena mau gimana pun juga Rahma sudah menganggap Mira itu sebagai ibunya sendiri.
"Mamah makan yang banyak ya" ucap Rahma tersenyum pada Mira.
Sedangkan di ruangan VIP itu Wanda tengah meringis kesakitan dia tak tahan dengan sakit perut nya itu bahkan Wanda juga sampai berteriak teriak.
"Dok lakukan sesuatu" ucap Elpan.
"Ya tuan" ucap dokter itu.
Dokter itu memeriksa pembukaan Wanda, namun pembukaan nya masih di angka 3.
"Ini masih lama tuan" ucap Dokter.
"Lama bagaimana istri saya kesakitan" ucap Elpan kesal.
"Ya tuan tapi pembukaan nya belum lengkap jadi saya tak bisa berbuat apa apa" ucap Dokter.
"Kerja kalian lama" geram Elpan.
"Tuan kalau memang anda hanya akan marah marah saja sebaik nya keluar saja" ucap Dokter itu.
"Tapi saya mau melihat istri saya melahirkan" ucap Elpan.
"Baik lah kalau begitu anda tetap tenang" ucap Dokter itu.
"Ya sudah lakukan yang terbaik untuk istri saya" ucap Elpan.
Dokter itu hanya diam saja karena dia harus menunggu pembukaan sesekali dokter itu mengecek posisi bayi nya.
Namun posisi bayi nya belum benar.
"Nona jika seperti ini terus maka kita terpaksa melakukan secar" ucap Dokter.
"Lakukan saja itu sekarang" ucap Wanda.
"Saya harus meminta Persetujuan dari keluarga dahulu" ucap dokter itu.
Dokter meminta Elpan untuk menyetujui hal itu, elpan hanya ikut saja dia tak mau sampai terjadi apa apa pada Wanda dan bayinya.
"Ayo siap kan ruang persalinan nya" ucap dokter itu.
Semua suster langsung sibuk membawa alat alat ke ruangan VIP itu.
Sedangkan Rahma dia sekarang baru saja selesai menyuapi Mira dan dia ingin melihat kondisi Wanda.
Rahma heran Rahma berpikir kalau Wanda tak mungkin hamil karena usia kandungan nya saja belum tujuh bulan.
"Apa mbak Wanda akan melahirkan" gumam Rahma yang hanya melihat di ambang pintu.
__ADS_1
Rahma semakin bertanya tanya karena mbak Wanda akan di secar.
"Apa anak nya kenapa kenapa ya, jadi dokter itu harus mensecar mbak Wanda" gumam Rahma.
"Sus ada apa" tanya Rahma.
"Kami akan melakukan persalinan nona Wanda" ucapnya.
"Oh" ucap Rahma.
Hingga beberapa jam kemudian terdengar suara tangis bayi di dalam, Rahma tersenyum saat mendengar suara bayi itu.
"Syukur lah akhir nya bayi itu lahir" ucap Rahma sampai meneteskan air mata nya.
Sedangkan Elpan dia sangat bahagia karena sudah menjadi ayah, dia sampai menciumi anak nya itu.
"Selamat datang di kehidupan baby" ucap Elpan.
Suster langsung mengambil bayi itu dan segera memandikan nya, Elpan terpaksa harus keluar dahulu dari ruangan itu.
Melihat Elpan yang keluar Rahma mendekat pada Elpan.
"Kak Kau sudah menjadi ayah" ucap Rahma.
"Ya" ucap Elpan.
Rahma langsung memeluk Elpan dengan sangat erat.
"Selamat ya" ucap Rahma.
Seketika Elpan merasakan kenyamanan di peluk oleh Rahma, jika di hari kemarin kemarin Elpan sangat malas jika di peluk Rahma tapi sekarang dia sangat nyaman pada Rahma.
Seakan Elpan telah mendapatkan apa yang beberapa bulan ini tak dia rasakan.
Elpan membalas pelukan Rahma bahkan dia juga sempat mencium pucuk kepala Rahma.
"Aku lupa pada mamah di mana dia" tanya Elpan.
"Ada di ruangan nya dia sudah makan" ucap Rahma.
"Oh" ucap Elpan.
Saat ini Elpan merasa sangat canggung dengan Rahma padahal mereka adalah suami istri.
"Berapa lama aku tak berbicara pada Rahma sampai sampai aku dan dia seperti orang asing" batin Elpan.
"Anak ku dia sangat tampan sekali" ucap Elpan.
Rahma hanya tersenyum dia tak menjawab karena takutnya Elpan akan marah seperti kemarin kemarin.
"Kamu gak kuliah" tanya Elpan.
"Gak" ucap Rahma.
"Kenapa" tanya Elpan.
Rahma tak menjawab dia hanya menatap datar ke arah depan.
Dokter keluar mereka mempersilahkan Rahma dan Elpan masuk untuk melihat bayinya.
Rahma melihat bayi yang tengah tertidur itu, dia sangat tenang namun ada hal aneh yang Rahma lihat dari bayi itu.
Tak ada yang mirip dengan Elpan bahkan hidung, alis bahkan bibir nya saja tak ada yang sama dengan Elpan.
Rahma melihat wajah Wanda yang masih pingsan karena efek samping obat bius.
"Kenapa tak mirip" gumam Rahma.
Dokter datang ke sana.
"Bayi nya laki laki dia sempurna lahir dengan BB 3 kg dan panjangnya 45 cm" ucap Dokter.
"Dia prematur kan dok" tanya Rahma.
"Hah maksud nya" tanya Dokter.
"Ya dia prematur kan karena bulan ini mbak Mira baru saja menginjak usia kandungan enam bulan" ucap Rahma.
"Nona anda pasti salah menghitung ini memang tanggal lahiran nya, bayi ini bahkan normal" ucap Dokter itu.
"Masa sih" tanya Rahma.
"Ya Nona bayi nya sempurna" ucap Dokter.
"Oh" ucap Rahma.
Dia baru tau satu hal Wanda membohongi nya tentang usia kandungan nya.
"Kalau begitu bayi ini ada sebelum kak El dan Mbak Wanda menikah" gumam Rahma.
"Nona lebih baik sekarang anda beli peralatan bayi seperti popok dan skincare bayi" ucap Dokter.
"Oh baik lah saya akan beli" ucap Rahma.
"Ya di toko sebelah juga ada" ucap Dokter.
"Ya dok".
Rahma keluar dari ruangan itu dia akan membeli barang barang yang di butuhkan.
Namun Rahma masih bingung dia masih memikirkan hal itu.
"Nanti aku akan tanya pada kak El" ucap Rahma.
"Rahma" sahut Raya teman nya Rahma yang ada di sana juga.
Rahma menatap pada Raya.
"Ray sedang apa di sini" tanya Rahma mendekat pada Raya.
"Aku merasa gak enak badan Rah jadi aku mau di periksa, lalu kau sedang apa di sini" tanya Raya.
"Mbak Wanda melahirkan" ucap Rahma datar.
"Hah tapi kenapa bisa" tanya Raya.
"Apa yang gak bisa dari Mbak Wanda, Ray" ucap Rahma tersenyum.
"Kenapa bisa? Maksud ku Rah, kak El menikah dengan pela kor itu kan baru juga tujuh bulan ya kan" ucap Raya.
"Ya bahkan belum pas tujuh bulan pun dia sudah melahirkan" ucap Rahma.
"Bukan kah melahirkan di usia kandungan kurang tujuh bulan itu prematur, benar kan seperti di pelajaran dulu" ucap Raya.
"Ya prematur dengan BB 3 kg dan panjang 45 cm, Ray semua yang keluar dari mulut Mbak Wanda itu selalu benar, mana mungkin seseorang akan melahirkan bayi di usia kandungan yang masih kurang tujuh bulan, yang tujuh bulan lebih oke lah ada tapi di usia kandungan nya sekarang" ucap Rahma.
"Apa wanita itu berbohong" tanya Raya.
"Ray aku bahkan bukan orang bo doh yang bisa di bohongi, aku gini gini juga belajar" ucap Rahma tersenyum seolah menangapi masalah nya itu dengan senyuman.
"Sabar ya" ucap Raya.
"Baik lah Raya aku harus ke mini market membeli popok, kau cepat sembuh ya" ucap Rahma.
"Ya terima kasih" ucap Raya.
Rahma langsung pergi dari sana karena akan belanja.
__ADS_1
bersambung