
Malam hari nya Rahma menunggu di ruang tamu, saat pulang tadi Rahma mengalami adu mulut dengan mamah mertua nya, sehingga sampai sekarang mereka tak tegur sapa.
Mira duduk di sana bersama dengan Rahma namun mereka duduk bersebrangan.
"Lihat saja kalau aku punya cucu dari Wanda tak akan aku biarkan kau tinggal di sini lagi" ucap Mira.
"Lalu" tanya Rahma.
"Ngeyel ya, awas saja ya akan aku pasti kan kau tak akan berhak menginjak kan kaki di sini" ucap Mira.
Rahma tak menjawab dia hanya tersenyum saja, beradu mulut dengan mertuanya itu membuat nya merasa seperti anak kecil yang rebutan mainan.
Zahra pulang ke rumah, dia melihat kalau Rahma dan Mira tak bertegur sapa.
"Kalian ini ada apa" tanya Zahra.
"Tak ada kau ini sibuk saja" ucap Mira kesal.
"Hahaha drama rumah tangga" ucap Zahra tertawa sambil pergi dari sana.
"Sibuk saja" geram Mira.
Elpan akhirnya pulang juga setelah tidur di Perusahaan bersama dengan Wanda dan mengantar Wanda pulang, Elpan langsung pulang karena sudah pasti Rahma akan menunggu.
"Aku pulang" ucap Elpan.
"Kak syukur lah sudah pulang" ucap Rahma yang langsung mencium punggung tangan Elpan dengan takzim.
"Sudah makan" tanya Elpan.
"Sudah kak" ucap Rahma.
"Baik lah siap kan kopi untuk ku" ucap Elpan.
"Ya" ucap Rahma yang langsung pergi ke dapur untuk membuat kan kopi.
Mira mendekat pada Elpan,
"El kapan kau akan membawa Wanda kesini mamah ingin segera punya cucu, menikah lah dengan Wanda El" ucap Mira.
"Ya mah sabar" ucap Elpan.
"Sabar sabar, kapan mamah akan punya cucu kalau hanya sabar sabar saja" ucap Mira.
"Mah aku perlu waktu" ucap Elpan.
Rahma datang ke sana dengan membawa kopi.
"Buat kan aku makanan" ucap Mira.
"Pelayan" sahut Rahma.
Beberapa pelayan datang ke sana.
"Ya nona ada apa" tanya pelayan.
"Buatkan mamah makanan" ucap Rahma.
"Baik nona" ucap Pelayan.
"Kau ini gi la apa aku kan mau nya buatan kamu" ucap Mira.
"Mah aku kan sedang melayani kak El jadi mamah di layani pelayan saja ya" ucap Rahma.
"Tuh kan El istri mu itu gi la" ucap Mira.
"Mah sudah mah lagi pula Rahma benar" ucap Elpan.
"Kamu ini bela terus wanita itu" ucap Mira yang langsung pergi dari sana menuju kamarnya.
"Mamah sensitif sekarang" ucap Rahma.
"Sudah lah biarkan saja" ucap Elpan.
Rahma dan Elpan langsung menuju kamar nya karena akan tidur.
Karena cape Elpan langsung tertidur pulas sedang kan Rahma saat ini dia tengah memikirkan biaya untuk membeli obat itu.
"Satu M yang benar saja bahkan papah juga tak akan berikan" gumam Rahma.
Rahma berjalan ke arah tas nya, dia membuka buku tabungan nya yang tak pernah dia buka selama ini.
Rahma memasukan nomor rekening itu ke aplikasi guna untuk mengecek saldo di rekening itu.
Rahma melihat uang itu kurang total nya hanya 30 juta saja.
"Hanya segini dari mana aku bisa cari uang sisanya, lagian obat itu mahal sekali" gumam Rahma.
Drttt drrt
Ponsel Elpan berdering di atas nakas.
"Siapa malam malam begini telpon" gumam Rahma melihat nomor yang tak Elpan beri nama.
📞📞
"Hallo tuan apa kau sudah tidur" tanya seseorang perempuan dengan suara manja.
"Kak El sudah tidur ada apa" tanya Rahma.
Wanita yang menelpon itu terkejut siapa lagi kalau bukan Wanda yang selalu menelpon Elpan dengan alasan karena bayi nya ingin bertemu papah nya.
"Ya nona maaf saya ganggu" ucap Wanda mencoba meniru kan sekertaris Elpan.
"Ada apa, kamu sekertaris nya kak El kan ada masalah apa" tanya Rahma.
"Hanya mau tanya tentang berkas saja nona tak apa besok akan saya tanya kan" ucap Wanda.
"Baik lah" ucap Rahma.
📞📞
Wanda yang sekarang ada di apartemen nya langsung marah karena Rahma yang angkat telepon nya.
"Wanita itu" geram Wanda.
Wanda melempar ponsel nya ke arah ranjang nya.
__ADS_1
"Kapan El akan menikah dengan ku" geram Wanda.
Sedang kan sekarang Rahma hanya menatap pada layar ponsel Elpan.
"Apa wanita itu sekertaris kak El tapi kenapa malam begini ada yang mau di bicara kan" gumam Rahma.
Tapi Rahma tak terlalu mengindahkan hal itu karena yang dia pikirkan sekarang adalah bagai mana cara nya uang itu bisa kumpul.
Pagi hari nya Rahma sudah bersiap karena akan kuliah, Rahma membangun kan Elpan karena sekarang Elpan juga akan bekerja.
"Kak bangun kak" ucap Rahma.
"Ya aku bangun" ucap Elpan.
Tangan Elpan menghentikan tangan Rahma sehingga menghentikan langkah Rahma juga.
Elpan menarik Rahma sehingga membuat Rahma terjatuh di atas tubuh Elpan.
"Lepas kak" ucap Rahma tersenyum menatap wajah suaminya.
"Kita suami istri jadi aku bebas berbuat apa apa" ucap Elpan.
"Tapi ini udah siang kak" ucap Rahma.
"Baik lah istri ku ini, sangat susah untuk di ajak bermes raan" ucap Elpan melepas kan pelukan nya.
"Kak bukan susah tapi sekarang sudah siang" ucap Rahma.
"Ya deh ya" ucap Elpan.
Rahma baru ingat tentang biaya itu.
"Kak boleh gak aku minta uang" tanya Rahma.
"Buat apa" tanya Elpan.
"Ada aku mau belanja" ucap Rahma.
"Kan uang aku ada di kamu semua" ucap Elpan.
"Ya aku kan bilang dulu takut nya kamu marah" ucap Rahma.
"Ya gak apa kalau kamu mau belanja pakai saja" ucap Elpan.
"Janji ya gak akan marah" ucap Rahma.
"Gak akan sayang" ucap Elpan.
Rahma sekarang akan mengambil uang itu dan langsung memberikan nya pada Dokter untuk membeli obat mahal itu.
"Kalau saja obat itu tak semahal ini aku tak akan mengandalkan uang kak El" gumam Rahma.
Rahma dan Elpan makan dengan lahap di meja makan tanpa mamah mertua nya.
Zahra datang ke sana dan langsung duduk ikut gabung di sana.
"Pagi" ucap Zahra.
"Pagi" ucap Rahma.
"Oh ya Rahma apa kau tak berpikir untuk bekerja di perusahaan kak El" tanya Zahra menatap tajam pada Elpan.
Elpan menggeleng samar berharap Zahra akan paham.
"Emang kenapa" tanya Rahma.
"Ya siapa tau kamu mau tau seperti apa kak El di perusahaan" ucap Zahra.
"Hah emang ada apa" tanya Rahma menatap pada Zahra dan Elpan secara bergantian.
Elpan menggeleng lalu melotot pada Zahra.
"Gak cuman tanya saja siapa tau kan kamu mau keluar dari kampus dan bekerja di perusahaan kak El, ya biar kak El ada yang temenin juga kasihan dia di ruangan nya selalu sendirian" ucap Zahra.
"Tapi kan ada kamu" ucap Rahma.
"Siapa tau saja" ucap Zahra.
"Tak lah aku percaya pada kak El" ucap Rahma.
"Baik lah aku duluan kaya nya grab yang aku pesan sudah datang" ucap Zahra yang langsung pergi dari sana.
"Ya" ucap Rahma.
"Baik lah ayo kita berangkat" ucap Elpan.
"Kak sudah makan nya kenapa sedikit" ucap Rahma.
"Aku kenyang" ucap Elpan.
"Baik lah ayo" ucap Rahma.
Elpan menyiapkan tas kerja nya bahkan tak lupa Elpan selalu meminum teh hijau yang sudah menjadi kesukaan nya.
"Oh ya kak di mana mamah" tanya Rahma.
"Mamah ada di kamar nya mungkin" ucap Elpan.
"Baik lah ayo takut nya kesiangan" ucap Rahma.
Elpan mengantarkan Rahma langsung ke kampus,
Sesampainya di kampus kedua teman Rahma sudah ada di sana.
"Kak aku masuk" ucap Rahma mencium punggung tangan Elpan dengan Taksim.
"Ya belajar yang rajin ya" ucap Elpan.
"Ya kak" ucap Rahma.
Elpan pergi dari sana melajukan mobilnya menuju ke perusahaan, Elpan cukup kesal pada adik nya itu apa lagi Zahra sangat tak bisa menjaga rahasia.
"Awas kau Zahra kalau sampai kau bicara yang bukan bukan akan aku pasti kan uang mu aku tarik semua" gumam Elpan.
Sedangkan sekarang Mira tengah berada di apartemen Wanda karena dia tak sabar ingin melihat cucunya.
Bahkan Mira juga membawa banyak makanan untuk Wanda.
__ADS_1
"Mamah harap anak kalian laki laki" ucap Mira.
"Aku juga ingin begitu" ucap Wanda.
Mira mengelus perut Wanda tanpa henti, keinginan nya untuk punya cucu membuat Mira gelap mata bahkan dia tak sadar kalau anak itu bukan anak Elpan.
Kira kira anak siapa yang Wanda kandung??
"Tante bujuk El dong supaya cepat nikahi aku" ucap Wanda.
"Ya itu soal yang mudah" ucap Mira.
"Ya Tante supaya Tante bisa ketemu anak ini tiap hari, apa lagi kalau setiap malam aku sering sakit perut Tante mungkin bayi nya ingin ketemu papahnya" ucap Wanda.
"Aku akan usahakan, Tante sebenarnya tak suka pada Rahma dia itu sangat keras kepala bahkan Tante bicara saja dia selalu jawab" ucap Mira.
"Ya ampun Tante apa sih yang akan di harap kan dari anak kecil seperti Rahma itu" ucap Wanda.
"Ya juga sih" ucap Mira.
"Oh ya Tante kalau misal aku nikah sama El apa papah nya Rahma akan marah" tanya Wanda.
"Biarkan saja mungkin dia mati karena serangan jantung" ucap Mira.
"Tante ini bisa saja" ucap Wanda yang langsung tertawa bersama.
Di perusahaan Elpan.
Sekarang Elpan baru sampai ke perusahaan nya dia sekarang akan menemui Zahra terlebih dahulu karena dia sangat kesal pada Zahra.
Elpan berjalan ke arah tangga, Zahra berada di lantai dua sama dengan Elpan namun lumayan jauh juga dari ruangan Elpan.
"Zahra" ucap Elpan.
"Apa kak" tanya Zahra namun matanya masih menatap pada layar komputer.
"Aku harap ini terakhir kali nya kau bilang pada Rahma tentang aku di perusahaan" ucap Elpan.
"Maksudnya" tanya Zahra.
"Maksudnya aku tak mau kau mencampuri urusan aku di perusahaan dan urusan aku di rumah" ucap Elpan.
"Makan nya kak kalau tak mau ada asap jangan ciptakan api" ucap Zahra.
"Kau gak akan tau apa permasalahan nya".
"Lantas jika seorang wanita dan laki laki berduaan di sebuah ruangan kosong tanpa ada nya ikatan pernikahan apa di sebut nya kalau bukan selingkuh" tanya Zahra.
"Pokok nya stop urusin kehidupan ku" ucap Elpan.
"Kenapa kau marah berarti kau benar kah selingkuh" tanya Zahra.
"Diam" geram Elpan.
"Kenapa malu pada karyawan mu? Mereka tau kak kalau seorang pemimpin di Perusahaan Terbesar Sudardjo ada main dengan wanita di luaran sana padahal istri nya tengah kuliah" ucap Zahra sengaja menaikkan suaranya.
"Zahra jangan melewati batas" ucap Elpan.
"Seharusnya kau pilih kak pilih Rahma atau pilih pelakor itu" ucap Zahra.
"Jangan sebut dia pelakor" ucap Elpan mengingat kan pada Zahra dengan tatapan marah.
"Kalau bukan pelakor apa lagi" tanya Zahra.
"Jangan berani sebut dia pelakor mungkin kau lupa kalau pelakor itu adalah mamah mu" ucap Elpan.
Zahra tersentak kaget mendengar Elpan mengungkit masalah itu.
"Mamah aku bukan pelakor hanya saja dia jatuh cinta pada orang yang salah, setidaknya mamah menikah dengan papah bukan karena harta tak seperti mamah Mira yang rela di madu hanya karena harta" ucap Zahra dengan tatapan mata sendu karena dia tak akan rela kalau seseorang menyebut mamahnya.
"Tetap saja kan, apa nama nya kalau bukan pelakor" ucap Elpan.
Air mata Zahra menetes membasahi pipinya, namun dengan cepat dia segera menghapus nya.
"Aku salah aku terlalu sibuk mengurusi kehidupan rumah tangga seseorang hingga aku lupa kalau orang yang sedang aku urusi ini hanya lah seorang atasan dan seorang kakak hanya karena ikatan terpaksa" ucap Zahra yang langsung mengambil tas nya dan Langsung pergi dari sana.
Elpan menatap adik nya yang menangis itu.
"Zahra" sahut Elpan.
"Tunggu Zahra" sahut Elpan ingin menyusul Zahra namun tak Elpan kejar karena kerjaan Elpan sekarang sangat banyak.
Sedangkan Rahma sekarang dia sudah mengambil uang sebanyak 500 juta dari bank karena dia tak mau Elpan tau dia menghabiskan uang sebanyak itu.
"Aku akan ambil sisanya nanti" gumam Rahma.
Rahma langsung berjalan ke arah rumah sakit yang tak jauh dari bank yang Rahma datangi.
Rahma langsung masuk ke dalam ruangan Dokter pribadi nya itu.
"Dokter uang nya aku baru bisa bayar setengah nya" ucap Rahma.
"Nona saya sudah tanya Alhamdulillah sekarang harganya cukup murah lah, hanya berkisar 600 juga rupiah saja" ucap Dokter.
"Berarti aku kurang 100 juta lagi ya dok" tanya Rahma.
"Ya nona" ucap Dokter.
"Aku akan transfer kan tak apa kan" tanya Rahma.
"Ya, paket nya akan langsung saya kirim ke rumah anda nona, tolong isi alamat yang lengkap" ucap Dokter.
Rahma menulis kan alamat di atas kertas lalu memberikan nya pada Dokter itu.
"Ini dokter" ucap Rahma.
"Terima kasih" ucap Dokter.
"Ya dok tapi kapan datangnya" tanya Rahma.
"Mungkin sekitar satu atau dua hari" ucap dokter itu.
"Oh" ucap Rahma.
"Biasa nya kalau obat tak akan lama" ucap Dokter.
"Oh" ucap Rahma.
__ADS_1
bersambung