
Rahma selesai berbelanja dia kembali lagi ke rumah sakit, Rahma membawa banyak sekali belanjaan bahkan dia juga hanya membawa nya sendirian.
Rahma melihat ada mobil Arman di sana, dengan cepat Rahma langsung menyembunyikan wajahnya dengan menutup nya dengan kresek yang dia bawa.
"Ya ampun Rahma aku sudah melihat mu dari tadi jadi untuk apa di tutupi" gumam Arman.
Saat itu keadaan sedang macet Arman kebetulan lewat ke sana karena baru saja bertemu dengan klien.
Sedangkan Rahma sekarang dia berlari masuk ke dalam ruangan Wanda.
Saat itu Elpan tengah membawa main anak nya.
"Kau beli popok" tanya Wanda.
"Ya" ucap Rahma.
"Aku mau yang mahal" ucap Wanda.
"Ya aku pilih yang mahal" ucap Rahma.
"Gantikan popoknya" ucap Wanda.
Rahma Menganti kan popok bayi itu.
Dengan sangat teliti Rahma mengantikan nya padahal Rahma belum pernah mengurus anak sebelum nya bahkan Rahma tak pernah memegang seorang bayi.
"Pelan pelan" ucap Elpan.
"Ya" ucap Rahma.
"El kamu akan beri nama apa bayi kita" tanya Wanda.
"Apa ya bagai mana kalau Lian" ucap Elpan.
"Lian bagus" ucap Wanda.
"Lian" gumam Rahma tersenyum lebar.
"Lian Altaf sudardjo" ucap Elpan.
"Bagus" ucap Wanda.
"Dia akan menjadi penerus aku nanti nya" ucap Elpan.
"Ya kak itu bagus" ucap Rahma.
"Dan kamu akan menjadi ibunya Rahma" ucap Elpan.
"Ibu" ucap Rahma bahagia.
"Ya tetap saja aku mamahnya" ucap Wanda.
Rahma merasa heran.
"Bukan kah di perjanjian nya mbak Wanda akan pergi" tanya Rahma.
"Pergi ke mana" tanya Elpan.
"Ya kan Mbak Wanda akan pergi kau akan menceraikannya kan" tanya Rahma.
"Itu tak benar kan El" tanya Wanda.
"Ya" ucap Elpan.
"Jelaskan kak" ucap Rahma meminta penjelasan dari Elpan tentang masalah ini.
"Aku gak akan menceraikan Wanda" ucap Elpan.
"Lalu perjanjian nya" tanya Rahma.
"Aku batal kan perjanjian nya, jadi aku akan menjadi kan Wanda istri sah aku" ucap Elpan.
"Apa" tanya Rahma.
Wanda tersenyum mendengar hal itu dia merasa menang dari Rahma.
"Baik lah ceraikan aku" ucap Rahma.
"Gak akan aku gak akan menceraikan kamu atau pun Wanda" ucap Elpan.
"Serakah" ucap Rahma.
"Aku sayang kalian, ayo lah hidup rukun demi Lian" ucap Elpan.
"Apa kau yakin Lian anak mu" tanya Rahma.
"Apa maksudmu Rahma" tanya Wanda dengan nada membentak.
"Mbak aku tes kalau kak El itu mandul makan nya aku sampai sekarang gak punya anak, aku rela beli obat mahal dari luar negeri hanya untuk menyuburkan kak El tapi gak ada hasil kalau pun iya mungkin aku sudah hamil, kau tau usia kehamilan dan usia pernikahan kalian itu berbeda jauh, pernikahan kalian baru saja enam bulan lebih tapi saat aku tanya pada dokter bayi ini tak prematur apa ada bayi yang lahir prematur dengan BB 3 kg" ucap Rahma.
"Berani sekali kau bilang kalau Lian prematur" ucap Elpan.
"Itu jelas kak kalau Mbak Wanda hamil sebelum kalian menikah" ucap Rahma.
"Aku tau" ucap Elpan.
"Kau tau tapi kau diam saja" ucap Rahma.
"Karena sebelum menikah aku melakukan itu pada Wanda, hingga membuat Wanda hamil" ucap Elpan.
Deg
Bagai di sambar petir di siang hari Rahma terasa sangat hancur saat mendengar hal itu bahkan mata nya sudah berkaca kaca.
Rahma menatap pada Elpan yang seolah hanya mengucapkan kata kata biasa saja.
Rahma merasa kakinya yang terasa lemas, dia hampir saja terjatuh kalau saja tak berpegangan pada tembok rumah sakit itu.
"Jadi sebelum kalian menikah kalian melakukan hal itu" tanya Rahma.
"Ya" ucap Elpan.
"Baik lah aku minta cerai kak" ucap Rahma menatap pada Elpan.
"Gak akan" ucap Elpan.
"Pokok nya aku mau cerai sudah cukup penghianatan mu selama ini kak, aku hanya berharap kalau kau setia dan benar benar menjaga keharmonisan rumah tangga kita, aku pikir akhir akhir ini kau dingin pada ku karena kau fokus pada mbak Wanda tapi ternyata aku salah kau dingin karena kau sudah tak punya perasaan padaku" ucap Rahma.
"Rahma aku sayang pada mu tapi aku juga tak bisa melepaskan Wanda" ucap Elpan.
Wanda hanya bisa memutar bola matanya malas mendengar hal itu.
"Sebuah drama rumah tangga yang sangat memba gong kan" batin Wanda.
"Kak lepas kan aku" ucap Rahma datar.
"Tak akan Rahma plis mengerti lah aku tak bisa melepaskan kalian, kalian harus ikhlas menerima ini kasihan mamah dia mengalami stroke ringan kalau aku melepaskan kalian bagai mana perasaan dia" ucap Elpan.
Rahma hanya diam saja dia tak bisa berkata kata karena kalau dia sampai bicara sepatah kata saja dia akan menangis.
Air mata Rahma hampir saja menetes, dengan cepat Rahma langsung pergi dari sana meninggal kan Elpan dan Wanda.
Rahma masuk ke dalam kamar mandi dia meluapkan kemarahannya di kamar mandi, Rahma terduduk di lantai kamar mandi tak perduli kalau pakaian nya akan basah, Rahma sangat hancur saat mendengar kenyataan itu.
"Apa aku salah" gumam Rahma.
Rahma bangkit dia melihat pantulan diri nya di cermin kamar mandi rumah sakit itu.
"Apa aku tak cantik? Apa aku man dul? Aku tak semenarik mbak Wanda, aku jelek aku lemah aku kurang tegas, aku tak hanya wanita lemah bahkan untuk cerai dari kak El saja aku tak bisa, aku terlalu memikirkan perasaan papah padahal aku yang mengalami luka yang hebat ini, aku bo doh, aku terlalu percaya padahal kak El lebih suka pada Mbak Wanda seharusnya aku sadar kalau selama belum mereka menikah mereka juga sering bertemu, dasar bo doh aku percaya saja pada ucapan buaya darat itu hikss hikss" Rahma menangis sesenggukan.
Ponsel Rahma berdering namun Rahma tak ada niat untuk meng ngangkat nya.
Rahma hanya menatap pada layar ponsel nya itu dia melihat nama Raya lah yang tertera di sana, namun Rahma tak mau sahabat nya itu tau kalau sekarang dia sedang bersedih.
"Maafkan aku Raya" gumam Rahma yang langsung menghapus air mata nya.
Rahma menghapus air mata nya bahkan dia juga mencuci wajah nya supaya tak terlihat kalau dia baru saja menangis.
__ADS_1
"Kuat Rahma kuat hanya ini saja, bukan nya kau dari dulu juga sudah kurang kasih sayang jadi untuk apa menangis karena tak ada yang sayang, kuat Rahma kuat" ucap Rahma menyemangati diri sendiri.
Rahma keluar dari kamar mandi itu, namun dia terkejut saat melihat ada Kevin di sana.
"Kevin" ucap Rahma.
"Menangis" tanya Kevin.
"Sudah lah" ucap Rahma.
"Aku tau kau menangis" ucap Kevin.
Rahma hanya tersenyum dia menatap pada Kevin.
"Sedang apa di sini" tanya Rahma.
"Melihat kamu berbohong" ucap Kevin.
"Ayo lah Vin" ucap Rahma.
Akhir akhir ini Rahma dan Kevin memang sangat akrab bahkan Rahma juga sering menceritakan masalah nya pada Kevin apa lagi Kevin juga sangat perhatian padanya.
"Kita makan" tanya Kevin.
"Mbak Wanda melahirkan aku ga mungkin meninggal kan bayinya" ucap Rahma.
"Bisa aku melihat nya" tanya Kevin.
"Tentu saja" ucap Rahma.
"Baik lah" ucap Kevin.
Mereka berjalan ke arah ruangan Wanda karena Kevin ingin melihat bayi itu jadi Elpan tak mungkin melarang nya.
"Selamat sore tuan" ucap Kevin.
"Sore" ucap Elpan yang sekarang tengah mengupas buah apel untuk Wanda.
"Kak, Kevin datang untuk melihat Lian" ucap Rahma.
"Oh" ucap Elpan.
"Ayo sini" ucap Rahma pada Kevin.
"Wah bayinya tampan" ucap Kevin.
"Tentu" ucap Rahma.
"Siapa nama nya" tanya Kevin.
"Lian Altaf Sudardjo" ucap Rahma.
"Oh" ucap Kevin.
"Lihat dia tersenyum" ucap Rahma.
"Senyum nya manis tapi sayang tak semanis kamu" ucap Kevin namun dengan nada pelan.
Ehemk
Elpan berdehem cukup keras melihat hal itu.
Oekkk
Oekk
Lian menangis, Rahma panik dia harus apa.
"Rahma berikan dia air susu" ucap Kevin.
"Susu" tanya Rahma.
"Ya apa dia pakai supor atau asi" tanya Kevin.
"Mbak" tanya Rahma menatap pada Wanda.
"Buatkan Rahma kasihan dia" ucap Kevin.
"Ya" ucap Rahma yang langsung mengambil susu formula dan dot yang ada di atas meja.
Namun Rahma bingung dia tak tau bagai mana cara membuat susu formula.
Rahma membaca Bungkus susu formula itu di sana tertulis jelas namun Rahma tak paham.
Kevin datang ke sana dia melihat Rahma yang kebingungan membuat kan susu.
"Biar aku bantu" ucap Kevin.
"Kau bisa" tanya Rahma.
"Bisa" ucap Kevin.
Dia langsung membuat kan susu formula, Rahma mengamati Kevin yang memasukan empat sendok khusus susunya itu dan menuangkan air panas dan air dingin sampai dot ukuran sedang itu hampir penuh.
Kevin meneteskan nya pada tangan nya, tanpa segan segan Kevin juga mencoba rasa susunya itu.
"Cukup manis" ucap Kevin.
Sejak tadi Elpan hanya memandang Kevin dan Rahma saja dia lupa kalau sekarang dia tengah menyuapi Wanda buah buahan.
"Aaa" ucap Wanda Sambil membuka kan mulut nya.
"Maaf aku lupa" ucap Elpan.
Rahma memberikan susu itu dan benar saja Lian langsung diam.
"Dia lapar" ucap Kevin.
"Kau tau banyak tentang anak" ucap Rahma.
"Aku suka anak anak" ucap Kevin.
"Kenaa tak buat saja" tanya Rahma.
"Dengan siapa" tanya Kevin.
Mereka berdua tertawa mendengar hal itu.
"Aku bercanda" ucap Rahma.
"Tak apa" ucap Kevin.
Elpan bete melihat hal itu dia cemburu melihat Rahma Sangat dekat dengan Kevin.
"Oh ya Kevin, aku sudah lama tak masuk kuliah aku yakin pasti pelajaran nya sama aku pinjam buku kamu boleh" tanya Rahma.
"Ya aku potokan nanti" ucap Kevin.
"Oke" ucap Rahma.
Kevin Melihat jam tangan nya.
"Rahma aku harus pamit karena aku harus bekerja" ucap Kevin.
"Baik lah selamat bekerja" ucap Rahma.
"Ya terima kasih" ucap Kevin.
Kevin pergi dari sana setelah berpamitan dengan Elpan dan Wanda.
Rahma masih menatap pada Lian yang sekarang sangat anteng.
Suster datang ke sana.
"Tuan, nyonya Mira ingin bicara tapi aku tak paham, bisa anda ke sana sebentar" tanya Suster.
"Ya aku akan datang" ucap Elpan.
__ADS_1
Baru saja Elpan akan bangun dia di cegah oleh Wanda.
"El temani aku dulu, aku masih sakit untuk bergerak" ucap Wanda.
"Tapi mamah" ucap Elpan.
"Kan ada Rahma biarkan dia saja yang ke sana" ucap Wanda.
Rahma menatap pada Elpan.
"Tak apa aku akan ke sana, tolong jaga kan Lian" ucap Rahma.
"Lian itu anak aku jadi aku akan menjaga nya" ucap Wanda.
Rahma langsung pergi dari sana meninggal kan Wanda yang masih menggerutu padanya.
Rahma menuju ke ruangan Mira yang tak jauh dari sana, Rahma masuk dan terlihat kalau Mira tengah berusaha untuk bangun dari tidur nya.
"Mah ada apa" tanya Rahma.
"E El" ucap Mira terbata bata.
"Kak El sedang menunggu Mbak Wanda, oh ya mah Mbak Wanda sudah melahirkan anak nya laki laki kak El beri nama dia Lian Altaf Sudardjo" ucap Rahma.
Mira tersenyum walau pun bibir nya sangat sulit di gerakan.
"Li an" Mira terbata bata.
"Ya mah dia tampan sekali" ucap Rahma.
Mira hendak bangun.
"Ayo mah aku antar ke ruangan Mbak Wanda" ucap Rahma yang langsung membantu mengangkat Mira.
Rahma mendorong kursi roda menuju ke ruangan Wanda.
Rahma membantu memasukan kursi roda itu ke arah dalam.
Rahma melihat kalau Lian menangis sedangkan Elpan hanya diam saja.
Rahma dengan cepat mendorong Mira hingga sampai ke kasur bayi yang berisi Lian.
Rahma langsung memberikan susu pada Lian namun Lian seolah menolak nya.
"Lian kamu kenapa" tanya Rahma.
Rahma langsung menggendong Lian walau tak terlalu bisa tapi Rahma sangat hati hati dalam menyentuh Lian.
"Sudah ya jangan nangis" ucap Rahma.
Setelah berhenti menangis, Rahma merasa cukup lega.
"Kak kenapa Lian di biarkan menangis" ucap Rahma.
"Aku gak bisa ngurus anak" ucap Elpan.
"Apa aku bisa" tanya Rahma.
Elpan hanya diam saja, dia tak menjawab lagi.
Rahma mendekat kan bayi itu pada Mira.
"Lihat mah bayinya tampan kan" ucap Rahma.
"Rahma jangan di dekat kan pada mamah, kasihan mamah lagi butuh istirahat, kamu sih ngapain di bawa dia ke sini dia kan harus banyak istirahat" ucap Wanda.
"Mamah mau melihat Lian mbak" ucap Rahma.
"Ya Wanda tak apa" ucap Elpan.
"Tapi El" ucap Wanda.
Elpan menggeleng dia tak mau Wanda bicara lagi.
Pagi hari nya mereka di boleh kan pulang, sebenarnya Wanda sudah dari kemarin di perbolehkan pulang tapi karena Mira belum di perbolehkan jadi mereka menunggu Mira dahulu.
Rahma memasukan peralatan Lian dia memasukan nya ke dalam tas ransel.
Rahma juga yang memasukan barang barang Wanda yang sangat banyak itu.
"Rahma kamu ya yang gendong Lian" ucap Wanda.
"Ya mbak tak apa" ucap Rahma.
Rahma sepanjang jalan menggendong Lian, walaupun berat tapi Rahma menahan nya dia tak berani bicara walau pun tangan nya sangat pegal.
Rahma mengganti tangannya untuk menahan kepala Lian supaya tak terlalu pegal dan akan kram nanti nya.
Sedangkan Wanda dia hanya sibuk pada makanan nya yang ada di hadapannya.
Dia tak perduli pada Lian bahkan Lian menangis pun Wanda tak pernah menggendong nya.
Kalau pun di paksa Wanda akan bilang kalau perut nya sakit lah, perut nya kram lah.
Sehingga hanya Rahma saja yang mengasuh Lian semalaman.
Mata Rahma tak terasa langsung menutup saking mengantuk nya Rahma.
"Rahma" bentak Elpan.
Rahma langsung bangun dan terkejut dia menatap pada Lian yang sekarang jadi menangis karena kaget.
"Apa El" tanya Wanda.
"Rahma ketiduran" ucap Elpan.
"Aku mengantuk kak" ucap Rahma.
"Wanda gantian" ucap Elpan.
"Gak bisa, perut aku kram El kalau gendong Lian" ucap Wanda.
"Rahma, kau tidur kan saja Lian di troli itu lebih aman" ucap Elpan.
Rahma membuka troli yang baru di beli nya itu dengan satu tangan tentu saja akan sangat susah karena troli itu belum di buka, masih lengkap dengan plastik yang membungkus nya.
Elpan turun dari mobil, dia membuka kan troli itu dan memastikan kalau kalau Lian berbaring dengan sempurna di troli itu.
Hingga lama di perjalanan mereka akhirnya sampai juga di kediaman Sudardjo.
Rahma langsung menggendong Lian dan membawanya masuk karena di luar cukup panas takut nya Lian akan kepanasan.
Wanda langsung berjalan ke arah rumah tanpa membantu menurunkan barang padahal Elpan juga harus membawa mamahnya yang sekarang ada di atas kursi roda.
"Bagai mana ini apa aku bawa sekalian ya, kalau aku bulak balik nanti aku akan kecapean aku sekalian saja bawa sekarang" gumam Elpan.
Namun El melihat pada arah satpam yang selalu berjaga namun sekarang tak ada di tempat nya bahkan barusan juga El yang membuka kan pintu gerbang.
El menggantung kan tas nya di bahunya dan tas yang isinya peralatan Lian Elpan gantung kan di leher nya.
Tak lupa ada beberapa kantong kresek hitam yang isinya perlengkapan bayi.
Elpan memegang nya dengan satu tangan dan tangan yang satunya lagi di pakai untuk mendorong kursi roda Mira.
Posisi Elpan saat ini sama seperti posisi Rahma saat mereka baru saja pulang dari Villa, Rahma membawa semuanya masuk ke dalam rumah.
Elpan baru menyadari kalau ternyata Rahma merasa keberatan saat itu.
Hanya saja Rahma pandai menyembunyikan rasa sakitnya.
Sedangkan di kamar Wanda, saat ini Rahma merebah kan Lian di kasur bayi yang ada di kamar Wanda yang khusus di desain oleh Rahma.
"Mbak aku mau istirahat dulu" ucap Rahma.
"Terserah" ucap Wanda.
Rahma langsung pergi dari sana membiarkan Wanda menjaga Lian karena dia ingin istirahat.
__ADS_1
bersambung