Menjadi Istri Tua Di Usia Muda

Menjadi Istri Tua Di Usia Muda
bab 59: harga apartemen


__ADS_3

Pagi hari nya Iqbal terbangun dia melihat dirinya yang sekarang ada di kamar Rahma dan dia berbaring di samping Lian.


Iqbal ingat kembali ucapan Wanda yang mengatakan kalau Lian anak kandung nya.


"Apa aku sudah tak waras aku percaya pada Wanda yang jelas jelas semalam dia mabuk berat" gumam Iqbal.


Iqbal melihat Lian yang memang benar dia terlihat seperti Iqbal apa lagi hidung dan Mata nya sama seperti nya.


"Lian" gumam Iqbal.


Rahma keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan handuk yang ada di tangan nya.


"Kak Iqbal sudah bangun" tanya Rahma.


"Ya maaf aku datang kemari semalam aku mabuk" ucap Iqbal berbohong padahal dia tak mabuk minum saja hanya sedikit.


"Tak apa tapi kak berkat kau Lian semalaman tidur nyenyak, makasih kak karena sudah mau membantu aku semalam kecapean" ucap Rahma.


"Ya tak apa" ucap Iqbal.


"Oh ya kak mau minum" tanya Rahma.


"Aku gak mau minum aku mau sadar Rahma" ucap Iqbal.


Rahma tersenyum mendengar hal itu.


"Bukan minum minuman kak tapi teh atau kopi" ucap Rahma.


"Aku mau teh saja" ucap Iqbal.


"Manis" tanya Rahma.


"Ya" ucap Iqbal.


"Baik lah aku buat kan kamu Mandi lah dulu" ucap Rahma.


Iqbal menatap pada Rahma, dia merasa seperti punya istri dan anak apa lagi Rahma yang selalu perhatian padanya, Iqbal merasa sangat ingin punya istri tapi dia mau Rahma yang menjadi istri nya.


"Aku akan mandi" ucap Iqbal.


(Udah lah Rahma kamu sama Iqbal saja, nanti Mak Othor buat Iqbal nya baik).


Rahma langsung pergi dari sana menuju ke arah dapur dia meminta para pelayan untuk membuat kan teh manis.


Elpan terbangun dia tak melihat Rahma dan Iqbal, namun Elpan sangat heran karena di kamar mandi sangat berisik sekali.


Elpan langsung berpikir kalau di dalam ada Iqbal dan Rahma yang Tengah melakukan sesuatu.


"Tak bisa di biarkan" gumam Elpan yang langsung pergi menuju ke arah kamar mandi.


Elpan langsung membuka kan pintu kamar mandi nya, Iqbal mungkin lupa mengunci pintu nya, hingga Elpan bisa langsung membuka nya dan menampakkan Iqbal yang tengah mandi di ruangan mandi yang ada shower nya.


Untung saja di kamar mandi itu ada satu ruangan lagi yang memakai shower dan di tutup Walau hanya dengan kaca tapi tak menampakkan jelas seluruh tubuh apa lagi kalau shower nyala kaca itu akan terlihat buram.


"Rahma" sahut Elpan.


"Ini gue anj Rahma ada di dapur, gak sopan sekali kau" geram Iqbal.


"Oh maafkan aku" ucap Elpan yang langsung menutup kembali pintu nya.


Elpan duduk di ranjang dia melihat Lian yang masih tertidur.


Rahma masuk dan membawa kan satu cangkir teh manis untuk Iqbal.


"Terima kasih" ucap Elpan yang langsung mengambil gelas itu.


"Kak itu buat kak Iqbal, itu Teh manis" ucap Rahma.


"Kenapa tak di buat kan teh hijau" tanya Elpan.


"Tuh pelayan yang bawa" ucap Rahma.


"Ck kenapa harus pelayan yang bawa kenapa gak kamu saja" geram Elpan.


"Aku pikir kamu masih tidur" ucap Rahma.


Iqbal keluar dari kamar mandi dengan bertelan jang dada Sehingga menampakkan perut Iqbal yang berotot.


"Kak sudah mandi nya" tanya Rahma.

__ADS_1


"Sudah" ucap Iqbal.


Rahma mengambil kan Pakaian Elpan dari dalam lemari.


"Tak apa kan kalau kau pakai pakaian kak El" tanya Rahma.


"Tak apa" ucap Iqbal.


"Rahma kamu ini apa apaan" ucap Elpan keberatan.


"Sudah kak" ucap Rahma.


"Terima kasih, Rahma setelah melihat mu aku berpikir untuk punya istri agar ada yang bisa memperhatikan aku" ucap Iqbal.


"Lalu kenapa tak menikah saja" tanya Rahma.


"Tapi aku sadar kalau aku maunya kau" ucap Iqbal.


"Bren gsek aku sudah duga kalau kau menginap di sini bukan untuk Lian tapi untuk Rahma" ucap Elpan.


"El kau jangan salah sangka pada ku, aku hanya bicara kalau aku mau punya istri seperti Rahma" ucap Iqbal.


"Terserah" ucap Elpan yang tak mau debat.


Sedangkan di sebuah hotel saat ini Wanda baru saja bangun dia melihat kalau Iqbal tak ada di sana Wanda tak heran karena Iqbal hanya lah mau tubuh nya saja.


Wanda langsung pulang ke kediaman Elpan karena dia tak mungkin terus Tinggal di hotel.


Sesampainya di rumah Wanda kaget melihat Iqbal yang tengah menggendong Lian.


"Kalau Iqbal tau Lian anaknya apa reaksi nya" gumam Wanda.


"wanda kamu sudah pulang" tanya Elpan yang langsung memeluk istrinya itu.


"Ya El aku sibuk" ucap Wanda.


Iqbal hanya menatap sekilas saja dia paham kalau Wanda berbohong, apa lagi Wanda takut Elpan marah.


"Kak ini makanan nya" ucap Rahma membawa kan makanan untuk Iqbal.


"Sini Lian biar aku yang gendong" ucap Rahma.


Elpan langsung mendekat ke arah sana, Elpan langsung menyuapi Iqbal dengan garpuh karena makanan yang Rahma bawa adalah roti isi selai coklat.


"Makanlah" ucap Elpan.


"Pelan pelan" ucap Iqbal.


"Makan yang banyak supaya kamu bisa cepat pergi" ucap Elpan.


"Tapi El bisa kah aku menginap lagi di sini" tanya Iqbal.


"Tentu saja boleh" ucap Rahma.


"Menginap tapi untuk apa" tanya Wanda.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Lian" ucap Iqbal.


Wanda terkejut dia takut kalau Iqbal tau rahasia itu.


"Apa dia tau kalau Lian adalah anak nya, kalau tau bisa gawat, tapi gak mungkin karena tak ada yang tau selain aku" batin Wanda.


"Terserah kau saja" ucap Elpan.


"Terima kasih, aku iri pada mu El, kamu punya keluarga punya istri punya anak tapi aku" ucap Iqbal.


"Kak Iqbal Jangan begitu ada kita kan kak Iqbal gak sendirian" ucap Rahma.


"Ya tapi apa bisa aku menganggap mu istri ku tidak kan" ucap Iqbal.


"Kak bukan begitu" ucap Rahma.


"Aku hanya mau bertemu Lian saja" ucap Iqbal.


"Tak ada yang salah kalau mau bertemu dengan Lian" ucap Rahma.


"Kau boleh datang kapan saja" ucap Elpan pada Iqbal.


Mereka semua makan bersama di meja makan walaupun Wanda terlihat tak suka pada kedatangan Iqbal tapi dia tak mungkin bilang karena dia takut Iqbal bilang pada Elpan tentang kelakuan Wanda.

__ADS_1


"Nak Iqbal kapan datang" tanya Mira.


"Semalam Bu" ucap Iqbal.


"Oh" ucap Mira.


Zahra datang ke sana dengan terburu buru karena dia akan bicara dengan Elpan.


"Kak" ucap Zahra.


"Apa" tanya Elpan.


"Kata mamahnya Arya uang apartemen nya harus sekarang" ucap Zahra.


"Berapa" tanya Elpan yang menanggapi nya dengan santai.


"2 koma 5 M" ucap Zahra.


"Hah" Elpan terkejut mendengar hal itu dia tak percaya harganya akan semahal itu.


"Yang benar saja Zahra harga nya semahal itu" tanya Elpan.


"Ya kak kita kan membeli nya" ucap Zahra.


"Tapi saat kamu beli apartemen tak semahal itu" tanya Elpan.


"Ya kak dia milih nya di apartemen S&M jadi wajar kan mahal" ucap Zahra.


"Tapi kenapa semahal itu, kalian hanya bisa menempati apartemen itu selama kurang lebih nya 20 tahun saja mending beli rumah pribadi sekalian" ucap Iqbal.


"Tapi itu akan lebih mahal lagi" ucap Elpan.


"El satu rumah dan tanah itu tak akan mahal Paling satu M lah itu pun yang biasa biasa saja kalau yang mewah nya ada lah yang 2 M" ucap Iqbal.


"Tapi mereka mau nya di sana" ucap Zahra.


"Oh" ucap Iqbal.


"Mah bagai mana ini" tanya Elpan.


"Zahra bujuk saja orang tuanya pacar mu itu untuk mencari apartemen yang lain yang lebih murah" ucap Mira.


"Ya Zahra itu terlalu mahal belum lagi untuk yang lain" ucap Wanda.


"Kak gimana" tanya Zahra.


"Aku pikir mamah benar" ucap Elpan.


"Tapi mereka itu gak bisa di bujuk" ucap Zahra.


"Mata duitan sekali besan nya Bu Mira ini" ucap Iqbal.


"Entah lah orang miskin pasti membuat ini menjadi kesempatan emas baginya untuk sekalian mengemis" ucap Mira.


"Mah" geram Zahra.


"Baik lah aku akan usahakan" ucap Elpan.


"Berapa uang mu yang kurang aku akan bantu" ucap Iqbal.


"Gak usah" ucap Elpan.


"Tak apa ini sebagai hadiah dari aku untuk Zahra" ucap Iqbal.


"Jangan aku ga enak" ucap Elpan.


"El gak boleh nolak rezeki" ucap Mira.


"Benar kata Bu Mira" ucap Iqbal.


"Kalau El gak mau kirim saja pada ATM mamah" ucap Mira.


"Kirim saja pada rekening ku" ucap Elpan yang langsung menyela karena Elpan tau mamanya itu selalu mata duitan.


Rahma tak bicara karena kalau bicara pun akan terasa percuma, apa lagi mereka tak akan mungkin mendengar kan Rahma.


Rahma hanya sibuk pada makanan nya yang ada di atas mejanya.


"aku sudah ingat kan pada Zahra kalau laki laki itu gak bener tapi dia tak percaya semoga saja dugaan aku salah tentang laki laki itu" batin Rahma yang hanya bisa menggerutu dalam hati nya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2