Menjadi Istri Tua Di Usia Muda

Menjadi Istri Tua Di Usia Muda
bab 80


__ADS_3

Brughh


Rahma terjatuh ke lantai yang kotor itu kepala nya sampai berdarah karena terbentur ke lantai.


Rahma meringis kesakitan apa lagi dia susah untuk berdiri lagi.


Rahma merasakan badannya yang sakit membentur Lantai, sedangkan Mita tak memberi kan respon apa apa pada Rahma dia hanya diam saja seolah tak perduli pada Rahma.


Rahma bangun lagi dia menduduk kan tubuhnya di dekat pintu masuk yang ada di sana, Rahma menubruk nubrukan badan nya pada pintu itu.


Berharap ada yang mau menolong nya tapi sayang Rahma malah merasakan kesakitan pada badannya.


"Tolong" batin Rahma sambil menangis.


Sedangkan di perjalanan Elpan sedang mencari Rahma dia bingung karena tak menemukan Rahma, apa lagi hari juga sudah gelap.


Drttt drtt


"Angkat El" ucap Rayhan yang ada di Mobil Elpan karena menemani Elpan mencari Rahma.


"Ya aku akan angkat" ucap Elpan melihat orang yang menelpon ternyata Zahra.


"Ada apa Zahra menelpon aku" tanya Elpan.


📞📞.


"Ya Zahra ada apa" tanya Elpan sambil mengemudi mobil nya tapi dia juga menghidupkan speaker pada ponsel nya sehingga bisa terdengar walaupun jauh dari telinga Elpan.


"Kak, mamah gak ada aku sudah cari mamah gak ada" ucap Zahra panik.


"Apa kenapa bisa" tanya Elpan.


"Ya kak aku ga tau tapi pas aku pulang kerja mamah gak ada dan saat tanya pembantu tak ada yang tau mereka bahkan tak melihat saat mamah bicara dengan mu mereka tak melihat lagi mamah" ucap Zahra.


"Apa" tanya Elpan.


"Apa kamu yakin kalau Mamah nya El tak ada di kamar atau di rumah teman nya" tanya Rayhan.


"Tak ada aku tanya Bu Rima tak ada" ucap Zahra.


"Coba telpon" ucap Rayhan.


"Ga di angkat hp nya berdering tapi gak di angkat, mungkin mamah di culik" ucap Zahra.


"Gak mungkin" ucap Elpan.


"El coba cari di aplikasi pelacak ponsel" ucap Rayhan.


"Ya Zahra cari dus bekas ponsel mamah dan cari letak ponsel mamah ada di mana aku yakin pasti kelacak" ucap Elpan.


"Baiklah" ucap Zahra.


📞📞


Zahra mencari cari dus ponsel mamahnya di kamar nya dia menemukan nya dan melacak keberadaan ponsel mamahnya itu dan ternyata ponsel nya itu berada di perkampungan yang sangat jauh dari sana.


Zahra mengirim kan alamat itu pada kakaknya.


{Kak alamat nya ini} pesan Zahra yang di iringi oleh lokasi keberadaan ponsel mamah nya itu.


Elpan membuka pesannya dia melihat lokasi yang Zahra kirimkan.


"Ray lihat bukan nya ini perkampungan" tanya Elpan.


"Ya kau benar" ucap Rayhan yang langsung melihat nya dengan teliti.


"Tapi El ini jauh dari tempat kita" ucap Rayhan lagi.


"Ya tapi mau apa mamah ke sana" tanya Elpan.


"Mungkin mamah kamu punya teman di kampung" tanya Rayhan.


"Gak mungkin kamu tau kan kalau mamah itu gengsinya tinggi dia gak mungkin main dengan orang yang tinggal di kampung" ucap Elpan.


"Ya kau benar" ucap Rayhan.


"Lalu sekarang bagaimana apa kita akan datang ke sana" tanya Elpan.

__ADS_1


"Sudah malam bagaimana kalau besok kita naik pesawat kamu saja" ucap Rayhan.


"Helikopter ku di jual Ray" ucap Elpan.


"Kenapa di jual" tanya Rayhan.


"Wanda yang menjual nya" ucap Elpan.


"Sudahlah kita pikir kan besok kalau begitu kita pulang sekarang kamu menginap saja di rumah ku besok pagi sekali kita pergi" ucap Rayhan.


"Ya baik lah" ucap Elpan.


"Aku akan coba hubungi Iqbal aku yakin dia mau membantu karena ini menyangkut soal Lian" ucap Rayhan.


"Ya aku yakin dia ikut" ucap Elpan.


Di kampung yang sangat kumuh bahkan seperti nya tak ada kehidupan di sana terdapat empat orang laki laki yang tengah bermain kartu.


Seorang laki laki menggendong seorang bayi laki laki yang sangat tampan.


"Lihat cucu ku tampan kan, tapi kita perlu menghabisi Ayahnya" ucap pria paruh baya itu yang tak lain adalah Marta papahnya Wanda.


"Ya bos dia tampan" ucap anak buahnya mengiyakan.


Marta menatap pada Lian.


"Hahaha bayi kau akan menyaksikan kematian nenek lampir itu bahkan kau juga harus menyaksikan kematian mamah tiri mu itu, ck sayang sekali kamu harus hidup dengan ku dan ikut aturan aku" ucap Marta.


Lian menangis karena bayi itu takut melihat orang asing yang menggendong nya.


Sedangkan di ruangan Gelap yang seksama semakin gelap karena hari sudah malam membuat Rahma hanya bisa diam saja tak berani berbuat apa apa.


Dan Mira dia hanya diam saja dari tadi bahkan tak ada reaksi apa pun dari Mira bahkan saat Rahma terjatuh juga Mira seolah tak perduli pada Rahma.


Rahma punya ide yang cukup membantu mereka, Rahma langsung berdiri walaupun badan nya sakit dia langsung mendekat pada Mira yang sekarang hanya duduk saja.


Mira bingung melihat Rahma yang mendekat padanya dengan cepat Rahma membelakangi Mira dan langsung meraih mulut Mira namun tak bisa.


Rahma terus mencoba hingga lama kelamaan akhirnya Mira peka juga dan mendekat kan mulut nya yang di lakban pada Rahma.


Rahma akhirnya bisa juga membuka lakban yang ada di mulut Mira walaupun dia masih kesusahan untuk membuka punya nya.


"Rahma" ucap Mira yang langsung membuat Rahma senang bisa bicara dengan mertuanya itu.


"Lian bersama dengan kakeknya orang yang menculik kita itu adalah kakek nya Lian dia itu papahnya Wanda" ucap Mira menjelaskan sedang kan Rahma hanya mangut mangut saja paham.


Mira merasa kan ponsel nya yang sejak tadi bergetar untuk Mira sudah menyetel ponsel nya untuk bergetar saat mendapat panggilan jadi orang orang itu tak ada yang tau kalau Mira bawa ponsel.


Mira berusaha mengeluarkan ponsel itu dari saku bajunya yang longgar itu.


Mira bahkan sampai tiduran terlentang berharap kalau ponsel itu jatuh ke lantai.


Hingga setelah lama akhirnya ponsel itu keluar juga, Mira melihat ponsel nya yang menyala terlihat di layar ponsel itu ada nama Elpan yang menelpon.


Di kediaman Rayhan saat ini Elpan sedang mencoba menghubungi mamahnya lagi.


"Angkat mah" ucap Elpan.


Mira kesusahan untuk mengangkat panggilan itu dengan tangan kebelakang dan kaki di ikat.


Mira punya ide bagus dia membalikkan badannya hingga membuat dia tengkurap.


Mira menggesek kan hidung nya pada layar ponsel nya berharap kalau hidung cukup mancung nya itu bisa berguna.


📞📞


"Mah" ucap Elpan senang karena mamahnya bisa di hubungi.


"El tolong mamah, saat ini Mamah bersama dengan Lian dan Rahma" ucap Mira.


"Ya mah besok aku akan datang sekarang aku merencanakan dahulu sesuatu" ucap Elpan.


"Ya baiklah tapi kamu harus datang" ucap Mira.


Brakk


Pintu itu di dobrak dari luar dia dengan cepat Rahma menyembunyikan ponsel Mira dengan badannya.

__ADS_1


Tuutt


Panggilan terputus karena Badan Rahma menekan tombol gagang telepon merah.


📞📞


Elpan panik dia tak bisa menahan diri untuk tetap tenang karena suara tadi terdengar jelas kalau ada seseorang yang hendak mendobrak pintu.


"Apa mamah dan Rahma baik baik saja" gumam Elpan yang malah semakin panik di buat nya.


Dia akan mencari bahkan dia juga sudah bersiap, tapi Rayhan datang ke sana dan melihat Elpan yang sudah bersiap.


"El mau kemana" tanya Rayhan.


"Aku barusan telpon mamah dan dia mengangkat nya tapi sekarang mamah dalam keadaan yang tak baik baik saja aku tau itu, tadi aku mendengar suara seperti dobrakan dan panggilan nya mati" ucap Elpan.


"Kamu tenang" ucap Rayhan.


"Ayo berangkat sekarang" ucap Elpan.


"Baiklah ayo aku akan panggil dulu Iqbal" ucap Rayhan.


Rayhan menghubungi Iqbal yang sekarang ada di hotel dengan rasa kesal Iqbal langsung berangkat dari hotel itu untuk menemui Rayhan.


Sedangkan Rayhan saat ini sibuk menghubungi anak buah nya apa lagi mereka akan ke sana dengan menggunakan mobil saja karena helikopter yang mereka pesan akan stay pagi.


Dengan persiapan seadanya mereka berangkat Sedang kan Iqbal akan menunggu di depan hotel tempat nya berada.


Sedangkan di rumah di kampung itu Rahma dan Mira hampir saja tertangkap Karena ada anak buah Marta di sana, Rahma pura pura tertidur sedang kan Mira mendekat kan wajah nya pada lantai yang kotor berharap mereka tak menyadari kalau lakban Mira sudah kebuka.


"Tidurlah mungkin malam ini adalah malam terakhir kalian tidur setelah itu kalian akan tidur selama nya" ucapnya tertawa.


Brakk..


Pintu itu di tutup lagi sampai Rapat hingga menimbulkan suaranya yang sangat keras.


Rahma melihat pintu yang sudah tertutup dia bisa bernafas lega.


"Orang orang itu gi la apa" ucap Mira menggerutu.


Di depan hotel Iqbal menunggu sambil membenarkan jas yang dia pakai, tapi di sisi lain ada empat orang laki laki yang tengah mengintai Iqbal dari kejauhan.


Iqbal merasa aneh pada orang orang itu, dia tersenyum tipis melihat nya hal ini bukan pertama kalinya buat Iqbal untuk di intai Begitu apa lagi dulu dia juga pernah di serang Secara mendadak.


Orang orang itu langsung berlari dan memukul Iqbal secara membabi buta untung saja Iqbal bisa bela diri jadi bisa menangkis pukulan pukulan itu.


Bughh


Bughh


Buggh


Pertaruhan beda jumlah itu tak bisa Iqbal leraikan dia malah menjadi korban dan di pukuli oleh orang orang itu.


Untung saja Rayhan dan Elpan datang mereka langsung membantu Iqbal yang sekarang sudah babak belur.


Beberapa menit mereka akhirnya tumbang Rayhan yang Paling banyak mengalahkan orang orang itu, karena dia Sangat pandai dalam berkelahi.


"Kau tak apa" tanya Rayhan pada Iqbal.


"Tak, wajah tampan ku babak belur" ucap Iqbal.


"Sudah lah ayo pergi" ucap Elpan.


"Tunggu orang orang ini kita apakan" tanya Iqbal.


"Aku akan hubungi anak buah ku, aku punya ide untuk menghabisi mereka" ucap Rayhan.


Mereka langsung pergi dari sana meninggal kan orang orang itu karena sekarang sudah larut malam jadi tak ada orang yang melewati jalanan itu.


Elpan melaju kan mobil nya menuju ke arah lokasi mamahnya itu karena takut terjadi sesuatu pada mereka apa lagi dalang di balik itu semua adalah papah nya Wanda.


Hari sudah semakin malam Rayhan sudah sangat mengantuk dan di dalam mobil hanya tersisa Elpan saja yang masih bagun dan fokus menyetir mobil.


Jalanan terlihat sangat sepi apa lagi elpan melewati sebuah jalan yang di pinggir pinggir nya terdapat pepohonan.


"Apa ini hutan" gumam Elpan.

__ADS_1


Elpan fokus saja menyetir mobil nya dia tak tau jalanan yang sedang dia lewati itu.


Karena saat ini pikiran Elpan itu hanya ingin menyelamatkan mamahnya, Rahma dan Lian.


__ADS_2