Menjadi Istri Tua Di Usia Muda

Menjadi Istri Tua Di Usia Muda
bab 55: datang nya pacar Zahra


__ADS_3

Pagi harinya Iqbal dan Elpan terbangun dengan rasa kantuk.


"Lain kali kalau Lian nangis lagi jangan jangan panggil aku" ucap Iqbal sewot.


"Ya tenang saja nanti juga Rahma pulang" ucap Elpan.


"Aku tau nih, Lian semalaman tak tidur karena tidak ada Rahma di sisinya" ucap Iqbal.


"Ya mungkin" ucap Elpan.


"Miris aku melihat mu El, kalau Rahma sudah tak ada kau yang akan menderita karena lihat saja istri mu itu sungguh tak berguna, ganas di ranjang pun percuma kalau tak bisa ngasuh anak" ucap Iqbal.


"Tetap saja Iqbal, Wanda lah yang melahirkan anak untuk ku" ucap Elpan.


"Aku pasti kan kau menyesal saat tau kalau Rahma lah yang paling baik dan bisa menerima mu apa adanya" ucap Iqbal.


"Sudah lah" ucap Elpan.


Iqbal melihat Lian yang sekarang sudah bangun dari tidur nya.


"Lian ayah pulang dulu ya sayang, kamu jangan nangis lagi nanti mamah Rahma akan datang" ucap Iqbal.


"Ibu" protes Elpan.


"Ya ibu Rahma akan datang ya sayang" ucap Iqbal mencium bayi mungil itu.


"Aku pamit" ucap Iqbal yang langsung pergi dari sana meninggal kan Elpan bersama dengan Lian.


Iqbal menguap beberapa kali dia sangat mengantuk, namun ada hal yang membuat Iqbal melongo yaitu Wanda yang sekarang tengah asik mengopi sambil meminum teh hangat serta cemilan yang atas di atas meja.


"Wanda apa kau gi la hah" tanya Iqbal.


"Apa sih" tanya Wanda.


"Aku dan El semalaman tak tidur karena asuh Iian dan kau sekarang santai santai di sini ya ampun untung bukan istri ku kalau ya maka sudah aku pasti kan kalau kau akan di pecat jadi istri ku" ucap Iqbal.


"Bodo amat" ucap Wanda.


Iqbal langsung pergi dari sana meninggalkan Wanda.


Iqbal berpapasan dengan Rahma yang sekarang baru pulang dari rumah sakit.


"Kak ada di sini" tanya Rahma.


"Rahma aku semalaman di sini, El suruh aku datang ternyata untuk menjaga Lian, aku semalaman tak tidur" ucap Iqbal.


"Maafkan aku kak, aku semalam tak pulang aku menjaga papah dia di rumah sakit, maafkan aku ya kak" ucap Rahma.


"Jangan yang salah bukan kamu tapi mamahnya Lian" ucap Iqbal.


"Mbak Wanda" tanya Rahma.


"Ya dia tak mengasuh Lian dia hanya tidur dan sekarang dia santai santai di depan tv" ucap Iqbal.


"Sudah biasa" ucap Rahma.


"Kau sangat sabar, aku mau loh jadi suami kamu Rahma" ucap Iqbal.


"Kak aku tak sempurna banyak wanita cantik di luaran sana" ucap Rahma.


"Kau sangat rendah hati" ucap Iqbal.


"Bisa saja" ucap Rahma.


"Baik lah aku pulang ya aku mengantuk" ucap Iqbal.


"Ya hati hati di jalan ya" ucap Rahma.


Rahma masuk ke dalam kamar nya melewati Wanda, tak ada percakapan di antara keduanya.


Rahma masuk dan melihat Elpan yang hanya memakai kaos dan celana pendek saja.


Penampilan Elpan sangat menyedihkan Sekarang.

__ADS_1


"Biar aku saja" ucap Rahma saat melihat Elpan yang sekarang akan menggantikan pakaian Lian.


Tanpa Rahma sangka Elpan langsung melempar kan pakaian Lian pada wajah Rahma.


"Tak bisakah kau pulang dan meninggalkan papah mu itu" ucap Elpan marah.


"Apa maksudmu" tanya Rahma.


"Kau tau aku semalaman tak tidur karena mengasuh Lian, dia terus saja menangis aku gak tau bagai mana cara menenangkan nya, aku sampai panggil Iqbal untuk datang" ucap Elpan.


Rahma tersenyum melihat Elpan yang marah marah.


"Kenapa tak bangunkan saja mamahnya Lian" tanya Rahma.


"Dia itu kecapean Rahma" ucap Elpan.


"Lalu apa aku tak kecapean" tanya Rahma.


"Apa yang akan kau keluh kan Rahma kau sekarang diam di rumah tak kuliah, tugas mu hanya mengurus anak" ucap Elpan.


"Lalu Mbak Wanda cape karena apa dia tak kerja, dia tak kuliah, kerjaan nya hanya belanja, oh apa perlu aku juga belanja seperti mbak Wanda supaya kau bisa tau kalau aku kecapean" tanya Rahma.


"Rahma tetap dalam batasan mu, aku suami mu" ucap Elpan.


"Jangan lupa Hargai aku, aku juga istri mu" ucap Rahma.


"CK" elpan berdecak kesal.


"Kalau kau mengeluh karena tak tidur semalaman karena menjaga Lian, lalu bagai mana dengan aku yang setiap malam aku terbangun untuk mengasuh Lian apa kau perduli pada ku" tanya Rahma.


Rahma mengantikan pakaian Lian.


"Kau hanya tak tidur semalaman siang nya kau bisa tidur, kerjaan mu bisa di handle oleh anak buah mu, lalu apa kau tak berpikir bagai mana aku" ucap Rahma.


Elpan terdiam dia tak habis pikir dengan ucapan nya pada Rahma.


Elpan memang salah dia memang salah telah menuntut Rahma.


Rahma menggendong Lian dia melihat kalau demam Lian sekarang sudah turun, Rahma memberikan sufor pada Lian.


Elpan langsung menuju ke arah kamar mandi karena dia tak mungkin bisa menang dari Rahma.


Apa lagi memang dia lah yang salah sekarang.


Rahma hanya bisa menghela nafas nya.


"Lian ayo kita main di luar" ucap Rahma.


Rahma menggendong Lian keluar dari kamarnya dia melihat kalau Wanda masih ada di sana.


"Mau kemana" tanya Wanda ketus.


"Keluar aja Lian main dia bete kalau di kamar terus" ucap Rahma yang langsung pergi dari sana meninggal kan Wanda.


Rahma duduk di bangku taman rumah Elpan, rasanya sangat sejuk sekali apa lagi pagi ini cuaca cukup cerah.


"Lian bagus kan, aku sengaja ajak kamu keluar karena kata dokter bayi itu bagus berjemur di pagi hari, tapi karena kamu sakit jadi ibu tak memandikan kamu" ucap Rahma.


Elpan keluar dari rumah nya dia langsung pergi dari sana menuju ke arah mobil tanpa melihat Rahma dan Lian terlebih dahulu.


Elpan pergi dari sana, Rahma setiap hari dia berpikir kalau Lian itu seperti nya tak terlalu dekat dengan Elpan, Lian malahan lebih merasa nyaman jika berada dekat dengan Iqbal.


"Apa mungkin Lian anaknya kak Iqbal karena kemarin saja Lian tak mau di tinggal pergi oleh kak Iqbal tapi tak mungkin (Rahma menggeleng gelengkan kepala nya), bahkan saat itu juga Lian sangat anteng saat di asuh Kevin" gumam Rahma.


Rahma menatap pada gerbang dia melihat Kevin yang di cegat satpam karena tak boleh masuk.


"Kevin" sahut Rahma.


"Rahma aku mau ketemu" teriak Kevin.


"Masuk lah" ucap Rahma.


Karena paham kalau tamu itu di kenal sang majikan kedua satpam itu tak menghalangi Kevin lagi.

__ADS_1


"Selamat pagi" ucap Kevin.


"Ada apa datang kemari" tanya Rahma.


"Tak ada aku hanya mau tanya, Rahma kenapa kau bisa di berhentikan sejenak" tanya Kevin.


"Karena dekan pikir aku sudah menganggu pelajaran" ucap Rahma.


"Sayang sekali, mau gak aku bantu kamu masuk lah, itu hal yang gampang bagi ku tapi kamu harus masuk lagi tanpa membawa Lian" ucap Kevin.


"Bisa kah" tanya Rahma.


"Bisa tentu saja bisa aku akan usahakan" ucap Kevin.


"Terima kasih sebelumnya Kevin, kamu baik padaku" ucap Rahma.


"Tak apa" ucap Kevin.


Kevin langsung menggendong Lian kedalam pelukannya.


"Anak manis mamah mu akan kuliah lagi, jadi kamu harus tunggu sampai mamah kamu pulang kuliah ya" ucap Kevin pada Lian.


Mereka bicara banyak sekali hingga setelah itu Kevin berpamitan untuk pulang karena dia akan masuk kampus.


Rahma membawa Lian ke dalam rumah karena hari juga sudah mulai siang.


Rahma melihat kalau Mira tengah belajar berjalan, sudah mulai dua sampai tiga langkah namun keseimbangan nya belum stabil Mira di Bantu dua pelayan untuk belajar berjalan.


Saat ini Mira sudah mulai bisa bicara lagi.


Namun masih cukup terbata bata dan cukup tak jelas Juga.


"L-i-lian" ucap Mira.


"Ini mah" ucap Rahma memperlihatkan Lian pada Mira.


Mira duduk di kursi dengan bantuan kedua pelayan itu.


"D-dimana Wan Wanda" tanya Mira.


"Ada di kamarnya" ucap Rahma.


Tiba tiba Lian menangis dia mengompol di baju Rahma.


"Mah aku ke kamar dulu mau ganti baju Lian" ucap Rahma.


Mira melihat Rahma yang pergi dari sana.


"Dasar menantu tak berguna" batin Mira.


Sore hari nya Zahra adik tiri Elpan datang ke sana bersama dengan seorang laki laki dan kedua orang tuanya.


Rahma tak tau kalau dia kedatangan tamu karena dia berada di kamar nya.


Zahra mempersilahkan mereka untuk duduk, bahkan Zahra juga menyuruh pelayan membuat kan cemilan dan minuman.


"Sebentar ya aku panggil kan dulu mamah" ucap Zahra.


Zahra masuk ke dalam kamar mamahnya namun Zahra terkejut saat mendapati mamah tirinya yang tak bisa jalan lagi bahkan untuk bicara pun rasanya susah.


"Pelayan bawa mamah ke depan" ucap Zahra pada pelayan yang ada di sana.


Dengan cepat Zahra pergi dari sana menuju lantai atas karena akan menemui Wanda.


"Kak" ucap Zahra di ambang pintu kamar Wanda.


"Apaan sih berisik aja" teriak Wanda dari dalam kamarnya.


"Kak bangun bantu aku menemui orang tua pacar aku" ucap Zahra.


"Malas sekali ajak saja Rahma" ucap Wanda.


"Rahma, CK dia masih bocil apa yang bisa dia katakan nantinya" gumam Zahra yang langsung masuk ke dalam kamar Rahma.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2