
Keesokan harinya mereka semua berangkat ke puncak tempat Elpan akan honey moon.
Tak ada semangat yang Rahma pancarkan bahkan Rahma hanya bisa diam saja saat melihat Wanda dan Elpan berbincang bincang.
"Bikin anak yang banyak ya" ucapan Mira yang sampai sekarang terngiang ngiang di telinga Rahma.
Rahma hanya tersenyum getir saja, Rasa menyepelekan Elpan hadir di hati Rahma.
"Bagai mana bisa hamil kalau dia saja mandul" batin Rahma menggerutu.
Rasa cemburu menguasai Rahma hanya saja Rahma tak bisa bilang karena ego nya yang besar.
"Aku harap obat nya itu tak beraksi, tak perduli lah aku keluar uang banyak lagi pula aku juga sudah di tampar oleh mamah" batin Rahma.
"Rahma kau punya perhiasan yang mahal itu bisa kan aku pinjam" tanya Wanda.
"Perhiasan mana" tanya Rahma.
"Yang ada berlian nya" ucap Wanda.
"Aku gak bisa pinjam kan itu ada nama aku" ucap Rahma.
"Pinjam sebentar" ucap Wanda.
"Dari mana Mbak Wanda tau, aku punya perhiasan" tanya Rahma.
Wanda menelan salivanya.
"Aku lihat dari El" ucap Wanda.
Elpan tersentak kaget mendengar hal itu.
"Ya kan waktu itu teman aku mau" ucap Elpan dengan terbata bata.
Rahma tak menanggapi dia hanya tersenyum tipis saja melihat hal itu.
"Aku gak bisa pinjam kan" ucap Rahma lagi.
Sesampainya di puncak yang dahulu pernah mereka bertiga datangi, penjaga di sana langsung membantu Elpan membawa kan koper punya majikannya itu.
"Selamat datang tuan" ucap penjaga yang menjaga villa Elpan supaya tetap bersih.
"Ya terima kasih" ucap Elpan.
"Ada yang bisa saya bantu" tanya penjaga itu.
"Panggilkan juru masak aku ingin menginap di sini" ucap Elpan.
"Baik tuan" ucapnya.
Mereka masuk kedalam, Rahma hanya langsung duduk di kursi sambil mengutak atik ponsel nya.
Rahma saat ini tengah berbalas pesan dengan Raya.
{Kenapa tak masuk} pesan dari Raya.
{Aku ikut honeymoon} balas Rahma.
{Kenapa ikut} tanya Raya.
{Terpaksa} balas Rahma.
Elpan merebut Ponsel Rahma dan menjauhkannya dari Rahma.
Dengan cepat Elpan merebahkan kepalanya di paha Rahma.
Rahma hanya bisa diam saja tanpa melakukan pergerakan apa pun.
"Aku lihat siapa yang menghubungi mu" ucap Elpan.
"Raya" ucap Rahma.
"Oh ya Rahma kau mau makan apa, juru masak nya sudah ada" tanya Elpan.
"Makan nasi goreng saja" ucap Rahma.
"Baik lah aku akan suruh mereka membuat nya" ucap Elpan.
"Kamu mau makan apa" tanya Elpan pada Wanda yang sekarang sudah kesal karena Elpan lebih dekat dengan Rahma.
"Aku mau rujak" ucap Wanda.
"Aku akan suruh juru masak membuat nya" ucap Elpan.
"Ya" ucap Wanda.
"Rahma bagai mana kuliah mu apa kau sudah ijin" tanya Elpan.
"Sudah" ucap Rahma singkat.
"Baik lah kalau kau sudah bilang" ucap Elpan.
Lama mereka menunggu akhirnya juru masak membawa kan makanan yang mereka pesan.
"Silahkan tuan" ucap nya.
"Terima kasih" ucap Elpan.
Mereka semua makan nasi goreng dan Wanda hanya memakan Rujak yang dia mau tadi.
"Rujak gak enak" ucap Wanda.
"Kamu mau nasi goreng" tanya Elpan.
"Boleh" ucap Wanda yang langsung membuka mulutnya mendekat pada Elpan.
Elpan yang sadar pun langsung menyendok kan nasi itu masuk ke dalam mulut Wanda.
"Enak" tanya Elpan.
"Lumayan" ucap Wanda.
"Tapi tak seenak masakan kamu" ucap Elpan.
Rahma tersenyum getir mendengar hal itu.
"Tapi Rahma masakan kamu sama seperti masakan Wanda" ucap Elpan.
"Mana mungkin" tanya Rahma.
__ADS_1
"Mungkin saja bukti nya sama" ucap Elpan.
"Sama rasa masakan belum tentu sama rasa hatinya" ucap Rahma.
Mereka melanjutkan makan nya sampai habis, juru masak itu datang lagi mereka menyajikan makanan penutup seperti cake dan es krim.
Rahma langsung mengambil es krim yang hanya ada dua di sana.
Rahma memakan itu hingga habis, walau bagaimana pun Rahma sangat suka pada es krim.
Rahma hendak mengambil lagi es krim itu namun dengan cepat Wanda menepis tangan Rahma.
"Jangan serakah" ucap Wanda.
Rahma tak bicara lagi dia hanya diam saja.
Elpan yang melihat pun langsung mencari alasan.
"Wanda berikan lah pada Rahma, lagi pula kau kan gak suka Es krim katanya kau takut gemuk kalau makan es" ucap Elpan yang langsung mengambil es itu dan memberikan nya pada Rahma.
"Makasih" ucap Rahma.
Wanda tak bisa bicara lagi dia hanya diam saja karena Elpan ternyata lebih membela Rahma dari pada Dirinya.
"Si al" umpat Wanda.
Wanda mengambil cake yang berwarna Rainbow itu, Wanda melahap nya hingga habis.
"Oh ya El aku ingin belanja bisa kan" tanya Wanda.
"Belanja apa" tanya Elpan.
"Belanja kebutuhan bayi" ucap Wanda.
"Bayi" tanya Rahma terkejut.
"Ya aku ingin baju baju bayi" ucap Wanda.
"Oh ya ampun Mbak bahkan kau saja belum mengandung" ucap Rahma.
Wanda hampir saja akan bilang tentang bayi itu namun dengan cepat Elpan menggeleng menghentikan aksi Wanda.
"Suka suka" ucap Wanda.
"Kau terlalu naif" ucap Rahma.
"Rahma kau bantu Doa" ucap Elpan.
"Ya aku doa kan" ucap Rahma.
"Ayo lah El antar aku" ucap Wanda.
"Ya ayo" ucap Elpan mengiyakan.
Malam harinya Rahma tidur sendirian sedang kan Elpan tidur bersama dengan Wanda, dalam hati Rahma saat ini Rahma ingin sekali menjerit meratapi nasibnya.
Namun Rahma harus kuat dia berambisi untuk menjadi kuat dia tak mau Elpan dan mamahnya serta Wanda berpikir kalau Rahma cengeng dan wanita lemah.
Dia ingin Elpan tau kalau hal yang sudah Rahma ucapkan itu adalah benar, Rahma ingin membuktikan kalau Elpan benar benar mandul, dan Rahma sangat yakin kalau Wanda tak akan punya anak dari Elpan.
(Doa mu terkabul Rahma hanya saja Wanda punya anak dari orang lain).
Sebuah mukena berwarna putih cerah dengan motif bunga sedikit di ujung nya.
Rahma berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar Villa yang Rahma tempati.
Rahma mengambil Wudhu, hal ini sudah lama tak Rahma lakukan bahkan Rahma lupa kapan terakhir kali dia melaksanakan sholat lima waktu.
"Ya Alloh apa seberdosa ini kah aku" gumam Rahma.
Rahma melaksanakan Sholat Isya karena terdengar oleh Rahma kalau baru saja Adzan di mesjid.
Karena letak Villa itu ada di bukit perkampungan jadi suara adzan terdengar jelas di sana.
Apa lagi keadaan yang sangat asri membuat telinga senyap tak seperti di kota yang bising karena kendaraan.
Setelah selesai melaksanakan Sholat Rahma langsung menengadah kan tangan nya berdoa kepada yang maha kuasa atas masalah kehidupan nya.
Namun jika ingin hal itu Rahma mengingat wanita yang dia temui di bandara tempo lalu, karena Rahma berpikir kalau takdir kehidupan nya akan sama seperti wanita itu.
"Ya Alloh kalau memang ini yang terbaik maka aku akan ikhlas ya Alloh" ucap Rahma sambil mengusap kan tangan nya pada wajah nya.
Lalu Rahma melipat kembali mukena dan sajadah nya.
Rahma membaca buku kisah kehidupan Rasulullah Saw yang dia beli di toko buku kemarin.
Sedangkan di kamar sebelah Elpan hanya diam saja dia seolah tak tertarik pada Wanda padahal dia sebelum menikah sangat senang jika bersama dengan Wanda.
"El" ucap Wanda.
"Aku akan kembali" ucap Elpan yang langsung pergi dari sana menuju dapur.
Elpan terduduk di kursi meja makan, dia merasa sangat bersalah karena sudah melakukan hal itu pada Wanda.
"Aku merasa kasihan pada Rahma" gumam Elpan.
Wanda memakai linge rie andalan nya untuk menggoda Elpan.
Dia berjalan ke arah dapur tempat Elpan duduk.
Saat ini Elpan tengah minum wine, padahal Elpan bukan tipikal orang yang suka mabuk, hanya satu dua kali saja Elpan mabuk dan sekarang dia meminum nya lagi.
Wanda datang ke sana dengan baju transparan yang sangat minim.
"El" ucap Wanda.
Elpan memandang Wanda dengan tatapan buas, dengan cepat dia menarik Wanda ke dalam dekapan nya.
Saat ini Elpan seolah sangat berhas rat untuk melakukan hal itu dengan Wanda.
Mereka melakukan ciuman panas di meja makan, saat ini Rahma akan mengambil air karena dia merasa sangat haus.
Namun mata Rahma tetap fokus pada buku yang dia baca.
Hingga sampai di ambang pintu dapur Rahma mendengar suara desa han dan ternyata suara itu datang dari Elpan dan Wanda yang tengah melakukan hal itu di meja makan.
"Astaghfirullah" ucap Rahma yang langsung menjatuhkan buku dari tangan nya.
Rahma berjongkok karena akan mengambil buku itu, Elpan sadar saat ada Rahma di sana.
__ADS_1
Elpan dengan cepat mendorong Wanda dan langsung mendekat pada Rahma.
"Rahma" ucap Elpan.
Namun Rahma tak menjawab dia hanya langsung saja berlari ke kamar nya, dengan cepat Rahma mengunci pintu nya dan menangis sejadi jadinya.
"Pah aku gak kuat hikss hikss.." Rahma menangis sesenggukan.
Rahma menenggelamkan wajahnya ke bantal nya.
Sedangkan Elpan saat ini tengah menggedor pintu kamar Rahma Dia ingin Rahma membuka pintu nya.
"Ayolah El mungkin Rahma sedang ingin sendiri" ucap Wanda.
Elpan ikut saja apa kata Wanda mereka masuk ke dalam kamar dan melanjutkan sesuatu yang terhenti tadi.
Pagi hari nya Rahma di bangun kan dengan suara burung berkicau, Rahma langsung keluar melihat pemandangan asri perkampungan.
Embun pagi memenuhi dedaunan, banyak sekali perkebunan teh di sana.
Ibu ibu datang ke sana karena akan memetik teh hijau yang baru saja mekar itu.
Rahma berjalan ke arah gerbang karena ingin melihat lebih dekat.
"Ternyata seindah ini perkampungan" gumam Rahma.
"Neng sedang apa" tanya salah satu orang itu.
"Ini Bu saya nginap di sini" ucap Rahma.
"Oh neng pemilik nya" tanya ibu itu.
"Ya suami saya pemilik nya" ucap Rahma.
Rahma melihat ibu ibu itu yang rela berdesakan dengan cabang teh, asalkan mereka bisa memetik pucuk teh itu.
"Bu berapa teh ini di hargai oleh pabrik" tanya Rahma.
"Hanya seribu delapan ratus neng" ucap ibu itu.
"Satu ikat" tanya Rahma.
"Satu kilo" ucap Ibu itu.
"Apa satu kilo hanya seribu delapan ratus, murah sekali" ucap Rahma.
"Ya neng mau bagai mana lagi" ucap ibu yang lain.
"Oh ya kalau ibu paling banyak menang berapa kilo" tanya Rahma.
"Ibu paling banyak hanya 80 kilo" ucap ibu itu.
"Oh berarti ibu punya gaji 144 ribu persatu hari nya ya" tanya Rahma.
"Ya itu juga gaji kotor neng, belum bayar utang pada koprasi belum sekolah anak belum ini belum itu" ucap ibu itu.
"Oh ya aku baru tau" ucap Rahma.
"Begitu lah neng mau tak mau kami harus bekerja karena kalau kami gak kerja mau dari mana kami dapat uang" ucap Ibu ibu.
"Ya aku paham" ucap Rahma.
"Neng dari mana" tanya ibu itu.
"Saya dari kota" ucap Rahma.
"Oh ke sini sedang apa, karena setau kamu villa ini sudah lama kosong" tanya Ibu itu.
"Kami hanya ingin jalan jalan saja menikmati keindahan alam" ucap Rahma.
"Oh" ucap nya.
"Baik lah Bu saya permisi" ucap Rahma.
"Ya" ucapnya.
Rahma masuk ke dalam karena sekarang Rahma sangat ingin sarapan, terlihat di dapur sudah ada juru masak yang kemarin.
"Selamat pagi" tanya Rahma.
"Pagi nona" ucapnya.
Rahma terkejut ternyata yang masak nya itu adalah seorang laki laki, lalu yang kemarin perempuan dia hanya lah asisten nya.
"Jadi kamu yang masak" tanya Rahma.
"Ya nona" ucapnya.
"Masakan kamu enak, siapa nama kamu" tanya Rahma.
"Nama saya Ahn Roy" ucapnya.
"Ahn" tanya Rahma.
"Ya saya dari Vietnam" ucap nya.
"Oh pantas nama kamu terdengar asing, bisa aku panggil cheap Roy" tanya Rahma.
"Jangan panggil cheap panggil saja Roy" ucap Nya.
"Baik lah kamu mau masak apa" tanya Rahma.
"Masak rendang" ucap Roy.
"Bisa aku bantu" tanya Rahma.
"Jangan nona ada Hilma yang membantu saya" ucap Roy menunjuk pada seorang wanita.
"Oh apa dia istri mu" tanya Rahma.
"Bukan dia hanya rekan kerja" ucapnya.
"Oh baik lah aku akan buat teh hangat" ucap Rahma.
"Tak apa nona biar aku yang buatkan" ucap Roy.
"Jangan biar aku saja" ucap Rahma.
bersambung
__ADS_1