
" Wah wah, ini primadona sekolah kita", Sarah melihatku tajam tanpa malu-malu.
Aku memalingkan wajah dari Sarah dan mengambil tisu untuk mengeringkan wajahku. Aku berusaha untuk tidak terpancing.
" Saya bukan primadona sekolah ini kak", jawabku sabar.
Elsa menghampiriku tetapi teman-teman Sarah menariknya keluar dari toilet. Melarang siapa saja masuk jadi mereka bisa dengan leluasa bisa membullyku.
" Emmm ...kau ganjen banget ya ke Juan. Kau tau gak Juan itu hanya cocok kalau bersama saya. Nekat banget kau", kata Sarah tajam.
" Ha? Masa? Lagian saya gak ngejar kak Juan tu, kak Juan yang terus berlari ke arah saya? Jadi saya harus bagaimana?", aku melawan. Sudah lelah dengan hal-hal seperti ini.
" Sombong sekali anak ini", teman Sarah berang sambil mendekatiku.
Sarah tertawa pelan " Juan bukan tipe yang akan berlari ke arah cewe, apalagi sampai ngejar-ngejar. Dan kau harus sadar, kau tuh anak baru.. gak tau diri… gak tau malu…sok kecantikan ", Sarah mendorong-dorong bahuku dengan jarinya.
Aku tersenyum penuh arti. Aku menggaruk dahiku yang tidak gatal.
" Jadi sekarang kak Juan terus datang kepada saya itu apa namanya? Suka? Cinta? Penggemar? Kak Sarah gak usah cemburu, mending kakak belajar yang benar biar lulus UN", aku berkata penuh keberanian.
Aku melihat Sarah sangat kesal " Dasar cewek kegatelan", dia mendorongku dan membuatku terjatuh di dekat wastafel.
Aku sangat marah, tapi kakiku lemas dan tanganku gemetar karena kaget. Salah seorang teman geng Sarah menyiramkan air dari ember yang ada di sudut ruangan.
Byuuurrr.... baju seragam putih dan celana olahragaku basah. Aku sempat menyesal karena buru-buru menganti baju olahragaku dengan baju seragam.
"Peringatan buat kau yang sok kecantikan dan…", Sarah belum selesai bicara saat seseorang berteriak dengan suara yang cukup menggelegar dari belakangnya.
" SARAH !! ".
Kami serempak melihat ke arah itu. Kak Juan berdiri dengan raut wajah yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Dia murka.
Sarah yang melihat Juan langsung ketakutan begitu juga teman Sarah.
Aku meneteskan air mata saat melihat Juan datang, ingin rasanya aku berteriak kepada Juan untuk menolongku.
" Sarah kau.... kau gila ya ", Juan berbicara dengan tercekat sambil melihat ke arahku yang berusaha berdiri.
" Eh hei Juan… kok kamu … ada di sini?", Sarah tergagap.
Juan maju mendekatiku, merengkuh wajahku, melihat mataku berkaca-kaca seperti ingin menangis.
Tangan Juan bergetar karena kemarahan. Juan membantuku berdiri dan meminta Elsa membawaku pergi ke UKS.
Aku meninggalkan toilet itu tanpa suara. Tapi aku sempat melihatnya menarik tangan Sarah dengan paksa entah ke mana.
***
Aku sudah berganti baju dengan baju olahraga milik Juan. Bajunya terlalu besar tapi aku merasa nyaman, rok seragamku untung tidak terkena siraman air.
" Hah, untung aku selalu bawa baju dalam cadangan ke mana-mana. Kalau gak bisa malu aku", kataku pada Elsa yang menolongku membawakan tas sekolah ke UKS.
" Embun maaf ya, aku gak bisa nolongin kamu tadi. Mereka mainnya keroyokan. Jadi aku gak punya pilihan untuk minta bantuan", kata Elsa merasa bersalah.
"Sa makasih ya. Aku malah takut kamu tadi di apa-apain", kataku lalu berpelukan dengan Elsa.
Aku menangis pelan, Elsa menenangkan aku. " Kamu pasti takut ya? Maafin aku ya", kata Elsa.
" Kamu yang manggil kak Juan ya", tanyaku sambil menyeka air mata yang mengalir di pipiku.
__ADS_1
" Iya, soalnya ruang guru kejauhan. Aku takut sebenarnya sama kak Juan, jadi aku samperin kak Adam. Nah kak Adam yang manggil kak Juan", cerita Elsa.
Aku mengangguk. Elsa menepuk bahuku.
" Sekarang kamu istirahat ya, aku sudah izin ke bu guru kalau kamu sakit. Nanti pulangnya aku samperin ke sini".
" Iya, makasih ya Sa ", kataku lalu berbaring. Kepalaku sakit luar biasa, obat pereda nyeri yang aku minum belum bereaksi. Ku pejamkan mataku lalu entah sejak kapan aku mulai terlelap.
***
Aku tidak tau berapa lama aku tertidur. Saat aku bangun cahaya matahari dari jendela sedikit berwarna jingga.
" Astaga, jam berapa ini. Udah gila aku ketiduran di sini. Elsa mana sih, kok gak bangunin", aku cepat-cepat meraih tasku untuk mengambil Hp.
" Baru jam 4. Aku kira kamu bakal tidur sampai pagi. Jadi aku udah siapin cemilan dan kompor kemping buat masak makan malam ", Seseorang dari tempat tidur di sebelahku berbicara.
" Kak Juan, ngapain di sini?", aku kaget melihat Juan.
" Jagain kamu. Elsa sudah ku suruh pulang, kasihan kalau kesorean. Gimana? Sudah siuman? Mau pulang atau tinggal di sini? Besok tanggal merah sekolah libur", Kata Juan panjang lebar.
Aku manyun, berapa menit berikutnya aku sudah duduk di jok kursi belakang motor Juan.
" Kak ", aku memanggil pelan saat di atas motor.
" Hmm ?", Juan menyahut.
" Emm… maafin aku yang kemarin ya. Aku emosian", kataku pelan.
Juan tiba-tiba menghentikan motornya di pinggir jalan.
" Kamu bilang apa? Aku gak dengar", kata Juan sambil melepas helmnya.
Juan melihatku dengan tatapan penuh kemenangan
" Oke aku maafkan".
Aku tersenyum, entah karena beban hatiku yang terangkat atau karena Juan mau berbaikan denganku " belikan aku nasi goreng ya", kataku seenaknya saat naik ke atas motor.
Juan tertawa " jadi aku yang traktir ya. Bolehlah kalau nasi goreng, jangan yang mahal dulu. Aku lagi bokek gara-gara kamu", Juan berkata amat sangat jujur.
" loh kok aku. Emang aku minta apaan. Kan gak pernah, paling bakso, cilok, martabak", kataku yakin.
" Kamu lupa aksi kamu membawa teman sekelas mu itu. Untung bukan seangkatan yang kamu bawa".
Aku tertawa di punggung Juan " Iya iya. Maaf deh".
Juan tersenyum dan membawa motornya membelah langit sore kota Ruteng, dengan aku yang mulai nyaman bersandar di punggungnya.
****
Besoknya aku benar-benar sakit, Flu berat. Juan datang ke rumahku tetapi aku tidak bisa pergi bersamanya, katanya dia ingin menunjukan pohon enau kepadaku.
" Kamu gak apa-apa?", Juan terlihat cemas.
" Gak apa-apa kok, paling istirahat 2 hari juga sembuh", kataku meyakinkan.
" Jadi besok kamu gak masuk sekolah?", tanya Juan lagi.
Aku mengangguk sambil mengambil tisu di atas meja dan membersihkan hidungku.
__ADS_1
" Kamu pulang gih. Ntar ketularan loh ", usir ku.
" Aku gak akan tumbang cuma karena flu doang. Tenang saja", katanya menyombong. " kamu mau makan apa?".
" Aku pengen makan ketan merah tapi gak pakai kacang hijau. Aku gak suka kacang hijau", kataku lalu mengambil posisi berbaring di sofa.
Juan membantuku memakaikan selimut sampai ke leherku. Kepalaku rasanya sakit mungkin karena hidung yang tersumbat dan aku tidak tau penampilanku seperti apa saat ini di hadapan Juan.
Untuk pertama kalinya Juan menyebut namaku dengan benar.
" Embun, aku keluar bentar ya. Aku cariin ketan merahnya, nanti aku balik lagi", kata Juan.
" Kakak mau ke mana? Disini aja", aku refleks memegang tangannya. Mungkin saat ini sel-sel kepala di otakku sedang tidak bekerja dengan baik jadi aku melakukan hal yang benar-benar aneh.
Antara tidur dan tidak, aku merasa Juan menggenggam tangan kananku cukup erat.
" Juan ", aku memanggilnya tanpa embel-embel kakak dan sebagainya.
" Ya embun. Kamu mau sesuatu ?", Juan sedikit mendekat ke arahku.
" Kemarin… kamu lama banget datangnya. Padahal… aku… takut… banget", kataku setengah ngantuk.
Tidak ada respon dari Juan. Dan aku tertidur dalam keheningan.
***
Aku terbangun dan meregangkan badanku di atas tempat tidur. Obat flu yang aku minum benar-benar ampuh, saking ampuhnya aku sampai tidur seperti orang yang pingsan.
Aku melihat hp ku, sudah jam 7 pagi, Seingat Ku terakhir kali aku terlelap di sofa ruang tamu, tapi sekarang aku terbangun di atas tempat tidurku.
" Apa aku sempat bangun untuk pindah ke kamar ya? tapi kok gak ingat. Oh mungkin si bibi yang bersusah payah mindahin aku", aku bergumam dengan diriku sendiri. Mencari-cari sandal di bawah kolong tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Aku ingin minum air.
Aku melihat bibi sedang memasak di dapur. Bibi yang mengabdikan diri untuk merawat ku dari kecil ikut pindah bersamaku sampai ke sini.
Katanya kasihan Embun kalau tidak ada yang urusin, karena bibi yang tau semua kebutuhanku sejak aku di lahirkan dan sebelum mama meninggal, mama menitipkan aku kepada bibi.
" Bi masak apa?", tanyaku sambil memeluk lengan bibi yang gempal.
" Eh eneng udah bangun? Ini bibi bikin bubur ketan merah. Buat neng, kan kemarin eneng minta di buatin".
" Masa? Kapan aku minta? ", aku berusaha mengingat.
" Loh kemarin sama nak Juan, eneng minta di beliin bubur ketan merah", terang bibi.
" Ha? Beneran bi? Masa sih? Emang Juan di sini sampai jam berapa?", aku sedikit terkejut sampai melepas pelukanku.
" Sampai malam. Itu nak Juan mau pulang eneng larang, akhirnya nak Juan temani deh, kasihan sampai tidur di karpet. Ini beras ketannya kan nak Juan yang beli di pasar. Katanya gak ada yang jualan bubur kacang ketan merah eh di beliin metahannya. Tuh di kulkas cemilan banyak banget buat neng Embun dari nak Juan", Bibi menjelaskan panjang lebar seolah-olah Juan adalah anaknya.
Aku bengong. " Siapa yang mindahin aku ke kamar ? Bibi kan? Bener kan?", aku bertanya penasaran dan penuh harap bahwa bibilah yang memindahkan ku.
Bibi nyengir " Mas Juan atuh neng. Bibi mana kuat".
Badanku rasanya lemas ingin pingsan lagi " Tidaaaaakkk….kenapa bi? Kenapa bukan bibi?", tanyaku memegang ujung daster bibi.
" Aduh neng maaf. Bibi udah tua, kalau bibi paksain gendong eneng bibi bisa encok. Kalau biarin eneng tidur di ruang tamu kasihan, eneng kan tidurnya kayak kuda. Hampir jatuh mulu dari sofa", kata bibi tidak enak hati.
Aku berdiri dan memegang pundak bibi " makasih bi", aku berlalu meninggalkan bibi di dapur, lupa bahwa tujuanku ke dapur adalah minum air.
" Neng jangan lupa bilang terima kasih sama nak Juan nanti ya", bibi berteriak padaku.
__ADS_1
***