Merpati Kertas

Merpati Kertas
CINCIN BERBENTUK HATI


__ADS_3

Aku resmi mulai cuti hari ini, setidaknya bebanku berkurang dan aku bisa fokus pada sekolah spesialis yang sedang ku ambil. 


Aku termenung di kantin kampus. Memikirkan apa yang terjadi tadi malam. Nandes seperti mengeluarkan semua kemarahan dalam hatinya padaku agar aku bisa merasakannya tapi sekaligus menunjukan betapa dia mencintaiku.


Saat aku bangun tadi pagi dalam pelukannya, dia sedang menatapku dengan tatapan hangat. Dia mencium mataku, pipiku lalu keningku. Begitu melihatnya aku merasa hariku menjadi indah. Aku meraih wajahnya, menelusuri bibirnya dengan jariku dan menemukan sebuah cincin dengan mata berbentuk hati yang sangat manis tersemat di jariku. Aku tidak tahu kapan Nandes memasangnya. Aku melihat ke arah Nandes dan menangis bahagia ketika dia mengatakan


" Aku akan bertemu ayahmu secepatnya. Aku mau kita menikah", dia berbisik padaku. Aku memeluknya erat, sangat bahagia  menerima lamaran di pagi hari seperti itu. 


Aku kaget karena telepon berdering, Elsa menelponku. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengannya. Aku ingin menceritakan bagaimana Nandes melamarku di atas tempat tidur. Aku ingin berbagi kebahagiaanku dengannya, pasti Elsa senang mendengar berita ini.


" Halo Sa", aku mengangkat telepon. 


" Hai…. Gimana gimana? Ada kemajuan?", Elsa menanyakan dengan tingkat kepo di atas maximal.


" Iya ada.. aku dilamar Nandes tadi pagi di tempat tidur saa. Hmmmm… romantis banget gak", aku cekikikan gak bisa menahan rasa bahagiaku. 


" Waaah beneran? Akhirnya ya Tuhan. Aku kira kamu akan menjomblo selama itu. Jadi kapan lamaran resminya?", Elsa bertanya.


" Belum. Nanti ketemu ayahku dulu. Eh udah ya nanti malam kita ketemuan. Berempat",aku mengakhiri telepon dan di iyakan oleh Elsa. 


Nandes menjemputku didepan gerbang. Saat aku masuk ke dalam mobil Nandes menyodorkan bunga kepadaku. Buket bunga mawar besar berwarna merah muda yang cantik sekali.


" Untukku?", tanyaku senang.


" Bukan. Untuk ibumu", Jawab Nandes santai. Aku berdecak kecewa. Nandes tertawa kecil " Nanti aku belikan taman bunga yang besar untuk kamu", Nandes mengelus kepalaku sayang.


Aku cemberut, mobil Nandes melajau menuju rumahku. Sebelum masuk rumah Nandes duduk didalam mobil sedikit gelisah.


" Kamu kenapa?", aku bertanya melihat Nandes yang tidak tenang seperti itu.


" Aku? Gugup. Bagaimana kalau ayahmu tidak suka padaku? atau tidak mau kamu menikah denganku?", Nandes melihat ke arahku.


" Ha? bukannya kamu akrab dengan ayahku. Sering main catur bareng? Aku kira kamu sangat siap untuk bertemu dengan ayah dan ibu", aku menggoda Nandes.


Nandes melirik ke arah pintu rumahku "karena aku akrab dengan ayahmu makanya aku gugup. Dia sering membicarakanmu. Menceritakan semua masa kecilmu padaku dan memintaku menjagamu. Rasanya aku seperti menghianati seorang teman".

__ADS_1


Aku semakin semangat menggodanya " Emm.. berarti ayah curiga padamu. Pantas dia menanyakan kapan kamu datang ke rumah sebagai pacarku?!. Sepertinya ayah tahu kamu meniduri anak perempuannya".


Nandes melotot ke arahku " Oh ya? Apa om benar tahu?".


" Iyaa... dia tahu", aku mengangguk yakin.


Nandes memegang dadanya dan menyandarkan kepalanya di setir mobil. Aku cekikikan sambil menutup mulutku. Bagaimana mungkin nyalinya menciut seperti itu.


" Oke.. kalau om bertanya soal itu aku akan bilang putri om yang menggoda saya dengan baju tidur yang punggungnya bolong dan label harganya belum di cabut", Nandes berkata dengan tegas.


Aku kaget "Apa? dasar kamu lempar batu sembunyi tangan", aku memukul bahunya.


" Tapi itu kenyataan kan? kamu lupa?", Nandes balik menggodaku. Wajahku memerah. Nandes tertawa puas.


" Ya udah ayo ah. Kamu mau ketemu ayah atau gak?", aku melepas sabuk pengamanku.


Nandes meraih tanganku " Embun, bagaimana kalau ayahmu tidak suka padaku?". Nandes benar-benar gugup.


" Ayah pasti menyukaimu. Aku yakin ", aku memeluk Nandes menenangkannya.


Saat berhadapan dengan orang tuaku Nandes terlihat sangat kaku dan tidak serileks biasanya.


" Jadi ada keperluan apa Nandes?", Ayahku bertanya tegas.


" Saya ke sini ingin menyampaikan bahwa saya ... ehem... saya", Nandes gugup. Ayah dan ibuku menunggu dengan sabar. " Saya ingin menikahi anak Om", lanjut Nandes.


Ayah dan ibuku cukup terkejut mendengar pernyataan itu. Lalu ibuku tersenyum padaku sepertinya dia senang sekali mendengar kabar itu.


" Apa yang membuatmu yakin untuk menikahi putriku?", Ayahku bertanya dengan wajah yang sangat serius.


" Aku mencintainya dengan jiwaku. Aku ingin membahagiakannya dan menghabiskan sisa hidupku bersamanya", Nandes menjawab dengan menatap mata Ayahku.


Cukup lama ayahku terdiam melihat keyakinan di setiap perkataan dan tatapan mata Nandes, lalu dia mengangguk.


" Tidak semua wanita seperti ibumu. Tidak semua pria seperti ayahmu", Ayahku berbicara sambil menatap aku dan Nandes.

__ADS_1


Lalu ayahku menatap Nandes " Cintailah anakku seperti kamu mencintai ibumu. Sayangilah dia dengan sepenuh hatimu. Aku merestui kalian berdua".


Air mata Nandes menetes. Nandes melihatku dan tersenyum. Aku menangis bahagia, aku sangat bahagia melebihi apapun. Ayahku merangkul Nandes dan ibuku menggandeng tangaku.


" Ayo kita makan bersama. Ibu sudah masak banyak sekali", Ibuku tersenyum mengajak kami menuju ruang makan.


***


Aku menunjukkan cincinku di depan wajah Elsa.


"Jadi?", Elsa bertanya penasaran.


" Keluargaku setuju", aku menjerit kecil sambil berjingkrak. Elsa ikut berjingkrak. Kami seperti dua anak kecil yang menerima hadiah permen. Nandes dan Adam tersenyum melihat tingkah kami.


" Sayang, ayo kita ngobrol sambil makan saja", Nandes mengusap kepalaku.


"Iyaa. Ayo masuk. Aku sudah reservasi tempat untuk kita", Adam melanjutkan.


Kami masuk ke restoran yang di pilih Adam dan Elsa. banyak hal yang kami bincangkan sambil makan bersama, terutama Adam dan Nandes yang membicarakan bisnis yang sedang mereka geluti bersama.


" Embun, sepertinya Juan terlalu menyukaimu", Elsa berbicara kepadaku saat kami di toilet.


Aku diam saja sambil mencuci tangaku di westafel.


" Banyak hal berubah Sa. Mungkin dia bingung dengan perasaannya padaku. Tapi aku sudah mendorongnya menjauh. Aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya", aku bebicara sambil menatap cermin.


" Tapi Embun, menurutku kamu harus berhati-hati terhadap Juan. Dia sepertinya bisa melakukan apa saja untuk mendapatkanmu", Elsa memperingatiku.


Aku mengangguk "Aku rasa tidak. Dia pasti akan melupakanku jika tahu aku akan menikah dengan Nandes", aku meyakinkan diriku sendiri


" Ya, aku harap seperti itu", Elsa meragukan perkataanku.


Aku memikirkan apa yang di katakan Elsa padaku. Tapi Juan tidak akan seperti itu kepadaku. Dia tidak akan menyakitiku. Aku meyakinkan diriku sendiri.


Tapi seharunya aku mendengarkan Elsa. Aku terllau menganggap enteng perasaan Juan padaku. Hari dimana Juan mengatakan ingin memilikiku datang. Hari dimana aku patah hati untuk yang kedua kalinya karena cinta pertamaku.

__ADS_1


***


__ADS_2