
“ Bella hentikan”, aku menegur Bella yang terus merengek padaku untuk diberikan apartemen.
“ Kakak, aku tidak mau tinggal bersama ibu. Dia selalu mengatur hidupku”, Bella terus merengek.
Aku memijat keningku pelan. Melihat aku mengabaikannya Bella mendengus dan berjalan masuk ke dalam kamar. Lalu dia kembali lagi dan berteriak padaku “ kak, pacarmu sudah bangun”.
Aku tersentak dari duduk dan berjalan cepat menuju ke arah tempat tidur. Jeni terduduk di sana memandang bingung ke arah Bella. Seperti paham akan situasi Bella langsung memelukku dan bersikap manja.
“ Sayang lihat wanita itu sudah bangun”, Bella berakting seolah-olah dia adalah pacarku.
Jeni menatapku bingung. Aku menghela nafas dan menoyor kepala adikku pelan. “ Bodoh, wajah kita mirip. Dia tidak akan percaya pada aktingmu”.
Bella memegang kepalanya “ Ck, kasar ih. pantas jomblo”.
Aku berdiri di pinggir tempat tidur lalu menatap Jeni lekat-lekat. “ Kau sudah sadar? pingsannya lama sekali”.
“ Berapa lama?”, Jeni bertanya.
“ 2 hari”, jawabku serius.
“ Apa?”, Jeni terkejut dan berusaha mencari-cari sesuatu.
“ Kau mencari apa?”, tanyaku.
“ Ponselku”, dia menjawab sambil berusaha turun dari tempat tidur.
Bella tertawa keras “pacarmu mudah sekali di bohongi”.
Jeni berhenti dari aktivitasnya mencari ponsel “ apa maksudmu?”, tanyanya pada Bella.
“ Kakak, kamu hanya tertidur kurang dari 24 jam”, Bella menjelaskan dengan santainya.
Jeni menatapku yang langsung berbalik hendak meninggalkannya, tapi tiba-tiba sebuah bantal mendarat di kepalaku. Membuat suasana hening.
plok… plok… plok….Bella bertepuk tangan. “ Wah hebat, kakak hebat sekali”, Bella memberikan jempol ke arah Jeni.
Jeni menggelengkan kepala lalu berjalan masuk ke kamar mandi, tapi dia keluar lagi dan berjalan menuju ke arahku yang masih tidak percaya dia berani melempar bantal ke arahku.
“ Aku ingin mandi”, katanya.
“ Lalu? mau aku temani?”, aku mengganggunya.
__ADS_1
“ Kamu mau dilempar vas bunga?”, Jeni menatapku kesal.
Aku tertawa “ Bella, pinjamkan baju rumahmu pada pacarku. Nanti kita belanja”, aku berbicara ke arah Bella.
Jeni mencubit lenganku pelan “ aku bukan pacarmu”, bisiknya. Aku mengabaikannya lalu berjalan menuju ruang kantorku.
“ Oke baik”, Bella menjawab dengan bersemangat lalu mengobrak abrik koper miliknya.
Jeni mengikuti di belakangku, saat aku berbalik dengan cepat dia berjinjit dan berbisik “ Terima kasih”, lalu berlari menuju kamar mandi. Aku tersenyum melihatnya.
Ponselku bergetar, aku meraih benda tipis itu dari saku celana. Asisten ibuku, apalagi yang dia inginkan dariku.
“ Halo”, aku menjawab malas.
“ Selamat siang tuan”, asisten ibuku berbicara di telepon. Aku mendengar suara sumbang berbisik- bisik di belakangnya, yang kutahu itu adalah ibuku. Aku tahu dengan pasti, ibuku sedang menyusun strategi agar aku bisa pulang ke rumah utama dan menjodohkanku dengan wanita pilihannya.
“ Ada apa?”, aku bertanya tanpa basa basi.
“ Nyonya sakit tuan. Jika tuan ada waktu nyonya minta di jenguk”, katanya pelan.
“ Aku akan menyuruh Bella pulang. Untuk sekarang aku masih sibuk, panggilkan dokter keluarga. Salam untuk ibu”, jawabku langsung menutup telepon.
***
“ Mau sampai kapan kau ada di sini?”, aku bertanya kepada Bella saat kami makan malam bertiga. Aku, Bella dan Jeni duduk mengelilingi meja makan kecilku.
“ Aku tidak berencana untuk pulang, jadi aku akan tinggal di sini dan bermain bersama kakak iparku ini”, Bella menatap Jeni dengan mata berbinar.
“ Tapi aku tidak tinggal di sini. Dan lagi Bella aku ini bukan pacar kakakmu”, Jeni memberi penjelasan.
Bella terdiam sesaat “ Apa? Jadi kalian sudah menikah?”. Pertanyaan Bella membuat Jeni terbatuk-batuk kaget. Aku biasa saja mendengar ocehan Bella yang tidak jelas itu.
“ Bukan itu maksudku. Em. Begini Bella. Ada satu kejadian yang membuat aku dan kakakmu terpaksa harus berteman. seperti itu ",Jeni menjelaskan.
Bella diam lagi berusaha mencerna kata-kata Jeni. Aku meletakan piring di depan Bella dengan daging yang sudah aku potong kecil-kecil.
“ Kau tidur dengan kakakku? apa kau hamil?”, Bella bertanya lagi dengan polosnya.
“ Bukan Bella… Bukan itu maksudku. Juan jelaskan padanya”, Jeni menyenggol kakiku di bawah meja.
__ADS_1
“ Biarkan saja, namanya juga anak kecil”, aku cuek. Jeni melotot ke arahku tidak senang.
“ Ck. Ya apapun yang terjadi, pasti ada sesuatu yang spesial. Karena selain aku tidak ada wanita lain yang pernah masuk dan tidur disini, bahkan ibu sekalipun. Dan juga baru pertama kali ku lihat wanita yang melempar bantal ke kepala CEO tersayang kita ini dan dengan mati-matian tidak mau mengakuinya sebagai pacar. Hanya kamu wanita itu”, Bella berkata yakin sambil menunjuk ke arah Jeni.
" Aku? aku tidak akan terpesona pada pria kasar ini", Jeni berkata tegas membuatku tersenyum sinis.
" Ya betul dia memang kasar. Tapi kalian pasti menyimpan rahasia kan? aku tahu itu", Bella memaksa.
Jeni menghembuskan nafas panjang pasrah pada pemikiran Bella. Dia mengangkat gelasnya ke arahku dan refleks aku menuangkan jus jeruk ke dalam gelasnya. Jeni langsung meneguknya dalam sekali tarikan nafas.
Dan tentu saja Bella menatap Jeni dengan mata berbinar. “ Aku kagum padamu kakak ipar. Hanya kau yang membuatnya melakukan hal seperti itu ”.
“ Aku bukan kakak iparmu”, Jeni keras kepala.
Aku tidak tahu setelah perdebatan di meja makan itu mereka malah menjadi lebih akrab. Selalu berbisik-bisik dan terdiam ketika aku lewat. Mereka sedang bersekongkol melawanku. Yang satu karena punya dendam lama, sedangkan yang satu karena permintaannya tidak dikabulkan.
“ Jeni”, aku memanggil dari ruang kerjaku.
“ Ya”, Jeni menjawab dari luar dan berlari masuk ke dalam ruang kerja.
Dia berdiri di hadapanku menunggu. “ Surat sertifikat tokomu ada padaku”, kataku tenang.
Matanya berbinar “ Benarkah? terima kasih karena kamu sudah mengambilnya untukku”, Jeni bersemangat.
“ Ya sama-sama. Tapi surat itu akan ku tahan sebagai jaminan jika kau tidak akan kabur dariku. Ingat pencuri kecil, kau punya kontrak kerja bersamaku”, aku memelankan suaraku.
Jeni mengangguk cepat,lalu dia bernafas lega. Aku menatapnya heran, apa dia tidak merasa tertekan aku menahan surat ini.
“ Kau tidak marah?”, tanyaku.
“ Tidak. Setidaknya aku tahu kau tidak akan memperlakukanku seburuk mereka. Tapi yang masih menjadi pertanyaanku, bagaimana surat itu bisa berada di tangannya? Apa kau tidak menangkap orang itu?”, Jeni menatapku.
“ Tidak. Dia langsung kabur saat Doni akan menangkapnya”, aku berbohong tanpa membalas tatapannya.
Dia terdiam, lalu mengangguk. “ Tuan sombong”, dia memanggilku. Aku menatapnya menunggu.
“ Terima kasih banyak, kau sudah menolongku”, dia meraih tanganku dan menggenggamnya.
Aku tergagap “hm”, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
Dia melepaskan tanganku lalu berjalan keluar dari ruangan tanpa tahu perbuatannya membekas di pikiranku.
__ADS_1
***