Merpati Kertas

Merpati Kertas
NANDES: SEBUAH KEBENARAN


__ADS_3

Aku duduk menegak minuman di depanku. Aku duduk di ruang privasi dengan Alex di sampingku. Monica berjalan masuk, ke dalam ruangan bersama pacarnya.


 " Aku kira kamu sudah menjadi bapak rumah tangga yang baik dan tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat ini lagi?, Monica menyindir halus.


" Aah.. Monica aku tidak ingin berdebat denganmu. Biarkan aku menikmati minumanku", Aku menyandarkan kepalaku di sofa. 


" Oke, aku akan bersenang-senang dengan pacarku", Monica pergi bersama pacarnya. 


" Alex duduk di sampingku memainkan hpnya. Kamu tidak pulang? Ini sudah jam 1 malam. Berbaikan saja jika bertengkar", Alex menasihati. 


" Alex aku bukan anak-anak", aku kesal. 


" Oke. Alex acuh tak acuh", teleponnya berdering " Halo Adam. Ada apa?", Alex menjawab telepon. 


Terdengar suara Adam mengoceh di sebelah. "Oh kami di club YB. Kau tau kan ruangannya", Alex menjawab lagi lalu menutup telepon. 


Alex menegak minuman di sebelahku. Dua orang wanita masuk, salah satunya langsung duduk di pangkuan Alex. Satunya lagi duduk di sebelahku. 


"Hai Bella, kamu semakin cantik setiap hari", Alex mengusap punggungnya. 


" Masa? Kamu juga semakin tampan setiap hari", wanita bernama Bella itu tersenyum genit ke arah Alex. 


". Bagaimana kalau malam ini kita bermain? ", Alex mengecup dagunya.


Bella tertawa cekikian turun dari pangkuan Alex. " Nandes, aku pergi dulu ya. Menikmati dunia ini".


Alex hendak beranjak saat aku memanggilnya " Alex, bawa semua wanitamu pergi",  aku berkata dingin sambil menyesap minumanku.


Alex menghela nafas, merasa gagal menghibur Nandes. " Common beib", Alex memberi kode kepada wanita itu untuk mengikuti mereka. 


Aku sendirian di ruangan itu. Memikirkan banyak hal, sambil menegak semua minuman di depanku. Kepalaku sedikit berputar, aku membuka satu kancing bajuku karena rasa panas lalu membaringkan kepala di sandaran sofa. 


Memijat kepalaku pelan. Aku membuka mata, aku terlalu egois. Ada hal yang Embun sembunyikan dari peristiwa waktu itu. Apa yang tidak aku ketahui? Aku mencoba berpikir dan kepalaku semakin sakit yang membuatku memejamkan mata.


Seseorang masuk ke dalam ruangan. Aku menghela nafas " Alex, apa lagi?".


Tidak ada jawaban tapi aku merasa seseorang naik ke pangkuanku, aku membuka mata karena kaget.  Nadia duduk didepanku. Wajahnya bersemu merah karena alkohol. 

__ADS_1


" Turun ", aku berusaha mendorongnya ke samping. 


" Aku menyukaimu Nandes. Lihat aku sedikit saja", Nadia mengencangkan kitan tangannya di leherku. 


Aku mulai kesal, kepalaku berdenyut karena sakit. " Aku tidak menyukaimu. Aku mencintai orang lain. Turun sekarang", aku mendorongnya sebisaku tapi Nadia malah memelukku erat. Dia menggigit telingaku pelan berusaha memprovokasi, Nadia mencium leherku dan berbisik pelan di telingaku. 


"Aku ingin bersamamu", Nadia menggigit pelan telingaku.


" Lepaskan aku dan turun Nadia", aku mengeretak tetapi tidak membuatnya takut. 


" Nandes !", sebuah suara yang sangat ku kenal memanggilku. Aku mendongak. Embun berdiri di sana, raut wajahnya berbeda. Ada kekecewaan tampak di wajahnya. 


Aku kaget tidak menyangka dia datang. Aku mendorong Nadia sedikit kasar dan membuatnya jatuh ke samping. Nadia meringis kesakitan. 


" Embun apa yang kamu lakukan di sini?", aku masih tidak percaya penglihatanku. 


" Kamu … selamat bersenang-senang", Embun melihat Nandia dengan tatapan sedih. Lalu berbalik meninggalkanku. Dengan cepat aku menarik tangannya, aku berusaha memberi penjelasan. 


" Embun ini tidak seperti yang kamu kira. Aku tidak mengkhianatimu", aku berusaha menjelaskan. 


" Embun ini tidak seperti yang kamu pikirkan", aku mencengkram pelan lengannya. 


Embun menatapku, matanya berkaca-kaca. Dia berusaha keras menahan tangisnya. Dia melepaskan diri dari cengkraman ku dan berjalan meninggalkanku sendiri.


Aku berusaha mengejarnya, tetapi Nadia menarik tanganku. "Mau ke mana? Hm, kita lanjutkan yang tadi", dia menelusuri dadaku.


" Minggir, aku ada urusan Nadia", aku berusaha lepas darinya.


" Siapa wanita itu? Apakah dia lebih penting dariku?", Nadia berkata sinis. 


Aku mencengkram kedua lengan Nandia kuat. Aku menatapnya tajam " aku sudah mengatakan berulang kali bahwa aku tidak menyukaimu. Apa kamu menyukai cara kasar? Agar kamu mengerti dengan perkataanku Nadia. Kita hanya sebatas rekan bisnis. Aku adalah bosmu. Jika kamu masih seperti ini, karirmu sebagai model akan berakhir. Kamu tau pasti seberapa mampu aku melakukannya", aku berkata dingin. 


Nadia terdiam, ada rasa ngeri di matanya saat melihatku. Dia tidak bisa berkata sepatah katapun. 


"Sekarang menyingkir dari jalanku", aku mendorongnya pelan ke samping. Lalu berlari menuruni tangga keluar club mencari Embun yang sudah tidak tampak lagi.


***

__ADS_1


Aku membawa mobilku dalam kecepatan yang cukup tinggi, sampai dirumah aku menyeruak masuk ke dalam ruang tamu tapi tidak menemukan Embun. Di manapun didalam rumah. Aku mulai panik, apakah Embun pergi meninggalkanku? 


Aku pusing, jantungku berdebar kencang. Aku meneguk sebotol air mineral dari kulkas. Setelah pikiranku sedikit jernih, aku keluar rumah dan di dini hari aku mengetuk rumah Adam. Dengan sangat tidak sabar aku menekan bel rumah mereka seperti pembuat onar. 


Adam keluar di ikuti Elsa yang menggunakan baju tidur mereka. " Nandes, ada apa? Ini jam 3 pagi", Adam panik melihatku yang tampak kacau.


" Apakah Embun ada di sini? Ada kesalahpahaman diantara kami. Dia belum pulang ke rumah. Aku… aku", aku tercekat.


"Masuk dulu", Adam menenangkanku.


" Tidak Adam, aku harus mencari Embun", aku tidak sabar  


" Nandes, ada hal yang harus kami sampaikan kepadamu", Adam berkata sabar. 


Jantungku berdebar tidak karuan. Ada apa? Apa yang terjadi? Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Dan duduk di ruang tamu. 


Elsa duduk di depanku. " Nandes, aku tau Embun ada di mana sekarang. Aku yang mengantarnya tadi. Tapi ada satu hal yang ingin ku katakan kepadamu. Aku tidak tahu apakah keputusanku ini benar atau tidak".


Aku menatap elsa menunggu, berusaha menenangkan diriku. 


" Nandes, aku menyimpan rahasia ini sudah lama. Maafkan aku. Embun ... saat kejadian bersama Juan... ", Elsa menarik nafas sama cemasnya seperti aku. " Saat dia menyayat tangannya, dia memiliki sebuah alasan".


" Elsa, jangan bertele-tele. Katakan ada apa? ", aku tidak sabar.


" Embun, diperkosa oleh Juan", suara Elsa bergetar.


Langit sepertinya runtuh ke atas kepalaku saat mendengar perkataan Elsa. Kepalaku rasanya berputar, hatiku hancur. Aku terpaku tidak bisa berkata apapun. Tidak bisa memberikam respon apapun. Kelebatan wajah Embun saat itu muncul di kepalaku. Wanitaku di perkosa oleh cinta pertamanya, bagaimana dia berusaha melindungi dirinya dengan membunuh dirinya sendiri. Apa bedanya aku dan Juan? aku memaksa egoku padanya. Aku menyakitinya tanpa tahu betapa terlukanya dia selama ini.


" Embun pergi darimu karena dia merasa tidak pantas untukmu. Merasa dia adalah wanita yang buruk, tunangan yang berkhianat. Embun mencarimu di club itu untuk menceritakan semuanya, tetapi aku tidak tahu apa yang terjadi sampai dia berlari keluar dengan air mata".


Alasan dia tidak ingin ku sentuh adalah karena dirinya belum siap memberitahuku. Dia takut aku tidak akan mencintainya lagi. Dia takut aku meninggalkannya. Dia takut aku menganggapnya buruk. Betapa bodohnya aku.


"Embun di mana Elsa?", aku bertanya dengan perasaan tidak karuan.


" Apartemen lama kalian".


***

__ADS_1


__ADS_2