
“ Papi, kenapa meminta maaf. Wanita itu menjambak rambutku, adikknya memukul anak kita. Aku tidak terima, wanita sampah itu beraninya menarik rambutku, adik kakak sama saja tidak tahu…”, wanita itu mengoceh belum sadar situasi.
“ Diam”, pria itu membentak membuat wanita itu kaget. “ Kalau kau urus anak ini dengan baik tidak akan terjadi hal seperti ini. Kau terlalu memanjakannya”, bentaknya lagi membuat istrinya tertunduk.
“ Bertengkarlah di rumah tuan Firawan. Nama anda Firawan, pemilik bisnis makanan beku, oh bukannya perusahaan ini bekerja sama dengan hotel dan G food kita Doni?”, aku membolak balik berkas di tanganku. “ Sayang sekali, sepertinya masalah kemarin belum memberimu pelajaran. Bagaimana kabar temanmu? Apakah bisnisnya sudah kembali?”, aku tersenyum mengejek.
Pria itu diam ketakutan “ Tuan maafkan saya”, pintahnya.
“ Hah. Kau kurang beruntung karena aku sedang dalam mood yang kurang bagus”, aku melemparkan amplop tipis ke depan wajah istrinya lalu berpaling melihat anaknya.
“ Hei nak! aku ingin tahu alasanmu membully adikku. Jawablah dengan jujur", aku bertanya dingin membuatnya takut.
“ Aku… aku… hanya tidak menyukainya”, katanya lagi.
Aku tertawa “ buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kau keluarlah aku ingin berbicara dengan orang tuamu”, kataku memberi perintah. Anak itu menurut dan keluar dari ruangan.
Aku menatap suami istri itu. “ Ini adalah amplop berisi kegiatan suamimu dan ini adalah amplop berisi kegiatan istrimu. Perlu kau tahu tuan Firawan, aku tidak pernah melepaskan begitu saja orang yang pernah mengusikku. Apalagi yang menarik robek baju wanitaku”, kataku dingin.
Istrinya langsung melempari suaminya dengan foto-foto yang ada di dalam amplop itu. Mereka lalu meributkan tentang perselingkuhan masing-masing. Aku lalu berdiri dan keluar dari ruangan itu. Anak itu berdiri di depan pintu menatapku takut. Dia tahu aku baru saja melakukan hal yang kejam pada keluarganya.
“ Aku memang jahat. Bencilah aku sesukamu, tapi ingat Nak di atas langit masih ada langit. Kalau kau merasa ayahmu adalah penguasa langit maka akulah yang menciptakan keberadaan ayahmu. Jangan pernah membully lagi”, aku berkata lembut padanya membuat dia ketakutan.
Aku berjalan di lorong “ Doni, urus kepindahan Bella dan tarik semua dana bantuan untuk sekolah ini. Beasiswa yang sedang berjalan selesaikan”, kataku tegas.
***
“ Kita langsung ke kantor”, aku berbicara kepada Doni di dalam mobil.
“ Baik tuan. Saya sudah menempatkan beberapa bodyguard di sekitar toko bunga milik nyonya”, lapor Doni.
Aku mengangguk. “ Doni belikan Jeni sebuah mobil baru”, pintaku. “ Aku kurang suka dia selalu menggunakan taxi ke mana-mana”, kataku lagi.
“ Eh tuan. Masalahnya adalah nyonya tidak bisa mengemudikan mobil”, terang Doni.
“ Ha? kau yakin?”, aku seperti tidak percaya.
__ADS_1
“ seratus persen tuan”, jawab Doni lagi.
“ Kalau begitu siapkan mobil baru sekaligus sopir yang bisa di percaya”, kataku.
“ Baik tuan. Akan saya siapkan”, jawab Doni.
“ Eh Doni…kalau bisa… sopirnya wanita”, kataku lagi.
“ Baik tuan”, Doni menjawab dengan senyum di wajahnya.
Ketika tiba di kantor hari sudah cukup siang. Aku berjalan cepat memasuki lobby, sekretarisku berjalan di sampingku. Saat didalam lift sekertarisku berbisik bahwa seorang direktur dari Group H ingin menemuiku tanpa membuat janji. Aku tersenyum mendengar itu.
“ Sambut mereka Doni. Ulur waktu selama mungkin. JIka perlu seminggu. Mari kita lihat seberapa cemas dia”, kataku
“ Baik tuan”, jawab Doni.
Maria sekertaris kantor ku pun mengangguk paham mendengar perintahku. Aku berjalan melewati ruang tunggu kantorku dan melihat ayah angkat Jeni sedang duduk disana menunggu. Aku berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikitpun, tapi aku bisa melihat dengan ujung mataku dia berdiri hendak menyapaku.
Aku memasuki ruang kantorku dan Doni menutup pintu di belakang kami.
“ Ya tuan. Saya mengirimnya dengan baik”, jawab Doni bangga lalu mengambil duduk di kursinya di pojok ruangan berseberangan dengan sofa tamu di depanku.
“ Selesaikan pekerjaanmu secepatnya. Kita harus segera pulang ”, kataku lagi.
“ Baik tuan. Sekedar mengingatkan anda, malam ini ada makan malam bersama di rumah utama”, kata Doni.
" Ada acara apa lagi? ”, Tanyaku dengan wajah datar.
Doni terdiam lalu melihatku “ sepertinya nyonya mengundang anak perempuan dari Xone farmasi tuan. Nyonya bersikeras tidak menerima pernikahan anda”,terang Doni.
“ Hmm”, jawabku acuh tak acuh. " Jadi ibu masih bersikeras ingin menjodohkan aku?",
" Ya tuan. Saya rasa nyonya tidak akan menyerah pada keinginannya", jawab Doni lagi.
" Sampaikan pada ibu, aku tidak akan datang jika bukan makan malam internal keluarga. Sampaikan juga padanya bahwa aku akan mengadakan acara makan malam untuk memperkenalkan istriku pada keluarga besar ", perintahku.
__ADS_1
" Baik tuan, akan saya sampaikan", jawab Doni.
***
Aku berjalan masuk ke dalam kamar hotelku. Malam sudah cukup larut, aku menemukan Jeni tertidur di sofa dengan TV yang masih menyala di depannya.
Aku meletakan jas kantorku dan berlutut agar wajahku sejajar dengan wajahnya. Aku menatap wajahnya yang tidur tenang.
" Jeni, ayo bangun. Jangan tidur di sofa", aku membangunkannya pelan sambil menowel pipinya.
Jeni mengerapkan matanya, lalu melihatku. "Kamu sudah pulang. Selamat datang tuan sombong", katanya lagi lalu kembali menutup matanya tertidur.
Aku menggelengkan kepala. " ayo bangun pindah ke atas tempat tidur", kataku lagi.
" Aku tidak bisa membuka mataku. Sepertinya ada lem di kedua mataku", jawabnya malas.
Aku tertawa terbahak-bahak. Lalu mengendongnya dalam kedua lenganku. Dia tidak protes sama sekali, malah melanjutkan tidurnya. Aku menatap wajahnya, hidungnya, bibirnya yang tampak menggoda. Aku menelan salivaku lalu berpaling dari wajahnya.
" Kau harus membayar besok karena aku mengeluarkan tenaga untuk ini", kataku.
" Hmm", Jawabnya makin menempelkan wajahnya di dadaku.
Aku berjalan menuju ke dalam kamar. Saat ini kami memiliki dua bed, aku meletakan Jeni di bed miliknya lalu menyelimutinya. Aku mematikan lampu tidur di samping bednya.
"Tidur yang nyenyak, besok kau harua melayaniku ingat", kataku sambil melihat wajahnya yang tertidur nyenyak.
Aku lalu berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diriku. Di bawah pancuran air aku berpikir bahwa aku menyukai gadis ini. Gadis ini mampu membuatku mengikuti segala keinginannya tanpa memaksa.
Tapi mengingat hal buruk yang pernah ku lakukan, aku menjadi ciut. Aku memejamkan mataku merasakan air hangat mengalir di punggungku.
"Ingat Juan, ini hanya urusan bisnis. Jika sudah selesai maka berhentilah", aku berbicara pada diriku sendiri.
Selama bersamanya aku akan berusaha mengubur semua perasaanku sedalam mungkin, toh Jeni pun menganggapku hanya seorang musuh jadi ini akan menjadi hal yang mudah.
Dan alam semesta berbicara lain, kadang apa yang kita pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan. Pada akhirnya aku terikat padanya dengan rantai yang kuat, yang membelengguku dalam ketakutan untuk mencintai.
__ADS_1
***