Merpati Kertas

Merpati Kertas
PENCURI MUNGIL


__ADS_3

Jeni terpaku di pintu, aku melihatnya memegang gagang pintu dengan kuat. Aku berdiri sangat dekat dengannya, warna bola matanya yang kuning keemasan seperti warna Amber menarik perhatianku .


“ Mau apa kamu”, Dia menatapku seolah tidak memiliki rasa takut sedikitpun.


“ Aku? Mau membalas perbuatanmu yang kemarin. Lupa?”, aku menatapnya datar. Senyum kemenangan tersungging di bibirku.


“ Terus, kau mau apa?”, Jeni masih menantangku.


Aku bertepuk tangan senang menemukan lawan yang sangat amat berani. “ Wah kau berani sekali ya wanita bar-bar. Selama ini semua orang yang melakukan kesalahan padaku selalu menunduk dan meminta ampun. Tetapi kau luar biasa”, aku meraih salah satu lengannya.


Dia menatapku tanpa berkedip “ lepaskan aku”.


“ Coba saja. Lakukan yang kau bisa untuk lepas dariku”, Aku menariknya mendekat ke arahku. Aku marah melihatnya berani menjawab setiap perkataanku. Wanita keras kepala yang mengusikku.


Jeni melepaskan tangannya dari pintu dan dengan cepat dia berusaha menonjok wajahku, aku yang tidak menyangka dengan serangan itu hanya bisa berkelit sedikit, membuat tinjuan tangannya mengenai pelipisku. sedikit rasa sakit tapi  bisa kutahan, kutarik dia dalam sekali hentakan. Mengangkatnya paksa di pundakku dan melemparkannya ke tengah tempat tidur.


Kaget dengan apa yang ku lakukan, nyalinya mulai mengerut. “ Kau mau apa dariku?”, Jeni berteriak histeris.


“ Minta maaflah akan ku ampuni”, aku mengusap pelan pelipisku sambil melihatnya.


“ Tidak akan”, Jeni melempar bantal ke arahku. Aku berkelit lalu tertawa. Aku melihatnya turun dari tempat tidur dan hendak menyerangku dengan tangan kosong, nyali wanita ini patut di apresiasi. Aku menangkapnya dan mendorongnya ke tempat tidur. mengunci tangannya diatas kepalanya dan mengunci kakinya dengan lututku. Dia berusaha meronta, tapi aku tahu dia ketakutan. 


“ Diam”, aku berteriak ke arahnya. Refleks dia membatu. Aku menghembuskan nafas mengatur emosiku. “ Kau terlalu berani nona mungil, nyalimu cukup membuatku terkejut. Haaah…. kau tidak akan minta maaf?”, Aku menatapnya tajam.


Dia diam saja, tidak memalingkan wajah, tidak juga menjawabku. Aku tertawa melihat nyalinya. “ Baik kali ini aku maafkan dirimu. Bersyukurlah karena itu. Jika kau muncul dan membuatku terusik. Aku tidak akan melepaskanmu. Mengerti”, aku berbicara dingin lalu melepaskannya.


Dia dengan cepat duduk di tempat tidur dan mengambil bantal yang dijadikan tameng. “ Aku tidak akan menyerangmu lagi. Pulanglah”, aku memungut tas Jeni di lantai, dengan cepat aku memasukan jam tanganku yang mahal ke dalam tasnya. Jeni yang linglung tidak sadar akan jebakan itu dan tidak bicara apapun sampai aku menyerahkan tas miliknya.


“ Larilah sejauh mungkin kalau tidak mau aku tangkap”, aku tersenyum sinis.

__ADS_1


Dia mengambil tasnya kasar, dia maju ke arahku sangat dekat. Menatap mataku lalu berkata “ Dasar laki-laki  bangsat”, lalu dia berlari keluar ruangan tanpa menoleh ke belakang.


Doni masuk ke dalam kamarku beberapa menit kemudian, aku sedang memegang gelas berisi whiskey dan menatap keluar jendela.


“ Tuan”, Doni menyapaku.


“ Tangkap wanita itu. Dia membawa Role* milikku di tasnya”, aku berkata kejam.


“ Baik tuan”, Doni membungkuk hormat lalu pergi. 


“ha ha ha seru juga ternyata”, aku tertawa sambil menatap keluar jendela melihat ombak yang bergulung kesana kemari. 


***


1 jam berlalu. Aku duduk di kursiku dengan tenang, saat Doni membawa masuk Jeni yang melawannya dengan sekuat tenaga. 


“ Lepaskan aku, aku bukan pencuri. Aku di jebak si sialan itu. lepaskan”, Jeni meronta-ronta. Doni melepaskan genggaman tangannya dari Jeni.


“ Wah ternyata kita menangkap pencuri Doni”, aku pura-pura terkejut. 


“ Brengsek, kau yang menjebakku”, Jeni berteriak.


“ Aku? untuk apa aku menjebakmu? Jelas-jelas tadi jam ini ku taruh di atas meja. Wah tanganmu cepat sekali”, aku menatapnya sinis.


“ Bajingan lepaskan aku. Atau ku lapor ke polisi”, Jeni mengancam.


Aku tertawa geli “ Kau lupa siapa aku? baiklah. Bawa saja polisi itu kemari, kita lihat siapa yang akan di penjara”, aku berkata sombong. 


Jeni menatapku dengan penuh kemarahan.

__ADS_1


“ Satu jam yang lalu aku katakan jangan pernah lagi mengusikku, beraninya kau mencuri dariku wanita bar-bar. Siapa yang mengajarimu? orang tuamu? kakekmu?”, entah kenapa aku menjadi kasar kepada wanita ini.


Jeni maju selangkah mendekat ke arahku, dengan penuh kemarahan dia menampar pipi kananku. Aku menutup mata merasakan panasnya pipiku karena tamparan tangan mungil itu.  Aku menjatuhkan jam di tanganku ke lantai dan menarik wanita didepanku ini dengan kasar. Gigiku bergemeletuk karena marah, entah sejak kapan aku berubah menjadi kasar. Aku mencengkram lengan Jeni kuat, dia sampai meringis kesakitan. 


Suara Doni menyadarkanku “ Tuan”.


Aku tersadar dan menghembuskan nafas menenangkan diri, melepas cengkraman tangan dari lengan wanita ini dengan kasar. Aku berbalik arah membelakanginya dan berbicara dingin.


“ Seret kakek tua itu ke sini”, aku memberi perintah pada Doni. 


Mata Jeni terbelalak karena kaget, sepertinya dia tidak menyangka dengan apa yang kuucapkan. “ Kenapa melibatkan kakek? ini tidak ada hubungannya dengan kakekku”, Jeni berteriak marah.


Aku berbalik melihat ke arah Jeni “ Aku ingin tahu apa yang diajarkan kakek itu kepada cucunya sampai berani mencuri dariku dan bersikap kurang ajar pada orang lain. Seret si tua itu kemari”, aku menatapnya dingin.


“ Baik tuan”, Doni menjawab dan hendak keluar ruangan ketika Jeni langsung berlutut di hadapanku, aku menatapnya tetap datar. Untuk mengendalikan Ikan besar di laut dalam, kau harus memasang umpan yang besar untuk menarik perhatian ikan itu dan sekarang umpanku sudah termakan oleh ikan besar yang keras kepala. 


“ Maafkan aku, aku bersalah. Aku melakukan kesalahan karena menyirammu dengan air dan  memukulmu tapi aku tidak mencuri. Aku akan membayar semua kerugian yang ditimbulkan padamu. Tapi tolong jangan bawa kakekku, nanti beliau sakit kalau tau aku membuat masalah”, Jeni memohon padaku.


Sebersit rasa kasihanku padanya muncul dan sampai akhir dia tetap membantah soal pencurian itu. Aku salut padanya, aku berdiri menatapnya dengan wajah yang lebih ramah.


“ Baiklah aku tidak akan membawa kakekmu kemari, tapi kamu harus membayar semua kerugian yang aku terima. Berdirilah”, aku memberi perintah padanya.


Doni membantu Jeni berdiri, badannya bergetar bukan karena takut padaku tapi karena marah dan ingin memukulku. Aku tahu itu dengan pasti, karena sorot matanya amat sangat tidak ramah. 


“ Besok datanglah ke sini, kau harus membayar semua yang kau lakukan padaku. Bawalah buket bunga untukku. itu tugas pertamamu. Doni antar dia pulang”, aku memberi perintah.


Jeni diam saja tidak menjawab, mengatur nafasnya yang memburu karena emosi. Aku tersenyum jahil dan mendekat ke arahnya lalu berbisik “ Jangan coba kabur, aku tahu rumah kakekmu”. Dia hanya menatapku dengan penuh kemarahan lalu berbalik pergi tanpa melihat ke arahku lagi. 


Aku menatap kepergiannya dengan senyum senang, aku menemukan kesenangan baru. Banyak wanita yang hilir mudik membuat drama di hadapanku tapin tidak ada satupun yang menarik perhatianku. Tetapi wanita ini berhasil mendapatkan semua perhatianku. Aku memungut jamku di lantai dan menaruhnya di atas meja. 

__ADS_1


" Matanya menawan", aku menegak minumanku dalam sekali tegukan.


***


__ADS_2