
Situasi yang canggung ini sepertinya tidak berakhir. Aku menolak melihat wajah Nandes.
" Apa kamu sedang mencobaiku?", Nandes bertanya pelan. " pergi kemana keberanian yang berapi-api kemarin?", Nandes berbisik di telingaku.
Merasakan nafasnya di telingaku membuat aliran darahku seperti berdesir. Aku memberanikan diri melihat ke arahnya. Matanya menatap tajam ke arahku, mata seorang pria yang menahan dirinya selama bertahun-tahun.
" Aku . . . hanya… aku….", aku gugup.
" Kamu ingin memastikan apa aku melihatmu sebagai wanita atau tidak? ", Nandes menebak.
Tebakan tepat yang membuat pupilku melebar. " Kamu cenayang ya?", aku berkata sambil berusaha melepaskan diriku, tapi tentu saja Nandes mengunciku dengan kuat.
Alih-alih menjawab pertanyaanku Nandes malah berkata " Aku… masih menyukaimu… bahkan setelah seribu tahun aku tetap akan menyukaimu. Dengarkan baik-baik Embun. Aku menahan diriku selama bertahun-tahun melihatmu berkeliaran di depan mataku, di dalam rumahku, meraihku dalam pelukanmu seenaknya tanpa memikirkan jantungku yang nyaris keluar dari tempatnya. Senyaman itu kau menjadi adikku? Tapi aku tidak bisa menerimanya".
Aku diam saja mendengar kata demi kata yang sepertinya akan dimuntahkan kepadaku.
" Alasanmu melabeli ku sebagai seorang kakak aku dapat menahannya sampai kemarin, saat kamu keluar dan menunjukan punggung terbukamu padaku, aku memutuskan untuk menghentikan permainan ini. Aku tidak akan menerimamu sebagai adik ataupun saudara lagi? Saat kamu masuk ke rumahku dan berkeliaran di depan mataku aku akan melihatmu sebagai seorang wanita. Kamu tau maksudku? Sebagai wanita dewasa bukan anak SMA".
Wajahku terasa panas,aku rasa suhu udara di ruangan ini menjadi sedikit gerah. Aku paham maksud dari perkataannya.
__ADS_1
" Jadi karena kamu sudah membuka peluang untukku Embun, aku akan menyatakannya hari ini. Perasaanku masih sama padamu dulu dan sekarang. Dan aku menginginkanmu sebesar aku bersabar menunggumu. Aku mau kau bersamaku tapi bukan dengan paksaan seperti ini melainkan atas kemauanmu sendiri. Saat ini Aku akan membuatmu mengingat kalau kau bukan adikku".
Setelah berkata begitu Nandes mencium bibirku dengan lembut. Aku yang memiliki pengalaman nol untuk hal begini hanya diam dan kaku, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Nandes dengan lembut membuka paksa mulutku dengan lidahnya dan ******* habis sampai aku kehabisan nafas, rasa hangat menerpa mulutku,badanku sedikit menegang karena sensasi yang diberikan oleh Nandes. Sejenak aku terbuai oleh campuran rasa minuman beralkohol dan rokok yang masuk ke dalam mulutku. Sampai setelah itu Nandes berhenti dan melihatku. Nafas kami sama-sama memburu. Aku mengakuinya, ciuman Nandes membuatku lemah tapi entah kenapa aku menginginkannya lagi.
" Ini adalah tanda bahwa aku menolak di panggil kakak", Nandes lalu mengecup leherku dan berbisik di telingaku " Sepertinya ini ciuman pertamamu? aku akan mengajarimu banyak hal Embun dan Aku suka punggungmu ".
Dia mengendurkan pegangannya dan membantuku duduk, mengusap pelan rambutku lalu berjalan keluar rumah meninggalkanku sendirian di ruang tamu dengan tatapan yang kosong.
***
Nandes tidak kembali sampai subuh, aku bahkan tidak bertemu dengannya saat akan berangkat kerja. Aku tidak tau dia pulang atau tidak malam tadi. Badanku di tempat kerja tetapi pikiranku masih berdiam di kejadian malam tadi. Aku menarik nafas panjang, aku menyukai sensasi saat dia menyentuhku, aku menyukai menatap matanya, aku menyukai saat dia menghela nafas karenaku.
" Lidah? ", aku teringat lagi apa yang aku lakukan tadi malam. Bagaimana Lidah Nandes mengabsen setiap jengkal mulutku. Ada sensai berbeda di hatiku. Ini ciuman terpanasku.
" iya dokter… Lidah pasien jatuh ke belakang terus, jadi Kita gak bisa pasang NGT¹", lanjut perawat itu.
"Oh iya iya… mari kita pasang. Siapkan alat", aku berusaha fokus.
Aku bersyukur karena malam ini keadaan ruangan kerja cukup tenang. Aku jadi bisa beristirahat di kamar jaga sambil merenungkan perkataan Nandes. Apa yang harus ku lakukan sekarang? apa pura-pura tuli saja dan datang terus ke rumahnya. Tapi aku pasti akan canggung sendiri. Bagaimana jika aku mengiyakan ajakannya untuk bersama? apa aku sedang jatuh cinta? atau hanya debar sesaat saja?
__ADS_1
Aku membuka sosial media milikku, dan teringat kepada wanita yang bersama Nandes waktu itu. Aku mencari sosial medianya dan ketemu. Monica Wijaya, cantik, tinggi, seksi, kaya, berteman dengan selebritis, rajin olahraga dan lihat fotonya saat bersama Nandes. Mereka tersenyum senang ke arah kamera.
“ Waah lihat wajah Nandes… bahagia sekali saat berfoto. Apanya yang masih menyukaiku…lihat tangannya di pinggang wanita ini. ha ha ha”, aku tertawa sinis.
Aku menutup sosial media milikku dengan perasaan marah yang entah datang dari mana. Aku berdiri lalu melihat ke cermin menatap diriku sendiri.Aku juga cantik, aku cukup tinggi, mataku bagus, hanya saja aku malas berolahraga tapi aku tidak gendut kok. Aku lalu merapikan rambutku dan berpose seperti model. Tersenyum ke arah cermin dan berdada dada. Kalau ada yang melihatku seperti ini mereka pasti berpikir aku sudah tidak waras.
Setelah capek aku lalu membaringkan diriku di kasur dan menarik nafas. “ Sial aku sudah gila”, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. lalu teringat perkataan Nandes saat SMA dulu. Jangan pernah menyuruhku berhenti Embun. Karena Jika kau menyuruhku berhenti aku akan berjalan ke arahmu. JIka kau menyuruhku berjalan maka aku akan berlari ke arahmu.
“ Haaaaah…”, aku menghembuskan nafas cukup keras. “ Nandes sepertinya sekarang aku sedang berjalan ke arahmu. Apa kamu merasakannya?”, aku bergumam pada diriku sendiri.
***
Aku merenggangkan badanku. Sial hari ini aku tidak bawa mobil, apa naik taxi saja. Aku berjalan menuju ke pintu keluar untuk mencari taxi. Akhirnya aku libur setelah sekian purnama. Aku melenggang dengan santai dan duduk di tempat pemberhentian bis sambil mendengarkan lagu dari earphone.
Cuaca pagi hari minggu ini cukup tenang, aku memperhatikan orang yang berlalu lalang sambil berjalan kaki dan ada beberapa yang menaiki sepeda. Mereka bergerombol sepertinya bahagia dengan aktivitas mereka. Aku melamun, entah apa yang aku pikirkan di dalam kepalaku. Sudah berapa taxi yang lewat tapi tidak ku pedulikan. Aku sedang menikmati suasana pagi yang indah ini.
Seorang pria duduk disebelahku membuyarkan lamunanku, pria ini memakai topi dan hoodie, serta kacamata hitam, lalu masker. Aku menggeser dudukku sedikit menjauh. Pria itu menggeser duduknya sedikit ke arahku setelah itu dia mengangguk kepadaku seperti menyapa. Aku tidak memberikan respon apa-apa, karena melihat taxi yang datang dari jauh aku berdiri di pinggir trotoar. Pria itu ikut berdiri. aku berusaha tenang. Taxi tepat berhenti di hadapanku saat ku lihat pria itu ingin menghampiriku. Aku langsung cepat-cepat masuk ke dalam taxi. Saat taxiku berlalu, aku melihat pria itu masih berdiri di pinggir trotoar tetap mengamati arah perginya taxi yang ku tumpangi.
" Waah gila.. orang gila sekarang banyak banget", aku ngedumel sendiri, membuat supir taksi melihat heran ke arahku.
__ADS_1
***