
" Maafkan aku yang menyakitimu Embun. Aku… aku hanya terlalu mencintaimu", Juan melihat ke arahku sedih.
Aku menunduk " Saat kamu pergi, aku menangisi kepergianmu. Setelah aku menemukan sesuatu yang berharga kamu datang dan menghancurkannya. Mengklaim aku adalah milikmu, mengatakan kamu mencintaiku dengan sesukamu. Apa aku harus menangisimu untuk yang kedua kalinya?", aku menatap Juan yang menegak minumannya dalam sekali tarikan nafas.
" Aku bersalah jadi aku akan menebus kesalahanku padamu Embun. Maafkan aku. Aku akan membahagiakanmu jika kamu bersamaku. Menikahlah denganku", Juan menggenggam tanganku.
Aku meneguk habis minumanku dengan marah dan turun dari kursi. Saat akan berjalan aku merasa ada sesuatu yang merambat naik di dadaku, sedikit terasa panas. Aku berhenti dan memegang dadaku. Lagu terdengar mengalun pelan, Juan meraih pinggangku dan memutar badanku.
" Maafkan aku, tolong jangan marah lagi cantik. Pukul saja aku jika kamu mau", Juan menarikku ke dalam pelukannya.
Juan menggerakan badannya mengajakku berdansa. Aku mengikuti gerakannya. Dia membawaku lembut, menari dalam pelukannya, nafasku mulai memburu karena sesuatu berdesir didalam darahku. Saat Juan memutar badanku aku mulai merasa pusing, sesuatu berputar di kepalaku. Ada rasa berbeda yang naik ke dadaku. Aku mencengkram kemeja Juan. Kepalaku bersandar di dadanya. Aku merasa panas dan hasratku naik.
Aku meraih bahu Juan " brengsek, kamu … obat … apa?", aku terbatah-batah disela nafasku yang memburu
Juan tersenyum dia membalikkan badanku memunggunginya tangannya berada di perutku " Aku menginginkanmu Embun. Aku akan melakukan segala cara untuk memilikimu. Aku hanya memprovokasi sedikit saja agar kamu menginginkanku malam ini ". Juan berbisik di telingaku dan mencium leherku. Nafasku tersengal menerima ciumannya. Seperti ada aliran listrik yang membuat kedua keindahan di dadaku berkedut.
Aku mendorong Juan dengan tenagaku yang bersisa. Aku tidak mendengar apapun yang dikatakan Juan. Aku melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kamar dengan sempoyongan. Saat ini aku merasa seperti melayang dan menginginkan sesuatu yang lebih dari seorang pria. Aku terjebak dengan sedikit kebaikannya, rasanya aku ingin menangis.
Juan mengikuti " Kamu mau ke mana sayang?", Juan memanggilku. Aku mengabaikannya.
Aku berjalan ke arah kamar mandi hendak mengguyur diriku dengan air dingin. Aku harus menjadi waras sebelum terkena sentuhan Juan. Belum sempat mencapai pintu toilet Juan sudah menarikku dan menggendongku.
Aku terlena, obat itu menguasai seluruh aliran darah dan kepalaku. Logikaku mati, yang ada hanya hasrat yang memenuhi diriku. Hasrat yang ingin ku penuhi. Jantungku berdebar tidak karuan karena obat itu.
__ADS_1
Rasa pusing datang bersamaan dengan hasratku. Juan menidurkanku di atas tempat tidur, dia memperhatikanku yang lemas dan berusaha melawannya. Aku melihat matanya, terkadang muncul rasa cinta terlihat di sana, terkadang tatapan sedih sekilas melintas, tetapi ada tatapan penuh nafsu yang sesekali terlihat.
Aku membalikan badanku berusaha merangkak untuk turun dari tempat tidur. Obat ini menyiksaku, aku terbakar karena hasratku sendiri. Aku merasakan Juan mencium punggungku dari pinggang sampai ke bahuku. Dia menyibakan rambutku lalu bebisik " Maafkan aku karena menggunakan cara kotor ini Embun. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mendapatkanmu. Maafkan aku yang pengecut", Juan mencium bahuku dengan penuh sayang.
Badanku bergetar merasakan ciumannya. Nafasku memburu, tidak ada kata yang bisa ku ucapkan. Aku di antara melayang dan menapak di tanah, setengah jiwaku mendambah sebuah sentuhan. Aku berbalik dan menarik Juan ke arahku. Aku hanya menatapnya, Juan menciumku dengan lembut. Aku membalasnya dengan cara yang tidak biasa, aku sangat agresif. Aku mencium Juan, mengigit telinganya, lehernya. Tanganku masuk ke dalam kemejanya. Menyusuri perutnya, dadanya sampai ke punggungnya. Aku menginginkannya di laur nalarku.
Aku kehilangan kontrolku. Aku menenggelamkan diriku dalam ciuman Juan, untuk pertama kalinya aku tidak menolak ciuman Juan. Aku meraih leher Juan, aku melayang merasakan setiap sentuhannya di badanku. Juan membuka bajunya. Aku memperhatikannya, aku mengigit bibirku menahan kegilaan yang memuncak di dadaku.
" Aku.. Juan.. aku … sangat .. panas", aku mengeluh dalam sebuah *******.
" Aku akan medinginkanmu sayang", Juan berkata sambil tersenyum melihatku. Kami berciuman dalam hasrat yang mengelora.
Saat Juan meraih kedua miliku dalam mulutnya, aku bergetar di bawahnya seperti ada cairan yang keluar dan membuatku basah. Tapi aku merasa tidak cukup, gaunku entah terbuang di mana.
" Aku… tidak… bisa menahan .." , aku mengeliat di bawah Juan.
Juan memasukiku, aku menjerit dan mendesah bersamaan setiap gerakannya. Juan memberikan belasan gaya untukku. Sampai aku kelelahan dan kehabisan tenaga. Aku melayang jauh ke nirwana, saat Juan mengakhiri permainannya.
" aku mencintaimu Embu. Sangat mencintaimu", samar-samar aku mendengar kata-katanya di telingaku.
***
Aku terbangun karena rasa nyeri diantara selangkanganku, aku menyipitkan mata melihat berkeliling. Aku bingung dengan situasi yang ada. Aku membuka selimut dan menemukan diriku tanpa busana sehelaipun.
__ADS_1
Kejadian semalam melintas, rasa alkohol masih membekas di mulutku. Aku menutup wajahku dengan tangan. Apa yang ku lakukan. Aku menghianati Nandes, aku.. aku tidur bersama Juan. Aku gila. Aku pasti gila.Aku menyampirkan selimut tipis melilit badanku.
Seseorang membuka pintu kamar, Juan masuk dengan pakaian kantor lengkap. Aku di landa amarah yang besar karena melihatnya. Juan menghampiriku ingin mengusap rambutku, dengan marah aku menepis tangannya.
" Bajingan, apa yang kamu lakukan padaku?", aku menghindarinya.
"Kita tidur bersama. Kamu dan aku", Juan menjawab tenang melihatku menghindarinya.
" Kamu menjebakku... kamu menaruh obat di minumanku. dasar brengsek. Pengecut.. Juan kamu berubah. Kamu seperti monster", aku meneriakinya kesetanan.
Juan berjalan mendekatiku, aku mundur menghindarinya " Jangan mendekat. Aku benci kamu.. aku benci ", aku mengambil barang di dekatku dan melemparkannya pada Juan. Tentu saja Juan menghindar dengan mudahnya, melihat itu aku makin marah.
Aku berlari ke arah bufet dan memgambil vas bunga yang ada di sana. Dengan sekuat tenaga aku melemparkannya pada ke arah Juan. Vas itu melesat jatuh dan hancur berkeping-keping di sebelahnya.
Juan yang kaget dengan ledakan kemarahanku tidak menghindar dari lemparan vas itu. Aku benar-benar mengamuk. Aku marah dengan diriku sendiri yang berkhianat, aku marah dengan Juan yang menjebakku.
" Kau menghancurkan hidupku Juan. Keluar... keluar dari sini. Aku tidak mau melihatmu. Pergi", aku mendorong Juan keluar dari kamar. Aku tidak merasakan sakit di kakiku yang menginjak pecahan vas bunga. Bercak darah berbentuk kaki menempel di lantai. Aku tidak memperdulikannya.
Juan menarik tanganku " Hentikan Embun, kakimu berdarah. Hentikan", Juan sekuat tenaga menenangkanku.
Aku menangis sambil terus mengamuk kepada Juan, aku memukulnya dengan sekuat tenagaku. Kakiku meninggalkan bekas darah di lantai. Juan menahanku, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia menerima semua cacianku sampai pada akhirnya aku capek dan pukulanku semakin lemah.
Juan memelukku, aku menangis di dadanya. Entah apa yang ku tangisi, kebodohanku atau penghianatanku pada Nandes. Tiba-tiba aku merasa pusing, mataku berkunang. Lalu aku jatuh terkulai, Juan memanggilku " Embun.. kamu kenapa? Embun?". Juan mengendongku, aku bisa merasakan dekapannya. Dan yang ku dengar untuk terakhir kalinya Juan memerintahkan seseorang membersihkan kamar itu.
__ADS_1
***