
Aku ingat suatu malam saat kami akan tidur, Jeni mengatakan daftar keinginannya padaku. Kami berbincang dari tempat tidur masing-masing.
“ Satu hal yang paling ku inginkan adalah pergi ke Swiss”, katanya memandang sebuah foto di tangannya.
“ Swiss? Kamu suka Swiss?”, tanyaku sambil berbaring menatap langit-langit kamar yang terlihat remang-remang.
“ Ya, aku suka. Karena ayah dan ibuku berbulan madu ke sana. Ibuku sangat menyukai salah satu kota di sana", katanya lagi.
Aku diam terus mendengarkannya berbicara.
“ Kota st. Moritz di musim dingin terlihat sangat menakjubkan”, katanya tersenyum. “ Jika aku pergi kesana, aku akan mengajakmu”, katanya ceria sambil melihatku dari tempat tidurnya.
Aku tersenyum sambil terus menatap langit-langit kamar. “Terima kasih. Tapi aku benci cuaca dingin”, kataku.
Dia memonyongkan bibirnya mendengar jawabanku. “ Padahal sikapmu dingin seperti gunung es”, cemoohnya.
Aku tertawa mendengar perkataan itu. “ Jeni… “, aku memanggilnya ingin bertanya sesuatu.
“ Ya?”, dia menjawab dari tempat tidurnya.
“ Apa yang kau pikirkan tentangku setelah kita menikah?”, aku bertanya.
Dia terdiam dalam gelap malam kamar kami, hanya ada satu lampu yang menerangi kamar tidur ini. Lampu di ujung meja sebelah tempat tidurnya.
“ Apakah aku boleh berkata jujur padamu?”, Jeni balik bertanya.
“ Ya, katakanlah ”, jawabku.
Dia menghela nafas. “ Awalnya aku kira, kamu adalah sosok yang sangat menakutkan. Aku kira kamu adalah pria dingin yang tidak bisa ku dekati. Tapi ternyata kamu sangat baik. Jujur aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu tidak sebaik itu, tapi setelah bulan-bulan yang kita lalui aku menemukan bahwa kamu adalah yang terbaik. Aku suka bisa mengenalmu Juan”, katanya dalam kegelapan.
Aku mendengarkannya sambil terus menatap langit-langit kamar. “ Jeni bagaimana jika aku tidak sebaik itu? Bagaimana jika aku adalah orang paling berbahaya diantara jutaan orang yang pernah kau temui? Apa kau akan lari dariku?”, aku bertanya.
Dia terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaanku. “ Juan apakah kau berniat menyakitiku? “, tanyanya.
“ Tidak. Aku tidak pernah berniat menyakitimu”, aku menjawab jujur.
“ Kalau begitu aku tidak akan lari darimu. Karena aku percaya kamu tidak akan menyakitiku”, katanya tenang dan dalam.
__ADS_1
Aku terdiam cukup lama. “ Seharusnya aku akan tenang mendengar jawabanmu. Tetapi saat ini aku semakin gelisah karena jawaban yang kau berikan Jeni, kenapa kau tidak memilih lari saja?”, aku menghela nafas panjang. Tidak ada respon darinya.
“ Jeni… “, aku memanggil tetapi tidak ada jawaban. “ kau sudah tidur?”, aku bangun dari tidurku dan mendekati tempat tidurnya. Dia tertidur pulas dengan tangannya menggenggam sebuah foto.
Aku tersenyum “ Dasar gadis ini”. Aku mengambil lembar foto itu dari tangannya. Tampak dua pasangan muda yang berpose ke arah kamera, terlihat bahagia. Menggunakan baju musim dingin tebal, mereka tersenyum ke arah kamera. Wajah wanita itu sangat mirip dengan Jeni. Ini foto ibu dan ayahnya di St. Moritz.
Aku meletakan foto itu di sebelah bantal Jeni. Mengelus kepalanya pelan, aku menatapnya dalam. “ Seandainya boleh. Aku tidak ingin kau lari dariku pencuri kecil. Aku menyukai keberadaanmu di sampingku”.
Setelah berkata begitu aku mematikan lampu tidur dan kembali ke atas tempat tidurku, menutup mataku berusaha untuk tidak bermimpi.
***
Ayah angkat Jeni datang menemuiku di kantor. Dia benar-benar gigih berusaha bertemu denganku. Maria masuk ke dalam ruanganku bersama dengan Hartanto ayah angkat Jeni yang seharusnya adalah pamannya.
“ Pak ini adalah bapak Hartanto dari perusahaan H”, jelas Maria.
“ Baik Maria. Terima kasih”, jawabku sambil menatap tamu itu. “ Silahkan duduk”, perintahku.
Aku lalu menghampirinya dan duduk di sofa tamu itu di tempat yang biasa aku duduki. Doni mengawasi dari mejanya bekerja.
“ Selamat siang, ada keperluan apa anda kemari direktur Hartanto”, tanyaku langsung tanpa basa basi. Tidak ada senyum di wajahku.
Dia terkejut menatapku, mungkin dia berharap reaksinya berbeda saat aku melihatnya. Reaksi yang baik ketika anak mantu bertemu dengan mertuanya.
“ Sepertinya anda belum tahu, perkenalkan saya Hartanto Wijaya. Saya adalah ayah dari Jeni Wijaya. Wanita yang anda nikahi beberapa bulan lalu “, dia menjawab angkuh dengan senyum penuh kepalsuan di wajahnya.
“ Ayah? Yang aku tahu kedua mertuaku sudah meninggal karena kecelakaan pesawat”, jawabku tetap dingin tanpa menerima uluran tangannya.
Senyum di wajahnya menghilang. Dia langsung paham bahwa tidak perlu bermanis-manis saat bertemu denganku.
“ Baiklah nak. Sepertinya kamu sudah mengetahui semuanya. Aku adalah pamannya, tetapi akulah yang merawatnya sejak kakakku pergi”, dia menjawab dengan suara yang tenang tanpa senyum basa basi. Inilah karakter aslinya.
“ Oh.. terima kasih sudah merawatnya selama ini. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan periang”, jawabku lagi.
“ Tidak masalah. Ini memang tugas orang tua”, jawabnya lagi.
Aku tersenyum mendengar perkataannya. Jeni selama ini tumbuh di tengah iblis yang menantinya untuk disembelih. Setelah membuangnya bagaimana mungkin tanpa rasa malu dia datang kepadaku dan mengaku sebagai keluarga Jeni.
__ADS_1
“ Apa Jeni baik-baik saja?”, tanyanya lagi. Pertanyaan yang sudah ku duga sebelumnya.
“ Baik. Dia bahagia bersamaku ayah mertua”, aku memanggilnya dengan sebutan yang membuat diriku sendiri merasa merinding dan dia tampak senang mendengarnya. Terlihat dari perubahan mimik wajahnya.
“ Syukurlah kalau dia bahagia. Aku senang mendengarnya. Tujuanku datang kesini adalah untuk mengundang anakku dan menantuku untuk makan malam di rumah kami”, dia menyampaikan tujuannya. “ Dia sudah lama tidak pulang ke rumah karena sesuatu yang terjadi di rumah. Mungkin dia sangat marah sampai tidak memberitahu kami bahwa dia telah menikah. Tapi jika nak Juan sibuk aku tidak akan memaksa”, lanjutnya.
Tidak pulang? kalian yang mengusirnya brengsek, aku memaki di dalam hati.
“ Ayah mertua repot-repot datang kesini hanya untuk mengundang kami makan malam?”, aku tersenyum. “ Seharusnya anda bisa menyampaikan kabar melalui sekretarisku”, aku pura-pura tidak enak.
“ Tidak nak. Tentu saja aku harus datang dan bertemu menantuku dengan kakiku sendiri”, dia tersenyum lebar.
Aku tertawa hambar. Tentu saja kau harus memastikannya sendiri, karena mustahil bagimu seorang wanita biasa seperti Jeni menikahi pengusaha nomor satu di Asia kan?. Dasar iblis.
“ Ayah mertua, karena Jeni tidak pernah menyebut nama kalian maka aku akan bertanya padanya terlebih dahulu”, aku memberi jawaban yang cukup dingin.
“ Oh dia masih marah rupanya”, katanya pura-pura terkejut.
Bajingan ini masih berusaha mengelabuhiku setelah mereka hampir menjual dan mencelakainya. Brengsek, aku ingin sekali melemparnya keluar dari pintu. Aku tersenyum, lalu memberi kode dengan mata kepada Doni yang duduk di belakang punggung ayah mertuaku ini. Doni berdiri dan menghampiri kami.
“ Tuan anda ada rencana makan malam di Singapura sore ini”, Doni berbicara padaku dengan suara sedikit keras agar tamu ini bisa mendengar.
“ Baiklah. Apa istriku sudah siap ?”, tanyaku pada Doni.
“ Ya tuan. Nyonya sedang dalam perjalanan ke bandara”, jawab Doni lagi.
Aku mengangguk. “ Ayah mertua maaf tapi sepertinya saya harus pergi. Istri saya menunggu. Nanti asisten pribadi saya ini yang akan mengabari ayah mertua. Permisi”, aku berpamitan padanya dengan enggan.
“ Ya nak, baik. Maafkan aku yang menyita waktumu. Silahkan “, katanya lalu ikut berdiri.
Aku berjalan keluar, senyum hilang di wajahku. Maria datang menghampiri.
“ Bawa dia keluar dari ruanganku”, perintahku.
“ Baik pak”, jawab Maria patuh. Lalu berjalan kembali ke arah ruanganku.
***
__ADS_1