Merpati Kertas

Merpati Kertas
GELORA API ASMARA *21+


__ADS_3

" Tuan, nyonya sepertinya sangat mabuk", suara di sebrang telpon membuatku langsung memberikan perintah agar melajukan mobilku.


Tadi malam Jeni merayakan hari ulang tahun salah satu karyawannya. Dan di sinilah aku sekarang sepulang kantor, menjemput istriku yang bahkan tidak bisa membuka matanya karena alkohol.


" Istriku minum berapa banyak?", aku bertanya kepada supir pribadi Jeni.


" Hanya 2 gelas tuan, sepertinya nyonya tidak bisa minum alkohol", lapornya.


" Ya sudah, dari sini biar aku yang urus", aku menggendong Jeni keluar dari mobil dan membawanya ke kamar kami.


Saat berjalan di lorong tiba-tiba Jeni membuka matanya.


" Hmmm... Wangi ini suamiku", Jeni menatapku dengan mata yang menyipit.


Aku menatapnya sambil terus berjalan agar segera sampai ke kamar.


"Kamu suamiku kan? Juan si tampan?", tanyanya lagi.


" Ya aku suamimu. Kalau tidak bisa minum kenapa harus minum sih", aku mulai mengomel.


Jeni masih menatapku dengan tatapan seperti menggoda. " Kau sedang menggodaku dengan matamu?", aku tersenyum lalu menurunkannya di depan pintu. Saat aku membuka pintu kamar kami. Jeni maju selangkah dan mencium leherku dengan cara yang tidak biasa.


Tengkuk merinding, seperti ada sesuatu yang bangkit dari dalam diriku. " Sayang, kamu sedang menggodaku?", tanyaku lagi.


Jeni berbisik di telingaku " Ya, Aku ingin kamu", lalu dia mengigit pelan telingaku. Mengecup setiap jengkal leherku.


" Ayo kita masuk", aku mengangkatnya dan masuk ke dalam kamar membiarkan pintu menutup dengan sendirinya. Lampu kamar yang tidak terlalu terang seperti mendukung apa yang akan kami lakukan.


Jeni memasukan satu jarinya ke mulutku dan dia tersenyum menggoda. " Akhirnya kau memulai duluan sayang. Aku akan menyenangkan mu malam ini", aku melepaskan gigitanku pada jarinya.


Jeni tersenyum dan mulai mengigit pelan bibirku. Aku bisa merasakan manis alkohol yang tersisa di mulutnya saat aku melum*tnya. Kami saling bercumbu dalam hasrat yang tidak bisa di bendung. Lidah kami saling bertaut, Jeni mengabsen setiap deretan gigiku. Dia menjadi lebih ganas karena dua gelas alkohol.


Tanganku mulai menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Bokongnya, pinggangnya, punggungnya, lalu berlama-lama di kedua keindahannya. Memainkan ujungnya yang mulai merekah karena hasrat kami.


Kami berbaring di tempat tidur. Setelah puas bercumbu Jeni berdiri dan mulai menanggalkan bajunya di hadapanku, Selama ini selalu aku yang melepaskan bajunya saat kami bermain.


Jeni berdiri dalan balutan lingerie berwarna merah menantang dan cukup transparan. Aku mengigit bawah bibirku menatapnya, aku sudah melepaskan kemejaku sejak tadi.

__ADS_1


Jeni merangkak naik ke atas tempat tidur mendekatiku, ada sesuatu di dalam diriku yang bergelora. Aku menahan diriku untuk tidak merobek pelindung berwarna merah itu.


" Sejak kapan kamu jadi liar begini?", aku bertanya saat dia mengigit bibirku sedikit.


" Sejak bersamamu. Aku belajar seperti ini hanya untukmu", entah kenapa kata-katanya seperti sengaja membangkitkan hasrat dalam diriku.


" Aku ingin lihat, apa yang kau pelajari", aku menantangnya.


Dia tersenyum lalu menciumiku lembut. Tangannya yang lain menelusuri leherku, tulang belikatku, perutku dan menyusup pelan masuk ke balik celana kerjaku. Dia memainkan jarinya di sana membuatku sedikit menutup mata.


Dia membuka resleting celanaku dan menelusuri setiap bagian yang di lewati jarinya tadi dengan mulutnya lalu melahap bagian milikku. Membuat darahku berdesir, aku tidak tahu dia belajar di mana. Akan ku tanyakan nanti tapi aku akan menikmati saat ini.


Jeni memainkan mulutnya di sana, membuatku berdesis. Setelah dia bersenang-senang dengan bagian milikku dia menatapku dan tersenyum "Kamu suka?", tanyanya padaku.


Aku menariknya dan membaringkannya di bawahku, tanganku langsung bermain dengan miliknya. Memainkan hal yang paling sensitif dan membuatnya bergetar. Aku lalu masuk ke dalamnya membuatnya menjerit kecil. Aku menelusuri setiap jengkal tubuhnya dengan mulutku lalu berhenti di mulutnya. Aku mencumbunya degan penuh gairah sambil terus bergerak berirama.


Jeni mendesah di dalam mulutku. Aku lalu melepaskannya, badannya bergetar. Aku tahu dia telah sampai ke puncaknya untuk yang kedua kalinya.


" Bagiamana rasanya hm?", tanyaku di telinganya


" Sebut namaku nanti jika kau menyukainya" kataku. Aku lalu membalik badannya dan mulai masuk ke dalamnya. Aku bergerak dengan tempo yang membuat jeni menjerit kecil.


" Ah.. Juan... Hmp.. ah", Jeni memanggilku saat aku mempraktekan gerakan yang berbeda.


Cukup lama aku menahan diriku untuk mencapai puncak ku, Jeni memelukku kuat karena kelelahan.


" Juan, aku tidak .. Ah", dia berbicara sambil memelukku.


" Aku akan menyelesaikannya sayang", aku tersenyum nakal. Aku mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atasku, lalu bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Jeni memeluk leherku. Dia mulai bergumam tidak jelas saat aku menyelesaikan ******* ku.


Aku mengerang dalam pelukannya. Tubuhku bergetar hebat, mengeluarkan setiap benihku untuknya. Nafas kami sama-sama memburu. Aku cukup lama berada dalam pelukan Jeni, sedangkan Jeni mulai tertidur di bahuku karena kelelahan.


Aku memindahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan menyelimutinya. " Aku mencintaimu", aku berbisik di telinganya. Lalu tidur bersamanya.


Kami semakin sering melakukannya. Saat mandi, saat akan ke kantor. Pernah sekali waktu saat selesai sarapan pagi dan kami sedang bersantai, Jeni dengan jahilnya memainkan kakinya padaku di bawah meja dan mengakhiri permainan kaki itu di sana, di bagian sensitif dalam hidupku.


Tanpa menunggu aba-aba aku berdiri lalu meraihnya dalam pelukanku dan menyelesaikan permainan kami di ruang makan itu tanpa perlu repot-repot berpindah ke kamar.

__ADS_1


Cinta kami sedang bergelora dengan begitu panas. Seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Jeni semakin ahli dalam menggodaku. Dan aku terus jatuh dalam godaannya.


***


Aku pergi ke luar kota. Aku memakai kemejaku dengan ogah-ogahan. Jeni yang membantuku memasang dasi tersenyum melihat kelakuanku yang seperti anak-anak.


" Kamu harus semangat sayang. Aku juga kangen kamu banget nanti tapi pekerjaan kamu juga penting ", Jeni memberi kecupan semangat di pipiku. 


" Ya sayang… tapi 3 hari itu lama banget ", aku memeluk pinggangnya ogah beranjak dari dudukku.


Jeni tertawa mendengar ku mengeluh seperti anak kecil yang tidak mau berpisah dengan ibunya.


 " Kita harus sering berkomunikasi sayang, setiap hari bila perlu setiap saat ", kataku sambil memeluk pinggangnya masih betah bermanja-manja.


" Iya sayang. Setiap hari, setiap saat ", Jawab Jeni membelai pipiku.


"Atau kamu ikut aku saja? Kamu bisa tinggal di hotel", tawarku. 


Jeni mencubit kedua pipiku. " Sayang, aku harus menjaga toko. Kasihan karyawan toko. Kamu tahu kan aku sangat sibuk akhir-akhir ini ", katanya lagi. 


Aku cemberut. Memang benar sejak kami menikah toko bunga Jeni menjadi sangat ramai, karyawan bertambah dan toko di bangun menjadi lebih besar. Jeni membelikan rumah yang layak untuk kakeknya dan menyewa asisten rumah tangga untuk merawat kakek. 


" Ya udah sekarang kamu berangkat. Kasihan pak Doni nungguin kamu dari tadi. Nanti ketinggalan pesawat", Jeni berkata sambil memukul bokongku pelan.


Aku mencium pipinya, matanya, hidungnya bibirnya. Lalu berjalan keluar pintu dengan langkah berat. Aku berbalik sedikit padanya.


"Kamu yakin tidak mau ikut?", tawarnya lagi.


"Juann... ", Jeni menyipitkan mata ke arahku.


" Oke Fine.. ", Juan tersenyum.


" Siap berangkat pak?", Doni bertanya.


" Ya", Jawabku singkat.


***

__ADS_1


__ADS_2