
Aku sedang sangat sibuk saat Doni datang menghampiriku dan memberikan kabar yang membuatku sangat murka.
“ Tuan, ada kabar buruk”, Doni terlihat sedikit cemas.
“ Ada apa?”, aku tidak sabar.
“ Nyonya di bawa pergi oleh keluarga Hartanto”, kata Doni.
“ Apa maksudmu? Kenapa keluarga Hartanto membawanya?”, tanyaku kaget.
“ Menurut pengawal nyonya, keluarga Hartanto kecewa karena artikel tentang anda dan nona Anna. Mereka berdalih ingin menjaga perasaan nyonya Jeni”, jelas Doni.
“ Orang-orang ini berani mengusikku. Sialan, seharusnya dari awal aku tidak perlu berbaik hati dengan mereka”, aku sangat marah.
“ Apa yang harus saya lakukan sekarang tuan?”, Doni menunggu perintah.
Aku menghembuskan nafas frustasi, lalu mengambil ponsel. Aku memijat keningku pelan karena melihat panggilan masuk dari Jeni sebanyak 34 kali. Sepertinya dia benar-benar ketakutan karena keluarganya sendiri.
Aku menelpon balik ke nomor Jeni. Dua kali menelpon tidak ada jawaban, lalu Jeni menelpon balik.
“ Halo Juan”, Jeni berbicara dengan berbisik.
“ Sayang, kamu di mana? “, aku mulai cemas.
“ Sayang, mereka membawaku ke rumah utama. Kata tante aku harus bercerai dari kamu. Mereka bilang kamu berselingkuh dariku, tante menunjukan sebuah artikel tentang kamu dan Anna ”, Jeni mulai menangis.
“ Apa cerai? Apa mereka gila mengatur hidupmu? Dan lagi aku tidak berselingkuh”, kataku sedikit marah.
“Aku tahu sayang… aku percaya padamu. Aku tahu kamu tidak akan berbohong padaku”,kata Jeni di antara tangisnya.
“ Sayang jangan menangis. Percaya padaku. Aku tidak pernah membohongimu. Aku akan segera datang menjemputmu. Jangan menangis”, kataku lagi.
“ Juan jemput aku. Mereka ingin mengambil ponselku”, serunya.
“ Sayang.. Juan..”, aku mendengar Jeni berteriak sambil menangis. “ Kembalikan ponselku. Kembalikan. Kalian bukan keluargaku”.
" Jeni... Jeni...", aku memanggil putus asa.
Sambungan telpon terputus. Aku mengacak-acak rambutku frustasi lalu menatap Doni.
__ADS_1
“ sebenarnya apa yang sedang terjadi?”, aku berteriak pada Doni marah.
“ Tuan sepertinya keluarga Hartanto akan menuntut anda untuk menceraikan Nyonya karena skandal ini dan mereka bisa mendapatkan keuntungan dari perceraian anda”, ujar Doni berusaha tenang karena tuannya sudah mulai hilang kendali.
“ Sial… sial…sial… Bagaimana mungkin Jeni pernah hidup bersama orang-orang serakah ini selama bertahun-tahun”, kataku marah.
“ Saran saya, anda lebih baik bertemu kakek Darmawan karena beliau lebih mengenal keluarganya “, Doni memberi saran.
“ Baiklah. Mari kita selesaikan rapat kita secepatnya dan berkunjung lebih dulu ke rumah Hartanto”, ujarku lalu berjalan keluar dari kantor menuju ruang rapat.
Malam harinya sekitar jam 9 aku menuju ke rumah keluarga Hartanto. Berharap dapat membawa Jeni kembali. Nyonya Hartanto sedang duduk di ruang tamu saat aku datang.
“ Oh menantuku sudah datang?”, sambutnya.
“ Dimana istriku?”, aku bertanya tidak sabar.
“ Istrimu? Sedang istirahat. Skandal Mu sungguh memalukan keluarga kami. Bagaimana mungkin anda melakukan itu hal tidak bermartabat seperti itu”, serang wanita setengah baya ini.
“ Aku tidak pernah melakukan hal seburuk itu nyonya. Di mana istriku?”, aku berteriak marah. Suaraku cukup menggelegar didalam ruangan membuat pemilik rumah itu kaget.
“ Juan…”, Jeni berlari menuruni tangga sepertinya dia kabur dari kamarnya.
“ Jeni..”, aku berteriak panik melihatnya.
“ Lepaskan aku.. aku ingin bersama suamiku”, teriak Jeni yang di gendong kembali ke dalam kamar.
“ Apa yang kau lakukan?”, aku berlari ke arah tangga ingin menyusul. Tetapi seorang pengawal mereka menghalangiku.
Doni mendekati pengawal itu dan menghantamnya tepat di wajah.
“ Jauhkan tangan kotor mu dari tuan, dasar bangsat”, teriak Doni. Dan terjadilah perkelahian kecil yang akhirnya berhenti karena teriakan tuan Hartanto yang sepertinya baru sampai.
“ Berani sekali kalian membuat keributan di rumahku”, teriaknya.
“ Aku datang ingin membawa pulang istriku”, aku mendekati ayah sambung Jeni itu dengan penuh amarah. Bibirku sedikit berdarah karena pukulan dari salah satu bodyguard mereka.
“ Tidak bisa tuan. Saya tidak bisa membiarkan anak perempuan saya berada di tangan orang yang salah. Besok saya akan menyatakan ke media bahwa anda telah berselingkuh dnegan wanita lain. Sebaiknya anda ceraikan anak kami, jangan sakiti dia”, kata Hartanto dengan wajah yang datar.
Seandainya aku tidak memliki etika, aku akan muntah di wajah orang ini. Tetapi aku berbalik dan berjalan keluar pintu di ikuti Doni di belakangku. Aku sangat marah.
__ADS_1
Setelah mengeluarkan Jeni dari keluarga, mereka dengan seenaknya mulai mengatur kehidupan Jeni lagi karena tau dia akan menjadi dulang emas untuk mereka.
Aku sangat marah sampai memukul kursi penumpang di sebelah Doni. Setelah melampiaskan kemarahanku aku mengusap wajahku dengan frustasi. Doni diam saja, wajahnya tampak sedikit memar. Kami berdua melawan 4 orang bodyguard, jelas saja kami berdua babak belur di keroyok.
“ Kita ke rumah kakek, sekarang”, pintaku.
Doni menurut dan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah itu.
***
Kakek membawakan kotak P3K untukku dan Doni. Kami lalu membersihkan luka kami sendiri. Aku benar-benar tidak bersemangat, kakek tersenyum melihatku.
“ Nak, apa skandal itu benar?”, Kakek bertanya.
“ Tidak kakek, dia adalah salah satu teman baikku. Aku berani bersumpah untuk hidupku, aku tidak akan melakukan hal buruk terhadap Jeni”, kataku bersungguh-sungguh.
“ Baiklah, kakek percaya padamu”, kata kakek Darmawan. “ sebenarnya aku malu dengan kelakuan keluargaku, mereka sudah di butakan oleh uang”, kata kakek.
Aku diam saja tidak memberikan respon terhadap perkataan kakek. Aku masih menatap kapas alcohol di tanganku. Hatiku sakit melihat Jeni di bawa pergi dariku, aku teringat pada Embun saat aku melakukan hal ini padanya. Aku benar-benar menyesal, aku takut karma karena perbuatanku menimpah Jeni.
“ Apa yang harus kita lakukan kakek?”, aku bertanya lirih.
Kakek berdiri dan masuk ke dalam kamarnya, dia keluar dengan membawa sebuah berkas di tangan. “Berikan ini kepada salah satu wartawan dan minta mereka membahasnya dalam jumpa pers besok”, kata kakek.
Aku menerima berkas itu dan terkejut karena menemukan penggelapan dana yang di lakukan Hartanto bersama salah seorang pejabat daerah.
“ Kakek jika aku menyerahkan ini maka keluarga kakek akan selesai. Harta Hartanto akan di sita dan mungkin lebih buruk”, aku ragu.
“ Nak dulu keluargaku mengumpulkan harta karena kami sangat miskin. Kami menjadi kaya Karena tidak ingin keturunan kami menderita. Tetapi ternyata harta yang kami kumpulkan telah membutakan hati anak cucu kami. Dan membuat mereka menyakiti sedarah mereka”,kata kakek sedih. “ aku telah memegang bukti ini selama bertahun-tahun, inilah salah satu alasan Hartanto selalu mencurigai ku ingin merebut perusahaan”, terangnya.
“ Baik terima kasih kakek dan apakah ada jalan lain selain pintu depan? Sepertinya aku tidak akan bisa masuk melalui pintu depan lagi”, tanyaku lagi.
“ Masuklah dari taman belakang. Di sana ada pintu kecil yang di tutupi tumbuhan pagar, itu adalah tempat Jeni dulu bersembunyi dari ibunya”, kata kakek.
Aku tersenyum lalu berpamitan pulang. Sebelum meninggalkan rumah kakek berpesan “ Jangan pernah menyakiti cucuku Juan, sayangilah dengan tulus”.
“ Baik kakek. Aku akan mencintai dia dengan hidupku”, janjiku.
***
__ADS_1