
“ Bagaimana jika kau mati saja”, aku menatap pria itu tajam.
Wajahnya sangat terkejut “ Maafkan saya tuan, maafkan saya. Saya benar-benar butuh uang … maafkan saya tuan”, pria itu menangis memohon belas kasihanku.
“ Diam.. Kau membuat telingaku sakit”, aku membentaknya. Aku memalingkan wajahku ke arah pemilik club YB. “ Aku menanam banyak saham di sini John dan kau mengecewakanku? Sudah merasa hebat?”, aku menatapnya dingin.
John terdiam lalu berbicara dengan rasa takut “ Maafkan saya tuan, ini adalah kelalaian dari manajemen kami. Saya akan bertanggung jawab penuh untuk semua kejadian yang merugikan anda. Maafkan saya”.
“ Bagus. Bagaimana dengan menutup usahamu?”, aku menantangnya.
Dia tampak terdiam lalu melanjutkan “ mohon pertimbangkan kembali keputusan anda tuan, mohon kebijaksanaan anda”.
Aku tertawa “ Sepertinya orang-orang didunia bisnis ini mulai lupa siapa aku? apakah taringku sudah tidak setajam dulu? bisa-bisanya tikus seperti itu mengusikku ”, aku menampar pelan pipi John pemilik club YB.
John hanya bisa terdiam menerima perlakuanku. Dia adalah bos di club ini tapi akulah yang membuatnya menjadi bos. Dia harus ingat yang mana majikannya. " Aku mendengar banyak skandalmu yang merugikan club ini. Kau kira aku diam karena aku lupa padamu. Aku hanya ingin tahu sampai di mana kau mau mengangkat ekormu John", aku menatapnya tajam. John terdiam seribu bahasa, dia tahu jika dia mengeluarkan suara maka itulah akhir hidupnya.
Rian melemparkan amplop cokelat ke pangkuan John. Saat John membuka amplop itu dia langsung berlutut di kakiku.
" Tuan mohon pertimbangkan kembali putusan anda. saya bersalah. Maafkan saya tuan", John ketakutan setengah mati.
Aku tersenyum, senyum mematikan yang selalu ku tunjukan didepan musuhku. " Selesaikan semua perkara yang kau lakukan itu, aku memberimu waktu seminggu. Jika kau tidak berhasil maka ucapkan selamat tinggal pada semua kemewahan yang kau punya saat ini. Dan kembalilah menjadi tikus kotor yang meringkuk di got", aku berkata datar dan dingin.
John menunduk ketakutan " baik tuan saya berjanji akan menyelesaikannya dalam 1 minggu".
Aku melihatnya sinis lalu memijat pelan keningku “ Siapa yang memberimu uang?”, aku berbicara dengan suara pelan kearah pria yang berlutut didepanku.
Dengan gugup pria yang sedang berlutut itu menjawab “ Nona Nadia.. tuan. Nona memberikan uang kepada saya untuk membayar utang judi.. dengan syarat saya harus memberikan semua rekaman CCTV. Saya butuh uang tuan, maafkan saya tuan.. ampuni saya”, pria itu mendekati meja dengan merangkak.
“ Diam”, suaraku menggelegar. Aku berdiri lalu mengambil sebuah tongkat baseball di pinggir sofa. Aku mengayunkannya pelan kekiri dan kanan “ Aku tahu kau membuat anak dan istrimu menderita karena judi. Laki-laki bangsat sepertimu harusnya mati, mungkin dengan kematianmu anak dan istrimu akan bahagia. Bagaimana menurutmu?”, aku menatapnya. Pria itu tidak berani menjawab.
__ADS_1
Aku tersenyum ringan, berdiri empat langkah dari depan Nadia. Aku menatapnya seperti Elang yang siap memangsa musuh yang lewat di bawahnya. Badan Nadia tampak gemetar ketakutan melihatku, aku memalingkan wajah darinya.
“ Rian”, aku memanggil pelan, Rian menghampiriku.
“ Ya bos?”, Rian menunggu perintah.
“ Aku tidak ingin mengotori tanganku. Bawa dia pergi Potong 3 jari kanannya. cabut semua kuku kakinya, sebagai peringatan tentang siapa aku di mata mereka”, aku berkata dengan suara berat.
“ Baik tuan”, Rian mengangguk hormat padaku. Lalu dengan tatapan mata menyuruh bodyguard menarik pria itu pergi. Pria itu berteriak memohon ampun, menangis terseduh tapi sudah terlambat. Aku tidak suka memberi kesempatan kepada orang yang mengusik kehidupanku. John si pemilik club hanya bisa terdiam di sofa.
Aku kembali duduk dan menyesap minumanku “ Kau terkejut? Seperti inilah aku”, aku menatap Nadia yang terlihat syok sampai jatuh terduduk di lantai.
Dia mulai menangis tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
“ Kali ini kau sudah melewati batas Nadia. Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali tapi kau tidak mendengarkanku. Kau beruntung karena orangtuaku tidak mengajarkanku untuk menyakiti wanita. Tapi ini adalah hari terakhir kau melihatku sebagai orang yang kau inginkan. Kedepannya jika kau melihatku lagi lebih baik kau segera pergi, karena aku tidak suka melihat wajahmu. Kau menjijikan ”, Aku melempar pemukul baseball itu kedepan Nadia membuatnya terlonjak kaget.
“ Bawa dia “, Monica memberi perintah kepada bodyguardnya yang langsung menyeret Nadia keluar.
“ Sudah aku selesaikan. Istrinya bekerja di anak perusahaan kita di luar pulau. Istrinya benar-benar menyembahahku saat aku mengatakan akan memberinya pekerjaan. Makanya aku menghajar pria itu. Sepertinya dia benar-benar ingin berpisah dari suaminya. Dan anaknya sudah didaftarkan sebagai calon penerima beasiswa dari yayasan kita”, Alex menjelaskan hasil kerjanya membuat pemilik club YB membelalakan mata.
“ Tuan, anda sudah dirugikan tetapi anda masih memperhatikan keluarga pria itu?”, John bertanya heran.
“ Yang bersalah adalah pria itu, bukan istri dan anaknya. Anggap saja kita membalaskan kepedihan istrinya selama ini. laki-laki seperti itu tidak layak hidup”, aku menghembuskan asap rokokku dalam-dalam. “ Jalankan bisnis ini dengan baik John, jangan pernah ada kesalahan di masa depan. Ingat, darimana kau datang ”, aku memberi peringatan ke John.
Pemilik Club itu memberi hormat kepadaku lalu meninggalkan ruangan. Alex menarik nafas panjang “ ah aku lelah sekali menjadi orang jahat”, Alex membaringkan dirinya di sofa.
“ Kau memang penjahat”, Monica merespon.
“ Apa?”, Alex kesal.
__ADS_1
“ Penjahat Kelamin”, Monica berkata serius.
“ Bangsat”, Alex memaki. Aku tersenyum di balik gelasku melihat kelakukan dua sohibku ini.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan Monica pada Nadia, tapi yang aku tahu Model brand kami berganti dan aku tidak pernah melihat Nadia lagi di sepanjang hidupku.
Setelah hari itu aku tidak mendengar pemberitaan apapun lagi tentangku. Aku sudah mengatur di hari pernikahanku tidak ada pemberitahuan apapun ke media massa, sesuai permintaan Embun.
***
Aku dan Embun sibuk mempersiapkan pernikahan kami. Ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Karena Embun ingin mempersiapkan semuanya sendiri. Kadang saat di rumah dia malah uring-uringan karena apa yang dia inginkan tidak sesuai perkiraannya.
Saat ini Embun sedang dalam mode cemberut. Wajahnya di tekuk dan aku tidak bisa bermanja-manja dengannya. Aku bisa kena batunya jika terus mencoba menempel padanya, padahal aku sangat ingin memeluknya sekarang.
" Aduh, Kalau seperti ini untuk apa aku membahasnya panjang lebar dengan mereka. Undangannya salah, tolong di perbaiki sesuai konsep yang aku jelaskan kemarin", Embun mengomel di telepon.
Dia duduk di sebelahku di sofa. Menyalakan TV dengan menekan keras tombol power di remot, menyalurkan kekesalannya. Aku memainkan rambutnya menunggu.
" Sayang...", Embun mulai mengadu.
" Ya? ", aku menunggu.
" Aku kesal. Arkhh... ", Embun beteriak kecil.
Dia benar-benar kesal. Aku memeluknya menepuk punggungnya menenangkan. " Kamu hebat karena mau mengurus sendiri pernikahan kita. Tapi kamu harus banyak istiahat", aku melepas pelukanku dan menatapnya penuh sayang. " Bagaimana jika kamu menggunakan wedding planner yang lain? ", aku menawarkan.
Beberapa saat dia terdiam. " Sebenarnya aku bosan karena tidak punya kegiatan di rumah. Tapi sepertinya aku tidak berbakat untuk urusan seperti ini. Ya sudah ayo kita gunakan Wedding Planner yang lain", Embun menyerah.
Aku tersenyum legah, akhirnya dia mau mengikuti saranku. Dengan begini aku tidak akan melihatnya mengomel sepanjang hari dan aku tidak akan takut memeluknya, menciumnya karena wajahnya yang di tekuk.
__ADS_1
***