Merpati Kertas

Merpati Kertas
BAGAIMANA JIKA...


__ADS_3

Aku menyambangi rumah utama kami untuk bertemu dengan ibuku. Saat itu ibu sedang sibuk merawat tanamannya, sepertinya ibu sudah siap dengan kedatanganku. 


Aku berdiri menatapnya “ Mom, tolong jangan _ganggu istriku lagi”, kataku langsung pada intinya. 


“ Mom tidak mengganggunya Juan, Mom hanya berusaha menyadarkannya bahwa dunia kalian berbeda. Hanya itu”, terang ibuku santai. 


Aku tersenyum kecil mendengar itu. “ memangnya apa perbedaan kami mom?”, tanyaku padanya. “ Aku manusia, dia manusia, mom  juga manusia”, lanjutku. 


Ibu menatapku tidak suka “ Juan,  kasta kalian berbeda. Harusnya kamu bersama dengan orang yang setara denganmu. Bagaimana mungkin kamu bersama gadis yang hanya lulusan SMA, yatim piatu dan Oh my God suka menjawab orang tua”, ibu mulai marah-marah ke arahku melupakan tanaman yang sedari tadi di kerjakannya.


Aku menatap ibuku yang tidak berubah, masih menginginkan kehendaknya atasku. “ Mom aku mencintainya. Apa yang Jeni katakan benar, akulah yang mengajaknya menikah. akulah yang mulai mengejarnya lebih dulu, akulah yang tergila-gila padanya”, Jelasku. 


“ What, Juan.. kamu pasti kena pelet”, kata ibuku kacau. 


“ Tidak mom. Akulah yang memaksanya bahkan mengancamnya agar mau bersamaku. Mom aku bahagia bersamanya, jika mom mengganggu istriku lagi maka aku akan mengambil keputusan seperti yang dilakukan Flits. Mom tau betapa bahagianya Flits sekarang? Dia bahkan lebih bahagia saat berada di luar rumah”, terangku kejam. 


“ Juan…”, ibuku meratap. 


“ Jangan pernah mengganggu urusan pribadiku mom, aku mohon”, aku berkata sedih sambil melihat ke arahnya lalu berbalik tanpa menunggu respon darinya. Sebelum keluar dari pintu aku sempat berkata “ Mom, kunjungilah Flits. Anaknya sangat mirip dengan Flits”. Setelah berkata seperti itu aku pergi meninggalkan rumah itu 


Aku berjalan keluar rumah dan memasuki mobil tanpa melihat ke belakang. Bella mengikuti sampai ke mobil. 


“ Kak aku ikut”, rengeknya. 


“ Bella, aku tidak ke mana-mana. Aku hanya bertengkar dengan mom, kamu di rumah saja. Datanglah ke tempatku jika kamu ingin. Dan jagalah mommy untuk aku dan Flits. Kamu anak baik, aku berjanji saat kamu kuliah kamu boleh memiliki apartemen sendiri. Oke”, bujukku. 


“ Oke”, Bella menjawab dengan penuh semangat. 


Setelah itu mobilku melaju keluar dari pekarangan dan meninggalkan rumah utama kami. 


***


Bella menceritakan kejadian itu kepada Jeni, kejadian aku memutuskan lebih memilih Jeni daripada keluargaku. Jeni datang ke ruang kerjaku dan mulai berdebat. 


“ Juan, kenapa kamu melakukan itu kepada ibumu?”, Jeni bertanya suatu malam.


Aku diam saja tidak menjawab pertanyaannya, aku terus melakukan pekerjaanku. 


“ Juan, dengarkan aku. Kamu akan menjadi anak durhaka jika melawan ibumu. Lagian kita hanya menikah kontrak kan. Sebentar lagi kamu akan menceraikanku. Kamu harus berbaikan dengan ibumu”, Jeni masih mengomel. 


Aku meletakan bolpenku dan menatapnya. “ Ibuku ingin menjodohkanku dengan wanita lain. Aku tidak menyukai wanita itu. Selain itu di kontrak dengan jelas tertulis tidak boleh ada orang ketiga selama kontrak berlangsung. Apa kau lupa?”, aku berdiri dari kursiku. 


“ Itu . . . hanya sebuah kontrak kan?”, jawabnya tergagap. 

__ADS_1


“ Bagaimana jika aku benar-benar menyukaimu? “, aku berjalan mendekat ke arahnya. 


“ Ha? Apa kau sedang menggodaku lagi?”, tanyanya sambil tersenyum kaku. 


“ Tidak. Bagaimana jika aku tidak ingin menceraikanmu? Bagaimana jika aku ingin kau bersamaku selama-lamanya? Bagaimana jika aku jatuh hati padamu?”, aku mendekatinya membuatnya terpojok di dinding dan memberikan jarak sempit diantara kami. 


Jeni menatapku tidak percaya dengan pendengarannya. “ Jangan bercanda seperti ini Juan, aku bisa salah sangka”, katanya melihatku ragu-ragu


“ Aku tidak bercanda Jeni. Aku serius “, aku menatap tepat ke manik matanya. Aku benar-benar menyukai wanita ini. Aku ingin bersamanya, tetapi jika dia menolakku saat ini maka aku akan melepaskannya. Aku tidak akan memaksakan kehendakku seperti dulu. 


Jeni balas menatapku dalam dan lama dia tidak menjawab sama sekali. Tapi wajahnya bersemu merah. 


“ Kenapa kau tidak menjawabku? “, aku masih menatapnya. 


“ Juan… aku..”, dia tertunduk. 


Aku menunggunya melanjutkan perkataannya, mungkin benar dia membenciku. Jika dia tidak ingin bersamaku maka hari ini aku akan melepaskannya. Aku akan membiarkan cintaku berlalu karena mungkin itu adalah karma yang harus ku terima. 


Jeni menatapku lagi “ Juan.. Jantungku berdebar sangat kencang karena perkataanmu”, lanjutnya. 


Aku menatapnya berusaha mencerna setiap perkataannya. Lalu aku teringat jawabanku soal rasanya jatuh cinta. Gadis yang pertama kali jatuh cinta mengungkapkan perasaannya dengan berdebar. Aku tersenyum menatapnya yang masih mengoceh. 


“ Biasanya jika kamu menggodaku, aku hanya berdebar sesaat. Tetapi hari ini jantungku berdebar sangat cepat seperti akan keluar dari …”, katanya polos. 


 “ Itu tandanya kamu jatuh cinta padaku. Jadi bagaimana apakah jantungmu masih aman di tempatnya? ”, jelasku. 


Matanya mengerjap melihat ke arahku. Dia lalu masuk ke dalam pelukanku, menyembunyikan wajahnya dalam pelukanku. 


“ Jangan menatapku. Aku malu”, katanya. 


Aku tertawa mendengar perkataannya “ Baiklah aku tidak akan melihat wajahmu”, kataku memeluknya gemas. “ Jadi hari ini kamu resmi milikku”, lanjutku. 


Dia mengangguk dalam pelukanku. 


***


Kami tidur dengan posisi saling menatap dari tempat tidur masing-masing. Seperti remaja yang baru jatuh cinta, Jeni terus menatapku.


“ Juan, jadi begini rasanya jatuh ? “, tanyanya padaku. 


“ Hmm.. apa yang kau rasakan sekarang?”, tanyaku padanya. 


“ Aku merasa seperti yang paling bahagia di dunia ini. Seperti kupu-kupu berterbangan di dalam perutku”, jawabnya. 

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar jawabannya. “ Matamu, seperti mata siapa? ibu atau ayahmu?”, tanyaku.


“ Ibuku. Mata ibuku sangat cantik. Sangat lembut ketika menatapku”, dia mengenang. 


“ Matamu juga saat ini sangat cantik. Aku suka”, kataku. 


Dia tersenyum mendengarku. 


“ Jeni bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”, aku berubah serius. 


“ Ya, apa yang ingin kamu tanyakan?”, dia masih menatapku. 


“ kenapa kamu tidak pernah menangis di hadapan orang lain?”, tanyaku lagi. 


Dia terdiam, menarik nafas panjang dia merubah posisi menatap ke arah langit-langit kamar. 


“ Aku dulu adalah anak yang cengeng Juan, sangat cengeng.  Saat ibu dan ayahku meninggal aku menangis sejadinya. Semua orang mengasihani aku, bukan karena sayang tetapi karena hanya kasihan melihat anak seusiaku sudah harus menjadi yatim piatu. Lalu aku tinggal bersama tante dan omku yang menjadi kedua orang tua angkatku. Aku masih gadis yang cengeng karena tante Tina begitu mencintaiku. Tetapi saat dia pergi menyusul ibu dan ayahku, rasanya duniaku benar-benar runtuh Juan”.


Aku terdiam mendengarkan ceritanya. Suaranya dalam dan berat.


“ Aku .. kecewa untuk hidupku. Beberapa bulan setelahnya om menikah lagi, aku tahu itu adalah selingkuhannya. hubunganku dengan tanteku yang baru kurang baik. Sampai akhirnya dia mengusirku dari rumah. Setelah mereka mengeluarkan kakekku dari keluarga besar. Aku hidup bersama kakek. Aku bekerja sambil bersekolah untuk menghidupi diriku, kakek bekerja di toko bunga untuk membiayai kehidupan kami”.


“ Jadi toko bunga itu adalah pemberian kakek?”, tanyaku. 


“ Tidak. Itu adalah warisan dari ibuku. Satu-satunya yang ku miliki, pada saat itu usiaku masih dibawah umur jadi kakek yang mengurus semuanya. Juan kamu mau tahu apa cita-citaku?”.


“ Apa?”, tanyaku dengan suara lembut. 


“ Aku ingin menjadi guru balet dan membuka sekolah balet. Tapi itu hanya cita-cita dalam anganku”, katanya sedih.


“ Jeni, kemarilah”, panggilku. 


Dia turun dari tempat tidurnya dan naik ke atas tempat tidurku, masuk ke dalam pelukanku.


“ Jadi aku tidak pernah  menangis di hadapan orang lain karena aku benci orang menatapku dengan rasa kasihan yang tidak perlu. Aku bisa menjadi kuat untuk diriku sendiri”, bisiknya dalam pelukanku. 


Aku terdiam memikirkan betapa menderitanya masa mudanya saat itu.


“ Saat bersamaku, jika kau ingin menangis maka lakukanlah di dalam pelukanku. Agar tidak ada yang melihat wajahmu dan hanya aku yang mendengar suara tangismu”.


Mendengar itu dia semakin mengeratkan pelukannya padaku.


***

__ADS_1


__ADS_2