Merpati Kertas

Merpati Kertas
AKU HILANG ARAH EMBUN


__ADS_3

Apa yang di kuatirkan Elsa terjadi. Saat itu aku sedang menunggu angkutan umum di halte bus depan kampus saat sebuah mobil berhenti di depanku. Beberapa orang turun dan memberi hormat kepadaku. Aku yang bingung melihat ke arah belakangku, tidak ada orang di sana. Di halte itu hanya ada aku dan seorang ibu paruh baya. Aku berjalan ke samping kiri mereka mengikuti, aku ke samping kanan mereka mengikuti juga. Aku akhirnya diam mematung.


Seseorang dari mereka berbicara dengan sopan " selamat sore Nona, kami diutus untuk menjemput nona".


Aku mengerutkan alis " Saya?", aku menunjuk diriku sendiri. 


" Benar. Nona Embun", pria itu berbicara lagi. 


" Ada perlu apa ya? Tapi maaf saya tidak bisa. Saya tidak kenal kalian", aku bergegas pergi tapi salah seorang dari mereka menghalangi jalanku dan seorang lagi menggendongku di pundaknya dan membawaku masuk ke dalam mobil. Aku yang terkejut hanya bisa meronta-rontah.


" Hei kalian siapa? Udah gila ya?", aku menendang-nendang di dalam mobil. Mereka diam saja. Aku berteriak-teriak tapi sepertinya percuma. 


Pria yang seperti ketua mereka malah berbicara ke arah orang-orang yang menatap penasaran " maaf tolong bubar, wanita ini adalah istri bos kami. Beliau  sedang marah dan kabur dari rumah. Mohon pengertiannya", dia lalu masuk ke dalam mobil dan mobil melaju meninggalkan gerbang kampusku. 


Aku merasa mereka berputar-putar di sepanjang tol sangat lama. Hampir 2 jam, aku sampai bingung. Kenapa kami tidak sampai-sampai.


" Kalian sebenarnya mau membawa aku ke mana?", aku bertanya penasaran.


Mereka tidak menjawab. Salah seorang dari mereka membagi air mineral untuk di minum ke setiap orang di dalam mobil. Mereka mulai meneguk air itu. Awalnya aku curiga dan menunda untuk meminum air itu. Tapi lama kelamaan aku tidak kuat menahan haus akhirnya aku meneguk minuman itu.


Awalnya tidak terjadi apa-apa. Saat air di botol mineral itu sudah setegah, padanganku mulai kabur. Aku mulai mengantuk berat. Seorang di antara mereka berkata.


" Bos sepertinya obat itu bereaksi. Wah lama sekali dia mau minum air di botol itu. Ayo nyalakan AC mobilnya aku kepanasan".


Lalu semua gelap, aku tidak ingat apapun lagi.


***


Saat aku terbagun mobil sudah melewati hutan yang di penuhi pepohonan. Mobil berganti dan orang-orang di sampingku juga sudah berganti. Hanya pria yang di panggil bos oleh mereka saja yang masih duduk di bangku depan bersama sopir.


Aku lemas, sisa ngantukku masih ada Aku mencari-cari tasku dan tidak menemukannya. Hari sudah sangat gelap, sepertinya sudah hampir tengah malam.


Mobil masuk ke sebuah rumah yang sangat besar, samar-samar aku melihat pagar yang tinggi membatasi rumah itu dengan hutan luar. Mereka memaksaku turun dari mobil.


" Lepasin aku… udah gila ya… jangan pegang-pegang", aku menepis tangan seorang bodyguard yang terus memegang lenganku seolah aku mau kabur. Bagaimana aku mau kabur, tanganku cedera dan lagi badan mereka besar-besar. Bagaimana bisa aku melawan, bisa-bisa aku jadi gepeng di tangan mereka. 

__ADS_1


Ruangan ini terlalu mewah untuk ukuran ruang tamu, lampu besar berbentuk kristal menggantung di langit-langit, lukisan pemandangan menggantung di atas sebuah bufet mewah. Berjejer gucci mahal di atas bufet tapi tidak ada sofa yang diletakan disini. Tiga orang pelayan menyambutku dengan sopan.


“ Selamat datang nona, kami sudah menunggu anda. Mari saya antar”, 


Aku sedikit ragu tapi akhirnya mengikuti, aku penasaran siapa yang menjemputku dengan cara seperti itu. Pelayan yang mengantarku tadi berbicara dengan seorang pria yang berdiri membelakangi pintu masuk.


“ Tuan, nona sudah sampai “.


Pria itu berbalik “ Ya, kamu boleh pergi. Siapkan apa yang kuperintahkan”, jawabnya dingin.


Aku mematung, itu Juan. “ Halo sayang, selamat datang”, Juan menghampiriku ingin mencium pipiku. 


Aku menghindarinya dengan memalingkan wajahku. Juan tampak tidak senang dengan reaksiku. “Aku mau pulang “, aku berkata ketus.


“ Makan malam dulu bersamaku”, Juan melihatku.


“ Ini namanya penculikan”, Aku menggretaknya walaupun ku tahu ini kan menjadi sia-sia. 


“ Jadi? apa kamu ingin lapor polisi?”,Juan membelai rambutku. Aku langsung menepis tangannya. 


“ Dia benar-benar melakukannya”, Juan menatap cincin itu.


Aku menarik tanganku “ bukan urusanmu brengsek”, aku berbalik dan dengan setengah berlari menuju ruang yang tadi aku lewati. Aku harus keluar dari sini, Juan seperti orang lain. Aku tidak ingin berurusan dengannya. Aku merogoh ponselku lalu menelpon Nandes tapi tidak diangkat. Akhirnya aku menelpon Elsa. Sambil  berjalan keluar aku berbicara.


“ Halo Embun.. “, Elsa mengangkat telepon.


“ Halo Sa. Sa aku diculik Juan, si brengsek itu membawaku entah kemana. Aku tidak tahu, aku sedang berusaha keluar dari sini. Tapi…aww”,Juan menarik tanganku. Saat ini aku hampir sampai ke pintu gerbang rumah Juan. 


“Lepasin… brengsek… babon gila”, aku berusaha melepaskan diri. Juan mengambil teleponku dan berbicara dengan Elsa. 


“ Hai Sa ini Juan. Nanti kami telepon lagi”, Juan mematikan telepon. Di saat terakhir aku masih mendengar Elsa memanggil namaku dengan Heboh. 


 


Juan melemparkan HP milikku ke salah satu bodyguardnya “ Hancurkan”, kata Juan singkat.

__ADS_1


Aku melongo “ Apa? kamu gila ya? kembalikan Hp Ku”, aku berusaha mengambilnya. Juan malah menggendongku di pundaknya. Aku meronta-rontah memukul punggungnya.


“ Lepasin aku brengsek. Bangsat. Kamu jahat Juan. Aku benci kamu, lepasin aku”.


 Juan tidak peduli, dia membawaku melintasi ruangan tanpa bersusah payah. kami memasuki sebuah kamar dan dia melemparku dengan pelan ke tengah tempat tidur. Aku ketakutan dengan kelakuan Juan. 


“ Kamu menyakiti punggungku Embun”, Juan berkata tidak senang. 


Aku turun dari tempat tidur dan berusaha melarikan diri dari Juan tetapi Juan menangkapku dengan mudah. “ Lepasin aku Juan. Aku mau pulang”, aku mulai menangis. Juan memelukku dari belakang, mengunci tanganku dalam pelukannya. 


“ Ssst… tenang Embun. Jangan membuatku seperti seorang kriminal. Tolong jangan uji kesabaranku. Aku hanya ingin bersamamu sebentar saja”, Juan memelukku erat.


Ada aura menakutkan dalam suaranya yang membuatku terdiam. Aku hanya bisa terisak.


“ Kamu cantik jika menurut seperti ini”, Juan membenamkan wajahnya di rambutku. “ Aku tahu Nandes melamarmu. Dia memperingatkan untuk menjauhimu. Tapi aku tidak bisa, kamu adalah candu bagiku Embun. Sejak aku meninggalkanmu dan memulihkan diriku aku merasa ada sesuatu yang kosong dalam diriku sampai aku melihatmu di pernikahan Adam. Aku tahu apa yang kucari”, Juan mencium bawah telingaku. Badanku sedikit gemetar karena takut. 


“ Aku menyesal karena meninggalkanmu dulu. Aku ingin kamu kembali padaku”, Juan mencium bahuku. 


Dengan penuh keberanian aku menjawab “ Juan, kamu tidak mencintaiku. Kamu hanya terobsesi padaku”.


Juan berhenti mencium bahuku dan terdiam. Aku tidak tahu ekspresi apa yang muncul di wajahnya tapi dia membalikkan badanku dan menciumku dengan kasar. Dia memegang tanganku yang cedera, aku meringis karena kesakitan. Juan mendorongku jatuh di atas tempat tidur, dan menciumku lagi dengan kasar. Dia mencengkram kedua tanganku. Aku sekuat tenaga melawannya. Aku sudah tidak bisa merasakan rasa sakit lagi pada pergelangan tanganku yang cedera.


“ Juan … Juan… berhenti… Juan”,aku berteriak dengan tangisanku saat Juan merobek blush ku dan  memperlihatkan Tanktop putih milikku. Juan seperti kesetanan, dia mencium mulutku leherku. Juan menarik tank topku dengan kasar dan mencium bahuku saat aku berkata lirih “ Juan aku mohon. Aku takut sama kamu, kamu seperti monster”, aku menangis tersedu.


Mendengar itu Juan berhenti di bahuku. Aku terisak-isak berusaha berhenti menangis. Cukup lama Juan berada di bahuku. Dia membenamkan wajahnya di sana.


“  Aku…  Aku hilang arah Embun. Aku merindukanmu sampai membuatku gila”. 


Aku merasakan ada air mata di bahuku. Juan menangis dalam diam. Aku tidak ingin memberikan respon apapun, aku hanya terisak di sisa tangisku. Setelah cukup lama, Juan bangun dari atasku. Di mendudukanku, wajahku tidak bisa menyembunyikan ketakutan serta rasa benciku padanya. Juan merapikan bajuku yang sudah robek. Dia ingin memegang daguku tapi aku menghindar. Dia menarik nafas berusaha bersabar terhadapku.


“ Sekarang kamu mandi. Dan pakailah baju yang sudah kusiapkan. Kita makan malam bersama. Dan pikirkanlah dengan baik untuk bersamaku. Menikahlah denganku Embun”. 


“Juan tanpa memikirkannya aku tahu jawabanku untukmu”, Aku berdiri dan berjalan masuk ke kamar mandi lalu mengunci kamar mandi itu. Aku menangis dengan tersedu-sedu di sana, seluruh badanku gemetar. Semua perasaan bercampur sedih, marah kecewa menjadi satu. Saat ini aku membenci Juan.


***

__ADS_1


__ADS_2