Merpati Kertas

Merpati Kertas
NANDES: OBAT PENYEMBUH


__ADS_3

Aku masuk ke dalam rumah, sudah larut malam pukul 23.00. Sepertinya Embun sudah tidur, ruang tamu tampak gelap hanya ada cahaya remang dari arah dapur. Aku menaiki tangga dan berjalan menuju ke kamar Embun. Beridiri di depan pintu cukup lama akhirnya aku mengetuk pintu itu pelan, tidak ada jawaban. Aku menghembuskan nafas sedikit kecewa. Aku ingin melihat senyumnya menyambutku saat pulang kerja. Dengan langkah gontai aku berjalan masuk ke kamarku. 


Aku berdiri dibawah shower cukup lama. Merasakan air hangat mengaliri punggungku. Melepaskan semua stressku dan berusaha melupakan semua hal yang sedang kupikirkan. Tahan sedikit lagi Nandes, jangan sampai kau merusak semua kepercayaannya padamu batinku. Seandainya Embun tahu, dia adalah candu bagiku. 


Aku mematikan kran air shower, mengambil handuk dan mengeringkan badanku. Melilitkan handuk untuk menutupi pinggang ke bawah lalu mengeringkan kepala dengan handuk kecil yang lain. 


Saat aku keluar dari kamar mandi, aku cukup terkejut dengan kehadiran Embun di sana dalam kamarku. Embun sedang duduk dipinggir tempat tidurku dan tersenyum menatapku. " Kamu... menungguku dari tadi? ", aku bertanya sedikit menutupi kegugupanku.


" Kamu mandinya lama sekali", Embun melihatku malu-malu.


Deg. Deg.


Jantungku berdegup melihatnya mengenakan kimono tidur berbahan satin. Embun tampak cantik sekali, kalau aku tidak waras pasti aku sudah merobek kimono itu dalam satu tarikan. Aku menarik nafas menenangkan diri. Berusaha mengatur nafasku sebisa mungkin.


" Aku kira kamu sudah tidur", aku menjawab berusaha tenang. 


" Belum, aku menunggumu", jawab Embun. " Hal yang ingin kulakukan bersamamu itu", Embun sedikit tercekat. " aku yakin kamu adalah obat penyembuhku. Aku hanya ingin memiliki keberanian lagi saat bersamamu. Aku menginginkan sesuatu yang lebih darimu seperti dulu", lanjutnya.


Setelah itu di luar dugaanku. Embun berdiri, berjalan dua langkah ke arahku lalu menanggalkan kimono satin berwarna emas itu. Menampilkan tubuhnya dalam balutan lingerie.


Jantungku berdebar kencang melihatnya dalam balutan lingerie berwarna merah maroon transparan itu. Aku bisa melihat lengkukan tubuh indahnya. Hasratku bangkit, aku menanam kuat kakiku agar tidak menerjangnya  Apa Embun sedang mengujiku sekarang? Tapi bukannya ini berlebihan. 


Embun maju mendekatiku dan menaruh tangannya di pipiku. Aku memejamkan mata merasakan hangat sentuhannya. Ada sesuatu di bawahku yang bangkit. 


" Kamu sedang mengujiku?", aku bertanya waspada.


Senyum manis mereka di bibirnya yang ranum. " Tidak, aku tidak mengujimu. Aku datang kepadamu memintamu menjadi obat penyembuhku. Agar aku bisa memiliki keberanian seperti dulu saat bersamamu".


" Apa aku bisa menjadi obat penyembuhmu?", aku meraih tangannya yang ada di pipiku. 


" Ya. Aku mencintaimu", Embun melingkarkan tangannya di tengkukku.


Aku menatapnya dalam, meraih pinggangnya. Dan menciumnya lembut. Pelan tapi pasti, aku mengabsen setiap deretan giginya. Embun memainkan jarinya di dadaku, membuat aliran darahku berdesir. Aku menariknya lebih dekat.

__ADS_1


"Mari kita lakukan dengan pelan", aku berbisik. Lalu menciumnya lagi, ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi panas. Lidah yang saling bertaut membuat Embun sepertinya susah bernafas.


Aku melepaskan ciumanku dan beralih ke lehernya, pelan tapi pasti dengan posisi berdiri aku mencium belikatnya dan memberi gigitan kecil yang membuat Embun menjerit kecil karena rasa sakit yang nikmat. Sebelah tanganku menahan punggungnya, tanganku yang lain menarik lepas baju transparan itu membuat salah satu keindahannya terlihat jelas di mataku. 


Aku merindukannya, aku menenggelamkan mulutku di sana. Dan Embun melenguh kecil karenanya. Dia menjatuhkan kepalanya ke belakang karena kenikmatan yang menghantamnya, tangannya masuk kedalam rambutku yang masih setengah basah. Aku memainkan lidahku di atas puncaknya yang berwarna pink. 


 


Ugh… ugh..


Mendengar suara lenguhannya membuatku gelap mata. Aku menggendongnya sambil tetap menikmati keindahan itu di mulutku. Embun mendorong kepalaku lebih dalam. Aku melepaskan ciumanku dan meletakkannya di atas tempat tidur. Aku menatapnya penuh sayang. 


Lalu menunduk berbisik padanya. " ingatlah bahwa kamu bersamaku, aku Nandes. Aku kekasihmu yang mencintaimu. Aku tidak akan menyakitimu".


Embun mengangguk, air matanya menetes ke samping. Aku mengecupnya pelan " Jangan menangis. Kamu adalah yang terindah bagiku".


Embun membalas kecupanku. Aku mencium keningnya, matanya, pipinya, bibirnya, lehernya turun sampai ke perut. Aku mencium pahanya lalu aku naik dan mencium bibirnya lagi. Satu jariku menelusuri dalam pahanya dan  menggeser pelan lingerie tipis itu  Memasukan satu jari ke mawar merekah itu. Embun melenguh dalam ciumanku. 


" Emmmm….".


Aku mencium lehernya sampai ke bawah telinganya. " Siapa aku?", aku bertanya padanya di tengah keterlenaannya. 


" Nandes", Embun menjawabku dalam lenguhannya. 


Aku melepas jariku dari sana. Dan mengangkat Embun sedikit ke tengah tempat tidur. Embun yang lemas di bawahku, menatapku dengan tatapan sayu. 


Aku melepaskan handukku dan menarik penutup terakhir  Embun tanpa kendala. Aku hilang akal, aku menginginkan wanita ini lebih dari apapun. Embun sedikit menyilangkan kakinya, ada sedikit kepanikan di wajahnya. 


Aku menunduk menatapnya " siapa aku?", aku bertanya lagi. 


Embun menatap wajahku. " Nandes", jawabnya.


" Aku Nandes, aku kekasihmu, aku akan mencintaimu apapun yang terjadi", aku mengecup matanya lembut. 

__ADS_1


Embun memejamkan mata dan membuka silangan kakinya. Aku menatapnya penuh sayang. Pelan-pelan aku masuk ke dalamnya. 


Tangan Embun yang melingkar di leherku mulai mencakar cukup dalam belakang punggungku. Aku menunduk lagi " buka matamu, ini aku Nandes".


Pelan-pelan Embun membuka matanya, dia tersenyum melihatku air matanya jatuh sekali lagi. " Aku mencintaimu Nandes", Embun berkata lirih. 


Aku tersenyum "peluk aku. Aku akan melakukannya dengan pelan".


Embun memelukku kuat. Aku mulai memainkan tempo irama yang lembut. Membawanya dalam permainan yang panjang dan kami melewati malam pengobatan yang indah. Dengan penuh cinta yang bergelora. 


***


Aku terbangun di pagi hari tanpa Embun di sampingku. Rasa panik menyerang, aku buru-buru memakai celana dan bajuku lalu berlari keluar kamar. 


" Embun… Embun…", aku mencari kesana kemari dan menemukannya sedang mencuci sayuran di dapur. Nafasku tersengal, mengira dia meninggalkanku setelah malam tadi.


" Kenapa kamu ribut sekali pagi ini", Embun melihat ke arahku. 


Aku berjalan cepat ke arahnya dan langsung meraihnya dalam pelukanku. "Aku kira kamu pergi lagi".


Embun tertawa pelan " memangnya aku mau ke mana bodoh", dia mengacak rambutku. 


Aku menunduk ingin mencium bibirnya tetapi dengan cepat Embun memasukan buah tomat ceri ke mulutku. 


" Sana mandi. Kamu terlambat ke kantor", Embun berbalik mulai memisahkan sayuran yang akan dimasak. 


Aku mengunyah tomat ceri itu pelan " Kamu sudah mandi? ".


" Sudah dong", Embun terus melakukan aktivitasnya. 


Aku sedikit kecewa mendengar jawabannya.


" Cepetan mandi", Embun memukul bokongku seperti mengusir anak umur 5 tahun. 

__ADS_1


" Yaa.. Yaaa… ", aku mengecup pipinya. Lalu berlari naik ke arah tangga menuju kamar mandi. 


***


__ADS_2