Merpati Kertas

Merpati Kertas
KEPUTUSAN TINGGAL BERSAMA


__ADS_3

Aku memijat kepalaku pelan. Jeni sedang duduk bersamaku di dalam mobil, tentu saja berdebat denganku terkait keputusan pindah rumah. 


“ Kenapa kita harus tinggal bersama?”, Jeni bertanya keras kepala. 


“ Orang yang sudah menikah harus tinggal bersama Jeni. Wartawan di luar sana suatu saat akan mencari tahu tentangmu. Aku tidak ingin ada pemberitaan besok Seorang Ceo Hebat menelantarkan istrinya”, aku menjelaskan sabar. Walaupun bukan itu alasanku sebnarnya, aku hanya ingin dia berada di dekatku dan dibawah pantauanku.


“ Tapi aku lebih suka tinggal sendiri, aku tidak suka hotelmu itu”, katanya lagi. “ Dan lagi kita bisa membuat alasan kan kepada wartawan”, Jeni masih keras kepala. 


Aku melihat senyum terpancar sekilas dari bibir Doni di balik kemudi, melihat itu aku menjadi kesal. Dia pasti senang karena baru pertama kali dia melihat ada orang yang berani membantah setiap perkataan yang keluar dari mulutku. Apalagi itu seorang wanita. 


“ Pokoknya aku tidak mau tinggal bersama denganmu”, katanya lagi mengakhiri pembicaraan kami. 


Wah… betapa pusingnya aku menghadapi wanita keras kepala ini. Keras kepalanya benar-benar mengalahkan batu sungai. Mobil sampai di depan toko milik Jeni. Aku melihat tiga karyawan Jeni berkumpul di luar toko. Dengan cepat Jeni membuka pintu mobil dan menghampiri karyawannya, aku menyusul dari belakang.


“ Ada apa?”, tanya Jeni. 


“ Bu, toko di obrak abrik preman tadi pagi subuh”, salah seorang karyawan wanita menjawab.


Aku langsung sadar apa yang sedang terjadi, tapi aku diam saja mendengarkan cerita karyawan itu. 


“ Preman mabuk? Apakah mereka mencuri sesuatu? Kalian tidak apa-apa kan?”, Jeni mulai panik.


“ Kami tidak apa-apa bu. Hanya saja jualan kita rusak semua, kaca toko banyak yang pecah. Sepertinya kita rugi banyak”, karyawan yang sepertinya orang kepercayaan Jeni  berbicara. 


“ Tidak masalah. Yang penting dari kalian tidak ada yang terluka. Mari kita lihat berapa banyak kerugian yang ada”, Jeni menenangkan karyawannya. 


“ Baik bu”. Para karyawan itu mulai masuk ke dalam toko dan membereskan berbagai barang. Sedangkan Jeni menghela nafas panjang, aku menghampirinya dan memegang bahunya. 


“ Jeni. Apa yang terjadi?”, aku pura-pura bertanya. 


“ Aku tidak tahu. Mungkin ada yang ingin merampok toko. Tidak apa-apa”, dia malah menenangkanku. 


“ Akan ku bantu mencari tahu”, kataku. 


“ Terima kasih Juan”, Dia menggenggam tanganku pelan. “ pergilah ke kantor. Nanti kamu terlambat, biarkan aku mengurus tokoku”, katanya lagi.

__ADS_1


“ Baiklah, aku akan pergi kantor. Jeni dengarkan aku”, aku memegang kedua tangannya. “ Jika ada sesuatu yang mencurigakan atau terjadi lagi, langsung telpon aku. Sebisa mungkin aku akan mengangkatnya atau kau bisa menelpon Doni. Ini adalah peraturan dariku, kau harus mematuhinya. Ingat kontrak itu”, aku langsung menegaskan di akhir kalimat karena melihat Jeni seperti ingin berargumen. 


“ Baiklah. Aku akan menelponmu sebagai orang pertama”, katanya patuh.


“ Bagus. Kalau kau patuh begini aku tidak akan terkena migrain setiap hari karena ocehanmu”, kataku.


“ iss.. udah sana.. “, jeni mengusirku. 


“ Yaa.. Bye sayang”, pamitku saat melihat karyawannya mendekat. 


Jeni melotot tapi sadar jika ada yang mendekat “ Bye juga sayang”, jawabnya sambil mencubit pipiku. 


Aku tertawa dengan terpaksa, lalu berbalik dan masuk ke dalam mobil. Saat mobil melaju keluar dari parkiran toko itu, aku berbicara kepada Doni.


“ Cari tahu siapa pelakunya”, kataku pada Doni.


“ Baik tuan. Saya sudah menyuruh orang mencari tahu”, Doni menjawab cepat.


Aku menatap keluar jendela mobil “ Hartanto, berani dia menyentuh istriku akan ku habisi keluarganya”,kataku dingin .


***


Akh mengetuk pintu apartemennya "Jeni... Jeni ini aku Juan. Ayo buka pintunya... Ini aku", aku berteriak membuat tetangga kiti kanannya keluar dari apartemen mereka.


Jeni membuka pintu, dia memegang erat sebuah tongkat baseball yang entah dia dapat darimana. Aku memasuki pintu apartemen, ketika melihatku Jeni langsung berlari memelukku. Entah dia sadar atau tidak, tapi yang ku tahu dia gemetar ketakutan dalam pelukanku.


" Juan, aku tidak tahu mereka sedang mencari apa dariku", katanya dengan suara bergetar. " Mereka mengedor pintuku sepanjang malam, meninggalkan tikus mati di depan pintuku... Aku..aku... ", badannya gemetar.


Aku mengeratkan pelukanku, sampai badannya berhenti gemetar. " Tenanglah aku ada di sini. Aku datang untuk menjemputmu", kataku menenangkan.


Dia mengangguk cepat menyetujui kata-kataku. Dia melepaskan pelukanya padaku. " Duduklah, aku akan membuat teh untukmu. Jangan kuatir Doni sedang menyelidiki dan di luar banyak bodyguard yang berjaga", kataku menenangkannya.


Jeni mengangguk, saat aku akan beranjak membuat teh Jeni menarik ujung bajuku. Matanya seperti meminta untuk tidak di tinggalkan sendirian.


Aku tersenyum lalu menggengam tangannya erat, membawanya bersamaku ke dapurnya yang kecil. Mendudukannya di kursi. Aku lalu mukain mneyeduh teh untuknya.

__ADS_1


" Juan, aku pikir apakaha da costumer yang tidak suka padaku?", tanyanya polos.


Mendengar pertanyaan polos itu, aku berhenti mengaduk teh didepanku. Dengan perlakuan keluarganya yang seperti itu, bagaimana mungkin dia tidak memikirkan kemungkinan buruk yang di lakukan oleh kelurganya. Entah aku menikahi wanita polos atau bodoh, aku tidak tahu.


" Aku belum tahu pasti. Doni sedang mencari tahu. Nanti kita lihat apa hasilnya", kataku sambil meletakan cangkir teh didepannya.


Dia mengangguk, lalu menyesap teh itu pelan. " Apakah kita akan tinggal hotelmu?", tanyanya.


" Ya.. Itu rumahku. Aku membangun hotel itu dengan lantai khusus untuk rumahku", katanya lagi.


Jeni mengangguk sepertinya sudah lebih tenang dari sebelumnya. " Suatu jika benar-benar menikah dan mempunyai anak apakah kamu akan tetap tinggal di sana?", tanyanya.


Aku menghela nafas, di dalam hati berharap pernikahanku hanya sekali ini bersamanya. Tidak ingin mengenal orang lain lagi.


" Aku akan mengikuti apa yang di inginkan istriku", kataku menyimpan isi hatiku sendiri.


Dia menatapku tersenyum " Aku kira kamu akan menjadi egois dan tetap menetap di sana. Ternyata kamu sangat bijak", katanya lagi membuatku tersipu.


"Jika kau sudah merasa lebih baik. Ambil barangmu yang di perlukan sekarang sisanya aku akan menyuruh orang membawanya besok", kataku lembut.


" Ya. Tunggu ya, aku akan membereskan bajuku", katanya lalu berdiri dari kursinya.


" Jeni ", aku memanggil membuat langkahnya terhenti. " apa aku perlu menemanimu?", tanyaku.


Dia menatapku lalu tersenyum " Tidak Juan. Aku sudah lebih tenang sekarang. Terima kasih karena sudah menolongku", katanya tersenyum manis sekali dan warna matanya begitu menggoda di bawa cahaya lampu dapur.


Dia lalu berjalan meninggalkanku yang duduk menatap punggungnya menghilang dari balik pintu. Aku mengetuk pelan meja makan, sepertinya aku hampir terperosok ke dam perasaanku.


Ponselku bergetar. " Ya", aku menajwabnya pelan.


" Tuan, kami menangkap salah satu dari mereka", Doni berbicara pelan.


" Bawa ke tempat biasa. Bagaimanapun caranya buat dia membuka mulutnya degan niatnya sendiri ", kataku kejam seperti biasa.


" Baik tuan", Doni menjawab patuh.

__ADS_1


***


__ADS_2