
Sejak kejadian itu aku absen membawa mobil, apalagi Nandes sedang ke Bandung. Aku naik angkutan umum atau ojek online, kejadian itu membuatku sedikit trauma.
" Embun, gimana kalau kamu pindah ke apartemenku?", Nandes menawarkan saat kami berbicara di telepon.
Aku heran dengan permintaan yang tiba-tiba " Tidak, apartemenmu jauh dari tempat kerjaku. Kamu nanti repot anterin aku setiap hari ke kantor. Apalagi kamu paling males bangun pagi. Kenapa tiba-tiba ?".
" Tidak aku hanya ingin bersamamu setiap hari", ada nada kecewa dalam suaranya.
" Aku juga tapi tidak bisa. Kamu harus menahan diri", aku tegas.
" Ya.. aku akan berusaha", Nandes tidak niat.
" Oh ya, aku ditunjuk sebagai tim baru untuk menangani seorang pasien super VVIP. Sepertinya bukan orang sembarangan. Jadi semuanya serba rahasia", aku bercerita.
" Oh ya… pejabat?".
" Aku tidak tahu. Aku juga penasaran. Dia di kelas presiden. Satu lantai hanya untuk dia. Mungkin pemilik Rumah sakit?", aku menerka-nerka.
" Apa kamu setuju untuk masuk ke tim itu?".
" Aku tidak bisa menolak karena surat tugas itu sudah keluar. Wah padahal tugas kuliahku sedang banyak-banyaknya", aku mengeluh.
" Kamu pasti bisa. Pacarku kan hebat", Nandes memberiku semangat. Aku senang mendengar suaranya yang bass dan terdengar sangat cool. Bodoh sekali aku baru menyadari perasaanku sekarang. Aku suka pacarku ini.
***
Aku mematung. Melihat Juan di depanku. Apa ini? suasana macam apa ini?. Pasien VVIP yang harus dirawat itu adalah ayah dari Juan.
Juan sedang melihat ayahnya yang diperiksa oleh Dokter Penanggung Jawab spesialis paru. Aku sangat yakin, aku masuk ke dalam tim ini bukan karena sebuah kebetulan. Diatasku masih ada senior yang lebih berpengalaman daripada aku, kasus seperti ini selalu membutuhkan dokter yang memiliki pengalaman sangat lama. Kenapa harus aku yang di pilih?
Tim kami diperkenalkan didepan keluarga Juan. Ibu Juan sangat cantik, pembawaannya sangat berwibawa tapi sorot matanya terlihat sangat sedih. Seorang pria sekitar usia pertengahan 30 berdiri menatap keluar jendela. Pakaiannya biasa saja tidak seresmi yang lain. Dan seorang wanita yang duduk didekat tempat tidur pasien menggunakan seragam SMA. Aku langsung tahu mereka adalah adik dan kakak Juan. Wajah mereka terlihat mirip hanya warna rambut mereka yang berbeda, terutama Juan dan adik perempuannya.
__ADS_1
Ibu Juan berdiri dan berbicara ke arah Direktur kami " Saya harap sakit bapak harus di rahasiakan, media tahu bapak sedang istirahat. Saya harap tim yang kamu pilih ini adalah tim yang bisa di percaya dr Handoko. Jangan sampai media tahu sampai saat serah terima jabatan terjadi".
Dr Handoko mengangguk hormat " saya jamin tim ini adalah yang terbaik bu Anderson. Bapak adalah sahabat lama saya. Kami akan merawat beliau dengan baik".
Ibu Juan mengangguk " Aku percaya padamu Handoko", nada kesedihan terdengar dalam suaranya.
Aku melihat Juan duduk di kursi memperhatikan tempat tidur ayahnya. Dia tampak gagah dengan stelan jas hitam kantorannya. Membuyarkan semua kesan manisnya yang terpatri di kepalaku. Yang terlihat didepan mataku sekarang adalah seorang pria dengan wajah dan tatapan dingin berwibawa dan aku ternyata tidak benar-benar mengenalnya dulu. Juan berasal dari keluarga konglomerat dan sangat berbeda jauh dariku. Aku merasa ada jarak yang terbentang semakin lebar di antara kami.
Aku duduk di Nurse Station memikirkan apa harus aku menceritakan kejadian ini kepada Nandes atau aku harus diam saja. Aku sangat bimbang.
" Haaaaaah… harusnya ku tolak dari awal. Sialan", aku menelungkupkan badan di atas meja Nurse Station.
" Kamu mengatai aku?", seseorang berbicara kepadaku.
Aku terlonjak, Juan berdiri di hadapanku.
" Maaf?", aku bingung.
Aku menggeleng " Tidak, aku bicara pada diriku sendiri", aku membela diri.
Juan mengangguk " Kamu dokter jaga hari ini?", Juan bertanya.
" Ya pak. Saya dokter jaga hari ini", aku berbicara dengan formal.
" Aku ingin bicara padamu. Berdua saja ", Juan lalu berjalan ke arah sebuah ruangan kosong di seberang Nurse Station. Asisten dan dua pengawalnya berdiri di depan pintu. Aku merasa jarak aku dan Juan sudah terlalu jauh, aku merasa seperti bersama orang asing saat kami berdua di ruangan itu.
Juan berdiri melihat keluar jendela memunggungiku. " Kamu… sekarang bersama Nandes?", Juan bertanya.
Sudah kuduga inilah yang akan ditanyakan olehnya. Aku diam saja tidak menjawab. Juan berbalik dan melihatku " kenapa kamu diam saja Embun?".
" Maaf pak saya tidak menjawab karena itu urusan pribadi saya. Jika bapak ingin bertanya terkait kondisi kesehatan pasien maka akan saya jawab".
__ADS_1
Juan maju dan memegang kedua lenganku " berhenti bersikap formal. Aku benci itu. Panggil aku kakak seperti biasa. Di sini hanya ada kita berdua".
" Bisakah anda melepaskan saya? Ini dirumah sakit", aku menatap mata Juan yang terlihat kesal.
Juan melepas cengkramannya, dia menarik nafas " Baiklah. Aku sengaja memilihmu masuk ke dalam tim ini supaya aku bisa bersamamu, bisa melihatmu setiap ke sini. Kamu tahu aku masih menyukaimu".
Aku tetap diam tidak memberi respon apapun.
" Aku… akan mengejarmu mulai sekarang. Tidak peduli apapun yang menghalangi. Jika kamu tidak menyukaiku lagi, aku akan membuat kamu menyukaiku dengan caraku. Aku akan datang kepadamu Embun. Salahku melepasmu dulu", Juan melihatku dengan tatapan sayu.
Juan menarik nafas sekali lagi " dokter Embun, aku sudah selesai dengan urusan PRIBADIKU. Silahkan anda keluar", Juan berkata dingin.
Aku tidak ingin memberi respon apa-apa. Aku keluar ruangan tanpa melihat ke arah Juan lagi. Hari ini suasana hatiku buruk. Seharusnya hari itu sudah jelas aku mengatakan kalau aku tidak ingin bersamanya lagi.
Asisten Juan datang ke bagian Nurse Station dan memberi pengumuman yang membuat darahku mendidih.
" Jika saat dokter Embun bertugas dan bel dari kamar Tuan Anderson berbunyi. Tuan Juan Anderson meminta hanya dokter Embun yang menghampiri terlebih dahulu. Perawat boleh menyusul jika diperlukan".
Aku membanting map di depan asisten Juan yang terlihat kaget dengan tindakanku. Sejak kapan Juan jadi menyebalkan seperti ini, aku berjalan menuju kamar kelaurga pasien untuk bertemu Juan.
Aku masuk kamar tanpa mengetuk pintu " Juan, peraturan macam apa ini?", aku menegurnya.
" Dokter apa anda tidak bisa bersikap sopan?", asistennya menegur.
Juan mengangkat tangannya " Jika wanita ini mencaci maki aku sekalipun, biarkan saja. Karena dia istimewah bagiku. Jika ada yang menyentuhnya, kalian mati", Juan melihat ke arah asistennya. Asistennya hanya menunduk memberi hormat.
Lalu Juan melihat ke arahku " Ada apa dokter? Anda harus bisa membedakan mana urusan pribadi dan pekerjaan. Ini adalah urusan pekerjaan dan permintaan dari keluarga pasien super VVIP. Atau aku harus komplain ke direktur kalian karena pelayanan yang kurang bagus? Dokter yang kasar? Apa perlu teman satu tim mu dipecat?", Juan tersenyum seperti senang karena berhasil mengusikku.
Aku mengepalkan tanganku berusaha mengingat jurus bela diri yang diajarkan Nandes kepadaku. Seharusnya ku tonjok dia dari awal aku bertemu dengannya. Pada akhirnya aku menghembuskan nafas dengan kasar di depannya dan berbalik meninggalkan ruangan.
***
__ADS_1