
Aku menantikan kelahiran anak pertama kami dengan perasaan campur aduk. Embun terlihat sangat kesakitan sepanjang prosesnya. Aku menemaninya yang kadang mengerang pelan karena rasa sakit yang datang silih berganti. Aku frustasi melihatnya seperti itu. Saat dokter datang untuk melakukan pemeriksaan, aku tidak bisa menahan diriku lagi.
“ Dokter, apakah tidak ada obat untuk rasa sakit Embun ?”, Aku bertanya pada dokter Laras, dokter kandungan yang selalu memantau Embun dari awal masa kehamilan.
“ Maaf tuan, rasa sakit ini memang terjadi kepada ibu yang akan melahirkan, rasa sakit menandakan adanya kontraksi yang terjadi didalam perut ibu”, Terang dokter laras.
“ Yes I know, tapi apakah ada cara agar rasa sakitnya berkurang ?Aku stres melihat istriku begini. Lakukan operasi saja”, Aku berkata tidak sabar.
Dokter Laras terdiam. Sepertinya dia bingung harus mengatakan apa kepadaku. Dan aku makin gusar melihatnya hanya terdiam. Ibuku masuk ke dalam kamar dan menenangkanku.
“ Dokter maaf ya, maklum ini adalah kelahiran anak pertama. Tolong rawat menantu saya dengan baik”, ibuku berbicara dengan tenang pada dokter Laras.
“ Baik nyonya. Kami akan melakukan yang terbaik. Sekarang Nyonya Embun sudah memasuki pembukaan 7, semoga lebih cepat sampai pada pembukaan lengkap”,dokter Laras menjawab dengan penuh pengertian.
Aku berdiri di pojok ruangan menatap Embun yang sedang kesakitan di atas tempat tidur. Ibu menghampiriku dan menepuk pundakku pelan.
“ Nandes, dengarkan ibu. Ini adalah proses yang dilalui semua wanita jika akan melahirkan. Tugasmu sebagai seorang suami adalah menemani Embun bukan hanya sampai proses melahirkan ini selesai tetapi sampai anak kalian besar nanti. Dan Embun berpesan dia ingin melahirkan normal dan dia tidak memiliki kendala untuk tetap melahirkan normal. Jadi kamu harus siap ya nak. Beri dukungan kepada istrimu”.
“ Ya bu, aku hanya tidak bisa melihat istriku kesakitan seperti ini”, aku menatap ibuku sedih.
“ Ya ibu tahu, kamu sangat menyayanginya. Bagaimana kalau kamu makan dulu, biarkan ibu yang menjaga Embun”, ibuku membujuk.
“ Tidak ibu. Biarkan aku saja yang menjaga Embun. Aku tidak lapar sama sekali”, Aku tersenyum. Setelah ibuku keluar aku duduk di sebelah tempat tidur Embun. Menggenggam tangannya dengan penuh sayang.
“ Sayang, apakah itu sangat sakit?”, aku bertanya sedih.
Embun menatapku dengan mata sayu “ Aku tidak apa-apa sayang. Kamu tahu kan aku hebat”, Embun menjawab pelan.
“ Ya, kamu hebat. Maafkan aku, seandainya sakit ini bisa dibagi aku akan mengambil semuanya darimu”, Aku mengecup pipinya. " Hey, baby boy ayo cepat datang nak. Papa dan mama ingin bertemu denganmu", aku mengelus perut Embun pelan.
Embun tersenyum “ Terima kasih sayang”, tangannya mengelus wajahku lalu turun ke bahuku menarik kemejaku karena kesakitan. Aku mencium puncak kepalanya.
“ Tarik nafas dari hidung, keluarkan dari mulut”, aku menuntun Embun untuk meringankan rasa sakitnya. Itu yang ku pelajari di kelas kehamilan Embun setelah beberapa kali pergi bersamanya.
__ADS_1
Seorang perawat datang dan melakukan pemeriksaan, setelah itu dia keluar sedikit tergesa untuk memanggil dokter. Dengan tergesa-gesa dokter datang bersama beberapa perawat lainnya dan terjadilah kesibukan.
“ Tuan pembukaannya sudah sampai pada tahap pembukaan lengkap”, dokter Laras menjelaskan padaku.
Aku menatap dokter bingung “ Jadi?”.
“ Saatnya nyonya Embun melahirkan bayi anda tuan”, kata dokter lagi dengan sabar.
Aku mulai panik “ Oke. Oke baik. Lakukan yang terbaik, aku menatap dokter Laras penuh harapan.
Dokter Laras mengangguk. Aku berdiri di samping Embun, mendampinginya melalui proses menyakitkan itu. Mendengar setiap jeritannya membuat hatiku tersayat. Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan pada Embun yang sedang berjuang, tetapi aku membaca doa didalam hatiku untuknya. Sampai akhirnya aku mendengar suara pertama pria kecil kami.
“ Oee… Oeee… Oeee”.
Aku mencium wajah Embun bahagia “ Terima kasih sayang. Kamu hebat. Aku mencintaimu”, aku mencium puncak kepala Embun, wajahnya tampak kelelahan.
Seorang perawat meletakan bayi kecil kami di dada Embun, Aku menatap tubuh mungil itu tanpa berkedip. Saat aku menatap matanya aku tahu keberadaannya sangat menarik hatiku, Matanya terlihat seperti alam semesta. Aku jatuh cinta padanya. Tanpa terasa air mataku jatuh.
“ Selamat tuan Nandes dan Nyonya Embun. Putra Anda lahir sehat dengan berat 3,1 kg”, Dokter Laras memberi selamat kepada kami.
Embun tersenyum melihat anak kami, lalu melihatku.
" Dia sangat menggemaskan sayang", Embun berbicara padaku bahagia.
Aku tersenyum senang dan mencium wajah Embun penuh sayang. “ Aku mencintai kalian berdua. Terima kasih Embun, kamu sempurna untukku”.
***
Aku membuka pintu ruangan Monica tanpa mengetuk lebih dulu, Monica yang sedang serius bekerja sampai terlonjak kaget.
" Damn, Nandes. Please ketuk dulu kek", Dia mengomel.
" Aku belajar hal ini dari kamu kan", Aku menjawab cuek. Monica melengos.
__ADS_1
" Apa lagi kali ini?", Monica mulai ketus.
“ Monica tolong gantikan aku di rapat hari ini”, aku berbicara pada Monica yang duduk di depanku.
Monica mendengus kasar “ Kenapa aku?”, protesnya.
“ Karena hanya kamu yang bisa. Alex sedang pergi keluar kota”, aku mengingatkan keberadaan Alex padanya . “ Tolonglah, kamu tahu kan aku kedatangan anggota baru di rumah, jadi…”, aku mulai berakting seperti biasa.
“ Stop Nandes. Oke.. Fine. Akan aku lakukan. Ini semua demi keponakanku. Oke.. sana pulang”, monica menjawab setengah berteriak karena frustasi.
“ Kamu yang terbaik. Terima kasih banyak”, aku menepuk bahunya pelan. Sebelum keluar dari ruangan Monica aku berbalik dan berbicara kepadanya dengan wajah serius “ Jadi kapan kamu akan menikah sepertiku”. Yang tentu saja dijawab Monica dengan sebuah lemparan bantal sofa ke arahku.
Sejak kelahiran Arthur anakku, aku berusaha lebih sering berada dirumah. Berusaha untuk mengurangi lembur dan aku berusaha untuk tidak keluar kota. Tentu saja Monica protes dengan kelakuanku yang semena-mena ini. Sedangkan Alex biasa saja menanggapi kelakuanku.
Saat tiba di rumah aku berjalan cepat memasuki pintu. "Bi Nini, Arthur ada di mana?", Aku bertanya pada Bu Nini yang sedang berberes.
"Ada di kamar Tuan", Bi Nini menjawab sambil tersenyum. Aku berlari kecil ke dalam kamar mencari Embun dan bayi kecilku.
“ Halo Arthur anak papa”, aku berlari kecil ke arah Embun yang sedang menggendong Arthur anak kami.
“ Stop”, Embun mengangkat tangannya membuat langkahku terhenti.
“ Ada apa?”, Aku cemberut.
“ Papa, tolong mandi dulu sebelum cium-cium aku”, Embun berbicara mewakili Arthur.
“ Oke deh. Kalau gitu cium mama Arthur dulu”, aku berjalan mendekat lalu mengecup bibir dan pipi Embun.
Embun tertawa senang “ Dasar ya kamu. Ya udah sana mandi dulu. Nanti malam kita mau begadang jagain Arthur”, Embun memberi semangat.
“ Oke siap”, aku masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri secepat ku bisa. AKu tidak sabar menggendong Arthur.
Kebahagian yang ku miliki sekarang tidak bisa di gantikan dengan apapun. Aku bersyukur karena memiliki mereka berdua, semua proses yang kami lalui di masa lalu membuat cinta kami semakin kuat. Aku memandang wajah Embun lalu mengecupnya. Embun memelukku erat dalam tidurnya. Inilah cintaku. Cinta yang akan ku jaga sampai akhir hidupku.
__ADS_1
***