
3 bulan lalu saat hari Embun menikah…
Aku duduk terdiam menatap gedung tinggi di luar sana. Ruangan kerjaku tampak gelap, hanya ada satu cahaya redup dari sebuah lampu di sudut ruangan.
Sebuah Undangan berwarna gold yang belum terbuka terletak di bawah kakiku, di samping undangan itu bertebaran origami berbentuk merpati kertas yang kulipat asal dalam kegelisahan. Gelas kaca berisi minuman beralkohol di tangan kanan dan sebatang rokok yang menyala di tangan kiriku.
Seseorang mengetuk pintu ruang kerja dan masuk tanpa suara, seperti menunggu sebuah pertanyaan dariku dia berdiri terdiam di tempatnya.
“ Bagaimana?”, aku bertanya dengan suara sedikit serak.
“ Saya sudah melihatnya tuan. Nyonya Embun tampak sangat bahagia, saya menyertakan fotonya saat menikah jika anda ingin melihat tuan ”, Pria itu memberi laporan.
Aku menarik nafas berat dan menghembuskannya panjang “ Syukurlah. tinggalkan foto itu di atas meja dan kau boleh pergi”, perintahnya tegas.
“ Baik tuan Juan. Saya permisi”, pria itu undur diri.
Sepeninggalan pria itu, aku mematikan rokok di tanganku dan berbalik ke arah meja. Meraih salah satu foto Embun, menatap wajahnya yang sangat cantik dengan sentuhan makeup dan dia menggunakan baju pengantin berwarna putih. Embun tampak tersenyum bahagia di foto itu dan aku tersenyum pahit melihatnya. Seharusnya akulah yang berdiri di sampingnya saat ini, menunggunya di altar dan memakaikan cincin di jari manisnya.
Aku meremas foto Embun di tanganku dengan kuat. Rasa cemburu, sedih dan marah bercampur. Aku melempar gelas ke arah pintu membuat pecahannya berserakan. Air mataku jatuh ke pipi. Aku menangis dalam kegelapan, meraung pilu karena patah hatiku, menangisi merpatiku yang pergi.
Menyesali kebodohanku, menyesali dosaku padanya. Seandainya aku lebih bersabar, seandainya aku lebih tenang seperti dulu mungkin dia akan kembali padaku. Aku membunuh cintaku, aku menghancurkannya dengan caraku.
Bayangan darah Embun mengucur masih menghantuiku. Betapa bangsatnya aku yang masih bisa menyimpan kesedihan karena kebahagiaannya. Seharusnya aku bahagia untuknya. Bahkan aku tidak layak menyebut namanya saat ini.
“ Arkkkhhhhh…. Bangsat.. Arkhhh…. Embun”, aku meneriaki namanya dalam kesedihanku. Aku melempar semua barang yang ada didepanku. Lalu jatuh berbaring di samping meja dengan mengenggam foto Embun “ Embun maafkan aku… Aku mencintaimu…”, air mataku berlinang. Hidupku hancur.
***
Seseorang membangunkanku pelan. " tuan, tuan Juan hari sudah pagi", suara Doni asisten pribadiku terdengar jauh dan samar.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali lalu melihat Doni sedang berjongkok di sampingku. Keadaan ruangan tampak kacau, barang berserakan di mana-mana. Aku menarik badanku dari lantai dingin itu untuk duduk dan bersandar di meja kerja.
__ADS_1
“ Jam berapa ini?”, aku bertanya dengan suara serak.
“ Jam 7 pagi, hari sabtu”, Doni menjelaskan.
Aku mengangguk, kepalaku sakit rasanya seperti mau pecah, badanku juga sakit sekali. Aku tertidur di lantai sepanjang malam sambil memegang foto Embun. Aku memasukan foto itu ke dalam saku bajuku dan berdiri.
“ Doni, siapkan mobil. Aku mau istirahat di hotel”, Aku sedikit merenggangkan badanku.
“ Baik tuan. Untuk mengingatkan hari ini di rumah utama ada makan malam bersama tuan”, Doni mengingatkan schedule akhir pekanku.
“ Ck, mereka bahkan tidak bisa membiarkan aku tenang di akhir pekan”, aku menggerutu.
Doni membungkuk hormat lalu memberi jalan kepadaku untuk lewat. Aku berjalan tenang keluar ruanganku, suasana lantai 24 tampak sepi. Karena akhir pekan semua karyawan pasti sedang bersenang-senang dengan keluarga mereka masing-masing.
“ Siapkan mobil, tuan akan ke hotel Paradise”, Doni berbicara di telepon. Kerempongan yang tidak perlu menurutku.
“ Doni”, aku memanggilnya saat didalam lift.
“ Bakar semua foto dan berkas tentangnya. Aku melepaskannya mulai sekarang”, aku berbicara dengan suara berat.
Doni terdiam sebentar lalu menjawab “ baik tuan”.
***
Malam harinya aku menyambangi rumah utama kami. Sebelum turun dari mobil aku menatap ke arah rumah itu tanpa minat.
“ Doni, Perempuan mana yang di bawa ibuku kali ini?”.
“ Anak kedua dari Perusahaan Farmasi Xone tuan”, doni menyerahkan sebuah tablet ke arahku.
“ Tidak perlu”, aku menolak tablet itu dan langsung turun dari mobil.
Aku berjalan masuk ke dalam rumah dengan Doni yang berjalan dibelakangku. Pelayan yang berdiri berjejer di pintu masuk membungkuk hormat. Seorang kepala pelayan dengan setelan jas hitam lengkap menyapaku.
__ADS_1
“ Selamat datang tuan. Nyonya sudah menunggu anda”.
Aku tidak menjawab sapaan itu, langsung berjalan ke arah ruang makan dan menemukan semua orang sudah berkumpul disana kecuali Flitz kakakku tentu saja.
Dia keluar dari rumah setelah ibu tidak merestuinya menikahi wanita yang menurut ibuku datang dari kalangan ‘biasa’. Hanya aku yang datang ke pernikahannya saat itu, dia tampak bahagia. Walaupun aku membencinya setengah mati karena dia lari dari tanggung jawab untuk menjadi pewaris perusahaan dan akhirnya aku menjadi tumbal, tapi aku tidak bisa memungkiri aku menyayanginya kakakku. Dialah yang menolongku dalam semua depresiku.
“ Sayang kamu sudah sampai”, ibuku menyapa.
“ Halo mom”, aku mengambil duduk di bagian ujung meja tempat ayahku dulu duduk. secara otomatis setelah ayahku meninggal akulah kepala di rumah ini. Tapi aku tidak suka tinggal di dalam rumah ini.
Kami mulai makan malam dalam suasana yang terbilang jauh dari kehangatan. Ditengah makan ibuku memulai pembicaraan yang sudah ku tahu arahnya akan kemana.
“ Sayang, bisakah besok kamu bertemu dengan calon yang ibu pilihkan untukmu?”, ibuku berbicara hati-hati.
AKu diam saja tetap memotong daging di piringku. Melihat aku tidak marah ibuku melanjutkan.
“ Namanya Naomi, ayahnya memiliki perusahaan Farmasi terbaik. Anaknya juga baik dan ibu ingin kamu bertemu dengannya. Akan lebih baik jika kamu cocok bersamanya dan kalian menikah”, ibuku mulai berpidato.
Aku meletakan sendok dan garpu di piring karena mulai kehilangan selera makan. “ Bella, bagaimana sekolahmu?”, aku mengabaikan permintaan ibuku.
Adikku senang karena aku memperhatikannya “ Aku, sebentar lagi ujian kak”.
“ Bagus. Aku harap kamu bisa lulus dengan nilai yang baik”, aku menatapnya penuh perhatian. Adikku yang paling kecil ini, harus ku jauhkan dari sikap posesif ibuku.
“ Juan, ibu sedang bicara dengan kamu”, ibuku mulai marah karena aku mengabaikannya.
Aku menarik nafas panjang melihat sikap ibuku yang selalu seperti ini “ Ibu aku tidak akan menemui wanita itu. Tolong berhenti menjodhkan aku dengan wanita-wanita itu. Aku lelah. Aku akan istirahat”, aku berdiri lalu meninggalkan ruangan itu menuju kamar.
“ Juan… Anakku… Juan dengarkan mama dulu”, ibuku berteriak memanggilku dengan nada kesal.
Aku mengabaikannya dan tetap menaiki tangga menuju kamarku. Ibu suka mengatur dan mencampuri urusan pribadiku dan aku benci itu. Selama berbulan-bulan dia sibuk mencari pasangan untukku. Dan selama berbulan-bulan aku terus mengabaikan permintaannya. Itu hanya satu alasan dari beribu alasan aku tidaj ingin tinggal di rumah ini.
***
__ADS_1