
Akhir pekan itu datang. Hari ulang tahun Max dan hari dimana Jeni akan menangis di hadapanku. Kami menghadiri party di Club malam milik Max.
“ Kamu cantik sekali hari ini sayang”, aku memujinya di dalam mobil.
“ Serius? Padahal aku merasa sangat tidak pede hari ini”, akunya.
“ Kenapa? Kamu sangat cantik, aku suka ”, aku memainkan jariku di dagunya.
Doni memperhatikanku dari kaca spion tengah, lalu tersenyum. Sepertinya dia heran dengan kelakuanku yang seperti remaja jatuh cinta. Aku tidak peduli pada Doni dan malah berencana membuat Doni menjadi tidak nyaman. Aku mencium rambut Jeni, lalu mencium telinganya lembut. Jeni menatapku malu, lalu melihat Doni seolah takut kepergok.
“ Sayang, malu sama Doni”, Jeni mendorong dadaku pelan.
“ Doni, tutup telingamu. Bila perlu matamu”, perintahku.
“ Baik tuan”, Doni menjawab dan langsung memasang headset di telinganya dan memiringkan kaca spion tengah ke arah lain.
Aku menatap Jeni dan tersenyum “Beres”, kataku.
“Wow Tapi.. tetap sa…”, Jeni masih akan protes saat aku langsung mencium bibirnya. Aku mencium bibirnya dengan lembut, Jeni tidak menolak dia memeluk leherku dan membalas ciumanku. Semakin lama ciuman kami semakin ganas, nafas kami sama memburu. Aku melepaskan ciumanku pada bibirnya dan beralih ke lehernya yang bebas karena menggunakan gaun dengan leher rendah.
Jeni sedikit terengah saat tanganku mulai berjalan ke belakang punggungnya dan mulutku turun sedikit ke depan dadanya. Aku mendongak menatapnya dan menemukan dia melihatku dengan nafas terengah. Aku tersenyum padanya saat tanganku masih berada di pahanya.
Aku memperbaiki posisi dudukku dan membantunya duduk. Aku merapikan bajunya dan rambutnya lalu berbisik. “Latihannya sampai sini dulu. Siapkan dirimu besok mungkin kita akan melalui malam yang panas”.
Jeni tersenyum kecil, dia menyentuh bibirnya lalu lehernya. Sepertinya ciumanku meninggalkan bekas mendalam padanya. Aku tersenyum, aku benar-benar jatuh hati padanya.
***
Aku menggandeng tangannya saat memasuki club malam. Aku berbisik di telinganya “ Fokuslah hanya padaku, jangan peduli pada tatapan orang. Mereka akan melihat kita”.
Dan benar saja saat kami masuk semua mata melihat ke arah kami. Aku yang sudah sering menjadi pusat perhatian tidak peduli dengan tatapan mereka, tetapi Jeni sepertinya dia menjadi salah tingkah. Aku menariknya lebih dekat ke arahku.
“ Max, happy birthday”, aku menyalami Max.
“ Thank you bro. Hello my Queen… senang akhirnya bisa bertemu denganmu “, Max menyalami Jeni.
“ Selamat ulang tahun Max”, Jeni tersenyum.
“ Terima kasih Queen. Juan menyembunyikan kamu dengan aman selama ini?”, Max tertawa pelan.
Aku tersenyum mendengar lelucon murahan itu.
“ Juaann.. Baby… “, seseorang memelukku dari belakang.
Aku menghela nafas “ Lepaskan anna”.
__ADS_1
Anna merenggut lalu melihat ke arah Jeni dengan menyipitkan mata. “ Hai kenalkan aku Anna, mantan Juan”, katanya.
“ sejak kapan kau menjadi mantanku? Jangan dengarkan dia sayang ”, aku menarik Jeni lebih dekat ke arahku.
Jeni hanya tersenyum, sepertinya kaget dengan dunia kelam ini.
“ Jeni aku hanya bercanda. Kenalkan aku Anna, aku adalah partner terbaik mereka berdua didalam perusahaan dan aku bingung kenapa kamu menyukai bajingan ini?”, tanyanya pada Jeni.
Mood Jeni kembali baik karena dia tersenyum dengan ramah “ Kenapa aku menyukaimu?’, Jeni bertanya padaku sambil melihatku.
“ Karena aku tampan?”, aku balik bertanya sambil menatapnya. Jeni tersenyum, aku mengecup puncak kepalanya.
“ Doohhh… yang jatuh cinta. Iye dah dunia punya kalian”, Max menyindir.
“ Halah dasar jomblo… “, Anna mendelik sewot.
Aku dan Jeni tertawa melihat mereka. Saat itu Adam dan Elsa muncul, karena partner bisnis mereka diundang. Aku sedikit kaku saat Elsa menatapku dengan tatapan datar lalu menatap Jeni yang ada dalam pelukanku.
" Juan ", Adam menegurku dan mengangguk sopan pada Jeni.
Elsa tidak mengucapkan apapun padaku hanya memeluk Jeni hangat.
" Hai Elsa", aku menegurnya hati-hati.
Dia menatapku "Hai Juan, apa kabar?", Elsa bertanya penuh arti.
" Syukurlah", Elsa tersenyum penuh arti.
Acara ulang tahun itu berlangsung cukup meriah. Kami berada disalah satu ruang privasi. Sampai akhirnya Jeni izin pergi ke toilet bersama Anna dan aku memiliki waktu untuk berbicara dengan Elsa.
Aku menunggunya di depan pintu. Aku menarik tangannya saat dia akan melewati ku.
" Elsa mau sampai kapan kau membenciku?", aku bertanya sedih.
" Sampai kau membusuk di neraka Juan", Elsa menjawab tanpa ragu.
Aku menarik nafas panjang.” Ya aku pasti akan membusuk di neraka tapi aku menyesal Elsa. Saat itu aku terlalu mencintainya”, aku mengakui.
“ Mencintai?”, Elsa tertawa hambar. “ Kau terobsesi padanya Juan. Sekarang aku tanya, sampai saat ini apakah kau berhasil melupakannya? setelah tahu dia memaafkan mu ?”, Elsa menatapku tajam.
Aku terdiam tidak bisa menjawab. Elsa benar aku terkadang masih memikirkan Embun. “ Kau benar, rasa bersalahku menguasai ku. Aku masih memikirkannya, masih merindukannya… aku.. bisa gila”, aku menarik nafas frustasi.
“ Rasa bersalah atau obsesimu Juan? Obsesimu pada Embun hampir membunuhnya. Jangan pernah berani memikirnya lagi Juan, karena kau tidak pantas melakukan itu. Dan pikirkan kau menikah? selamat. Kau mencintainya? atau dia hanya sebuah pelarian dari rasa obsesimu pada Embun? “, Elsa menunjuk dadaku dengan marah.
“ Jeni…dia bagiku… aku…”, aku menjawab Elsa masih dengan ragu. Aku tidak tahu apa yang membuatku ragu, seperti seorang laki-laki pengecut.
__ADS_1
“ Aku sebuah pelarian?”, Suara Jeni terdengar dari belakang punggungku.
Aku kaget, Elsa sama kagetnya sepertiku. Aku berbalik dan menemukan Jeni di sana menatapku dengan tatapan bingung dan terkejut. Anna berdiri di belakang Jeni dengan tangan di leher seperti mengatakan ‘ tamat riwayatmu Juan’, dari isyarat itu aku tahu Jeni mendengar banyak percakapan kami.
“ Hai.. kamu sudah kembali”, aku menatapnya dengan senyum yang dipaksakan di wajahku.
“ Juan aku pelarianmu dari apa?”, Jeni menatapku datar. “ Siapa Embun? Apakah aku tempat pelarianmu dari seorang wanita bernama Embun?”,Jeni masih terus bertanya.
“ Tidak Jeni. Bukan seperti itu.. aku…”, Aku maju selangkah ingin meraihnya.
Jeni mundur dua langkah menghindari ku. “ Kamu berbohong Juan. Aku mendengar semuanya. Maafkan aku”, Jeni lalu berbalik dan berjalan menuruni tangga.
“ Jeni.. “, aku memanggilnya. Dia tidak mendengarkanku sama sekali. Aku berbalik menatap Elsa.
“ Jujurlah padanya. Jangan sia-siakan dia”, Elsa berkata tenang. “ Lupakan Embun Juan. Carilah kebahagiaanmu”, Elsa berkata lebih ramah.
Saat itu aku sadar, Elsa tidak benar-benar membenciku. Diriku sendirilah yang tidak ingin keluar dari masa laluku. Aku yang membuat diriku terjebak dalam lumpur penyesalan itu. Aku tersenyum pada Elsa. “ Terima kasih Elsa”, lalu aku berlari menuruni tangga mengejar Jeni.
***
“ Jeni..”, aku memanggilnya. “ Dengarkan aku dulu. Hei..”, aku mengejarnya yang berjalan keluar dari parkiran. Aku memberi kode kepada Doni agar bergegas mengambil mobil.
“ Taxi !”, Jeni memanggil Taxi.
Aku menarik tangannya “ Dengarkan aku Jeni. Itu semua adalah masa lalu. Aku hanya menatapmu sekarang”, aku tidak sepenuhnya bohong.
“ Kalau begitu apakah aku berhasil menjadi tempat pelarianmu Juan?”, Jeni bertanya sedih.
“ Tidak bukan begitu. Aku… aku .. “, Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Tepat saat itu sebuah Taxi muncul dan berhenti di depan Jeni.
Jeni membuka pintu mobil dan dengan cepat aku menariknya. Dia mendorongku menjauh.
“ tentukan hatimu Juan, jika aku adalah sebuah tempat pelarian untukmu katakan agar aku tidak melewati batas. Jangan mempermainkan aku, aku benci hal seperti itu”, Jeni berkata dingin lalu hendak masuk ke dalam mobil. ‘
Aku menariknya lagi dan menutup pintu dengan cepat. Aku mengeluarkan dompetku dan memberikan uang lembaran merah kepada supir taxi itu.
“ Apa yang kau lakukan?”, Jeni berteriak ke arahku.
Beberapa orang melihat ke arah kami di parkiran itu tetapi aku tidak peduli. Aku menggendong Jeni di pundakku dan meletakkannya di kursi depan, memasang seatbelt dan mengunci pintu dari luar.
“ Doni aku akan menyetir. Pulanglah”, kataku lalu masuk kursi pengemudi.
“ Juan aku benci kamu. Aku mau turun”, Jeni berteriak ke arahku.
Aku menginjak gas dengan rasa sesak di dadaku. Aku menatapnya “ Jika kau marah padaku pukul saja aku. Jangan tahan tangismu, menangislah”, aku berteriak padanya.
__ADS_1
Jeni terdiam dan saat itu juga dia menangis tersedu-sedu di hadapanku.
***