
Sifat wanita memang tidak bisa di tebak. Setelah membeli rumah dan memanjakannya seharian, masalah artikel itu masih menjadi masalah untukku.
Malam harinya saat kami sedang di rumah Jeni mulai menghukum ku, sepertinya dia kesal karena artikel aku dan Anna. Hukuman ini berlangsung selama dua hari penuh.
Seperti malam ini, aku sedang menonton TV saat dia dengan sengaja lewat di hadapanku hanya menggunakan baju tidurnya yang amat sangat tipis.
Melihatnya mondar mandir di depanku memberi reaksi padaku. Aku bangun dan meraihnya dalam pelukanku. Jeni tersenyum padaku lalu membelai pipiku.
" Beibh, kamu sudah datang? Bebih Juan", Jeni memulai aksinya.
" Aku mengerutkan dahi " Sejak kapan kamu memakai kata bebih?", tanyaku lalu mengecup lehernya.
"Sejak main ke kantormu", Jeni tersenyum penuh arti.
Aku menatapnya bingung. Tapi aku tidak memikirkannya lagi, aku mulai mencium lehernya, telinganya. Jeni menyambut ku dengan membalas ciumanku. Dia memainkan roleplay yang panas setelah kebanggaanku bangun Jeni tiba-tiba berdiri lalu menghentikan semua aksinya tadi.
Dia dengan santai mengikat kimononya, lalu berjalan meninggalkanku. Aku menariknya bingung.
" sayang kenapa berhenti? Aku sudah setengah jalan. Ayo selesaikan ", aku menariknya duduk di pahaku.
Jeni menatapku ketus " Tidak mau BEBIH, aku mau bobo. Aku capek BEBIH JUAN", jawabnya penuh tekanan.
Aku mengerjapkan mata tidak percaya dengan pendengaranku. Dengan tanpa beban Jeni berdiri lalu berjalan masuk ke dalam kamar.
Aku berjalan mengikutinya dan dia langsung tertidur didalam selimut tanpa memikirkan ku sedikitpun. Aku yang frustasi melihatnya di atas tempat tidur menahan diri untuk tidak menyerangnya, akhirnya aku memutuskan untuk mandi yang kedua kalinya menggunakan air dingin.
Belum cukup malam itu, di malam kedua Jeni menghukum ku lagi. Kali ini lebih parah, dia menyiksaku tanpa menyentuh. Aku baru pulang dari kantor saat melihatnya di dalam ruang ganti baju kami. Pintu ruang ganti baju ada di bagian sisi lain kamar, pintunya merupakan pintu geser yang terbuat dari kaca.
Aku baru selesai mandi saat akan masuk ke ruang ganti pintunya terkunci. Belum pernah aku mengunci ruang ganti seperti ini dan gordennya tertutup rapat. Apa Jeni sedang ganti baju di dalam. Aku mengetuk pelan.
" Sayang, Jeni.. Kamu sedang ganti baju?", panggilku.
Tiba-tiba Gorden pintu terbuka dan apa yang ku lihat di balik pintu membuat kakiku langsung lemas. Jeni berdiri di dalam hanya menggunakan lingerie yang sangat seksi. Dia terlihat lezat di mataku, aku menatapnya dengan tidak berkedip.
Jeni berdiri dan melakukan gerakan yang membuat darahku mendidih, ingin meraihnya dan membawanya ke tempat tidur. Aku maju dan berusaha membuka pintu kaca itu, tetapi percuma Jeni menutupnya dari dalam.
" Sayang, apa salahku? Kenapa aku di hukum seperti ini?", aku bertanya memelas dari balik pintu.
__ADS_1
" Karena kamu ganjen ke cewe lain", terangnya sewot.
" Cewe yang mana? Aku hanya ganjen ke kamu kok gak ada cewe lain selain kamu sayang. Tolong buka pintunya", kataku sambil menatapnya dalam balutan lingerie yang bisa ku robek dalam sekali gerakan itu.
" Yakin BEBIH?", Jeni menyindirku sambil menatap penuh arti.
Aku menghembuskan nafas menenangkan diri. " Jadi apa salahku sayang?", aku menatapnya dari luar pintu. Aku berusaha menahan diriku sekeras mungkin agar tidak menghancurkan pintu kaca itu.
" Pikir sendiri ", kata Jeni lalu menutup gorden itu lagi.
Aku terpaku, belum paham apa yang sedang terjadi pada istriku. Apakah dia marah pada sesuatu? Tapi apa? Apa salahku?. Aku berpikir keras.
Pintu terbuka, aku tersenyum senang mengira hatinya sudah luluh. Ternyata tidak semudah itu. Jeni keluar dengan baju lengkap dan tidak lupa menggunakan jaket tebal musim dingin, topi dan syal terlilit di lehernya. Dia memakai itu agar aku tidak menyerangnya saat tidur.
Aku menatapnya bingung. " Ke mana si merah **** tadi?", tanyaku heran.
" Tidak ada, hah", Jeni melengos pergi.
Aku mengatur nafasku menenangkan diri untuk kesekian kalinya. Rasanya aku harus mandi lagi untuk kedua kalinya, tapi kali ini dengan air dingin agar isi kepalaku lebih jernih.
***
" Istriku membuatku gila, benar-benar gila", aku frustasi.
Max duduk di depanku sambil mengunyah makanan ringan, entah kenapa dia jadi berhenti merokok dan menggantinya dengan cemilan ringan.
" Kenapa? Kau tidak di beri jatah?", tanya Max.
" Ini lebih parah dari hanya menolak memberi jatah. Dia mempermainkan ku lalu meninggalkanku pergi... Haaaaah", Aku menghela nafas berat.
" Kau buat kesalahan apa? Tidak membelikan barang yang dia suka? Lupa tanggal jadian? Atau kau selingkuh?", Max menginterogasi ku.
Aku menggelengkan kepala keras. "Aku tidak tahu apa salahku", aku mengusap wajah karena stres.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Anna masuk seperti kebiasaanya. " Hai Max " ,sapanya datar pada Max.
" Haii bebih Juaan. . . Kamu ngapain ada di ruangan Max bebih?", tanya Anna santai sambil ikut makan cemilan yang ada di depan Max.
__ADS_1
Aku menatap Anna, seperti rasa dejavu menyerang ku. Tapi otakku belum konek sama sekali. Seperti ada sesuatu yang pernah kudengar tapi entah di mana.
" Dia sedang frustasi karena di tolak istrinya", jelas Max.
" Di tolak? Kenapa? kamu buat salah bebih?", Anna bertanya penuh perhatian.
Aku mengangkat tangan menghentikan pembicaraan itu. " Anna kamu panggil aku dengan sebutan apa?", pertanyaanku membuat mereka bingung.
" Ha? Aku manggil kamu? Juan?", dia balik bertanya.
" Bukan. panggilan yang lain", aku tidak sabar.
" Bebih? Bebih Juan?", jawab Anna. Kami seperti sedang bermain tebak kata.
" Ya itu. Coba pakai nada yang biasa kamu pakai kalau manggil aku", kataku penuh semangat.
Anna menatap Max bingung. "Bebih Juaaan", teriaknya manja.
Aku menepuk tanganku bangga. " Oke. Sekarang aku tahu masalahnya apa. Wah hahaha.. Ternyata hanya itu. . Haha", aku tertawa bahagia seperti orang gila dan lihat, mereka berdua menatapku dengan tatapan 'orang ini sudah gila'. Tapi aku tidak peduli.
" Jadi masalahmu apa?", Max bertanya.
" Cemburu. Istriku cemburu", terangku. " Akhirnya aku bisa mendapatkan hakku sebagai seorang suami yang tertindas selama dua hari ini hahaha", aku mulai tertawa seperti orang gila lagi.
Max berdiri dan menyalamiku seperti aku memenangkan sebuah lotre. Dan Anna menatap kami dengan padangan geli.
"Selamat bro. Ternyata ruanganku membawa berkah untukmu", kata Max bangga.
"Ya.. aku suka ruangan mu", aku menjabat tangan Max dan Max menyambut sama gilanya sepertiku.
Anna berdiri lalu menatap kami sedih, tepat saat itu sekretaris Max masuk membawakan minuman. Anna lalu berbicara padanya.
" Kamu tolong buatkan janji dengan dokter Jiwa", kata Anna.
" Untuk siapa bu? Sekretaris Max memastikan.
" Untuk kedua bosmu ini. Mereka sudah gila", Jawab Anna sambil memperhatikan Max dan Juan.
__ADS_1
***