Merpati Kertas

Merpati Kertas
PERINGATAN TERKAHIR


__ADS_3

Aku menatap layar TV di ruang kantorku. Melihat pembawa berita sedang menyiarkan kasus penggelapan dana sebuah proyek rumah sakit. Nama pengusaha dengan inisial H sudah mulai sering di sebut.


Aku mematikan TV dan kembali mengerjakan pekerjaan yang sedang aku lakukan. Maria sekretarisku masuk dengan tergesa-gesa.


"Pak, tuan Hartanto memaksa ingin menemui anda", Maria berusaha tenang.


"Biarkan dia masuk", perintahku.


" Baik pak", jawab Maria. Lalu dia pergi keluar ruangan dan kembali bersama Hartanto.


Maria keluar ruangan dan Doni langsung berdiri dari kursinya. Tampaknya waspada.


Aku terus mengerjakan pekerjaanku sampai Hartanto memanggil namaku dengan penuh tekanan.


" Tuan Juan", panggilnya.


Aku berhenti menggoreskan tinta ke atas kertas. Mengangkat kepalaku dan menatap pria yang hampir memasuki usia 50 itu.


" Ada yang bisa saya bantu ayah mertua ?", tanyaku sopan.


" Aku tidak ingin berbasa basi. Apakah kau yang memberikan informasi kepada wartawan?", tanyanya langsung.


Aku tersenyum. " Ya.. Itu aku ", jawabku santai.


" Kenapa anda tega melakukannya?", Hartanto naik pitam. " Anda sudah menghancurkan keluarga saya, keluarga istri anda", Teriaknya.


Aku mengorek kupingku yang tidak gatal. " Keluarga? Doni adakah keluarga Jeni lagi selain kakeknya?", tanyaku pada Doni.


" Dulu ada tuan. Tapi nyonya dan kakek Darmawan di usir dari rumah dan di keluarkan dari kartu keluarga", Jelas Doni tanpa di saring.


" Buka telingamu baik-baik. Kalian sudah membuangnya jadi kenapa kau memungutnya kembali? Jeni saat ini adalah keluargaku, dia adalah istriku, Jeni Anderson. Dan dia adalah yatim piatu yang di rawat oleh kakeknya tuan Darmawan", aku berkata dingin sambil menatap Hartanto tajam.


Dia terdiam, tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Lalu dengan berani dia menjawab " Aku tidak bermaksud jahat padanya, tapi aku merawatnya dengan sepenuh hati. Aku hanya tidak ingin dia menderita di dalam rumahku", katanya sedih.


Aku tertawa cukup keras mendengar perkataannya. Aku berdiri dari kursiku dan berjalan mengitari meja, lalu bersandar di meja kerjaku.


Aku menatap Hartanto dengan wajah dingin. " Kau sedang melucu sekarang? ", suaraku terdengar seperti orang yang tidak berperasaan.


Ada kengerian di wajah Hartanto saat mendengar suara dan perubahan mimik wajahku.

__ADS_1


" Beraninya kau menganggu milikku. Sepertinya kau dan istrimu lupa sedang berhadapan dengan siapa. Kau kira aku sebaik istriku yang selalu memberikan maaf kepada orang yang menyakitinya?", Aku lalu tertawa dingin. Suaraku menggelegar di dalam ruangan kerjaku.


Hartanto terdiam di tempatnya tampak cemas dan takut. " Aku bukan si baik hati. Aku bisa menghancurkan mu sekaligus keluargamu sampai ke akarnya. Bahkan keturunanmu", Aku tersenyum sinis mematikan.


Hartanto membelalakkan matanya dan langsung jatuh berlutut karena lemas. "Maafkan aku tuan Juan. Maafkan aku karena mengusik mu. Tolong sekali ini saja, maafkan aku dan keluargaku ," katanya memelas.


"Terlambat, aku sudah memperingatkan mu dan istrimu. Tapi lihat kelakuan kalian", Aku menggelengkan kepala.


Hartanto terdiam, lalu Maria masuk lagi ke ruanganku dengan buru-buru. "Tuan nyonya Jeni sudah datang", katanya.


Hartanto melihat ke arahku " Ijinkan aku bertemu keponakanku, aku akan memohon ampun di bawah kakinya", Hartanto memohon.


Aku menyuruh Maria pergi dengan mataku. " Tidak akan aku ijinkan, karena dia pasti akan mengeluarkan air matanya dan memaafkan mu. Dengarkan aku Hartanto", aku berbicara dengan suara bariton ku.


" Ini adalah akibat yang harus kau terima karena mengusik keluarga kecilku. Aku akan memberitahumu suatu rahasia. Anak laki-lakimu adalah seorang pencandu", Aku melemparkan foto anaknya ke lantai di dekatnya.


Wajahnya tampak tercengang tidak percaya dengan pengelihatannya.


"Karena kau dulu pernah merawat istriku maka aku akan menolong putramu. Hanya itu. Dan mulai hari ini jangan pernah kau dan istrimu berani menyentuh Jeni dan kakek Darmawan. Jika itu terjadi maka aku akan menghancurkan semua yang tersisa dalam hidupmu nanti", aku berkata dingin dan kejam.


Hartanto menunduk putus asa. Aku mengambil ponselku di atas meja. Lalu berjalan melewatinya yang masih berlutut karena syok.


Aku berhenti tepat di sebelahnya. "Ingatlah perkataanku Hartanto. Jangan pernah kau muncul di hadapanku lagi. Bahkan ujung rambutmu", kataku kejam lalu pergi meninggalkannya untuk bertemu istriku yang menunggu di ruangan Anna. Maria membawanya ke sana untuk menghindarinya dari pamannya yang kejam itu.


***


" Oh baby kau sudah datang", Anna menyambut ku.


" Terima kasih sudah menjaga istriku", Katamu ramah pada Anna.


" Any time bebh. Dan oke aku tinggalkan kalian ya, aku ada meeting. Bye Jeni, jangan lupa hadiah dariku", katanya mengedipkan mata.


Jeni tersenyum ramah "terima kasih kak", katanya.


Anna lalu berjalan cepat menuju ruang rapat meninggalkan aku dan Jeni di dalam ruangannya. Aku menatap Jeni penuh damba.


"Kamu lama sekali, padahal aku sudah datang cepat-cepat", keluhnya.


" Maafkan aku sayang, tadi aku ada sedikit urusan penting yang tidak bisa di tinggal", aku beralasan.

__ADS_1


Jeni tersenyum. "Hari ini kita mau ke mana?", tanyanya.


" Hari ini kita akan membeli rumah untuk kita tempati ", jawabku membelai wajahnya.


Wajahnya terlihat kaget. "Kamu serius kan? Tidak sedang bercanda?", wajahnya seperti menahan rasa senang.


" Ya, aku serius sayang ", aku menaruh tangannya di wajahku.


Jeni memelukku dengan senang. " Tapi, hotelmu bagaimana? ", tanyanya.


"Itu tidak masalah, itu bisa menjadi kamar pribadi bila kita ingin menginap di sana", kataku santai.


Jeni mengangguk menurut. Aku senang, Jeni mulai patuh akhir-akhir ini. Sifat keras kepalanya selama ini memang hanya di jadikan tameng olehnya untuk melawan orang-orang yang menyakitinya.


Kami turun di sebuah kompleks perumahan yang cukup mewah. Kami menghabiskan waktu untuk melihat-lihat dan Jeni lebih banyak bertanya.


Aku menyerahkan semua padanya. Apapun yang dia inginkan akan aku berikan. Setelah puas bertanya dan melihat-lihat, akhirnya Jeni memilih salah satu rumah. Rumah ini adalah tipe yang di inginkan Jeni, rumah dengan halaman yang luas. Ramah lingkungan dan ramah anak.


Seseorang datang menghampiriku dan berkata pelan saat Jeni sedang sibuk dengan yang lain.


" Pak Juan, maaf kenapa anda datang sendiri ke sini? Seharusnya anda menelpon saja, kami akan langsung siapkan", kata salah satu pemilik bisnis ini.


Aku tersenyum ramah "Tidak masalah. Istriku menginginkan ini. Aku akan menanam saham di sini bukan berarti aku bisa semauku. Ikuti alurnya seperti orang lain ", kataku.


" Baik pak. Akan saya siapkan semua prosedurnya", katanya.


Aku mengangguk. Saat Jeni kembali dia tersenyum senang padaku.


" sayang kamu boleh merenovasi rumah sesuai keinginanmu. Semua yang ada di rumah boleh kamu atur", kataku membelai rambutnya.


" Benarkah? Kalau begitu banyak yang ingin ku tambahkan", Kata Jeni senang.


" Doni atur semuanya besok sesuai permintaan istriku. Cari arsitek terbaik ", perintahku.


"Baik tuan", jawab Doni.


"Emm... selain itu ada hal yang harus kita kerjakan sendiri tanpa bantuan arsitek sayang", katanya senang.


" Apa itu?", tanyaku penasaran.

__ADS_1


" Setelah kita pindah. Kamu pasti akan tahu", Jeni tersenyum senang.


***


__ADS_2