
Drama kehamilan ini terus berlanjut. Suatu hari Embun menginginkan makanan yang membuatku sedikit kaget. Kepiting dan udang saus padang. Dia mengatakan keinginannya itu di pagi buta.
“ Sayang aku pengen banget makan kepiting dan udang saus padang. Dulu aku sering banget makan itu. Please”, Embun merengek padaku.
“ Oke sayang. Kita akan makan itu, tapi ini masih jam 4 pagi. Nanti aku akan meminta Rian untuk mencarikan kepitingmu itu. Aku janji”, aku menenangkannya.
“ Oke, Tapi aku tidak bisa tidur lagi. Aku lapar”, Embun bangun dari tidurnya dan berjalan keluar kamar.
Aku turun dari tempat tidur dan mengikutinya keluar kamar. Embun berjalan ke arah kulkas dan mulai mengeluarkan buah apel, buah jeruk, yogurt, jelly.
“ Kamu yakin akan menghabiskan itu semua?”, aku bertanya penasaran.
“ Ya, tentu saja. Yang makan berdua sayang. Aku dan baby”, Embun membuka penutup yogurt.
Aku mengambil buah Apel dan jeruk lalu mencucinya di wastafel, setelah itu aku mengupas apel dan jeruk itu sambil memperhatikan Embun yang asik mengunyah. “ Apa baby kita bahagia dengan banyak permintaan akhir-akhir ini?”, aku bertanya penasaran.
“ Tentu saja, buktinya BB kami naik bersama”, Embun berkata senang.
“ Baiklah, akan ku tangkap semua kepiting dan udang di laut untukmu bayiku tersayang”, aku mengelus perut Embun yang mulai terlihat buncit.
“ Ih, lebay deh”, Embun tertawa.
Aku mengelus kepala Embun pelan, mengambil Handphone dan menelpon Rian.
“ Halo, selamat pagi bos”,suara Rian terdengar berat karena baru bangun.
“ Ya selamat pagi asistenku tersayang. Ada pekerjaan untukmu di pagi buta ini”, Aku tersenyum senang bisa menyiksanya selama ini.
Terdengar suara wanita di sebelah Rian membuatku makin senang mendengarnya. “ Rupanya asisten saya sedang bersenang-senang. Sekarang tinggalkan kesenangan duniawi itu dan lakukan pekerjaan mulia “, aku berkata tegas.
Embun menarik tanganku merasa tidak enak karena aku mengganggu Rian di pagi buta. Aku tersenyum pada Embun menenangkan.
“ Ya bos, pekerjaan apa yang harus saya lakukan?”, Rian bertanya sopan.
“ Carikan udang dn kepiting saus padang sekarang”, aku memberikan perintah dengan tegas.
“ Maaf bos. udang apa? “, Rian kurang konek.
__ADS_1
“ Anakku diidalam perut ingin makan udang dan kepiting saus padang. Bawakan kesini dalam waktu setengah jam. Aku tunggu di rumah”, aku menutup telepon.
“ Sayang kamu kejam banget. ih tau gitu aku pendam saja keinginanku tadi. kenapa kamu menyiksa pak Rian seperti itu? kan kasihan”, Embun memarahiku.
“ Itu tugas asisten. Untuk itu aku membayarnya mahal kan”, aku menjawab santai tanpa menceritakan insiden permen kapas itu.
“ Kamu ya. Lain kali gak boleh begitu”, Embun mencubitku pelan.
“ Iya sayang. Oke. Aku tidak akan menyiksa dia lagi”, aku memeluk Embun. “ Sekarang kamu mau tidur lagi? sambil menunggu makanan itu datang?”, aku membelai wajahnya dengan sayang.
“ Ya, aku tidur lagi ya. Nanti kamu bangunin aku”, Embun turun dari kursi dan aku menggandeng tangannya kembali ke kamar.
***
Dalam waktu kurang dari setengah jam Rian sudah tiba di rumahku dengan seorang koki dan berbagai bahan makanan.
Wajahnya seperti kurang tidur dan tentu saja aroma alkohol yang berusaha dia tutupi masih bisa tercium olehku.
“ Pintar juga kamu”, aku menepuk bahu Rian bangga karena kecerdikannya. Dibandingkan berkeliling mencari makanan, lebih baik mendatangkan langsung koki nya ke rumah. Itu lebih mudah dan praktis, kira-kira begitu jawaban Rian padaku.
“ Tuan, masakannya sudah siap”, koki itu memberi kabar.
“ Oke baik, sebentar aku bangunkan istriku dulu”, aku menjawab lalu berjalan ke arah kamar untuk membangunkan Embun.
Aku kembali dengan Embun bersamaku. Embun bengong melihat ada seorang koki di dapur kami dengan peralatan masak dan bahan makanan yang lengkap.
“ Wow”, hanya itu kata yang keluar dari mulutnya.
“ Selamat pagi nyonya”, Rian menyapaku.
“ Selamat pagi Pak Rian. Maafkan suami saya yang merepotkan anda di tengah pagi buta begini”, Embun berbicara pada Rian dengan perasaan bersalah.
“ Tidak masalah nyonya. Ini adalah tugas saya”, Rian menjawab sopan.
Embun duduk di kursi meja makan dengan aku di sampingnya. Embun tiba-tiba memanggil Rian pelan.
“ Pak Rian sini”, Embun memanggil.
__ADS_1
“ Ya nyonya, ada yang bisa saya bantu?”, Rin mendekat.
“ Ayo duduk makan bersama kami”, Embun meminta sopan.
“ Tidak nyonya, terima kasih. Saya akan menunggu di ruang tamu”, Rian menolak sopan.
Embun menendang kakiku di bawah meja. Sepertinya dia merasa bersalah karena merepotkan Rian di pagi hari jadi dia meminta Rian untuk makan bersama kami. Sarapan yang terlalu cepat dan berat. Aku yang kaget karena kakiku di tendang langsung memanggil Rian spontan.
“ Rian duduk”, aku memberikan perintah dan langsung dipatuhi oleh Rian.
Rian menatapku sedikit kesal dan aku tersenyum puas karena tidak menderita sendirian. Koki menyajikan makanan yang diinginkan oleh Embun. Embun terlihat kesenangan dan tentu saja yang paling menderita adalah Rian. Bagaimana mungkin seseorang yang habis mengkonsumsi minuman beralkohol 3 jam lalu di suruh makan udang dan kepiting pedas dengan porsi yang sangat banyak. Dan setelah kejadian pagi ini Rian tidak pernah mengkonsumsi kedua makanan laut itu lagi.
***
Setelah melewati masa ngidam aneh itu akhirnya situasi menjadi lebih tenang. Hanya serangan kram kaki di malam hari yang tidak bisa dihindari. Aku sering terbangun di malam hari untuk memijat kaki Embun. Kami sangat bahagia ketika tahu bahwa anak kami adalah laki-laki. Terutama kedua orang tua kami, mereka benar-benar menantikan kelahiran cucu mereka ini.
Sampai tiba di hari itu. Hari di mana aku akan bertemu anakku. Aku sedang berada di tengah rapat ketika Rian datang dengan tergesa-gesa dan berbisik di telingaku bahwa Embun sedang dalam perjalanan ke rumah sakit karena ketubannya pecah. Aku tidak mengangkat telepon karena terlalu fokus pada rapat ini.
“ Rapat kita hentikan. Mari kita lanjutkan di lain waktu. Saya ada urusan mendesak yang tidak bisa di tunda”, aku berdiri dan bergegas keluar ruangan dengan tergesa-gesa diikuti Rian di belakangku.
Saat sampai di rumah sakit kedua orang tua kami sudah tiba duluan, bahkan Elsa ada di sana.
“ Bagaimana kejadiannya?”, aku bertanya pada bu Nini.
“ Begini Tuan, Tadi pagi nyonya sudah mulai merasakan nyeri. Mbok sudah ajak ke Rumah sakit tapi nyonya menolak. Katanya nanti tunggu Tuan, sedikit lagi pulang. Mbok menelpon Mbak Elsa, sama mbak Elsa dibawa ke rumah sakit. Di mobil, air ketubannya mulai merembes. sepertinya nyerinya sudah dari malam tuan”, Mbok Nini bercerita.
Aku geram “ bisa-bisanya Embun diam saja”.
“ Tenang Nandes. Embun ingin melahirkan dengan normal. Saat ini kamu harus mendukungnya ", ibu Embun menyentuh bahuku.
“ Iya bu”, aku menenangkan diri.
Aku masuk ke kamar Embun dan melihat ibuku sedang menemaninya. Mereka bergantian menjaga Embun.
" Ibu dari sini biarkan aku yang menemani. Kalian istirahat saja. Terima kasih ibu", aku memeluk ibuku dengan sebelah tangan.
***
__ADS_1