Merpati Kertas

Merpati Kertas
MENURUT


__ADS_3

Aku terbangun di pagi hari karena perutku yang bergumul. Aku melihat Juan tidak ada disampingku lagi, aku menghembuskan nafas lega. Aku tidak siap harus berdebat dengannya di pagi hari. Juan menepati janjinya, dia tidak menyentuhku sama sekali. Baju mandiku masih terikat sempurna seperti tadi malam. 


Aku hendak turun dari tempat tidur saat dua orang pelayan datang dan menyapaku sopan, aku yang tidak terbiasa diperlakukan seperti itu mulai canggung.


“ Selamat pagi nona. Kami sudah menyiapkan sarapan untuk nona”, pelayan di belakangnya mendorong sebuah troli makan. Saat membuka penutupnya mataku langsung berbinar. Nasi goreng dengan telur setengah matang, ada juga sosis panggang besar berbalut saos dan mayonaise, potongan buah mangga, dan 3 jenis minuman berjejer. Aku menatap pelayan itu.


“ Ini semua untukku?”, aku bertanya bego.


“ Benar nona. Tuan mengatakan nona harus makan banyak karena badan nona sangat kurus seperti tidak bahagia”, pelayan itu menyampaikan pesan Juan.


Aku tertawa kesal “ wah si Juan gila itu. Membuat mood ku rusak di pagi hari”, makiku.


Kedua pelayan itu sepertinya kaget mendengar aku mencaci maki tuan mereka dengan mudahnya.


“ Baiklah akan ku habiskan. Tapi bolehkan aku bertanya sekarang aku ada di mana?”,Aku mencoba bernegosiasi dengan berbisik.


“ Kalau begitu kami permisi Nona, jika ada hal lain yang dibutuhkan segera panggil kami. Permisi”, kepala pelayan itu menjawab menandakan dia tidak bersedia menanggapi pertanyaan yang aku lontarkan. 


Aku menghela nafas, tentu saja Juan sudah membungkam mulut mereka semua. Aku mulai menghabiskan sarapan pagiku. Untuk melawan Juan aku harus mengumpulkan banyak tenaga, jadi tidak ada salahnya aku menghabiskan semua ini pikirku. 


Setelah makan aku mandi dan berpakaian, baju yang disediakan lebih santai dan waras jadi aku bersedia memakainya. Mereka menyediakan semuanya sampai baju dalamku. Juan benar-benar niat menjadikanku istrinya. Aku berjalan keluar dari kamar, melirik kesana kemari seperti maling profesional. Aku mendeteksi keberadaan Juan, siapa tahu aku bisa kabur hari ini. Aku berjalan pelan dan hati-hati.


“ Kamu mau kemana?”, suara Juan membuatku terlonjak kaget.


“ Kamu bukannya ke kantor?”,aku kecewa.


“ Aku kantor tapi dari rumah”, jawabnya santai.


“ Ha? Kok bisa sih”, aku memaksa.


“ Aku pemilik perusahaan, jadi terserah aku”, Juan meraih pinggangku. “ Kamu mau kabur ya?”, Juan menatap mataku.

__ADS_1


Aku diam saja berusaha melepaskan diri. Juan menggendongku dan membawaku kembali ke kamar, dia melemparku sekali lagi dengan pelan  ke atas tempat tidur. 


“ Berikan aku ciuman?”, Juan mendekat.


“ Tidak mau”, aku menjawab tegas. 


“ Kalau begitu lahirkan anak untukku”, Juan blak-blakan.


“ Tidak. Gila ya”, aku membentak Juan.


Juan tersenyum, dia lalu maju dan berbisik padaku “ karena kamu menolak menikah denganku maka aku putuskan, kamu harus mengandung anakku. Dengan begitu kita pasti menikah”, Juan serius.


Aku melebarkan mataku tidak percaya dengan perkataan Juan. “ Tidak aku tidak mau jangan pernah berharap hal yang aneh Juan”, aku berkata tajam.


“ Aku akan membuatmu mencintaiku Embun. Dengan segala cara tak terkecuali menyingkirkan Nandes dan perusahaannya”, Juan mengancam. " Kamu pasti tahu Adam dan Nandes sedang menjalin kerjasama, salah satu perusahaan besar yang memberikan saham terbesar di sana adalah aku. Tentu Nandes pasti tidak tahu karena aku menggunakan orang lain".


Aku membeku "Kamu merencanakan ini dari lama?".


Air mata jatuh ke pipiku mendengar perkataannya. “ Juan jangan lakukan hal gila itu”, aku berkata lirih.


“Yang mana? menghamilimu atau menghancurkan Nandes?”, Juan berkata santai sambil menghapus air mataku dengan jari telunjuknya.


“ Jangan pernah kamu menyakiti Nandes. Aku akan menurutimu”, aku sadar seberapa besar pengaruh Juan dalam dunia perbisnisan mereka. Aku mendengar bahwa, Juan adalah salah satu pebisnis terbaik se Asia. pengaruhnya sangat besar di dunia bisnis. Aku takut dia benar-benar menghancurkan Nandes. 


“ Karena kamu membela Nandes, aku semakin ingin menghancurkannya”, Juan berkata kecewa. Dia lalu  berdiri dan memunggungiku “ pakailah baju yang kusiapkan untukmu nanti malam, aku ingin berkencan denganmu. Semua keputusan ada ditanganmu Embun”, lalu Juan berjalan meninggalkanku yang duduk di tempat tidur dengan pikiran ksoong.


*** 


 Malam harinya aku berdandan dengan baik. Aku memakai Gaun yang disiapkan oleh Juan,  sangat pas di badanku. Gaun itu memamerkan sebagian punggung milikku dan leher jenjangku terlihat dengan jelas. Aku menarik nafas melihat diriku di cermin. Aku melepaskan cincin yang diberikan oleh Nandes dan meletakkannya di dalam laci meja. 


“ Nandes maafkan aku”, aku berbicara  ke arah cincin itu. Perasaan sedih dan hancur menerpaku. Tapi aku tidak ingin Juan benar-benar melakukan perkataannya. Aku menarik nafas menenangkan diri, setelah itu aku berjalan meninggalkan kamar menghampiri Juan yang menungguku.

__ADS_1


Aku memasuki ruang makan yang cukup besar, tapi suasananya tidak terlalu terang seperti di ruangan lain. Musik mengalun lembut, Juan duduk di sana di ujung meja yang sudah di percantik sedemikian rupa. Saat dia melihatku datang, dia tersenyum bahagia.


“ Kau terlihat sangat cantik”, Juan menyambutku. mengulurkan sebelah tangannya kepadaku, aku menerima uluran tangannya sambil tersenyum. 


“ Terima kasih”, aku menjawab berusaha tenang.


Aku duduk di kursi yang dipersiapkan Juan padaku, seorang pelayan datang dan memberikan buku menunya pada kami. “ Kamu membawa seorang koki ke sini?”, aku penasaran.


Juan mengangguk “ Hmm.. aku mempersiapkan yang terbaik untukmu”.


Aku terdiam, dia benar-benar ingin membuatku bahagia bersamanya. Setelah memesan makan malam kami, seorang pelayan datang membawakan sebuah buket  bunga mawar berwarna merah bercampur putih. Juan mengambil bunga itu dan menyerahkan padaku.


“ Aku mencintaimu Embun”, Juan menyerahkan bunga itu. Aku menerimanya, rasanya hatiku seperti terselip getaran baru. Getaran yang mungkin selama ini ku tolak dengan sekuat tenaga. Masih ada rasa tersisa untuk Juan, walau hanya sedikit. selama ini aku menolak mengakuinya. 


Aku tersenyum tapi tidak menjawab apapun, aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata melalui mulutku. Juan tersenyum “ aku mengerti, mungkin kamu sangat terkejut dengan apa yang aku lakukan. Aku akan menunggu kamu menerimaku”, lanjut Juan.


Aku tersenyum kaku. Kami makan malam dalam diam, Juan tidak terlalu banyak bercerita dan aku pun demikian. Aku tidak berani menanyakan keberadaannya selama ini. Juan menanyakan tentang sekolahku dan memberitahukan kepadaku bahwa aku tidak perlu khawatir atas absennya diriku karena Juan sudah mengatasinya, entah aku harus senang atau tidak. 


Setelah makan Juan mengajakku untuk duduk di kursi meja bar. Disana kami disuguhkan minuman beralkohol. Aku menyesapnya sedikit demi sedikit, lalu seperti menemukan keberanian karena alkohol aku bertanya.


“ Bagaimana keadaanmu selama ini Juan? Kenapa kamu kembali mencariku? tanyaku.


" Keadaanku buruk. Aku mencarimu karena tahu aku masih mencintaimu", Juan menatap mataku.


" Tapi kamu meninggalkanku waktu itu. Seharusnya kamu tidak kembali. Kamu menyakitiku ", aku mulai berani.


Juan menatapku sambil meyipitkan matanya. Aku meneguk habis isi gelasku dan meminta bartender mengisinya lagi. Mangabaikan Juan yang menatapku.


***


***

__ADS_1


__ADS_2