
“ Jadi apa isi pengakuanmu?”, aku duduk di sofa. Kami berada di Klub milik Max, seorang pria paruh baya dengan wajah babak belur berlutut di hadapanku.
“ Kami dibayar oleh nyonya Hartanto untuk menakut-nakuti gadis itu. Dengan imbalan uang yang cukup banyak”, katanya bergetar.
Aku menyalahkan rokokku. “ Ceritakan semuanya. Jangan membuatku bertanya dua kali”, kataku berusaha memanjangkan sabar.
“ Tuan tolong jangan bunuh saya. Akan saya ceritakan semuanya”, katanya memohon.
“ Baiklah itu tergantung kejujuranmu”, kataku lalu menghisap rokokku dalam-dalam.
“ Nyonya Hartanto ingin dia menandatangani sebuah surat. Saya tidak tahu itu surat apa, tapi yang jelas beliau mau gadis itu datang sendiri dengan kakinya ke rumah utama”, katanya lagi.
“ Bagaimana caranya?”, Doni mengintrogasinya tidak sabar menggantikanku.
“ Kami akan menculik kakek gadis itu, sampai gadis itu datang untuk menandatangani surat dari nyonya Hartanto”, katanya lagi.
Wajahku merah padam karena marah. “ Dia berniat menculik pamannya sendiri ?”, tanyaku memastikan.
Pria itu mengangguk takut. Aku berdiri lalu mendekati pria itu, dan mematikan rokok milikku di telapak tangannya. Dia berteriak kesakitan dan meminta ampun.
“ Kau tahu siapa aku?”, aku bertanya padanya dengan tatapan tajam.
“ Ya tuan. Anda adalah salah satu Naga Asia, semua orang tahu anda tuan”, katanya takut. “ Jika saya tahu gadis itu adalah istri tuan, saya tidak akan menyentuhnya sama sekali. Tolong ampuni saya”, katanya memohon.
Aku menghela nafas lalu berdiri membelakanginya. “ Kembalilah ke nyonyamu itu. Katakan padanya ini adalah peringatan pertama dan terakhir untuknya. ‘ Jangan pernah lagi mencoba untuk menyentuh milikku’. Sampaikan padanya”, perintahku dalam suara yang dalam dan dingin.
“ Baik tuan akan saya sampaikan”, jawabnya menyanggupi.
Aku mengangguk ke arah Doni memberikan perintah tanpa suara, lalu mengambil duduk di sofa. Doni menatap ke arah anak buahnya.
“ Potong satu pergelangan tangannya. Dan pulangkan dia sebagai peringatan kepada nyonyanya”, perintah Doni kejam.
“ Tidak tuan. Ampuni saya tuan. Tuan tolong ampuni saya, saya mohon”, teriaknya saat diseret keluar dari ruangan itu.
“ Duduk”, perintahku pada Doni yang langsung menurut.
“ Doni, bagaimana keadaan ibumu?”, tanyaku sambil menuangkan minuman ke dua gelas di atas meja.
__ADS_1
“ Kabar ibu baik tuan. Karena anda saya masih bisa bersama ibu sampai sekarang. Terima kasih banyak atas bantuan anda”, katanya sopan.
Aku menangguk. “ Doni, umurmu masih muda. Apakah kamu tidak ingin menggapai cita-citamu seperti dulu?”, aku bertanya padanya.
Dia menggoyangkan gelasnya pelan. “ Tidak tuan. Saya sudah putuskan akan terus mengikuti anda sampai akhir hidup saya”. Jawaban yang sudah sering ku dengar.
Aku mengangguk. “ Jika kau ingin pensiun dini aku akan mengijinkannya”, kataku santai.
“ Anda sudah bosan pada saya? Apa saya melakukan kesalahan?”, Doni menatapku penasaran.
Aku tertawa “ Tidak Doni. Aku hanya ingin kau menjadi lebih baik, mungkin dengan membuka sebuah usaha”, kataku.
“ Saya sudah membuka sebuah minimarket untuk adik saya dan banyak usaha lain tuan. Itu semua saya gunakan dari gaji saya saat bekerja dengan anda. Selain karena uang, saya bekerja dengan anda karena saya mengagumi anda tuan. Jadi mohon jangan meminta saya untuk pensiun dini, karena hanya anda yang mau menerima seorang pencuri untuk bekerja dengan anda”, katanya lagi.
“ Baiklah. Jangan banyak omong lagi dan habiskan minuman itu”, aku memberikan perintah yang langsung dipatuhi oleh nya.
Ponselku bergetar, tertera nama pencuri kecil di layar.
“ Halo”, aku mengangkat telepon.
“ Aku sedang bekerja. Ada apa?”, tanyaku.
“ Aku akan menceritakan sesuatu tapi kamu jangan marah ya”, katanya sedikit ragu.
“ Tergantung isi ceritamu”, aku sabar.
Dia menarik nafas panjang lalu berbicara “ Bella berkelahi dengan teman sekolahnya. Dia menelponku untuk bertemu gurunya. Sekarang aku sedang di taxi menuju ke sekolahnya. Bella takut padamu, bisakah kamu mampir nanti?”, tanyanya pelan.
“ Ya aku akan kesana”, kataku singkat lalu menutup telepon.
“ Doni siapkan mobil kita menuju sekolah Bella sekarang”.
“ Baik tuan”, jawab Doni patuh.
***
Aku sampai di sekolah Bella dan menemukan Jeni sedang menarik rambut seorang wanita paruh baya, sepertinya wali dari siswi yang diserang oleh Bella. Aku sempat mendengar wanita itu berteriak ke arah Jeni.
__ADS_1
“ Dasar perempuan Jal*ng. Tidak tahu aturan, preman”, teriaknya.
“ Ya, aku memang preman. Kau tau julukanku di sekolah dulu? julukanku si gila haha”, Jeni balas berteriak.
Aku menahan tawa di balik pintu melihat kelakuannya yang absurd itu. Beberapa orang guru berusaha memisahkan mereka tetapi sepertinya tidak bisa. Aku masuk dan langsung menarik Jeni dan membawanya ke sudut ruangan.
“ Lepaskan aku, aku harus menjambak wanita itu. Nenek sihir yang mematikan mental anak. Kau sehebat itu hah? tunggu sampai suamiku datang, kau pasti mati”, teriaknya kesetanan.
“ Jeni ini aku”, aku menegurnya cukup keras membuatnya langsung terdiam dan menatapku.
Matanya tiba-tiba berkaca-kaca, matanya yang berapi-api hilang entah ke mana. Bella di sampingnya langsung memeluk lengan Jeni karena takut padaku dan mulai terisak. Padahal tadi aku melihat Bella dengan semangat memberi dukungan kepada Jeni yang sedang bergulat dan tiba-tiba mereka sudah berakting sedih saat di hadapanku.
Seorang pria masuk dan langsung menanyakan keadaan anak dan wanita yang tadi di jambak Jeni. Dia berteriak ke arah kami, dengan posisi aku memunggunginya,
“ Kalian beraninya memukul anak dan istriku. Kalian sudah bosan hidup ya?”, teriaknya. “ Pecat wali kelasnya sekarang”, pria itu berteriak ke arah kepala sekolah yang berdiri di sisi lain ruangan.
Aku berbalik dan menatap pria paruh baya itu, aku langsung mengenalinya.
“ Kau, wah sudah lama tidak berjumpa ya”, aku berkata ramah tapi tersenyum dingin.
“ Kau…”, pria itu menunjukku dengan wajah ngeri.
“ Senang bertemu dengan anda tuan…”, aku berlagak mengingat namanya. “ Maaf aku lupa namamu. Bagaimana jika kita duduk dan berbicara dengan tenang”, kataku dingin.
Pria itu mengangguk patuh. Jeni memegang ujung bajuku sepertinya dia ingat pria itu, aku tersenyum pada Jeni.
“ Tenang, aku akan mengurusnya”, kataku menepuk pelan punggung tangannya. Jeni menatapku lalu tersenyum percaya
Aku baru tahu ternyata Bella sering di bully di sekolahnya. Itu salah satu alasan dia tidak ingin pergi ke sekolah setiap hari. Hatiku sedih jika mengingat setiap hari aku memaksanya ke sekolah.
Aku meminta Bella dan Jeni untuk pulang lebih dulu. Sedangkan aku berbicara dengan pria itu beserta anak istrinya. Saat Doni masuk ke ruangan membawa sebuah amplop dan menyerahkan padaku, aku melihat wajah pria itu berubah menjadi ngeri. Dia takut pada Doni.
“ Aku meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan anak kami”, pria itu langsung berbicara padaku saat kepala sekolah memberikan privasi kepada kami untuk menyelesaikan masalah ini.
Aku hanya tersenyum mendengar permintaan maafnya yang terdorong karena rasa takut bukan karena tulus meminta maaf. Manusia memang terlalu angkuh, maka aku akan melakukan hal yang sama kepadanya.
***
__ADS_1