
Embun pulih tapi kepribadiannya sedikit berubah. Dia menjadi pendiam, tidak suka ketika aku menyentuhnya. Tidak seceria dulu, tidak ada senyum bahagia di wajahnya. Banyak hal yang dia sembunyikan dariku. Pura-pura tertawa saat bersamaku. Aku ingin bertanya tapi selalu menahan diri. Aku ingin memeluknya tapi dia seperti menolak.
Embun resign dari tempatnya bekerja dan tinggal di rumah kedua orangtuanya dengan alasan pemulihan pasca kecelakaan. Dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya cemas karena masalah yang terjadi belakangan ini.
Beberapa kali aku seperti melihat Juan di sekitar rumah Embun, tapi dia tidak memiliki niat untuk menyapa Embun. Hanya memperhatikan dari jauh dan aku tidak memberitahukan apapun kepada Embun soal itu.
Saat Embun terbangun dari tidur panjangnya waktu itu, rasa sesak di dadaku terangkat, sedikit beban hatiku sirna. Aku memeluknya erat, memandangnya sepanjang hari, rasanya separuh jiwa milikku kembali.
Sampai malam itu datang. Malam dimana dia mengembalikan cincin yang ku berikan. Rasanya aku seperti disambar petir.
“ Apa masalahnya? Kenapa?”, Aku mencengkram kedua lengannya dan mengguncangnya pelan. Salah satu tanganku menggenggam cincin itu.
“Lepaskan aku. Nandes aku tidak siap kembali bersamamu lagi”, Embun berusaha melepas cengkraman tanganku.
Saat itu kami berada di dalam ruang kantorku. ini sudah larut malam, semua karyawan sudah pulang. Tinggal aku sendirian yang menunggu kedatangan Embun.
“ Alasan apa itu? kamu sedang mempermainkanku?”, Aku berteriak kesal.
“ Maafkan aku. Aku menyadari bahwa memutuskan bersamamu adalah sebuah kesalahan Nandes. Kamu… bukan siapa-siapa untukku”, Embun berkata dengan angkuh.
“ Embun kamu ingin menjauhkanku darimu? kenapa? apa selama 3 hari bersama Juan kamu menyukainya?”, aku mulai emosi.
Aku melihat Embun terdiam. Aku tertawa. “ Haha bangsat..”,aku memukul meja kuat. “Apa yang dia berikan kepadamu sampai kamu ingin meninggalkanku? Uang? kemewahan? ***?”, aku mendekati Embun yang diam terpaku.
“ Hah… Aku… tidak menyukaimu Nandes. Terimalah kenyataan itu. Aku pergi”, Embun berjalan ke arah pintu.
Ada rasa sesak di dadaku. Aku menariknya kasar dan menyandarkannya ke pintu. Aku menciumnya dengan brutal. Embun berusaha melepaskan diri. Aku mengunci kedua kakinya dengan lututku dan satu tanganku memegang wajahnya. Tangannya memukul dadaku berusaha mendorongku. Aku bisa merasakan asin air matanya di mulutku, dia menggigit bibirku dengan sekuat tenaga. Aku bisa merasakan darah di mulutku.
Aku melepaskan ciumanku, dia berontak melepaskan diri. Aku melepaskan kuncianku dan memeluknya erat tanpa memperdulikan rasa sakit yang menyerang bibirku.
__ADS_1
“ Aku mohon jangan tinggalkan aku Embun, ku mohon”, aku menangis di pundaknya.
Aku menjadi begitu cengeng karena seorang wanita, aku mengemis padanya. Aku tidak peduli apapun yang akan wanita ini katakan tentangku. wanita yang mengambil semua hati dan hidupku. Menghisap habis daya hidupku dan membawa pergi jiwaku bersamanya.
Embun diam lalu mendorongku kuat “ Aku hanya memanfaatkanmu untuk membuat Juan cemburu”, ada kebohongan dalam suaranya. “ Aku.. tidak pernah.. mencintaimu Nandes”, suaranya bergetar.
Aku tahu dia berbohong tapi hatiku hancur. Aku terdiam menggenggam erat cincin di tanganku. Sepertinya cincin itu sudah hancur dalam genggamanku. Embun keluar dari ruanganku, aku hanya bisa melihat sekilas rambut dan postur belakangnya dengan mata yang kabur karena air mata. Aku hancur. Saat dia pergi, dia membawa seluruh hati dan hidupku.
Aku melempar cincin itu ke arah dinding dengan semua kemarahan, rasa kecewa dan patah hati. Menghancurkan semua barang yang ada di dalam ruangan kerjaku. Sampai tanganku berdarah terkena pecahan kaca meja. Aku duduk di lantai bersandar pada dinding. Pikiranku kosong, aku hancur berkeping-keping. Aku meneguk minuman langsung dari botolnya. Dan tetap duduk seperti itu sampai pagi. Sepertinya sekertarisku takut membangunkanku. Dia menelpon Adam untuk datang menjemputku.
Seseorang masuk ke ruanganku “ Nandes, ada apa ini?”, Adam mengguncang tubuhku yang setengah sadar.
Aku mengangkat wajahku “ Adam. Aku… Embun meninggalkanku”, aku menangis. Aku tidak tahu kenapa aku bisa menangis didepan Adam. Aku terkenal di dunia bisnis sebagai laki-laki yang dingin tanpa ekspresi, tapi karena seorang perempuan aku bisa hancur seperti ini.
Adam terdiam “ Aku antar kau pulang. Kau terlalu banyak minum Nandes”, Adam menuntunku dan pergi keluar kantor dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ada karyawan yang melihatku.
Aku pergi ke rumah Embun dan mengetahui fakta bahwa dia sudah pergi. Keluar pulau, bahkan orang tuanya tidak tahu dia ada di mana. Ayah Embun hanya memegang pundakku memberi semangat dan meninggalkanku di depan rumah. Sepertinya beliau juga merasa menyesal untuk kejadian yang menimpa kami. Beliau tahu betapa aku mencintai putrinya. Tidak banyak kata yang diucapkan untukku seperti biasanya. Elsa bungkam, tidak ada satu katapun yang dia ucapkan.
Selanjutnya aku hanya menghabiskan waktuku dengan minum, bar, merokok, perempuan. Tapi aku menolak tidur dengan perempuan manapun. Aku hanya mencari perempuan yang hampir mirip wanita itu. Rambutnya, posturnya, badannya, tapi saat melihat wajah mereka aku tidak menginginkan apa-apa. Aku akan langsung meninggalkan mereka atau menyuruh mereka pergi.
Aku berlarut dalam sakit hatiku sampai suatu hari Monic datang ke apartemenku dan menamparku dengan keras.
"Kalau kau begini terus perusahaanmu akan hancur. Aku tidak akan menolongmu Nandes. Bangun… dan jalani masa depan bangsat. Kau sekarang terlihat seperti sampah".
Setelah itu Monic pergi meninggalkanku dengan semua botol minuman keras yang memenuhi meja.
***
Saat ini…setelah 2 setengah tahun kepergiannya.
__ADS_1
Aku sedang berkutat dengan dokumen di depanku. Banyak pekerjaan yang aku lakukan untuk mengalihkan perhatianku dari wanita jahat itu.
Perusahaan berkembang pesat dengan aku menjadi CEO perusahaan yang ku rintis dan Monic sebagai presiden direktur. Perusahaan Adam juga berhasil dan bekerja sama dengan perusahaanku. Kami masuk dalam perusahaan bisnis terbaik nomor 2 se Asia.
Aku melonggarkan dasiku. Duduk meluruskan punggung dan memijat keningku sendiri. Beberapa gugatan datang dari perusahaan lain dan membuatku pusing mengatasinya.
Telepon berdering nama Nadia bersemayam di layar. Aku mengangkat telepon.
"Hmm", aku mengangkat telpon malas.
" Beb, kamu sudah selesai kerja? Aku akan datang ke kantor kamu. Karena kamu tidak suka surprise jadi aku kasih tau dulu", Nadia berbicara dengan nada manja.
" Jangan datang ke kantor. Ini bukan tempatmu bermain", aku berkata dingin.
" Galak banget. Yaudah aku tunggu kamu di hotel XX. Kita makan malam bersama lalu kamu bisa istirahat di sini. Oke. Aku tunggu ya beb", Nadia berbicara cepat tidak ingin dibantah lalu menutup telepon.
Aku menghela nafas kesal. Nadia berkeliaran di sekitarku seperti lalat yang mengerumuni daging. Mau aku usir bagaimanapun, dia tetap datang. Aku sampai malas dan membiarkannya. Aku lelah harus mengurus hal yang tidak perlu seperti itu.
Aku mengambil jasku dan berjalan keluar ruangan. Sekertarisku memberi hormat dan berjalan di belakangku.
" Pak, sore ini anda ada janji dengan perusahaan X bersama Direktur Monica".
" Oke", aku terus berjalan menuju lift.
" Malam nanti nona Nadia...", belum selesai sekertarisku bicara aku langsung memotong.
" Skip. Malam ini aku ingin istirahat", Aku berkata tegas dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menungguku didepan lobby.
***
__ADS_1