Merpati Kertas

Merpati Kertas
Aku Ingin Menjadi Temanmu


__ADS_3

Nandes muncul di depan pintu rumahku di sore hari yang mendung. Aku tidak kaget melihat kedatangannya. Karena kejadian 1 hari yang lalu lebih membuatku terkaget-kaget . 


Kejadian 1 hari yang lalu membuatku mengambil kesimpulan bahwa Nandes memang nekat. Hari ketika aku sudah selesai mengikuti jam pelajaran olahraga di sekolah, Nandes muncul tanpa peringatan. Lapangan olahraga kami yang luas di pagari dengan pagar besi karena berbatasan langsung dengan jalan raya, ada pintu gerbang besar di sisi lapangan itu. Gerbang itu hanya dibuka jika ada kegiatan khusus dari sekolah. 


Setelah jam olahraga selesai aku dan Elsa mencoba ikut membeli gorengan di tukang gorengan luar sekolah melalui pagar sekolah itu. Sebenarnya ini dilarang sekolah, tapi yang namanya siswa mana pernah menurut. 


Aku dan Elsa duduk di bawah pohon di pinggir lapangan sambil mengunyah gorengan. Kami sibuk bergosip dan tiba-tiba Elsa nyeletuk. 


" Embun, itu siswa dari mana ya?", Elsa menunjuk ke satu arah di tengah lapangan. 


Aku melihat ke arah itu, Nandes berdiri di sana celingak celinguk mencari-cari sesuatu. Tapi dia dikelilingi siswa perempuan dari kelasku yang mungkin penasaran dengannya. Aku langsung terbatuk-batuk. 


" Sa, itu Nandes. Dia anak STM. Masuk darimana dia?", aku panik. 


Elsa lebih panik lagi. " Apa? Anak STM. Wah ini mah bukan nekat tapi gila".


" Ayo kabur… jangan sampai dia melihat aku. Bisa gawat", aku buru-buru mengemasi gorengan kami.


" Embun kayaknya dia udah lihat kamu deh", Elsa melihat ke arahku dengan senyum yang masam. 


Aku melihat Nandes berjalan ke arahku dengan santai, sebelumnya dia melambai ke arah siswa perempuan yang tadi mengerumuninya sambil memberikan kiss bye yang tidak perlu.


Aku terpaku di tempatku, berharap guru piket tidak patroli sampai ke lapangan. Bisa habis karir SMA ku kalau tau Nandes datang karena mencari ku. 


" Hai Nai¹", Nandes menyapaku saat sudah dekat. Aku lihat Elsa tersenyum geli mendengar panggilan itu.  Apalagi artinya itu batinku.


" Ngapain kamu di sini. Ini masih jam sekolah", aku menegur Nandes sok galak. 


" Mau ketemu kamulah ", Nandes menjawab enteng sambil mencomot gorengan dari bungkusan di tangan Elsa. 


" Kamu masuk dari mana? Gak mungkin dari gerbang utama kan? mending kamu balik sekarang. Nanti kamu di tangkap guru piket ", aku ngoceh-ngoceh sambil menarik tangan Nandes entah mau ku bawa ke mana. 


" eit . . .bentar bentar. Aku masuk ke sini susah payah loh. Aku mau minta nomor kamu", Nandes menyodorkan hpnya padaku. 


Aku bingung " kamu masuk kesini hanya mau minta nomor aku?".


" Iya dong. Aku bisa sih minta nomor kamu dari orang lain, tapi aku gak suka cara itu. Kalau aku minta langsung sama kamu dan kamu ngasih berarti kamu mau jadi teman aku", Nandes menggoyangkan hpnya di depan wajahku. 


Cukup terkejut dengan alasan Nandes yang tidak masuk akal aku hanya mematung menatap Nandes.

__ADS_1


" Embun cepetan, kayaknya guru piket mau ke sini", aku mendengar Elsa berbicara panik sambil mendekatiku. 


Aku ikut panik, cepat-cepat aku mengambil hp Nandes dan mengetik nomorku. Nandes menerima hpnya dan menyimpan nomorku. 


Hp Ku bergetar, aku mengeluarkannya dari saku. 


" Nah itu nomorku. Makasih ya Nai. Kita temenan sekarang", Nandes masih santai tidak melihat aku dan Elsa yang sudah panik sampai ke ubun-ubun. 


Aku menarik tangan Nandes untuk bersembunyi tapi dia berbisik padaku " nanti aku main ke rumahmu ya".


Setelah berbisik dia berlari ke arah sudut lapangan dengan cepat dan aksi berikutnya membuatku dan Elsa hampir mengalami gagal jantung.


Nandes memanjat pagar sekolah kami tanpa hambatan dan melompat keluar seperti atlet lompat jauh profesional. Tepat saat itu guru piket terlihat di ujung tangga. Beberapa teman yang memperhatikan kejadian itu ikut menarik nafas panjang. Elsa lemas sampai terduduk, takut kena getahnya juga. Aku melihat Nandes sudah tidak terlihat di luar pagar.


" Wah...  yang deketin kamu semuanya orang gila dan orang nekat. Tapi romantis sih ", Elsa mengoceh padaku 


Aku diam saja, tidak sanggup melihat guru piket yang berteriak ribut memarahi siswa yang berkerumun untuk nongkrong di lapangan saat jam pelajaran sedang berlangsung. 


Jadi sore ini, saat melihat Nandes di halaman rumahku rasanya ini seperti hal yang normal. Dia datang hanya memberikan satu batang coklat padaku. 


" Ini buat kamu ", Nandes menyodorkan coklat itu.


"Ya udah aku balik ya ", Nandes pamit padaku. Dia benar-benar hanya datang dan memberikan coklat itu padaku. 


" Eh.. kamu gak.. mau minum kopi dulu", Aku menawarkan basa basi. 


" Emang boleh?", Nandes balik bertanya.


" Gak sih", aku jujur mengeluarkan isi hatiku.


Nandes tertawa. " Besok-besok aja ngopinya kalau datang lagi. Udah ya, bye", Nandes melambaikan tangan padaku lalu pergi dengan motornya. 


Aku memperhatikan coklat di tanganku dalam diam.  Sepertinya dia baik ya. Tapi gayanya emang ngeselin aja. Aku lalu masuk ke rumah dan meletakan coklat itu di sebelah origami dari Juan di dalam laci meja belajar.


***


Hari persiapan Pensi semakin dekat. Aku semakin sibuk. Terlalu banyak hal yang harus dipersiapkan. Elsa sampai mengeluh karena kelelahan, belum lagi tugas sekolah yang tetap di berikan tanpa perikemanusiaan oleh guru. Aku hanya bisa menarik nafas frustasi. 


Juan menyodorkan minuman dingin padaku saat di kantin. Gosip-gosip yang bertebaran selama ini menjadi tidak ada artinya. Sepertinya mereka mulai malas membahas tentang kami, mereka harus punya mangsa baru untuk dibahas.

__ADS_1


" Sibuk banget, wajahnya sampai tirus gitu", Juan meneliti wajahku. 


" Iya nih.. aduh… rasanya pengen berbaring aja di rumah", Aku mengeluh lagi sambil menggenggam minuman dingin itu di tanganku. 


" Dulu waktu aku masih memegang jabatan pemerintahan di sini rasanya kayak gini juga sih. Yang pasti capek, lelah tapi seru. Coba di nikmati terus di jadikan pengalaman. Nanti suatu saat kalau berorganisasi pasti yang kayak gini rasanya kecil", Juan memberi masukan padaku seperti seorang kakak sedang menasihati adiknya.


Aku mengangguk tidak semangat. Aku meletakan daguku di atas botol yang di berikan Juan. Rasa ngantuk karena habis makan siang mulai menyerang, penyakit manusia pada umumnya.


" Haduh, ngantuk lagi. Mana pelajaran selanjutnya Sosiologi... Hiks ", Aku mengeluh lagi.


Juan tersenyum gemas "Kamu banyak banget keluhannya", lalu dia mengelus kepalaku dengan sayang.


Aku diam tidak bergerak mengalami serangan kaku karena sentuhan tangan Juan di kepalaku, pipiku terasa panas. Wah ini orang gak mikir perasaan orang lain apa ya. Gue bisa kena serangan jantung kalau dia buat begini terus.


" Kak… jangan begitu", aku berkata pelan. 


" Hm? Apanya?", Juan melihat ke arahku. 


Aku kagok " Gak apa-apa. Udah ya. Aku balik duluan. Daa", aku buru-buru pergi dari situ. 


Sepertinya Juan melihatku dengan kebingungan, karena tidak ada penjelasan yang ku berikan. 


Aku menempelkan minuman dingin itu di pipi dan sekitar leherku. Udara terasa panas, rasanya kupu-kupu di dalam dadaku akan segera ku muntahkan keluar. Aku berjalan cepat menuju aula berharap segera bertemu Elsa di sana. 


Di Aula Elsa sedang sibuk merapihkan peralatan latihan mereka. Aku mau menegur tetapi seseorang datang menghampiri Elsa. Itu Adam dan Elsa terlihat senang karena kedatangan Adam. Aku menyipitkan mata.


" Kena kau Elisabet", aku bergumam sambil berjalan menghampiri mereka. 


Saat dekat aku menegur " Elisabet… sudah kelar latihan" 


Elsa dan Adam yang awalnya berpegangan tangan langsung mengurai pegangan tangan mereka dan kelabakan. 


" Hai Embun hahaha", Elsa balas menegur sambil tertawa kaku. 


Aku tersenyum, sambil mengangkat jempolku ke arah mereka. " Traktir jadiannya kapan nih?", aku bergurau.


***


¹Nai (bahasa manggarai): Hati

__ADS_1


__ADS_2